
Tama yang sejak tadi tak sadarkan diri akhirnya membuka matanya secara perlahan. Ia merasakan kekeringan pada tenggorokannya. Dengan mata yang lebam dan membengkak Tama mencoba untuk terbangun dan terduduk.
“Hey, kau yang disana, bisa berikan aku air minum? Aku sangat haus.” Kata Tama dengan nada yang sedikit berteriak. Ia tak sanggup untuk berteriak lebih keras karena merasakan kesakitan disekujur tubuhnya. Sesekali Tama pun mengernyitkan dahi dan bibirnya kala perih pada luka-lukanya mulai terasa lagi.
“Tidak ada air minum disini.” Jawab penjaga ruang bawah tanah itu dengan suara yang sangat keras serta dengan senyuman yang tampak mengejek kepada putra Tuan Harun tersebut.
“Ahhh…” Tama hanya bisa menghela nafas panjangnya dan memandangi langit-langit sedangkan Kirana terbangun karena suara penjaga ruang bawah tanah yang begitu keras.
“Tama…” Desah Kirana saat menyadari Tama telah tersadar namun laki-laki yang berada disampingnya tersebut belum juga menyadari bahwa Kirana berada tepat disampingnya. Kirana gegas terbangun dan terduduk sembari memperhatikan Tama yang tengah melamunkan sesuatu.
‘Tama!” Kirana mengeraskan sedikit suaranya agar Tama tersadar dari lamunannya. Kemudian Tama yang entah apa yang sedang dilamunkannya itupun menoleh dan melihat ke sumber suara. Seketika Tama berusaha mendekati serta melepaskan lakban yang ada pada mulut istrinya.
“Kirana, ternyata kau disini?” Gegas Tama mendekati istrinya dan memegang tangan Kirana. “Iya…” Jawab Kirana sembari menganggukkan kepalanya. Air mata yang sempat kering di wajah Kirana kini mulai basah lagi.
“Kau jangan khawatir, aku akan mengeluarkanmu dari sini!” Tegas Tama. Ingin sekali rasanya Tuan Muda itu memeluk istrinya namun jeruji besi di antara mereka menghalanginya. “Bukan Tama, bukan itu yang membuatku menangis. Aku, aku sungguh prihatin melihatmu seperti itu.” Air yang keluar dari kedua bola mata Kirana tak kunjung berhenti.
“Jangan mengkhawatirkan aku. Aku lebih mengkhawatirkan…” ucapan Tama terhenti dan beralih memandangi perut istrinya. “Kirana…” Tama yang sejak tadi mengenggam tangan Kirana saat ini lebih mengeratkan genggaman itu.
“Apa benar yang dikatakan oleh Tumiyem?” Tama menatap intens Kirana. “Tumiyem? Ada apa dengannya? Apa dia terluka?” Kirana tampak mencemaskan sahabatnya tersebut.
Walau sedikit terkejut dengan jawaban Kirana yang sepertinya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Tama tetapi Tama masih menatap istrinya dengan intens tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Keduanya tampak hening dengan Kirana yang menunggu jawaban dari Tama, sedangkan Tama terus menatap istrinya dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh Kirana. “Apa benar kau sedang hamil?” Tama mencoba to the point.
__ADS_1
“Apa?” Kirana terkejut dengan pertanyaan yang dilayangkan kepadanya. “Ahhh kau benar, aku memang—” Ucapan Kirana terhenti saat Tama begitu senang mendengar kalimat darinya.
“Bu… bukan seperti itu Tama. Maksudku kau benar, aku baru ingat kalau aku melakukan testpack tadi pagi. Tumiyem memang memberikan alat tes kehamilan itu karena dia berpikir bahwa aku sedang hamil.” Kirana terkekeh tetapi Tama mengerutkan keningnya. Ia mulai meragukan kehamilan Kirana dengan melihat ekspresi wajah dari wanita yang ada di depan matanya itu.
“Apa kau membawa alat tes kehamilan itu?” Kata Tama sembari mengalihkan pandangan matanya kepada penjaga yang tengah duduk mengobrol bersama temannya ditemani dua buah cangkir bening berisikan air hitam seperti kopi.
“Iya tentu, aku menaruhnya dikantong—” Kirana yang berbicara sambil meraba kantongnya pun menghentikan kalimatnya. “Kemana alat itu?” Kirana baru menyadari bahwa alat tes kehamilannya tidak ada di dalam kantongnya. Gegas Kirana meraba lagi dan membuka kantongnya untuk memeriksanya lagi.
“Ahhh kau ini!” sambung Tama sambil menghela nafas. Yah, masih saja istrinya itu tampak seperti anaknya sendiri dan ceroboh kemudian Tama terbelalak saat melihat sebuah benda aneh nan kecil dan agak panjang nan tipis berada tepat di depan Kirana.
“Benda kecil apa itu?” Tama sedikit memiringkan kepalanya saat melihat tespack tersebut. Di dalam benaknya mungkin itu hanya sampah tetapi feeling-nya berkata bahwa itulah alat tes kehamilan yang dicari oleh istrinya.
“Ahhh… untung saja kau melihatnya.” Kirana tersenyum dan mengambil alat itu. Kemudian melihat garisnya.
Deg!
“Berarti benar.” Tama yang tak mendengar kalimat apapun dari Kirana menjadi paham dengan melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Kirana. Ekspresi wajah yang penuh dengan rasa canggung sekaligus ketakutan sama seperti dirinya saat pertama kali mengetahui bahwa Kirana yang selalu ia anggap sebagai anak malah mengandung anaknya sendiri.
“Apa yang akan kita lakukan ke depannya Kirana? Apa lebih baik kita di sini saja sampai membusuk.” Tama menyenderkan bahu dan kepalanya ke dinding. Namun Kirana duduk termenung terdiam tanpa kata.
“Walaupun ibumu telah tiada, tetapi masih saja aku sering mengingatnya.” Tambah Tama lagi. Kirana hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menahannya. Berharap dengan keluar dari kediaman Tuan Harun bisa membebaskannya dari jeratan keluarga itu dan menghilangkan rasa bersalahnya kepada ibunya karena sedikit demi sedikit Tama begitu mempesona dimatanya. Namun, semua itu menjadi makin rumit dengan kehamilannya ditambah lagi dengan terseretnya Kirana terhadap masalah kedua keluarga kaya tersebut.
“Apa aku harus menggugurkan saja anak ini Tama?” Kirana akhirnya berbicara setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
“Hey, apa yang kalian lakukan? Apa kalian saling mengenal?” teriak salah satu dari penjaga ruang bawah tanah itu. Dia akhirnya menyadari bahwa tahanan mereka saling berkomunikasi.
“Sudahlah, biarkan saja mereka saling mengenal. Mereka bisa menjadi pasangan yang serasi.” Sahut temannya sembari mengambil cangkir yang ada di atas meja lalu meminumnya. Sepertinya kedua dari penjaga itu tidak mengetahui bahwa tahanan mereka telah saling mengenal bahkan berstatus suami istri.
Penjaga ruang bawah tanah itu berdiri dan mendekati sel tersebut. “Apa yang akan kau lakukan Tono?” teriak temannya yang bernama Beno. Beno pun meletakkan cangkir itu dan menyusul Tono.
“Apa kau berniat untuk menyentuh gadis cantik itu?” Tanya Tono dengan mengarahkan pisau ke dagu Tama hingga membuat Tama mendongak ke atas melihat wajah garang yang diperlihatkan oleh Tono.
“Jangan menganggunya. Dia suamiku!” Tegas Kirana. “Ohhh… sungguh manis kisah ini.” Tono beralih untuk mendekati Kirana. Ia bahkan membuka pintu sel dan masuk untuk berada di samping wanita cantik itu.
“Ku rasa kau cukup beruntung mendapatkan gadis secantik ini.” Tono mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Kirana dengan menoleh menatap Tama. Kirana pun menahan nafasnya, hal itu mengingatkan dirinya kepada Mario dan membuatnya takut.
“Jangan mendekatinya! Kau jangan menyentuhnya!” Bentak Tama kepada Tono. Tiba-tiba saja ia sangat bertenaga dan mulai memberontak saat Kirana hampir saja disentuh oleh Tono.
“Ohhh ternyata kau masih saja punya tenaga.” Kini Beno yang geram melihat Tama yang tampak melawan temannya. “Babak belur begini saja kau sangat lancang.” Tambah Beno.
Plak!
Beno menampar Tama dengan sadis. Tama pun terdiam dengan wajah datar. Ia tak lagi merasakan sakit saat mengkhawatirkan Kirana yang hampir disentuh oleh penjaga ruang bawah tanah itu.
“Ada apa ini?” tiba-tiba Tuan Azego masuk bersamaan dengan Maria. Suaranya cukup keras hingga membuat kedua penjaga itu terperanjat dari tempatnya.
“Tidak ada apa-apa Tuan.” Jawab Tono dan Beno bersamaan. Tanpa merasa bersalah keduanya meninggalkan sel itu dan berdiri tegap untuk kembali menjaga ruang bawah tanah tersebut.
__ADS_1
“Kau jangan banyak bermain. Jangan banyak teralihkan oleh tahanan. Mengerti?!” tegas Maria memarahi kedua penjaga itu. Keduanya terdiam, mematung, berdiri tegap bak penjaga kerajaan inggris.
Sementara itu, Tuan Azego masuk ke dalam sel Kirana dan menyeret gadis itu.