
“Namun, jika kau ingin berbicara kepadanya barulah kau bisa melakukan panggilan video itu. Tapi, itu atas izinku. Jika tidak, maka kau hanya akan mendapati hal yang sama seperti barusan yang terjadi. Sebuah panggilan video tanpa ada yang menjawab. Hahahaha…” Tuan Azego tertawa lagi, akhir-akhir ini ia merasa lebih senang dari biasanya.
“Pak tua sialan kau Azegooooo…!” Teriak Tama. Ia pun mengambil sebuah vas bunga dan membantingnya hingga terpecah dan hancur. Ia melampiaskan amarah yang ditahannya itu kepada vas bunga cantik milik keluarga Harun yang diimport langsung dari Rusia.
Tama pun mengusap kepalanya hingga membuat rambutnya berantakkan. Di satu sisi ia masih merasa sakit di sekujur tubuhnya, namun di sisi lain kepalanya terasa berat karena belum menemukan cara bagaimana bisa terlepas dari rentenir kaya itu.
Sedangkan Tuan Azego hanya terkekeh pada ruangannya. Dia tidak peduli dengan tekanan yang dirasakan oleh pesuruh barunya tersebut.
Tama meraih kembali ponselnya, ia mencoba melakukan mencari aplikasi CCTV di sana.
Seperti yang dikatakan Tuan Azego, setelah masuk ke dalam aplikasi tersebut, pada layar ponsel yang sedang dipegang Tama itu pun menunjukkan lima kotak layar yang berbeda dengan satu kotak layar yang lebih besar dari keempat kotak layar yang lainnya.
Semua kotak layar itu memperlihatkan posisi Kirana yang sedang duduk menyamping di atas kasur berjenis one bed dari sudut pengambilan gambar pada kamera yang berbeda. Perempuan itu tampak duduk termenung di ruangan yang sederhana itu.
“Kirana…” Kata Tama namun dalam hati. Melihat istrinya yang sedang duduk termenung seperti itu membuatnya sedih. Apalagi jika Tama mengingat janin yang sedang dikandung oleh Kirana. Tama hanya terdiam menatap layar tanpa bisa berkata apa-apa karena kesempatan berbicara bersama Kirana belum diberikan oleh Tuan Azego.
Di waktu yang sama Kirana yang sedang duduk sendiri di sebuah ruangan sederhana yang diberikan kepadanya untuk ia huni selama Tama mengerjakan tugasnya. Ruangan itu dilengkapi dengan kamar mandi, sebuah nakas beserta telepon rumah tanpa kabel yang menggunakan WiFi dan lampu tidur di atasnya, AC (Air Conditioner), TV (Television), dan kulkas yang berisikan banyak makanan serta lemari berisikan pakaian untuk ia gunakan. Tak lupa lima CCTV yang memantau Kirana selama 24 jam.
Kring-kring…
Telepon itu berbunyi berkali-kali tapi Kirana enggan untuk mengangkatnya. Dibenaknya hanya ada nama ibunya, Riyanda.
“Sial!” Umpat Tuan Azego saat mencoba berkali-kali menghubungi Kirana tanpa dijawab olehnya. “Kau!” Tunjuk salah satu Tuan Azego kepada pengawal pribadinya yang menemaninya di ruangan itu. “Ada apa tuan?” Jawabnya.
“Apa ada Speaker di kamar wanita itu? Speaker yang bisa menghubungkan ku dengannya hingga aku tidak perlu menunggunya untuk mengangkat panggilan suaraku.” Tanya Tuan Azego. “Ada tuan, silahkan berbicara pada alat ini.” Jawab pengawal pribadi itu sembari memberikan sebuah alat untuk berkomunikasi di ruangan Kirana.
“Tes… satu, dua, tiga.” Tuan Azego mengecek alat itu dan sontak Kirana beralih pandang ke sebuah speaker yang mengeluarkan suara yang cukup besar tersebut. “Apa lagi ini? Setelah bagaikan tahanan rumah di penjara di sini, kenapa harus ada suara keras yang menggangguku sekarang.” Gumam Kirana kesal.
“Hey, kau yang duduk termenung di sana. Dengarkan aku dan jangan menjawabku karena akan percuma. Aku hanya bisa memberi mu informasi tapi kau tak bisa berbicara denganku kecuali kau berbicara pada ponsel yang ada di atas nakas itu, maka kita bisa berkomunikasi.” Terang Tuan Azego.
“Terserah kau saja.” Jawab Kirana spontan, karena dia tidak peduli akan hal itu. “Baiklah, ku rasa kau sedang tidak sedang ingin berbicara. Dengarkan saja aku, kau akan tinggal disana selama Tama belum kembali menjemputmu. Kau tidak perlu khawatir, semua kebutuhan mu akan disediakan untuk mu. Ada banyak makanan di dalam kulkas jika kau lapar. Dalam sehari kami akan memberi mu makan sebanyak tiga kali. Nanti akan ada pengawal yang akan mengantarkan makanan itu. Sedangkan kau hanya perlu menunggu dan duduk manis di sana. Jangan coba-coba untuk kabur, karena ruangan telah terisolasi. Jendela ruangan mu juga telah diberikan teralis sehingga kau tidak bisa kabur. Jadi, saranku jadilah sandera yang baik. Terima kasih.” Kata Tuan Azego panjang lebar.
Kirana menopang dagu sambil mendengarkan penjelasan itu. “Panjang juga khotbah bapak tua itu.” Ia pun berbicara sendiri.
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya, pada momen sarapan di kediaman Tuan Harun. Di sana telah duduk Tuan Harun beserta istrinya bersama dengan putra kesayangannya dan Dokter Flo. Tampak juga pelayan wanita yang berdiri berjejer untuk menunggu perintah tuannya kalau tuannya membutuhkan sesuatu. “Sayang, makannya pelan-pelan.” Pesan Nyonya Bella kepada suaminya. Tuan Harun sedang nafsu makan saat ini, moodnya sedang baik karena akan membuat Tuan Azego itu mati kutu.
“Iya sayang, aku sangat menyukai makanan yang dimasak pagi ini. Siapa yang memasaknya?” Tuan Harun menoleh dan tersenyum melihat pelayan wanitanya. “Tentu saja cheff yang biasa memasakkan kita di sini sayang.” Jawab Nyonya Bella.
“Ahhh kau benar. Mulai sekarang beritahu kepada cheff kita bahwa gajinya akan ku naikkan 30%.” Kemudian Tuan Harun memakan lagi makanannya. Sedangkan Nyonya Bella menaikkan kedua alisnya dan tampak bingung. Entah mimpi apa suaminya tadi malam sampai dia sangat senang pagi ini.
“Tama, makanlah yang banyak. Ini ku tambahkan lagi makanan mu.” Dokter Flo mengambil sesendok nasi goreng beserta potongan sosis yang telah diberikan saos sambal yang ia letakkan di atas piring teman masa kecilnya itu.
“Jangan Flo aku sudah kenyang.” Tama yang berusaha menolak tidak bisa karena makanan pemberian Dokter Flo telah mendarat cantik dipiringnya. “Sudah kenyang katamu? Bagaimana kau bisa kenyang tanpa memakan apapun?” Tanya Dokter Flo heran karena sejak tadi teman masa kecilnya itu hanya terdiam dan tidak makan sama sekali.
“Halo tuan muda, jangan membuat dirimu terlihat konyol. Segera makan nasi pemberian itu, kalau perlu kau habiskan saja saat ini juga.” Perintah Tuan Azego. Mau tidak mau Tama segera memakan makanan yang ada di hadapannya itu dan menghabiskannya dengan cepat. Hal itu tentu membuat kedua pipi Dokter Flo memerah karena sangat senang melihat Tama yang mengikuti perkataannya.
“Oh ya, kemana perginya Kirana? Apa kalian tidak membawanya pulang?” Dokter cantik itu merubah mimic wajahnya menjadi sendu walaupun di dalam hati dia akan senang jika Kirana tidak pulang sekalian karena dia akan menjadi wanita pertama yang akan menggantikan posisi Kirana sebagai istri tuan muda di rumah itu.
“Katakan padanya bahwa Kirana baik-baik saja, hanya saja dia sedang tidak ingin ke kediaman keluargamu karena dia sedang trauma saat ini. Jadi, Kirana sedang berada bersama dengan keluarganya.” Ujar Tuan Azego yang mana harus diucapkan pula oleh Tama.
“Kirana sedang berada di rumah keluarganya, aku kemarin berhasil membawanya pulang. Hanya saja karena trauma dia enggan untuk ke rumah ini lagi Flo.” Jawab Tama sambil melahap makanannya.
“Dan itu adalah berita yang sangat bagus untukku.” Senyuman Dokter Flo disertai tatapan tajam yang kosong. Ia senang mendengar kabar itu karena ia tak perlu melihat Kirana bersama dengan Tama.
“Iya kau memang benar Flo. Tama memang anak yang hebat, dia mewarisi itu dari ayahnya. Hahaha…” Tuan Harun tertawa lepas.
Walaupun mengatakan hal yang menurutnya benar, tetap saja ia ikut menutupi sandiwara yang dilakukan oleh putranya karena Dokter Flo tidak perlu mengetahui yang sebenarnya.
Nyonya Bella yang hanya menjadi pendengar di momen sarapan itu. Mendengar perbincangan hangat itu membuatnya ikut gembira karena ternyata Kirana berada dengan keluarganya bukan dengan rentenir kaya yang telah membobol keamanan para pengawalnya dan masuk ke rumahnya dengan kasar.
“Apa kau telah selesai Tama?” Tuan Harun menyudahi makannya dengan mengelap bibirnya menggunakan tissue begitu pun dengan Tama. “Kalian mau ke mana sayang?” Tanya Nyonya Bella yang masih menyantap sarapannya.
“Aku akan membawa Tama ke perusahaan hari ini. Dia perlu berkeliling terlebih dahulu sebelum masuk bekerja di perusahaan sayang.” Ucap Tuan Harun sembari berdiri dan melayangkan senyuman kepada istrinya.
“Ayah benar ibu, kami pergi dulu ya bu.” Pamit Tama kemudian keduanya berjalan lebih dulu meninggalkan ruang makan itu. Sedangkan dua orang perempuan yang belum selesai makan pun melanjutkan momen sarapan mereka tanpa seorang pria.
“Sekarang lebih baik.” Kata Nyonya Bella sambil tersenyum kepada Dokter cantik di depannya itu. Kedua kulit yang berada di bawah matanya pun tampak mengkerut halus karena senyuman lebarnya. “Kita akan lebih bebas untuk mengobrol soal fashion sayang.” Tambahnya. “Iya tante.” Jawab Dokter Flo dengan membalas senyuman Nyonya Bella.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruang makan, langkah yang tadinya santai kini menjadi lebih cepat. “Mariooo…” Teriak Tuan Harun yang tidak melihat Mario di ruang makan. Yah, pasca tragedi penyerangan itu, kini Mario bergerak lambat dari biasanya dan sedikit loading saat diberikan perintah. Ia tak lagi seperti dulu yang dengan cepat melaksanakan setiap perintah tuannya. Tetapi Tuan Harun juga enggan untuk memecat kepala pengawal pribadinya tersebut karena ia masih punya banyak relasi dan koneksi di pasar gelap. Salah satunya adalah senjatanya untuk menyerang lawannya hari ini.
“Ada apa tuan?” Mario yang datang dengan tergesa-gesa mengahampiri tuannya. “Dari mana saja kau, kau tahu kan kita pagi ini akan pergi ke rumah Azego.” Bentak Tuan Harun kepada Mario. “Iya tuan maaf, tadi saya mengganti perban di ruangan saya.” Jawabnya sambil memperlihatkan perban yang menempel di kepalanya dan lengannya.
“Kenapa tidak kau lakukan sebelum sarapan kami dimulai. Lain kali jangan terlambat lagi, kinerja mu mulai menurun sekarang.” Tambah Tuan Harun. “Baik tuan.” Mario hanya bisa menjawab pasrah karena memang benar apa yang dikatakan oleh tuannya itu. Tama yang berada diantara mereka seakan tidak mendengar keduanya karena kepalanya dipenuhi dengan kondisi Kirana.
“Apa Kirana sudah sarapan?” Gumam Tama dalam hati. Lalu, Tuan Harun gegas berjalan diikuti oleh Mario dibelakangnya. Namun, Tama masih berdiri termenung di belakang tertinggal oleh langkah keduanya.
“Tama ayo cepat.” Panggil Tuan Harun saat menyadari bahwa Tama masih berdiri dan tidak mengikutinya. Lamunan tuan muda itu pun buyar dan tersadar hingga akhirnya berlari kecil untuk mengejar ayahnya.
Diperjalanan menuju kediaman Tuan Azego, di dalam mobil yang mana Tama yang menjadi supir saat itu karena Tuan Harun sibuk membuka banyak berkas bersama Mario.
“Ada berapa banyak yang kau ketahui tentang bisnis gelap Azego, Mario?” Tanya Tuan Harun sambil melihat berkas-berkas itu.
“Sangat banyak tuan. Bisnis gelap kecilnya seperti bisnis minuman keras (Miras) illegal yang mereka racik sendiri, Hotel-hotel yang tidak mempunyai izin serta grup maling mobil mereka. Hal-hal kecil seperti itu sudah saya skip tuan karena tidak begitu melanggar hukum.” Jelas Mario.
“Bagaimana kau bilang itu tidak begitu melanggar hukum? Itu semua jelas melanggar hukum karena illegal. Terlebih lagi dengan grup maling mobil mereka. Bukankah yang kau maksud adalah mereka sengaja mencuri mobil kemudian menjualnya lagi dengan harga miring?“ Tuan Harun ingin memastikan dengan apa yang ditangkap dari percakapannya itu benar atau salah.
“Anda benar tuan.” Jawab Mario. “Ahh itu semua sudah bisa membuatnya membusuk di penjara.” Tuan Harun tersenyum senang.
“Tapi tuan, masih ada bisnis gelapnya yang sangat melanggar hukum.” Tambah Mario karena ia belum selesai menjelaskan semua bukti yang telah ditemukannya. “Apa lagi bisnis gelapnya yang sangat melanggar hukum?” Tuan Harun mengerutkan kulit dahinya.
“Kita akan menyeretnya dengan membeberkan bukti bisnis gelapnya yang sangat melanggar hukum seperti perdagangan manusia, bisnis narkotika dalam partai besar, dan perdagangan organ-organ tubuh di pasar internasional tuan.” Terang Mario lagi.
“Apa? Itu sangat kejam. Pantas saja dia bisa kaya dan hampir sekaya keluargaku. Ternyata selain bisnis kotornya sebagai rentenir, dia juga berbisnis dengan cara yang biadab. Dia tidak pantas disebut manusia.” Tuan Harun menggelengkan kepala tak percaya dengan semua itu. Tetapi bukti kuat yang dipegangnya pada berkas itu membuatnya yakin akan perbuatan Tuan Azego.
Tama yang menyetir dan mendengar perbincangan itu berkali-kali menelan salivanya. Di benak tuan muda itu entah mengapa ia terus memikirkan kondisi istrinya yang takut dijadikan korban seperti yang dikatakan Mario. Lagi pula yang makin membuat jantungnya seakan ingin copot adalah semua percakapan itu diketahui langsung oleh Tuan Azego.
“Maria, hebat juga saudara kembar mu itu. Dia bisa tahu banyak bisnis kita.” Lirikan mata Tuan Azego kepada Maria membuatnya kepala pengawal pribadi dari rentenir kaya itu tidak nyaman. Dibandingkan dengan saudara kembarnya adalah salah satu hal yang sangat ia benci.
“Apa kau sudah membereskan semuanya? Semua yang telah disebutkan mereka satu persatu tentang bisnis kita Maria.” Tanya Tuan Azego dengan tatapan yang intens kepada pengawal pribadi kesayangannya itu.
“Sudah tuan. Semuanya saya pastikan tidak memiliki celah dan tidak akan terbongkar.” Jawab Maria dengan percaya diri. Yah, karena dalam satu malam ia tak pernah tidur sampai saat ini karena sibuk untuk mengurusi semua bisnis gelap tuannya agar tidak tercium oleh siapapun. Kalaupun saudara kembarnya itu berhasil mengambil bukti, maka bukti itu akan ia buat sebagai bukti yang tak berguna dan sia-sia.
“Bagus Maria.” Kini Tuan Azego mulai tersenyum sinis dan senang.
__ADS_1