Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 50


__ADS_3

Tuan Azego hanya melayangkan senyuman tipis penuh arti sedangkan Tama merasakan api yang membara di dalam dadanya. Berhadapan dengan orang tua yang tidak punya belas kasih seperti Tuan Azego membuatnya ingin melenyapkan pak tua yang ada di depannya itu.


“Kuperingatkan kepadamu Azego, jangan bermain-main terhadap keluargaku.” Kata Tama dengan mata yang terbelalak. Tuan Azego yang sungguh melihat amarah di kedua bola mata pria muda yang tepat berada di depannya itu pun hanya terkekeh santai seakan ia sedang tidak membicarakan apa-apa.


“Pilihan ada ditanganmu anak muda. Mudah saja bagiku untuk melenyapkan istrimu.” Tuan Azego pun berdiri sembari meletakkan kedua telapak tangannya menyentuh sudut meja.


“Jangan! Kau sudah berjanji tidak akan menyentuhnya.” Gegas Tama memegang salah satu lengan Tuan Azego. “Hmm…” Tuan Azego menghela nafas panjangnya.


“Kalau begitu pulanglah sekarang, ku rasa ayahmu sedang khawatir tentangmu. Jangan membuatnya khawatir anak muda.” Tuan Azego melepaskan tangan Tama yang menempel pada lengannya kemudian menepuk bahu Tama.


“Aku punya satu permintaan lagi padamu.” Mata Tama menatap intens kedua bola mata rentenir kaya itu. “Tolong jaga istriku, beri dia tempat dan makanan yang layak. Aku tidak ingin ada setitik bekas luka atau apapun yang bisa membuatnya terluka dan menangis. Maka, dengan begitupun aku akan melaksanakan setiap perintah yang kau berikan.” Nada bicara dari tuan muda dari keluarga Harun itupun kini melemah berbarengan dengan melemahnya amarahnya yang telah ditahannya sejak tadi. Namun, tetap saja ia akan selalu mencari cara untuk menyelamatkan keluarganya nanti.


“Kau dengar itu Maria.” Kini mata Tuan Azego menatap wajah pengawal pribadinya. Maria pun mengangguk mengerti kepada tuannya.


“Kau sungguh suami yang baik.” Ucap Tuan Azego sembari tersenyum. “Itu hal yang mudah Tama, yang perlu kau lakukan adalah untuk tidak gagal menjalankan pekerjaanmu itu.” Tuan Azego menarik sebelah sudut bibirnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


Kini di ruangan itu hanya ada Tama dan Maria beserta dua orang pengawal pribadi bawahan dari Maria. Maria pun berjalan maju mendekati Tama diikuti dua orang bawahannya yang tampak membawa sesuatu.


“Ini! Mulai sekarang kau hanya akan memakai ponsel ini.” Maria memberikan sebuah ponsel kepada Tama, satu buah earphone, dan satu benda kecil berbentuk bulat untuk mendengar apapun yang akan dikatakan oleh lawan bicara Tama nantinya yang khusus dibeli untuk dirinya.


“Apa ini Maria?” Dengan bingung Tama melihat wajah wanita yang terlihat persi seperti pria itu. “Mulai sekarang kau hanya akan memakai semua alat ini. Ponsel ini akan kau gunakan untuk berhubungan dengan kami dan dengan siapapun. Karena nomor yang tertera dalam ponsel ini telah kami sadap sebelumnya sehingga kau tidak akan berbuat hal yang tidak kami ketahui.” Terang Maria.


“Earphone dan alat perekam ini harus kau pakai selama 24 jam. Tidak boleh kau lepas bahkan saat kau mandi. Alat ini sudah didesain khusus anti air, jadi kau tidak perlu khawatir akan rusak jika terkena air.” Tambah Maria.


“24 jam? Itu melelahkan! Kupingku akan sakit nantinya!” Tolak Tama. “Kupingmu kan ada dua, jika yang sebelah kanan sakit tinggal kau pindahkan saja ke sebelah kiri. Jangan terlalu manja hei tuan muda.” Maria pun terkekeh sedangkan Tama mengambil satu persatu alat itu dan melihatnya termasuk ponsel tersebut. Ia bahkan mengaktifkan ponsel itu di depan Maria.


“Ingat perkataanku ini, jika dalam 1 detik saja kami kehilangan kontak denganmu maka kupastikan ada 1 luka yang akan kau lihat pada tubuh istrimu.” Ancam Maria dengan wajah bengisnya.


“Apa? Jangan berani melukainya apalagi sampai—“ Tama pun harus menghentikan kalimatnya karena langsung dipotong dengan Maria. “Maka dari itu jangan sampai koneksimu terputus!” Sentak Maria.


Tama pun menundukkan kepalanya dan mengalah. “Ahhh baiklah, akan aku usahakan.” Ujar Tama sembari menghela nafas kasarnya.


“Kalian, pasangkan alat ini segera.” Perintah Maria kepada dua orang bawahannya tersebut. Gegas dua orang itu memasangkan semua alat itu ke badan Tama.


Earphone yang tergeletak di atas meja itu dipasangkan ke kuping kanan Tama. Alat perekam suara yang berbentuk bulat dan kecil itu digantungkan ke dalam baju Tama, tepatnya di bagian dadanya. Alat perekam itu menggantung dengan erat mengarah ke dalam bajunya. Dan ponsel yang tergeletak di atas meja yang telah diaktifkan sebelumnya oleh Tama dimasukkan ke dalam kantong celana Tama di sebelah kanan pula.

__ADS_1


“Tuan?!” Ujar salah seorang pengawal pribadi itu sembari melihat kepada Maria. “Berikan kepadaku!” Perintah Maria saat melihat tangan pria bawahannya itu memegang ponsel milik Tama. “Untuk saat ini kau tidak boleh menggunakan ponsel ini. Ponsel ini kami tahan!” Kata Maria dengan tegas.


“Tapi? Bagaimana aku bisa berhubungan dengan kolega bisnisku nanti? Semua kontak mereka ada di ponsel itu.” Ucap Tama yang berusaha meyakinkan bahwa dirinya seorang pebisnis handal.


“Kau jangan berbohong tuan muda yang manja. Aku tahu kau masih belum mempunyai pekerjaan apalagi sebuah bisnis. Kau tahu, kau hanya beruntung karena lahir di keluarga kaya seperti ayahmu.” Maria mendengus seakan jijik mendengar kalimatnya sendiri.


“Ahhh kau ini, apapun itu, tetap saja banyak kontak yang harus aku gunakan pada ponsel itu.” Jawab Tama dengan cepat karena memang ada banyak kontak yang harus ia selamatkan pada ponselnya.


“Berikan ponsel barumu itu.” Kata Maria sembari menadahkan telapak tangannya di depan Tama. Kemudian Tama pun memberikan ponsel yang baru saja dimasukkan ke dalam kantong celananya itu oleh orang lain.


“Ini, tulis email dan masukkan passwordmu disini, maka semua kontak dan semua gallerymu akan berpindah ke ponselmu yang baru.” Ujar Maria sembari menaruh ponsel pribadi milik Tama yang lama ke dalam sebuah bag kecil berwarna hitam. “Kami akan menyimpannya dengan baik.” Kata Maria dengan senyuman tipis.


Tama pun segera mengetik alamat emailnya ke dalam sebuah aplikasi pada ponsel barunya. Setelah mengetik alamat email pribadinya ia pun memasukkan password ke dalam kolom password yang telah tersedia. Tak lupa tuan muda itu menutupi layar ponselnya agar tiga orang yang berada didekatnya tidak bisa melihat password yang ia masukkan.


Dalam hitungan menit, tampilan layar ponsel baru Tama sama seperti tampilan layar ponsel lamanya. Persis seperti ponsel lamanya, ponsel baru Tama pun telah berisi semua gallery dan kontak yang sama. Bahkan semua penyimpanan dan histori dari ponsel itu sama sekali tidak kurang satupun atau memang sama seperti ponsel lamanya. Hanya saja type ponsel itu yang berbeda. Type ponsel baru Tama lebih terlihat maskulin dan modis karena memang ponsel itu adalah ponsel keluaran terbaru dan pesanan khusus untuk Tuan Azego.


“Bagaimana? Apa sudah beres? Itu bukan suatu masalah lagi bukan?” Tanya Maria dengan kedua tangan yang dilipat di atas perut. “Kau benar, semua sama persis seperti ponselku.” Ucap Tama tak percaya. Tuan muda itu pun membolak-balikkan ponsel barunya untuk melihat setiap inci dari ponsel tersebut.


“Kau beli dimana ponsel ini? Aku baru melihatnya kali ini. Ku rasa ponsel ini tidak jual di pasar ataupun mall dan konter-konter kota.” Tama memperlihatkan ponsel barunya tepat di depan wajah Maria.


“Wah kerennn sekaliii…” Refleks Tama merasa kagum dengan akses ponsel pesan khusus dari Tuan Azego. Maria dan kedua pengawal pribadi itu pun terdiam dengan wajah yang kaku. Sangat mengherankan bagi mereka anak dari orang terkaya seperti keluarga Harun tidak memiliki akses yang sama seperti itu.


“Hehehe…” Melihat reaksi Maria dan dua orang bawahannya yang datar membuat Tama menggaruk kulit kepalanya. “Ku rasa hanya aku yang baru tahu tentang hal ini di sini.” Tambahnya lagi dengan wajah yang tidak enak hati.


“Kau!” Tunjuk Maria kepada salah satu pengawal pribadinya itu yang sejak tadi telah berdiri tegap menunggu setiap perintah darinya. “Sekarang coba kau tes dulu alat itu. Apakah alat itu berfungsi atau tidak.” Perintah Maria.


“Baik!” Jawab pria itu dengan sigap kemudian mengambil sebuah kotak berukuran besar berwarna hitam. Kotak itu terlihat modern dan stylish. Terbuat dari plastic tapi tampak kuat dan tahan banting.


“Tuan muda, bisakah anda mundur beberapa langkah?” Katanya sembari membuka box itu. Di dalam box itu ada beberapa alat canggih seperti audio mixer, layar digital disertai dengan grafik berwarna hijau yang naik turun dan sebuah mic berukuran kecil.


Setelah Tama mundur beberapa langkah dan menjauh dari box hitam itu, satu orang bawahan Maria yang sejak tadi diam tak melakukan apapun mengikuti Tama dan berdiri berhadapan dengan tuan muda tersebut.


“Sekarang cobalah untuk mengobrol satu sama lain.” Ujar Maria kepada keduanya, baik kepada Tama dan kepada bawahannya.


“Tuan Muda, apa anda sudah makan?” Tanya pria berbaju hitam itu persis dengan apa yang dikenakan oleh Maria dan temannya yang lain. “Ahhh kau benar, aku belum makan.” Kata Tama jujur. Sibuk memikirkan dan menyelamatkan Kirana membuatnya lupa akan perutnya lagi.

__ADS_1


Bersamaan dengan percakapan itu, terdengar jelas ada suara yang keluar dari alat yang ada di dalam box hitam tersebut. Suara yang sama dengan suara Tama beserta lawan bicaranya. Dan kalimat yang sama dengan apa yang mereka ucapkan.


“Okay, hentikan! Alatnya telah berfungsi dengan baik.” Kata Maria. Kemudian lawan bicara dari tuan muda itu pergi untuk membantu temannya mengemas kembali box hitam tersebut. Mereka menutupnya dengan rapat dan menguncinya.


“Kau dengar, apapun yang kau bicarakan akan kami dengar. Apapun yang kau lakukan akan kami awasi. Jadi, jangan coba-coba untuk mengelabui kami apalagi mempermainkan kami. Kau mengerti?” Ujar Maria dengan tegas kepada tuan muda itu.


“Ya, ya, aku mengerti tuan!” Jawab Tama dengan nada yang mengejek. “Apa katamu?” Sontak Maria melangkahkan kaki dengan cepat untuk mendekati Tama dan meraih baju tuan muda itu dan menariknya pada kerah baju lehernya.


“Apa aku salah? Kau memang tuan disini kan?” Kata Tama tanpa takut sambil melirik kedua orang bawahannya yang berdiri jauh darinya. Namun, keduanya pun mengangguk setuju atas kalimat yang dilontarkan oleh Tama barusan.


Tama pun terkekeh. Maria yang melihat arah bola mata hitam dari Tama juga mengikuti arah pandangan mata itu sampai akhirnya tertuju kepada kedua pengawal pribadi bawahannya. “Kalian!” bentak Maria. Sontak keduanya menundukkan wajah mereka.


“Sudahlah, jika ku pikir-pikir kau ada benarnya juga.” Maria melepaskan genggaman baju Tama dan merapikannya kembali dengan menepuk-nepuk dada Tama.


“Auw! Ternyata kau wanita yang sangat kuat.” Ucap Tama saat merasakan kekuatan seorang perempuan yang seperti kekuatan seorang pria. “Hm…” Maria hanya bisa mendengus dan melangkah menjauhi tuan muda itu.


“Jika kau ingin pulang silahkan.” Kata Maria sembari mempersilahkan Tama keluar dari ruangan tersebut. Maria pun tak lupa memandang ke arah Tama lebih dulu kemudian memandang ke arah pintu keluar.


“Sekarang? Apa aku tidak diberikan mobil untuk kupakai pulang dan pergi nantinya?” Tanya Tama to the point. Karena ia tidak membawa uang sepeser pun saat ini. Ia hanya membawa ponselnya dan naik taksi ke kantor polisi, membayar supir taksi dengan saldo uang eletroniknya yang masih ada.


“Tidak ada mobil untukmu. Kau ini terlalu manja.” Jawab Maria ketus. “Tapi aku tidak membawa uang sepeserpun!” Kata Tama lagi. “Aku tidak percaya pewaris tunggal dari keluarga Harun tidak mempunyai uang. Itu sangatlah konyol.” Ujar Maria yang kemudian terkekeh bersama kedua pengawal pribadi bawahannya.


“Aku serius Maria.” Dengan wajah yang begitu serius ia mencoba meyakinkan pengawal pribadi Tuan Azego itu. “Gunakan saja uang elektronikmu. Jangan menyanggah lagi, tidak mungkin kau tidak punya uang eletronik pemberian dari ayahmu. Apalagi di zaman sekarang ini, uang elektronik adalah hal yang biasa dimiliki bagi para anak orang kaya sepertimu bukan?!” Jawab Maria santai.


“Hufff…” Tama kembali menghela nafas kasarnya. “Baiklah.” Ia mengalah lagi. Sebagai anak pengusaha dan anak dari orang terkaya di kota itu ternyata dia cukup memiliki perhitungan yang baik. “Padahal aku sedang menjalankan misi bukan? Kenapa aku tidak diberi akomodasi. Pengawal pribadi ayahku saja diberikan mobil untuk dia pakai saat bekerja.” Omel Tama.


“Ah kau ini!” Akhirnya Maria mengeraskan suaranya. “Ayahmu akan curiga jika kami terlalu memanjakanmu seperti dirinya. Untuk apa Tuan Azego memberikan mobil kepada putra dari musuhnya? Apa kau tidak berpikir bahwa itu sebuah hal yang aneh. Aku saja akan curiga apalagi ayahmu.” Kata Maria, emosinya mulai naik saat ini.


“Oh baiklah, kau jangan emosi seperti itu. Sekarang aku sudah mengerti.” Tama menaikkkan kedua tangannya di depan wajahnya dengan kedua telapak tangan yang melebar dan bergerak ke samping kiri dan kanan berkali-kali agar Maria meredahkan amarahnya.


“Aku akan pulang, tunggu kedatanganku lagi.” Ujar Tama dengan senyuman yang manis. “Dan ingat satu hal, kau tidak perlu datang kemari. Jika kau datang kemari bisa jadi nanti pengawal pribadi ayahmu ada yang mengikutimu. Jadi jika kau ingin berbicara kepada istrimu cukup kau lakukan panggilan video pada ponsel barumu dengan nama kontak Kirana.” Jelas Maria.


“Kau tidak boleh seperti itu? Bagaimana aku bisa memastikannya kalau dia sedang baik-baik saja.” Kata Tama. “Kau jangan khawatir kami akan merawatnya demi keberhasilan pekerjaanmu itu.” Jawab Maria.


Mendengar semua itu akhirnya Tama meninggalkan kediaman Tuan Azego dan pulang menggunakan taksi online.

__ADS_1


__ADS_2