Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 14


__ADS_3

“Mario..” teriak Tumiyem sembari mendekati pengawal pribadi itu. Setelah pergi meninggalkan Kirana, ia teringat akan malam sebelum pernikahan. Setelah berjalan lumayan jauh masuk ke rumah Tuannya, ia bergegas untuk kembali lagi memastikan keberadaan Nyonya Mudanya. Alhasil, benar saja, ia mendapati Kirana yang sedang dihimpit dengan Mario di dinding ruangan itu.


“apa yang kau lakukan? dia adalah Nyonya Muda istri dari putra Tuan Harun.” Tumiyem tak dapat menahan lagi emosinya walaupun dia tahu itu bisa membuat Mario marah dan beresiko untuk dirinya kedepannya.


“jangan ikut campur Tumiyem, apa kau mau mencari mati?” berang Mario. Seketika Tumiyem yang sudah berada di dekat mereka berdua menunduk. “bukan seperti itu Tuan, Sekarang saatnya makan malam. Kurasa keberadaan Nyonya Muda dan Tuan Mario akan dicari oleh Tuan Harun.” Tumiyem melemahkan nadanya. “baiklah, jika itu alasanmu, kurasa kau benar.” Sahut Mario. “hey kau gadis manja, kau masih berutang padaku.” Mario memegang dagu Kirana dan membuangnya dengan kasar. Kemudian dia meninggalkan titik tumpu itu dengan senyuman yang menyeringai.


“ahhhh…” Kirana menghela nafas lega. “Anda tidak apa Nyonya?” Tumiyem melupakan lagi nama Kirana. “Kirana.” Sahut Kirana. “iya, apa anda baik-baik saja Kirana?” Tumiyem bertanya lagi. “terima kasih Tumiyem, hampir saja.” Jawab Kirana.


Kemudian mereka berdua berjalan bersama dengan Kirana yang memegang dadanya. Kirana masih merasakan jantung yang berdebar. “Tumiyem, kenapa dia tidak takut sama sekali kepadaku?” debaran jantung Kirana berangsur melemah.


“di rumah ini tidak ada yang Mario takuti selain Tuan Harun. Bahkan Tuan Muda suami anda tidak ditakuti oleh Mario.” Tumiyem bergidik apalagi saat ia mengingat Mario mengatakan apakah dirinya cari mati.


“ternyata seperti itu, pantas saja perintah Nyonya Bella tak dihiraukannya.” Kata Kirana. “benar, bahkan Nyonya Bella tidak dihiraukan oleh Mario. Hanya Tuan Harun lah yang bisa menyuruhnya.” Sahut Tumiyem.


Selang beberapa menit, kedua orang itu telah masuk ke ruang makan keluarga. Ruangan itu masih bertema senada dengan ruang kamar Tama. Dengan bertema desain klasik modern yang menghadirkan suasana nyaman dan memberikan sentuhan luxury.

__ADS_1


Pemilihan elemen-elemen pada ruang itu sangat tepat dengan warna, furniture, ataupun based material yang digunakan yang sebagian besar berwarna putih. Penambahan aksen warna gold pada beberapa dekorasi, hiasan dinding dan kursi sangat mempertegas kemewahan ruangan itu.


Forgan meja makan set dari salah satu brand furniture ternama itu turut menghiasi kemewahan pada ruang itu. Dengan memiliki empat kursi dan meja besar berwarna hitam di tengahnya sangat menampilkan kesan elegan dan classy.


Tumiyem langsung bergabung bersama pelayan wanita yang berjejer di sudut ruang. Beberapa pelayan wanita tampak meletakkan makanan dan minuman ke atas meja. Di ruang makan keluarga ini telah duduk Tuan Harun, Nyonya Bella, dan Tama. Mereka sedang menunggu kedatangan Kirana untuk makan malam bersama.


“kemari sayang.” Nyonya Bella yang melihat Kirana masuk berdiri. Kirana menghampiri Nyonya Bella dan melakukan cipika cipiki kecil kepada mama barunya itu. “silahkan duduk.” Nyonya Bella mempersilahkan Kirana duduk di samping suaminya. Ia selalu ramah kepada Kirana semenjak Kirana sah menjadi menantunya.


Kirana memperhatikan ke sekeliling, ia mehanan lagi nafasnya sesaat setelah melihat Mario yang berdiri tegap di belakang Tuan Harun. “ayah bisa kita mulai saja makan malam bersama ini.” Tegur Tama. Rasanya ia ingin segera menyelesaikan makan malam itu dan beristihat.


“baiklah.” Tuan Harun memimpin doa makan dan yang lain mengikutinya. “silahkan makan.” Tuan Harun menyentuh sendok dan garpunya kemudian menyuapi mulutnya. “jadi, apa kau akan pindah ke kamar baru malam ini Tama?” sekali suap, Tuan Harun melatakkan sendok dan garpunya dan memulai pembicaraan.


Kirana sepertinya tidak memahami tata krama itu. Anak dari Riyanda itu melanjutkan memakan makanannya. Nyonya Bella memandangi menantu barunya dengan heran namun Kirana sepertinya tidak menyadarinya hingga ia menghabiskan tiga suapan. Kirana melanjutkan mengangkat tangannya untuk suapan yang ke empat.


“Kirana sayang…” panggil Nyonya Bella lembut. “ya?” Kirana memandangi mertuanya dengan wajah datar, tangannya terhenti di depan mulutnya. Nyonya Bella memutar bola matanya ke arah suaminya. Ia memberikan aba-aba kepada Kirana. Syukurnya, Kirana mengerti dan menurunkan tangan serta meletakkan sendok di atas piring. Kemudian menantu baru itu melipat kedua tangannya di atas meja.

__ADS_1


“baiklah, silahkan makan.” Tuan Harun mengambil kembali sendok garpunya dan melanjutkan makan malam diikuti anggota keluarga yang lain. Setelah semua selesai makan, para pelayan wanita mengambil semua piring kotor dan makanan yang ada di atas meja lalu diganti dengan makanan penutup.


Sembari menunggu para pelayan wanita mengganti makanan itu menjadi makanan penutup, Tuan Harun memulai percakapannya untuk keluarga kecilnya itu. “Tama, malam ini kau akan pindah ke kamar barumu.” Tuan Harun mengepalkan kedua tangannya dan menopang dagu.


“iya aku tahu ayah.” Tama menjawab pasrah. Kirana hanya bisa melayangkan senyum ramah sesaat matanya tertuju kepada Tuan Harun saat Tuan Harun juga memandangnya. “dan kau Kirana, kuharap malam ini kau bisa memberikan kami cucu.” Tegas Tuan Harun.


Deg!


Kirana menelan salivanya. “bagaimana ini? Tama kan calon suami ibuku.” Kirana menyeru dalam hati. Tak lama setelah itu para pelayan wanita selesai meletakkan makanan penutup itu. “mari.” Kata Tuan Harun singkat dan memulai untuk makan makanan penutup itu diikuti oleh anggota keluarga yang lain.


Sepuluh menit berlalu, ke empat orang itu menyudahi makan malam bersama mereka. Tama mengelap cepat bibir menggunakan tissue dan berdiri. “ayah aku akan ke kamar lebih dulu.” Tama berdiri dan meninggalkan ruang itu.


Kirana yang tak tahu apa-apa menyusul Tama di belakangnya. Ia segera keluar dari ruang makan keluarga itu karena tidak tahan di tatap tajam oleh Mario. Sedangkan Tama bergegas keluar karena tidak tahan dengan gagasan ayahnya lagi.


“sayang sepertinya mereka akan segera melakukannya.” Nyonya Bella tersenyum senang begitu pula dengan Tuan Harun. Tuan Harun meraih tangan Nyonya Bella dan membelai punggung tangan istrinya. “semoga saja malam ini mereka berdua melakukan malam pertamanya dan memberikan kita cucu sayang.” Tuan Harun mengecup punggung tangan istrinya.

__ADS_1


“ya ku harap begitu.” Sahut Nyonya Bella singkat. kemudian Tuan Harun mendekati wajah istrinya, ia menaruh bibirnya berdekatan dengan telinga Nyonya Bella. Tuan Harun menutupi bibirnya itu dan berkata “apa kau sudah menyuruh pelayan menaruh disfuser itu di kamar baru mereka.”


Nyonya Bella hanya tersenyum dan mengangguk. Rencana dari kedua orang ini adalah agar anak mereka segera memberikannya cucu, hingga Tama tak perlu memikirkan Riyanda lagi. Diffuser itu telah dicampurkan dengan cairan obat untuk menaikkan gairah keduanya agar malam pertama mereka berjalan lancar tanpa hambatan yang tidak berdasarkan cinta.


__ADS_2