
Tuan Harun meninggalkan ruang makan itu dengan tidak menjawab pertanyaan dari menantunya. Nyonya Bella mengikuti suaminya untuk meninggalkan ruang makan itu. Sedangkan dokter Flo melirik sinis kepada Kirana. Seandainya saja tidak ada Tama diruangan itu mungkin dokter Flo yang akan berterus terang kepada Kirana atas semua yang terjadi.
“Kirana, jangan hiraukan ayah. Nanti akan ku ceritakan. Lebih baik selesaikan dulu makan siang ini.” Kata tuan muda itu sembari menenangkan dan menarik lengan Kirana untuk duduk kembali.
“aku sudah kenyang.” Gegas dokter Flo berdiri dan meninggalkan pula ruang makan itu. Dokter cantik itu tak mau menjadi obat nyamuk di antara sepasang suami istri yang ada di sampingnya. Lagi pula dengan melihat perhatian yang Tama berikan kepada istrinya semakin membuatnya panas dan sakit hati.
*
*
“Halo, pak Bambang apa itu kau?” ujar tuan Harun pada panggilan suara yang telah tersambung itu. “iya benar pak Harun.” sahut pak Bambang yang langsung mengetahui siapa yang ada dalam panggilan suara itu. Tuan Harun melakukan panggilan suara di nomor telepon kantor pak Bambang.
“ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?” kata pak Bambang. “aku ingin melaporkan penyerangan terhadap kediamanku.” Sahut tuan Harun. Kemudian Nyonya Bella masuk ke dalam kamar itu. ia jelas melihat suaminya yang tengah duduk sembari menelepon menggunakan telepon rumah.
Nyonya Bella ikut duduk di samping suaminya tanpa bersuara sedikitpun. Selain menjaga sopan santunnya untuk bertanya disaat orang yang sedang melakukan percakapan di telepon, ia pun juga memasang kuping berharap bisa mendengar semua percakapan itu.
“penyerangan? Maksud bapak bagaimana?” tanya pak Bambang heran. “Siapa yang berani menyerang kediaman tuan Harun dengan berbagai pengawal di setiap pintu. Terlebih lagi, orang itu mempunyai banyak kuasa di kota ini.” Gumamnya.
“iya, anak buah Azego masuk dan menyerang semua pengawal pribadiku hingga babak belur.” Terang tuan Harun. “ops!” seketika pak Bambang ingin sekali tertawa karena mendengar laporan yang terdengar seperti lelucon itu namun ia menahan tawanya.
“dan mereka semua masuk tanpa izin kemudian membuat kekacauan!” tambah tuan Harun. “okay, pak Harun bisa bapak tahan dulu sebentar saya akan sambungkan line telepon ini ke bawahannya saya yang bertugas di loket depan. Dan untuk laporan secara tertulis, bisakah bapak datang langsung ke kantor saya pak Harun?” pak Bambang melakukan pekerjaannya sebagai polisi.
“Bambang!” berang tuan Harun. “beraninya kau menyuruhku datang ke sana hanya untuk laporan ini. Kau saja yang membuat laporan itu. aku tunggu sekarang juga!” kata tuan Harun dengan sedikit nada yang meninggi. Ia kesal karena merasa tak dihargai oleh polisi tersebut padahal polisi itu hanya menjalankan prosedur.
__ADS_1
“ck.ck.ck” pak Bambang menggelengkan kepalanya saat panggilan suara itu tiba-tiba saja terputus. “semakin hari semakin semena-mena saja pak Harun ini.” Gumamnya. Kemudian pak Bambang meletakkan gagang telepon kantor itu lalu mengambilnya lagi.
“halo, Andreas, bisa kau kemari sekarang.” Perintah tuan Harun kepada bawahannya. “siap pak.” Sahut Andreas dengan menutup panggilan suata itu. Kemudian Andreas masuk dengan mengetuk pintu ruangan kerja pak Bambang terlebih dahulu.
“permisi pak.” Sapa Andreas saat pintu itu dibukanya. “silahkan masuk Andreas, kemarilah.” Panggil pak Bambang sembari mengayunkan tangannya. Andreas masuk dan langsung duduk di kursi tepat dihadapan pak Bambang.
“Andreas, buatkan laporan penyerangan di kediaman pak Harun. pelapor atas nama pak Harun dan yang menyerang adalah anak buah dari pak Azego.” Jelas pak Bambang. “siap pak.” Sahut Andreas lantang. “sekarang pergilah.” Sahut pak Bambang sembari mengayunkan lagi tangannya.
Andreas lekas meninggalkan ruangan atasannya itu untuk melakukan perintah yang diberikan kepadanya. Pak Bambang memegang keningnya menggunakan tangan kanannya. Jari-jarinya memijit lembut kening tersebut.
“ahhh… ku rasa akan ada pertikaian besar di antara kedua kubu ini.” Gumam pak Bambang. Ia merasa pusing sebelum sesuatu yang ia khawatirkan itu terjadi. Pak Bambang masih memijit kepalanya yang sudah merasa pusing itu.
*
*
“aku akan mengatakan ini, aku akan menjelaskan apa yang dikatakan oleh ayah, tetapi kau harus berjanji tidak panik atau akan melakukan hal yang tidak-tidak. Dan kau juga harus berjanji tidak akan menangis mendengarnya.” Terang Tama kepada Kirana.
Dengan perkataan seperti itu entah mengapa malah membuat jantung Kirana berdegup kencang. Ia sedikit takut dengan penjelasan itu yang bahkan melarangnya menangis sehingga membuat Kirana beranggapan bahwa ini pasti berkaitan lagi dengan ibunya.
“apa itu Tama? Apa ini menyangkut tentang ibuku lagi?” pertanyaan Kirana tepat sasaran sampai membuat Tama terdiam untuk beberapa saat. “yah kau benar.” Akhirnya Tama menghela nafas panjangnya.
“ada apa dengan ibuku? apa dia hidup kembali?” Kirana melayangkan tatapan yang penuh arti kepada suaminya. Tatapan harapan yang sama seperti yang Tama inginkan, namun sayang hal itu tidak mungkin terjadi.
__ADS_1
“Kirana, bukan soal itu. jika soal itu ku mohon terimalah kenyataan yang ada.” Kata Tama sembari memegang punggung tangan istrinya. Kirana hanya bisa terdiam dan merenung.
“begini Kirana, hari ini segerombolan pria berseragam hitam datang ke rumah ini untuk membawamu pergi.” Terang Tama, ia melepaskan punggung tangan Kirana. Kemudian merebahkan punggungnya pada sofa di ruang kamar tidur miliknya. ia sedang duduk berdua di satu sofa yang didesain khusus untuk diduduki oleh dua orang.
“aku?” tunjuk Kirana pada diri sendiri dengan bingung. “ya kau Kirana. dan ini memang masih berkaitan juga dengan ibumu.” Sahut Tama yang melihat kosong ke langit-langit ruangan.
“ibu?” Kirana mulai bingung dengan penjelasan Tama yang belum sampai ke intinya. “Kirana, hari ini pengawal pribadi Azego datang untuk membawamu pergi karena ibumu yang mempunyai hutang kepada rentenir gila itu. katanya jika kami tidak membayarnya maka kau akan dibawa pergi dari rumah ini.” Jelas Tama yang duduk sempurna untuk meluruskan punggungnya.
“hutang?” tanya Kirana dengan menghela nafas panjangnya. “lagi-lagi ini soal uang dan hutang ibu.” Gumamnya. “tenanglah Kirana, mereka tidak akan membawamu pergi karena kami tidak akan membiarkan mereka membawamu dan akan membayarkan hutang itu.” Tama meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
“sebenarnya berapa hutang ibuku kepada rentenir itu?” tanya Kirana, yah siapa tahu dia bisa membayar sendiri hutang ibunya tanpa harus melibatkan keluarga Harun. “hutang ibumu tidak banyak, hanya seratus juta.” Sahut Tama.
Kirana mengangguk mengerti, namun uang seratus juta yang menurut Tama tidak banyak itu tetap saja baginya sangat banyak.
“tapi Kirana, bunga yang harus dibayar sebesar 10 milyar.” Tambah Tama dengan beralih dari melihat tangan istrinya ke wajahnya untuk memandangi Kirana.
“APPAAA?” Kirana terkejut. Jika bisa jantungnya copot mungkin sudah copot barusan. Nyonya Muda itu membuka lebar mulutnya dengan mata yang membulat sempurna. “Tama, apa kau serius dengan perkataanmu?” tambah Kirana yang sekarang telah menutup mulutnya itu tapi tidak dengan matanya. Mata itu masih saja membulat sempurna.
“itu aku tidak tahu. Tapi seperti itu lah keterangan dari anak buah Azego. Sebagai ancaman, maka dari itu mereka menghajar setiap para pengawal di rumah ini untuk memperlihatkan bahwa mereka benar-benar serius dan akan membawamu pergi jika hutang ibumu tidak dilunaskan.” Kata Tama.
“Tama, jangan berpikir panjang. Cepat serahkan saja diriku kepada mereka.” Kata Kirana serius. Niat dari Nyonya Muda itu memang ingin keluar dari kediaman tuan Harun dan ini adalah kesempatan yang bagus sebagai alasan untuk pergi dari rumah itu.
Tama mengerutkan kedua alisnya. “jangan Kirana, kau tidak tahu siapa orang yang bernama Azego itu.” jelas Tama dengan ekspresi wajah yang tak dapat diartikan oleh Kirana.
__ADS_1