
Kirana sedang ditangani oleh tiga dokter sesuai permintaan Tuan Azego. “Maaf tuan, kami tidak bisa mengizinkan tuan masuk ke dalam.” Kata Dokter tersebut saat tuan Azego berusaha menerobos masuk mengikuti Kirana.
“Kenapa begitu? Aku kan suaminya.” Tegas Tuan Azego. “Benar pak, walaupun demikian, keluarga pasien atau siapapun tidak diizinkan masuk kecuali petugas medis pak.” Sahut Dokter itu lagi. “Ahhh… baiklah.” Sambil kecewa tuan Azego menghela nafas kasarnya.
Kirana pun dibawa masuk ke ruang operasi. Tampak tuan Azego duduk menunggu di depan ruang operasi itu. “Permisi tuan…” Maria datang menghampiri tuannya dengan sopan. “Ada apa Maria?” Kata tuan Azego tanpa melihat lawan bicaranya.
“Tama sedang diperiksa dan diobati saat ini. Apa yang harus aku lakukan padanya tuan?” Tanya Maria sambil membungkuk tanpa ikut duduk bersama dengan tuannya. Suaranya cukup kecil namun jelas terdengar di telinga tuan Azego.
“Biarkan saja dia. Aku sudah tidak perduli dengannya bahkan jika dia mati sekalipun.” Kata Tuan Azego dengan bibir yang bergetar. Matanya menatap tajam ke lantai. Seekor semut kecil pun terlihat berjalan dilantai itu untuk mencari temannya yang lain.
Tap!
Dengan sekali injak, suara sepatu tuan Azego terdengar jelas hingga membuat semut yang tak bersalah itu mati terhimpit sepatunya. Seluruh tubuhnya gepeng dan tak terselamatkan lagi.
“Semut sialan. Kau tidak pantas melewatiku!” Bentak tuan Azego. Maria tertegun, ia menelan salivanya sambil terheran. “Baik tuan.” Setelah beberapa detik diam, Maria akhirnya menjawab tuannya.
Kemudian Maria kembali berjaga dengan pengawal pribadi lainnya di sekitar tuan Azego. Sementara itu di ruangan yang lain di rumah sakit yang sama, Tama sedang diobati lalu setelah selesai Tama pun dibawa oleh perawat untuk memasuki kamar pasien.
*
*
__ADS_1
“Pelayan…” Nyonya Bella yang baru saja selesai beristirahat karena lelah setelah pulang dari berbelanja bersama dengan teman masa kecil anaknya kini menyadari bahwa ia ditinggal sendiri di rumah itu, dan tentu masih banyak pelayan yang lain yang bersamanya. Hanya saja, ia sedang mencari Dokter Flo saat ini.
“Iya, ada apa nyonya?” Gegas seorang pelayan menemui nyonya Bella. “Kemana Dokter Flo, pelayan?” Tanya nyonya Bella sembari melirik ke kiri dan ke kanan. “Dokter Flo sedang pergi bersama Tumiyem, nyonya.” Sahut Pelayan tersebut.
“Kemana mereka pergi?” Tanya nyonya Bella lagi. “Kenapa Flo pergi begitu saja tanpa memberitahuku?” Ucap nyonya Bella namun dalam hati. “Saya tidak tahu nyonya, mereka pergi dengan tergesa-gesa tadi.” Jelas pelayan itu.
Nyonya Bella semakin penasaran, hal itu tampak jelas dari kulit dahinya yang mengkerut dan tampak kebingungan. “Sudahlah.” Nyonya Bella pun mengayunkan jemarinya sebagai tanda agar pelayan itu segera beranjak dari tempatnya.
Ibu dari Tama itupun tidak banyak bertanya dan berfikir. Ia hanya kembali ke ruang rahasianya. Mengurung diri dan kembali merenungkan nasibnya yang memiliki suami yang di penjara dan bangkrut.
“Bau apa ini?” Sesaat setelah memasuki ruangan itu nyonya Bella menutup kedua lobang hidungnya yang dihampiri oleh aroma tidak sedap. “Ahhh… benar juga. Ini bau dari muntahanku sendiri.” Ujar nyonya Bella di dalam benaknya.
Tanpa banyak berfikir, nyonya Bella pun membersihkan ruangan itu dengan tangannya sendiri. Ternyata dia lihai membersihkan ruang rahasia itu.
*
*
“Ahhh kau benar, maksudku apa boleh pasien ini dirawat di rumah saja?” Kata Dokter Flo yang terus berjalan bersama perawat itu sambil mendorong ranjang pasien bersama dengan perawat lainnya. “Dan ku rasa Dokter juga sudah tahu akan hal itu.” Kali ini perawat itu mulai menegaskan kalimatnya.
“Yah, kau benar. Aku akan membawanya pulang. Kami punya paralatan yang cukup baik di rumah untuk merawat pasien. Jangan khawatir, aku akan merawatnya.” Jelas Dokter Flo. “Tumiyem…” Dokter Flo memanggil seseorang yang sejak tadi tidak sedang bersamanya.
__ADS_1
“Kemana lagi pelayan itu?” Dokter Flo kini melihat kesekililingnya untuk mencari keberadaan Tumiyem. “Begini, Suster antar saja dulu pasien ini ke kamar pasien. Saya akan mengurus administrasi rumah sakit terlebih dahulu.” Jelas Dokter Flo. “Baik dok.” Sahut perawat itu singkat. Kemudian Dokter Flo berbalik arah untuk mengurus sesuatu.
Sudah satu jam berlalu. Tuan Azego masih duduk menunggu keberhasilan operasi itu bersama dengan para pengawal pribadinya. Di sudut ruangan, tanpa ada siapapun yang menyadari, kepala pelayan tuan Harun bersembunyi sambil memperhatikan orang-orang itu. Yah, Tumiyem juga sedang menunggu keberhasilan operasi itu dan sangat ingin melihat kondisi terkini sahabatnya tersebut.
Ceklek\~
Pintu ruang operasi terbuka.
Gegas tuan Azego berdiri dan langsung menghampiri Dokter yang keluar ruangan. “Bagaimana dok? Apa operasinya berjalan lancar?” Dengan rasa cemas, tuan Azego bertanya. “Operasinya berjalan dengan lancar pak, dan alhamdulillah bayi yang di kandung pasien juga masih dalam keadaan baik. Hanya saja, pasien butuh pemulihan untuk beberapa minggu karena luka yang di leher dijahit cukup banyak.” Terang dokter itu.
“Baik dok, terima kasih dok.” Tuan Azego menggenggam kedua tangan dokter tersebut. Dadanya merasakan udara dingin seakan terkena angin sepoi-sepoi karena merasa senang dengan kabar yang dibawa oleh dokter tersebut.
“Maria, kemari, bawa uang itu!” Bak penyihir, entah dari mana asalnya. Maria menghampiri tuannya dengan tas hitam yang berisikan uang ratusan juta rupiah. “Ini dok ambillah. Aku sangat berterima kasih karena dokter telah menolong istri saya.” Ucap tuan Azego sembari memberikan tas itu.
Tas yang terbuka lebar hingga jelas terlihat lembaran uang kertas berwarna merah yang menyilaukan mata para pengawal pribadi yang berjaga. “Tidak, terima kasih pak. Ini sudah tugas saya. Pasien bisa selamat sudah membuat saya sangat bersyukur. Anda tidak perlu repot-repot memberikan uang ini.” Ujar dokter itu sembari mengembalikan tas tersebut.
“Tidak, jangan. Tolong diterima dok, ini dari lubuk hati saya yang terdalam. Saya sangat berterima kasih kepada dokter.” Seraya memohon, tuan Azego kembali mendorong tas itu hingga mendarat di kedua tangan dokter tersebut.
“Tuan, jika boleh saran. Tidak begini caranya.” Maria berbisik kepada tuannya. “Kau diam saja.” Bentak tuan Azego seketika. Maria tertegun dan terdiam. Ia pun mundur satu langkah dan kembali tegap berjaga.
“Maaf, saya sudah menerima maksud baik Anda namun dalam hal ini, tidak semua dokter menilai hasil kerja mereka dengan uang. Kami para dokter telah berjanji kepada diri sendiri akan menyelamatkan siapapun yang sedang sakit semampu kami. Jadi, terima kasih pak.” Dokter itu meninggalkan tuan Azego.
__ADS_1
Kemudian ranjang pasien keluar dari ruangan itu, Kirana terbaring tak sadarkan diri dan segera dibawa ke kamar pasien. “Mintalah kamar terbaik yang ada di rumah sakit ini untuk Kirana.” Bisik tuan Azego kepada Maria.