Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 75


__ADS_3

“Kau… mengapa kau ada di sini?” Nyonya Bella mengucek kedua matanya yang merah itu. Nafasnya melemas lalu… ia jatuh pingsan terbaring tak berdaya di lantai. Sedang Tama, ia terdiam seribu bahasa bagai orang bisu. Berdiri tegap tak bergerak bagaikan patung. Jantung tuan muda itu seakan berhenti sejenak kemudian berdetak kembali namun dengan detakan jantung yang begitu kencang.


Nyonya Bella terbaring di lantai dan pingsan. Tama tak sedikitpun menyadari akan hal itu. Tuan muda itu hanya terus memandangi seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.


“K… Kau?” Ujarnya dengan terbata. “Tidak! Ini tidak mungkin.” Gumam Tama dengan sendirinya. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali dan menatap orang itu lagi. Detak jantung yang tadinya berdegup dengan kencang itu berangsur membaik. Tama menunduk dan memandangi kedua kakinya.


Sekitar 15 menit ia terdiam mematung dan membisu, kemudian saat jantungnya mulai membaik, ia pun berencana mendekati orang itu. Tuan muda itu kembali memandangi kedua kakinya.


“Kakiku kenapa?” Kata Tama dalam hati. Yah, entah mengapa sejak tadi, otaknya sedang berpikir tapi tidak dengan anggota tubuhnya termasuk kedua kakinya. Ingin sekali rasanya ia berlari menuju orang itu tetapi kakinya terasa kaku dan berat. Selangkah pun tak mampu ia gerakkan kakinya itu.


Flashback on


Riyanda telah sampai di negara yang penuh dengan budaya yaitu negara Indonesia. Ia mencoba mencari gawainya dan menelepon seseorang. “Oh ya, aku belum membeli sim card yang baru.” Gumamnya saat melihat ponsel yang ia pegang itu tak bisa digunakan karena tidak memiliki kartu.


“Antarkan aku ke apartemenku pak.” Kata Riyanda setelah masuk ke dalam Taxi dan memberitahu alamat rumahnya. Sesaat ia ingin menutup pintu mobil tersebut, tiba-tiba sebuah tangan menghalanginya hingga ia tak sempat untuk menutup pintu mobil.


“Abellard?” Sontak Riyanda membulatkan kedua matanya. “Kau sungguh gi—” belum sempat Riyanda meneruskan perkataannya, Abellard gegas masuk menutup kedua mulut Riyanda dan duduk. Tak lupa ia pun menutup pintu mobil taxi itu.


“Sir, please take me to Davinci’s Apartment!”


(Pak, tolong antarkan saya ke apartemen Davinci!)


Pungkas Abellard sembari memegang punggung supir Taxi itu agar bergegas. Entah mengapa supir Taxi itu juga tidak begitu memperhatikan apa yang sedang terjadi di kursi penumpang mobilnya. Ia hanya menjalankan perintah pelanggannya dan menyetir mobilnya tanpa menoleh ataupun melihat ke kaca.


“Kau gila Abellard!” akhirnya kata-kata itu bisa Riyanda lontarkan saat mobil telah melaju dengan kecepatan sedang dan Abellard tak lagi menutup mulut Riyanda.


“I’m not crazy, I’m just still loving you.”

__ADS_1


(Aku tidak gila, aku hanya masih sangat mencintaimu.)


Ucap Abellard dengan mata yang berkaca-kaca. Sejenak Riyanda terheran dengan apa yang dikatakan oleh Abellard. “Sejak kapan kau mengerti bahasaku?” Tanya Riyanda yang masih bingung dengan ucapan mantan kekasihnya.


“Sejak kau meninggalkanku.” Jawab Abellard dengan nada yang lemah. Riyanda menelan salivanya. Semenjak kepergiannya menuju Indonesia puluhan tahun lalu, Abellard mengalami banyak perubahan.


“Ini seperti mimpi bagiku, kau menggunakan bahasa Indonesia. Dan… terlebih lagi kau mengatakan apartemen Davinci. Apa kau juga telah membeli apartemen di sini?” Riyanda seakan tak mengerti dengan semuanya.


“Yah, aku sering datang kemari sayang. Aku sering merindukanmu. Aku bahkan rela membeli apartemen hanya untuk terus bisa kemari di waktu liburku. Tetapi selama ini aku tak bisa menemuimu karena aku tidak mempunyai alamat ataupun nomor teleponmu yang bisa aku hubungi.” Abellard berkata dengan kalimat yang sangat fasih berbahasa Indonesia.


“Astaga! Kau penguntit rupanya!” Riyanda menaikkan sedikit nada bicaranya. “Penguntit katamu? Aku bahkan belum menemukanmu. Baru kali ini aku menemukanmu semenjak kau datang ke negaraku. Lagi pula aku datang ke sini bukan hanya untuk mengikutimu tapi aku ingin berlibur saja ke negara ini.” Abellard membuat alasan yang tidak dapat dipercaya oleh Riyanda.


“Hentikan omong kosongmu itu!” Ucap Riyanda ketus. “Sekarang terserah kepadamu saja Abellard. Aku sedang tidak ingin memikirkan cinta atau apalah itu. Saat ini tujuan hidupku adalah bagaimana agar putriku bisa hidup bahagia.” Jelas Riyanda jujur.


“Dan terserah dengan apa yang kau ucapkan. Tujuan hidupku saat ini hanya untuk hidup bersamamu. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya sayang…” Abellerd mengenggam kedua tangan Riyanda.


“Huff…” Riyanda menghela nafas panjangnya. “Baiklah, jika memang hanya itu yang bisa membuatmu bertahan dan hidup.” Ucap Riyanda pasrah. “Benarkah?!” Sekejap Abellard membasuh air matanya dan memeluk erat perempuan yang ada didepannya itu.


“Kalau begitu kau harus menginap di apartemenku sayang.” Kata Abellard sambil memegang tangan kiri Riyanda dengan tangan kanannya. Tangan itu bergandengan sembari merekatnya tubuh mereka. Setelah itu tangan Abellard membelai rambut perempuannya kemudian mendekapnya kembali.


Laki-laki berkebangsaan Prancis itu sungguh terlihat bahagia sedangkan Riyanda terlihat bingung dan tak tahu berbuat apa-apa, terlebih lagi dia telah menerima lamaran seorang pria muda yang bernama Tama.


“Huff…” Riyanda kembali menghela nafasnya. “Kalau sudah begini, lebih baik kita menginap di apartemenku.” Ajak Riyanda setelah mantap mengambil keputusan. “Tidak! Itu tidak boleh! Kau harus tetap tinggal di apartemenku.” Tegas Abellard kepada wanitanya.


Perempuan paruh baya yang awet muda itu sontak mengerutkan alisnya. Laki-laki yang mengaku mencintainya itu terlihat marah. “Mengapa? Ada apa lagi Abellard? Apa yang membuat kau terlihat seperti orang yang sedang marah seperti itu?” Tanya Riyanda yang sedikit menjauh dari Abellard.


“Tidak sayang, kemarilah.” Abellard membuka lebar kedua tangannya agar Riyanda kembali kedalam dekapannya. “Apa kau tahu, semenjak kau sampai di bandara hingga kau masuk ke dalam taxi ini. Ada dua orang pria berbaju hitam dan berbadan kekar yang terus mengikutimu sayang.” Jelas Abellard.

__ADS_1


“Benarkah? Aku sungguh tidak menyadarinya.” Jawab Riyanda yang terkejut atas penjelasan pria yang sedang memeluknya tersebut. “Benar. Mereka tampak mencurigakan dan beruntungnya aku terus mengawasinya hingga akhirnya aku melaporkannya kepada petugas bandara lalu kemudian mereka mulai mengintrogasinya. Sementara itu kau terus berjalan dan aku mengikutimu dari belakang.” Kata Abellard sambil tersenyum.


Riyanda terkekeh. “Dasar kau ini.” Riyanda menepuk pelan dada pria berkebangsaan Prancis itu. “Yah, maka dari itu, kau harus tinggal di apartemenku. Kau harus terus bersamaku. Wanita cantik sepertimu akan terus menjadi incaran para pria hidung belang.” Rayu Abellard dengan senyuman yang memukau.


“Hahaha…” Riyanda tak sanggup menahan ketawanya. Bule satu itu sungguh berbicara layaknya pria pribumi. “Apa kau tahu arti pria hidung belang? Hahaha…” Riyanda masih terus tertawa. “Aku tahu! Aku telah lama pulang dan pergi di negara ini. Aku telah lama bergaul bersama orang-orang di sini. Jadi lebih kurang aku bisa tahu semua hal di sini.” Jawab Abellard dengan percaya diri.


“Baiklah… demi keamananku, aku akan menginap di apartemenmu semalam saja. Setelah itu kau harus tinggal di apartemenku. Bagaimana sayang?” Ucap Riyanda lembut. Sontak hal tersebut membuat hati Abellard berbunga-bunga. Penantiannya selama ini akhirnya terbalaskan dengan Riyanda yang tampak mulai menerimanya kembali.


Sesampainya di apartemen, mereka berdua melakukan aktifitas yang sewajarnya. Keduanya memilih untuk beristirahat dan menghabiskan waktu bersama. Namun keesokan harinya, Riyanda berteriak histeris sampai membuat Abellard terkejut dan kelabakan.


“Arghhh…” Teriakan Riyanda membangunkan tidur nyenyak Abellard. “Ada apa sayang?” Dengan wajah yang terkejut Abellard bangun dan langsung berdiri. “Apa aku sudah mati?” Ujar Riyanda mencubit kedua pipinya.


“Mati? Apa maksudmu? Kau masih hidup dan sempurna seperti biasanya.” Ujar Abellard sembari merebahkan punggung di atas kasur yang hendak melanjutkan tidurnya. “Tapi Abellard, coba kau lihat ini…” Riyanda memberikan ponsel yang sejak tadi dipegangnya.


Ponsel itu milik Abellard. Pria itu masih belum mengganti password ponselnya sejak pertama berhubungan dengan Riyanda maka dari itu Riyanda dengan mudah untuk dapat mengakses ponsel tersebut.


“Appaaah?” Kali ini Abellard yang tampak terkejut. “Ini pasti Hoax!” Kata Abellard santai setelah melihat artikel tentang kematian tragis Riyanda yang sedang viral dan menjadi perbincangan public.


“Apa maksudnya ini?” Riyanda sungguh bingung tapi tidak dengan Abellard. “Ini adalah jawaban dari dua orang pria yang mengikutimu kemarin. Beruntungnya kau juga mau ikut denganku kemarin.” Kata Abellard yang kini bangun dan hendak pergi mandi.


“Hey, kemari sebentar.” Riyanda menarik lengan Abellard. “Duduklah…” Ujar Riyanda sambil memeluk Abellard dari belakang. “Bisa jelaskan lagi kalimatmu sayang…” Kata Riyanda lembut.


“Huff…” Abellard menghela nafas pendeknya. “Dua orang pria yang mengikutimu kemarin pasti hendak menghabisimu tetapi karena kau ikut denganku entah wanita mana yang berhasil mereka bunuh sayang.” Abellard membalikkan tubuhnya dan menatap kedua bola mata Riyanda.


“Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang kau masih bernafas dan bersamaku.” Ucap Abellard dengan menarik kedua sudut bibirnya.


Flashback off

__ADS_1


“Tama…” Teriak Riyanda. “Jangan berdiam saja! Cepat periksa kondisi ibumu.” Riyanda gegas berlari menghampiri teman arisannya.


__ADS_2