Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 54


__ADS_3

Diperjalanan pulang itu ada kesunyian diantara roda mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Kepala Tuan Harun dipenuhi dengan banyak pertanyaan atas kemenangan rentenir kaya yang telah resmi menjadi musuhnya tersebut. Sedangkan Mario sedang bergelut dengan ponselnya, dia masih mencari celah di mana ia bisa menjatuhkan musuh dari Tuannya. Lalu Tama, dadanya dipenuhi rasa bersalah kepada ayahnya sendiri.


“Tama…” Suara yang sudah yang sudah sangat dikenal itu terdengar lagi pada Earphone yang menempel ditelinga Tama. Tuan muda itu pun sangat enggan untuk menjawabnya karena walaupun Tama merasa bersalah dalam gagalnya rencana ayahnya hari ini, bagaimana pun jauh dilubuh hatinya tentu ia akan lebih menyalahkan Tuan Azego.


“Kau tidak perlu menjawabku.” Tambah Tuan Azego. “Aku memang sedang tidak ingin menjawabmu pak tua!” Jawab Tama namun dalam hati. “Karena hari ini kau telah menjalankan tugasmu dengan baik maka setelah jam makan siang kau boleh menghubungimu istrimu. Akan kuberitahu dia bahwa kau akan meneleponnya. Dan kabar gembiranya lagi, kau akan melakukan panggilan video dengannya.” Tambahnya lagi.


Mendengar hal itu membuat hati Tama sedikit lega walaupun ada banyak kekecewaan kepada dirinya sendiri yang telah ikut andil dalam membuat rencana ayahnya gagal.


*


*


Nyonya Bella sedang mengobrol asyik sambil menonton TV di kamar tidur yang disediakan untuk dokter Flo. Setelah meresepkan obat gangguan kecemasan untuk Nyonya Bella dan memberikan tips-tips agar bisa mengurangi gejala penyakit gangguan kecemasan itu mereka pun mulai menonton drama Turkey.


“Oh tidak! apa itu Flo?” Seketika canda tawa diantara keduanya berhenti. Nyonya Bella gegas memegang tangan Dokter Flo yang memang sedang berada di sampingnya. Layar TV yang tadinya menunjukkan sebuah drama Turkey yang sedang menunggang kuda berganti menjadi drama lokal bergenre perbincangan hangat.


“Apa yang sedang oom lakukan tante?” Tanya Dokter Flo saat melihat di dalam layar TV itu adalah Tuan Harun yang sedang menyeduh teh hangat. “Dialah Tuan Azego Flo. Anak buah dari Azego lah yang menyerang keluarga ini.” Jelas Nyonya Bella dengan menunjuk seorang bapak tua yang berhidung runcing dan mancung.


“Iya tante, tetapi apa yang mereka lakukan?” Tanya Dokter Flo heran. “Kita lihat saja, bukankah sekarang kita sama-sama baru melihatnya?!” Jawab Nyonya Bella yang juga setengah heran walaupun dia mungkin tahu penyebab suaminya dan yang lainnya datang ke sana.


“Apa? Mengapa itu terjadi? Mengapa oom marah-marah tante? Sedangkan Tuan Azego terlihat sungguh ramah.” Dokter Flo mengerutkan kulit dahinya. Tuan Harun yang ia kenal tidak setempramen yang dia lihat di TV tersebut.


“Kita tunggu saja Flo. Mungkin ada penyebabnya mengapa oom bisa semarah itu.” Kali ini Nyonya Bella terlihat tenang dari biasanya. Namun, ketika live itu menunjukkan di mana Tuan Azego membuang kertas-kertas itu dan berterbangan menjadikan kedua wanita yang sedang menonton itu serempak membelalakkan matanya.


“Apa? Gambar hewan?” Seketika Nyonya Bella berdiri dan memegangi jantungnya. “Flo, ini tidak benar! Oommu tidak seperti itu. Untuk apa dia melakukan hal konyol seperti itu.” Penyakit gangguan kecemasan Nyonya Bella pun mulai kambuh.


“Tante? Tante tidak apa?” Dengan sigap Dokter Flo memegangi ibu dari teman masa kecilnya itu karena hampir terjatuh karena kaget melihat siaran langsung tersebut. “Ini tidak benar Flo!” Ucap Nyonya Bella lemah.


Nyonya Bella berjalan perlahan meninggalkan kamar Dokter Flo. Dengan lemah ia melangkahkan kaki sedikit demi sedikit untuk keluar dari ruangan itu. Sesekali tangannya memegangi kursi dan dinding saat hendak terjatuh lagi karena merasakan pusing di kepalanya.


“Tante beneran tidak kenapa-kenapa?” Dokter Flo yang sejak tadi mengikuti Nyonya Bella dari belakang mulai khawatir melihat Nyonya besar dari keluarga Harun itu. Karena ke khawatiran itu pun, akhirnya Dokter Flo mengikuti Nyonya Bella sampai ke kamarnya.


Nyonya Bella saat ini tidak banyak berbicara dan diam. Sedangkan telepon rumah miliknya seja tadi berbunyi bahkan semua telepon rumah di rumah itu semuanya berbunyi secara bergantian mulai dari kamar Dokter Flo, ruang tengah, dapur, kamar Nyonya Bella dan ruangan lainnya hingga terjadi kebisingan di rumah tersebut.


Nyonya Bella yang terdiam sejak tadi yang entah apa yang ada dipikirannya sepertinya tidak menyadari bahwa semua telepon rumahnya bordering. Dokter Flo pun tidak mengangkat satu telepon itu karena ia menjaga Nyonya Bella agar tidak pingsan tiba-tiba dan jatuh.


“Permisi Nyonya…” Tumiyem datang dengan tergesa-gesa dan menunduk. Kedatangan itu tidak disambut oleh Nyonya Bella. “Ada apa Miyem? Nyonya Bella sedang tidak enak badan.” Sahut Dokter Flo ketus.


“Begini Dok, ada banyak telepon yang masuk dan mereka semua ingin berbicara kepada Tuan Harun.” Kata Tumiyem yang masih saja menundukkan badan dan kepalanya. Namun, tangannya tampak gemetaran.


“Kau katakan saja kepada mereka bahwa Tuan Harun sedang tidak di rumah.” Jawabnya lagi dengan ketus.


“Sudah ku katakan Dok, tetapi mereka bersikeras ingin berbicara kepada anggota keluarga Harun lainnya termasuk Nyonya Bella.” Terang Tumiyem.

__ADS_1


“Katakan kepada mereka silahkan menelepon nanti karena Nyonya Bella sedang tidak enak badan.” Kata Dokter Flo dengan sangat ketus.


“Tetapi Dok, ada banyak yang menelepon bukan cuman dari satu orang. Dan mereka sangat bersikeras ingin berbicara Dok.” Jelas Tumiyem. Yah, semua pelayan wanita yang bekerja sekarang tengah sibuk mengangkat telepon yang masuk dan menutupnya kembali dengan berbagai alasan.


“Sudah ku katakan kepadamu bahwa Nyonya Bella sedang tidak enak badan! Harus berapa kali lagi ku katakan padamu Miyem?” kini nada Dokter Flo pun meninggi diikuti oleh emosinya yang meninggi.


Nyonya Bella yang sejak tadi diam dan termenung akhirnya berbicara, “Siapa yang menelepon itu Tumiyem?” Tanyanya lemah.


“Mereka berasal dari kolega bisnis Tuan, Nyonya. Sebagian besar berasal dari media katanya.” Jawab Tumiyem.


Mendengar hal itu membuat Nyonya Bella menghela nafas panjangnya. Tangannya dikepalkan berkali-kali dan ia memijit-mijit kepalanya. “Berikan obat sakit kepalaku Flo.” Tunjuk Nyonya Bella pada botol obat bening berisikan pil tanpa merk yang berada di atas nakas. Obat itu adalah obat penenang yang selama ini sering dikonsumsi oleh Nyonya Bella saat gangguan kecemasannya kambuh.


“Ini tan.” Kata Dokter Flo sembari membuka botol itu dan memberikan pil itu kepada Nyonya Bella. Tak lupa, setelah melihat Nyonya Bella menelan pil itu, Dokter Flo juga memberikan segelas air mineral yang telah dituang ke dalam gelas bening.


“Silahkan kau sambungkan saja telepon itu kemari Tumiyem. Jangan sambungkan kepada telepon dari Media, sambungkan saja telepon yang berasal dari kolega bisnis Tuan Harun.” Terangnya sesaat setelah merasa sudah lebih baik pasca meminum obat tersebut.


“Baik Nyonya.” Tumiyem pun permisi keluar dari ruangan itu. Tak lama kemudian telepon rumah yang ada di kamar Nyonya Bella pun berdering.


Kring… kring… kring…


“Halo, Anda berbicara dengan saya Bella.” Sambut Nyonya Bella dengan hangat pada panggilan suara itu. Namun, sambutan itu mendapatkan jawaban yang kasar dari pemanggil suara. Yah, apa lagi kalau bukan karena tayangan siaran langsung yang ditonton oleh banyak orang termasuk dirinya sendiri.


“Tenang Pak, itu semua akan kami selesaikan baik-baik. Ada kesalapahaman di dalam Video itu Pak.” Jawab Nyonya Bella yang berusaha tenang setelah mendapat cacian pada panggilan suara itu.


“Baik, kami akan selesaikan. Anda tidak perlu khawatir.” Pesan Nyonya Bella dan akhirnya panggilan itu pun terputus sebelah pihak dari mereka. Dan panggilan seperti itu terjadi hingga puluhan kali, namun Nyonya Bella tetap berusaha tenang dan menjawab semuanya dengan akan menyelesaikan permasalahan itu tanpa mempengaruhi saham dari kolega bisnis dari keluarg Harun.


“Ahhh…” Nyonya Bella yang baru saja menutup panggilan suara dari kolega bisnis yang lain akhirnya tak lagi mengangkat panggilan suara lagi. Kepalanya sudah terasa sangat berat. “Berikan pil itu lagi Flo.” Tunjuk Nyonya Bella kepada botol pil yang sama dengan yang diminumnya tadi.


“Tan, jika ini obat sakit kepala yang tante maksud. Tidak baik untuk dikonsumsi berlebihan dalam jangka waktu yang teramat dekat seperti tadi. Lebih baik tante istirahat saja. Biar saya dan Tumiyem yang mengatasi semua panggilan itu tan.” Dokter Flo ikut prihatin melihat kondisi Nyonya Bella.


“Tidak bisa hanya dengan kau yang memberikan statement Flo. Mereka tidak akan menerimanya karena denganku saja mereka tidak percaya. Mereka butuh penjelasan langsung dari oommu. Biarkan saja telepon rumah itu. Kita tunggu saja sampai oommu pulang Flo.” Suara Nyonya Bella masih melemah tetapi untungnya obat gangguan kecemasan itu masih bereaksi hingga membuatnya sedikit tenang.


“Baiklah tante.” Jawab Dokter Flo. Namun, Dokter itu masih menemani ibu dari teman masa kecilnya tersebut karena sebagai Dokter kondisi Nyonya Bella sedikit memprihatinkan. Batinnya seakan tertekan atas kejadian itu.


2 jam kemudian, Tuan Harun dan Tama beserta yang lainnya sampai ke kediaman Tuan Harun.


“Mario, suruh anak buahmu untuk mengantar kru TV itu pulang.” Perintah Tuan Harun sesaat setelah turun dari mobil. Sebelum Mario mengangguk, salah satu dari kru itu menjawab Tuan Harun. “Tidak usah Tuan, kami akan pulang sendiri.” Ujarnya.


“Baiklah.” Jawab Tuan Harun. Kemudian memberikan beberapa uang saku kepada kru tersebut untuk biaya taksi mereka. “Sisanya akan ditransfer oleh Mario.” Tambahnya.


Kemudian Tuan Harun dan Tama masuk lebih dulu ke dalam rumah sedangkan Mario tinggal bersama dengan kedua kru itu untuk urusan lainnya sesuai yang diperintahkan oleh Tuan Harun.


Saat telah berada di dalam rumah. Nyonya Bella menghampiri suaminya dan menangis terseduh. “Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyanya dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya.

__ADS_1


“Tuan Harun memeluk istrinya dengan hangat. Ia pun membuai rambut pendek milik istrinya itu. “Tenanglah sayang, tidak apa-apa, hanya saja Azego itu terlalu cerdik untuk kita kalahkan.” Sahut Tuan Harun yang merasa lelah namun akhirnya ikut bersedih saat melihat istrinya seperti itu.


“Sayang, apa kau membawa Kirana?” Katanya lagi. “Belum sayang. Kita harus mengalahkannya terlebih dahulu baru bisa membawanya pulang.” Sahut Tuan Harun. “Sayang, mari kita temui saja detektif Aigo. Mungkin dia punya banyak cara yang bisa kau tanyakan.” Nyonya Bella mendongak untuk melihat ekspresi suaminya.


“Tapi… itu terlalu berbahaya jika harus melibatkan detektif Aigo sayangku.” Tuan Harun mengerutnya keningnya tiba-tiba saat mendengar nama itu disebut. “Pikirkan cucu kita sayang. Ingat, Kirana sedang hamil anak Tama saat ini.” Tambah Nyonya Bella.


Tuan Harun hanya terdiam tanpa bisa menjawab saran dari istrinya tersebut karena ia tahu betul siapa detektif Aigo itu. Seorang detektif handal dalam menemukan dan mengungkap sesuatu tetapi juga sangat handal dalam menutupinya.


Sementara itu, Tama yang langsung masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan Dokter Flo yang menyapanya saat ia melewati saja teman masa kecilnya itu membuat Dokter Flo semakin cinta kepadanya karena kecuekan Tama yang menurutnya sangat keren.


“Ya ampun, Flo? Apa yang kau lakukan?” Tama yang saat berbalik badan hendak menutup pintu kamarnya pun kaget. Ia kaget melihat teman masa kecilnya itu ternyata mengikutinya tanpa ia sadari.


“Boleh aku masuk Timi?” ujarnya. “Ah come on, kau masih saja memanggilku dengan panggilan itu sampai saat ini.” Sahut Tama. “Ayolah, tidak masalah bukan?!” Dokter Flo mencubit kulit perut dari temannya itu.


“Baiklah, terserah kau saja.” Tama pun tidak menghiraukan teman masa kecilnya itu dan mulai membuka kemeja yang ia kenakan. Karena ia menggunakan kaos oblong warna putih, alat perekam suara itu belum terlepas sama sekali.


Tama kemudian meraih ponselnya. Ia berniat untuk melakukan video call kepada Kirana, karena sejak kemarin ia belum juga melihat bagaimana kondisi dari istrinya tersebut.


“Kau ingin menelepon siapa?” Tiba-tiba saja suara Dokter Flo terdengar lagi. Betapa terkejutnya Tama saat melihat teman masa kecilnya itu telah duduk bersamanya di atas kasur.


“Flo? Apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanya Tama heran. “Tidak ada, karena Kirana tidak di sini ku rasa tidak masalah aku masuk.” Dokter Flo pun melipat kaki. Ia sedang mengenakah rok selutut sehingga saat melipat kaki membuat betisnya mulusnya terlihat.


“Flo, lebih baik kau keluar saja. Tidak baik kau berada di sini. Aku sudah beristri.” Kata Tama. “Kenapa kau jadi kaku begini Tama? Aku hanya rindu kepada temanku yang dulu. Teman masa kecilku, di mana tidak ada rahasia di antara kita. Ada apa denganmu Tama?” Dokter Flo merangkul sahabatnya itu.


“Bukan seperti itu Flo, hanya saja aku sedang tidak enak badan. Aku ingin istirahat sebentar.” Tama pun beralasan. “Benarkah? Kau sakit apa?” Dokter Flo semakin mendekat dan memegangi kening Tama.


Niat hati Tama mengusir Dokter Flo secara halus malah semakin membuatnya semakin mendekat. “Sepertinya aku telah salah bicara.” Gumamnya dalam hati. Dokter Flo pun memegangi keningnya secara bergantian dengan Tama.


“Ku rasa kau sedang tidak sakit, suhu badanmu masih normal.” Ujar Dokter Flo saat menyadari bahwa teman masa kecilnya itu baik-baik saja. “Bu… bukan itu yang ku maksud, hanya saja seluruh badanku terasa sakit. Aku kelelahan Flo.” Terang Tama sembari menyentuh kaki dan tangannya.


“Oh ternyata seperti itu. Baiklah, sini aku pijitin ya.” Sontak Dokter Flo memijit bahu Tama dengan sangat lembut dan penuh cinta. Namun, entah mengapa pijitan yang di rasakan oleh Tama mengingatkannya kepada Kirana padahal Kirana belum pernah memijitnya sebelumnya.


“Terima kasih Flo. Aku sudah baikan sekarang, seluruh badanku sudah tidak pegal-pegal lagi.” Tama pun menghentikan tangan Dokter Flo yang sedang memijit itu. “Benarkah? Apa tanganku sehebat itu. Baru 10 detik aku memijitmu saja pegalmu sudah hilang.” Sahut Dokter Flo.


“Yah, kau benar! Ku rasa setiap pasien yang berobat padamu akan langsung sembuh seketika.” Tama tersenyum. Melihat senyuman itu seketika kedua pipi Dokter Flo memerah. Walaupun itu terdengar tidak masuk akal tetapi hatinya sangat senang mendengar pujian itu.


“Jadi, sekarang keluarlah. Aku ingin merebahkan badanku terlebih dahulu setelahnya mari makan bersama nanti bersama ayah dan ibuku.” Ujar Tama sambil merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. “Kau benar, sampai ketemu nanti.” Dokter Flo keluar sambil melambaikan tangannya dan dibalas singkat oleh Tama.


“Ahhh…” Tama menghela nafasnya, akhirnya temannya itu keluar juga tanpa harus membuatnya tersinggung karena menurutnya perasaan wanita sangat mudah tersinggung dan harus hati-hati dalam menghadapinya.


Seketika Tama pun mengingat perlakuannya kepada Kirana mulai dari pertama bertemu hingga saat ini yang bisa dibilang terbilang kasar dan sering meningginya nadanya. Jauh berbeda saat dirinya berhadapan dengan Flo.


“Walaupun demikian, Kirana lah yang mengandung anakku bukan Flo. Seharusnya aku lebih baik kepadanya.” Gumamnya lagi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2