Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 29


__ADS_3

Flashback off


Setelah beberapa menit, dengan cepat polisi datang ke gedung tempat apartemen milik Riyanda dimana sebuah jasad telah ditemukan.


Ninu-ninu-ninuuu\~


Sirine mobil polisi jelas terdengar diluar gedung. Ada tiga mobil polisi yang datang beserta dengan anggotanya.


“Permisi.” Seorang polisi masuk diikuti oleh dua orang bawahannya di belakangnya. “Di sini pak.” Sahut Tama sembari berdiri dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Baju yang ia kenakan pun telah basah dengan keringat kepanikannya itu.


Dua orang polisi yang masuk belakangan langsung mendekati jasad wanita yang belum dikenali indentitasnya tersebut.


“Wanita ini sudah tidak bernafas lagi pak.” Salah seorang dari polisi yang datang memberitahu kepada atasannya dengan mata yang menatap tajam.


Polisi yang berdiri menatap jasad wanita yang baru diketemukan itu mengambil sebuah ponsel pada kantong celananya.


“Kirim tim medis dan perintahkan kepada detekif Aigo untuk segera datang kemari.” Ucap polisi itu pada sebuah panggilan suara yang ia lakukan.


“Permisi pak, saya adalah Bambang, saya bertugas di daerah ini, bisa kita mengobrol sebentar pak.” Polisi itu mendekati Tama dan mengajaknya berbicara.


Tama segera pergi ke sudut ruangan bersama dengan polisi yang memimpin timnya tersebut. Sementara itu Kirana mendekati Vindra dan duduk disampingnya. Istri dari Tama itu masih menangis tersedu.


Pada sudut ruangan itu pak Bambang sedang bersalaman dengan Tama. “Maaf pak, kalau boleh tau saya berbicara dengan siapa ya?” Tanya pak Bambang.


“Nama saya Tama pak.” Jawab Tama singkat, ia sedang berusaha terlihat tenang walaupun jantungnya tetap saja berdegup kencang di dalam sana.


“Pak Tama, siapa yang pertama kali menemukan jasad perempuan itu?” Polisi tersebut mulai menyidik kasus itu.


“Bukan saya pak! Saya tidak tahu. Saya hanya mendengar housekeeping yang bernama Vindra itu. Dia yang pertama kali menemukannya.” Tama akhirnya tampak panik dan takut. Ia pun menunjuk ke arah kitchen set tersebut dimana Vindra tengah berada disana walaupun dari posisi pak Bambang berdiri ia tak bisa melihat Vindra yang terduduk di lantai ditutupi dengan meja set tersebut.


“Hmm..” pak Bambang memegang dagunya seraya berpikir. “Begini saja pak Tama, untuk mempersingkat waktu bagaimana jika bapak memberikan nomor telepon bapak. Nantinya kita akan melakukan wawancara di kantor polisi tempat saya bekerja.” Pak Bambang membuka kunci layar ponselnya pada tangan kirinya yang sejak tadi ia pegang.


Tama meraih ponselnya lagi. Tangan kanannya ia angkat namun cepat ia topang menggunakan tangan kiri karena tangannya yang gemetaran. “+628… bla bla bla.” Tama memberikan nomor ponselnya kepada polisi tersebut.


“Baiklah. Nanti kami akan menghubungi bapak. Untuk sementara jasad perempuan itu akan kita bawa terlebih dahulu untuk di lakukan otopsi dan pemeriksaan lebih lanjut.” Pak Bambang beranjak dari tempatnya meninggalkan Tama. Polisi itu menyusul kepada kedua bawahannya yang sedang memeriksa jasad yang mereka temui. Tak lupa para polisi itu memeriksa dan meminta nomor ponsel milik Kirana dan Vindra.


Selama beberapa menit, tim medis pun datang. Wanita yang terbujur kaku itu di angkat dan dibawa oleh tim medis tersebut. Kemudian Kirana, Tama, dan Vindra juga ditopang oleh beberapa tim medis untuk diberikan penanganan pasca trauma pada pertolongan pertama karena mereka bertiga sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Mereka bertiga dibawa ke mobil ambulance yang disediakan tim medis. Ketiga orang itu diberikan air putih kemudian ketiganya diminta untuk menarik nafas pelan-pelan lalu membuang nafas mereka melalui mulut.


Setelah beberapa kali mencoba dan mulai merasa ketenangan. Ketiganya diperbolehkan untuk pulang dan menunggu panggilan kembali nanti oleh polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.


“Kirana, ayo kita pulang.” Tama meraih lengan istrinya. Kirana berjalan dengan lengan yang dipegang erat oleh Tama. Kirana berjalan dengan pikiran yang melayang dan tatapan mata yang melihat kosong ke bawah.


“Masuklah Kirana.” Tama membukakan Kirana pintu mobil. Kirana masuk dan duduk tanpa berkata sepatah katapun ke dalam mobil yang berwarana merah itu. Kemudian Tama juga masuk ke dalam mobilnya.


“Sial!” Tama memukul setir itu dengan keras. Kirana yang seharusnya terkejut bahkan tidak menyadari pukulan kekesalan Tama karena sedang melamun.


“Kau dimana Riyanda?” Tama membatin. Setelah dikejutkan dengan kehadiran satu orang wanita yang tak bernyawa, ia mulai kesal kala tersadar tujuannya pergi bersama dengan Kirana hanya untuk bertemu dengan wanitanya. Di dalam benak Tama, Riyanda masih hidup dan menghilang. Ia tak melihat tubuh Riyanda pada jasad tersebut.


Tama mengidupkan mesin mobilnya, setelah mesin mulai stabil, Tama pun menginjak pedal gas dan meninggalkan gedung apartemen itu. Di dalam perjalanan yang entah kemana tujuannya, mobil itu melaju lambat dan hening. Sepasang pengantin baru itu tak saling berbicara. Ada cukup banyak hal yang mereka lalui bersama dalam waktu yang singkat itu.


“Ibuuuuu…” tiba tiba saja Kirana berteriak histeris, menangis meraung-raung. Sontak Tama terkejut dan mengambil posisi pemberhentian yang aman di pinggir jalan raya itu.


Tanpa berkata Tama hanya memeluk Kirana. Kirana hanyut dalam pelukan Tama dan menangis lirih. Entah apa yang merasuki istrinya, tetapi Tama ikut menangis melihat Kirana yang hidup sendiri tak ditemani siapapun.


“Tenanglah Kirana, aku yakin dia bukan ibumu. Ibumu lebih cantik daripada wanita yang tak bernyawa itu.” Tama membelai lembut rambut Kirana. Ia mencoba menenangkan istrinya.


Kirana mendorong Tama hingga pelukan itu terlepas. “Tidak Tama, dia ibuku! Aku sangat yakin!” Tegas Kirana. “Sudahlah sayang, untuk saat ini tenanglah dulu. Wanita itu belum tentu ibumu, biarkan para polisi itu yang mengindentifikasinya.” Terang Tama dan kembali memeluk istrinya. Kirana hanya bisa menangis terseduh dan kembali terhanyut dalam pelukan hangat itu.


“Ku rasa kita harus pulang sekarang.” Tama kembali menyetir. Ia sedang menyetir fokus dengan kecepatan tinggi berharap bisa cepat sampai ke rumahnya.


Kedua orang itu sampai di kediaman keluarga Harun saat matahari telah terbenam sempurna. Tuan Harun dengan Mario yang berdiri di belakangnya sedang duduk santai di ruang tamu bersama dengan istrinya yaitu Nyonya Bella.


“Halooo sayang, dari mana saja kau.” Nyonya Bella mendekati keduanya namun anak dan menantunya itu berlalu dengan wajah yang murung.


“Sudahlah ibu, kami berdua sedang lelah. Aku dan Kirana akan beristirahat, sampai bertemu saat makan malam.” Tama menarik tangan Kirana di depan ibunya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Kirana hanya terdiam dan menurut ditarik oleh suaminya. Pikirannya masih saja mengatakan bahwa wanita yang penuh luka sayatan pada wajahnya itu adalah ibunya.


Nyonya Bella menghela nafas panjangnya. “Kenapa mereka begitu terlihat lelah? Apa mereka dari naik gunung? Mereka sangat bau.” Gumamnya. Lalu Nyonya Besar itu mendekati suaminya.


“Sayang, badanku masih terasa pegal. Ku harap malam ini kau tidak memakai diffuser itu lagi di kamar kita. Cukup kita gunakan saja untuk Tama dan Kirana.” Nyonya Bella memeluk lengan suaminya.


“Ada apa? Apa aku terlalu kuat?! Hahaha…” tuan Harun tertawa bangga karena merasa keperkasaannya membuat istrinya tak sanggup melayaninya padahal itu adalah bantuan diffuser yang mereka pakai. Jika tidak memakai diffuser yang telah di isi cairan untuk menaikan gairah tersebut, tuan Harun bahkan tidak bisa untuk menggerakkan lututnya lagi.


“Benar sayang.” Nyonya Bella menjawab iya agar suaminya bisa merasa senang walaupun sebenarnya dia merasa keki mendengarnya.

__ADS_1


“Malam ini kau makan malam saja bersama dengan yang lain. Aku ada janji makan malam bersama dengan gubernur.” tuan Harun beranjak dari tempatnya karena akan bersiap-siap pergi.


“Baiklah sayang, hati-hati di jalan.” Nyonya Bella pun meninggalkan ruang tamu itu dan menuju kamar dokter Flo.


*


*


Disebuah restauran mewah yang dihadiri secara privat, tuan Harun sedang melaksanakan makan malam bersama dengan gubernur setempat.


“Bagaimana pak? Apa tawaranku bisa bapak terima?” Tuan Harun memotong sebuah daging dan menyantapnya. Ia sangat percaya diri bisa menjadi gubernur dengan tawaran suap sejumlah uang kepada gubernur itu. Ia meminta untuk gubernur tersebut agar tidak maju lagi dalam pemilihan berikutnya dan berharapa gubernur itu bisa mendukungnya nanti.


Gubernur yang sedang duduk di depan tuan Harun itu menarik kedua sudut bibirnya. Ingin sekali rasanya ia tertawa terbahak-bahak mendengarkan tawaran dari kakek tua itu. Entah mengapa, bapak gubernur tersebut merasa bahwa kakek tua yang sedang makan bersama dengannya itu telah terkena panyakit pikun. Bagaimana mungkin ia mencalonkan diri menjadi gubernur dengan usia yang bisa dibilang sudah tidak memenuhi syarat itu.


“Hmm… begini pak Harun, saya bukan tidak ingin mendukung bapak ataupun menolak tawaran bapak. Dengan menerima tawaran dari bapak Harun saya bisa hidup dengan tenang tanpa bekerja, namun bapak Harun, untuk menjadi gubernur ada syarat tertentu yang harus ditaati.” Terang gubernur itu.


“Apa itu? Ku rasa uang tidak menjadi masalah bukan?!” Tuan Harun tersenyum lebar. “Benar, jika bagi bapak Harun saya pun percaya bahwa uang bukan menjadi kendala terhadap syarat itu. Tetapi bapak Harun, minimal usia untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur tidak lagi memenuhi syarat bagi bapak Harun.” Jelas gubernur yang cukup dikenal dermawan itu.


“Apa katamu? Jadi maksudmu aku ini tua? Kau pikir aku sudah tua? Ku rasa matamu itu perlu dipakaikan kacamata. Aku ini masih muda, lihat saja diriku ini.” Dada tuan Harun tampak naik turun, jelas terlihat bahwa dia sedang tersinggung saat ini.


“Baiklah, aku permisi sekarang juga. Ku harap kau tidak menyesali perkataanmu itu.” Bengis tuan Harun. Dia meninggalkan ruang makan privat itu.


Sedangkan gubernur yang sedang menjabat itu hanya bisa tersenyum lucu. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang kakek tua yang kaya dan merasa uang adalah segalanya. Baginya, uang bukan faktor dirinya menjadi gurbernur. Gubernur yang bernama Eric Hartono itu menjadi gubernur pada daerah itu karena ingin memajukan tanah kelahirannya serta menghilangkan faktor monopoli ekonomi yang dikelola oleh keluarga Harun.


*


*


“Kirana…” Tama mendekati istrinya. “Ayo kita pergi makan. Kedua orang tuaku ku rasa sudah menunggu kedatangan kita.” Tama tengah jongkok di depan Kirana. Ia mencoba untuk mengajak wanita yang berstatus sebagai istrinya untuk pergi makan malam bersama mengingat bahwa saat ini wajah Kirana sedang pucat pasih seperti orang sakit.


“Kau pergi saja Tama, aku akan disini. Aku tidak merasa lapar.” Bantah Kirana. Dengan mengingat kejadian siang tadi tak sedikitpun Kirana merasa lapar walaupun kenyataannya perutnya menjerit minta di isi.


Tama menghela nafas kasarnya. “Jika kau tak makan maka aku juga tidak akan makan.” Terang Tama mencoba untuk mengimbangi istrinya itu.


Gerkkk… ponsel Tama bergetar. “Halo?” Ia mengangkat panggilan suara yang tidak memiliki nama kontak pada ponsel tersebut. “Halo selamat malam bapak Tama, saya Bambang yang bertemu bersama bapak pada apartemen siang tadi. Kami sudah mengidentifikasi jasad yang ditemukan pada apartemen itu. Bisakah bapak datang ke sini sekarang juga?” Jelas pak Bambang.


“Baik, saya akan segera ke sana.” Tama menatap Kirana dengan tatapan yang penuh arti. “Oh ya pak, apa bapak kenal dengan wanita yang bersama bapak pada apartemen itu?” Tambah bapak Bambang.

__ADS_1


“Iya pak, dia istri saya.” Tama tidak berkedip sama sekali melihat Kirana yang sedang melamun itu. “Ternyata seperti itu, bisakah bapak datang bersama dengan istri bapak?” Pinta bapak polisi tersebut.


“Baik pak, saya akan kesana bersama istri saya setelah selesai melaksanakan makan malam.” Terang Tama kepada polisi yang ia temui siang tadi. Tama meraih tangan Kirana dan membelai punggung tangannya.


__ADS_2