Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 41


__ADS_3

“ku rasa kau sedang hamil Nyonya.” Kata Tumiyem tertawa malu.


Deg!


Seketika Kirana merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Ia juga sedang berkeringat dingin sekarang. “ku… ku rasa kau itu salah Tumiyem.” Sahut Kirana dengan terbata-bata.


“semoga saja aku masuk angin.” Gumam Nyonya muda itu. Bagaimana mungkin dia bisa hamil anak dari calon ayahnya sendiri. Rasanya sungguh tidak enak bagi Kirana.


“Tumiyem…” Kirana menatap intens kepala pelayan wanita itu. “bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa aku benar-benar hamil atau tidak?” tanya Kirana dengan mimik wajah yang cemas.


Tumiyem terkekeh sembari menutup mulutnya. Kepala pelayan wanita itu merasa lucu melihat temannya yang tampak terkejut saat mengetahui bahwa dia sedang hamil. “apa kau tidak merencanakan kehamilan? Apa kau berencana menundanya?” kata Tumiyem yang mencubit perut dan menggoda Kirana.


“hehehe kau bisa saja. Yah, kami sedang ingin menikmati masa-masa kami berdua dulu.” Kirana mencoba memperlihatkan wajah yang menghibur. Kemudian Tumiyem tertawa kecil diikuti oleh Kirana, walaupun Kirana ikut tertawa dengan sangat terpaksa.


“baiklah, untuk memastikan bahwa kau sedang hamil atau tidak, aku akan membelikanmu test pack.” Kata Tumiyem kepada Nyonya mudanya. “ahhh kau memang teman yang baik.” Sahut Kirana sembari memegang tangan Tumiyem.


Flashback off


Saat semua pengawal pribadi dari tuan Azego itu pergi meninggalkan ruang tamu milik keluarga Harun, dengan cepat Tumiyem berlari mengejar mereka berharap bisa segera sampai ke tempat Kirana.


Namun apa boleh buat, ketika Tumiyem keluar dari rumah megah itu, beberapa mobil van hitam telah pergi menjauh dari halaman rumah kediaman tuan Harun.

__ADS_1


“Nyonyaaa…….” Teriak Tumiyem yang berhenti berlari saat tersadar ia tidak akan bisa mengejar mobil itu. Kepala pelayan wanita itu berlutut di jalan beraspal pada kediaman tuan Harun.


Tama, Nyonya Bella, dan dokter Flo berlari menyusul Tumiyem. Ada banyak tanda tanya di kepala mereka melihat aksi histeris seorang kepala pelayan itu. Sedangkan tuan Harun tertinggal jauh dibelakang berjalan dengan kaki tiganya yaitu dengan tongkatnya.


Mario? Masih terbaring sekarat tidak sadarkan diri pada ruang tamu kediaman tuan Harun ditemani para pengawal pribadi bawahannya yang handal itu.


“Tumiyem, apa yang kau lakukan? Sudahlah, wanita itu sudah dibawa pergi.” Kata dokter Flo sesaat setelah menghampiri kepala palayan wanita itu.


“tuan, tuan muda, ku mohon bawa nyonya muda kembali dengan segera.” Dengan pipi yang dibasahi air mata, Tumiyem dengan berani memegang lengan tuannya.


“ada apa denganmu Tumiyem, kenapa kau sangat prihatin melihat Kirana yang dibawa pergi? Tama saja yang suaminya tidak seperti kau.” Ujar dokter Flo sambil melipat kedua tangan di atas perut.


“tuan ku mohon selamatkan nyonya muda sekarang juga tuan.” Tumiyem menarik-narik lengan tuan mudanya sambil menangis. “kau tidak perlu memintanya, aku akan mencari cara agar bisa membawanya pulang Tumiyem.” Kata Tama menatap jauh kepada mobil yang perlahan menghilang dibalik pagar.


“Tumiyem, ada apa denganmu? Apa ada sesuatu yang kami tidak tahu?” Nyonya Bella meraih kedua bahu kepala pelayan wanitanya. Nyonya Bella membantu Tumiyem untuk berdiri.


“Nyonya… ku mohon cepat suruh orang menyelematkan nyonya muda, Nyonya.” Tumiyem menggenggam erat tangan Nyonya Bella. “iya Tumiyem, kami akan memikirkan cara untuk menyelamatkannya.” Sahut Nyonya Bella.


“tidak, ku mohon sekarang juga Nyonya.” Kata Tumiyem dengan air mata yang masih saja mengalir membasahi pipinya. “jika terlambat aku takut nyonya muda bisa keguguran.” Tumiyem menatap kosong jalan itu.


“APPAAA? Apa kau yakin Tumiyem?” dengan sigap Tama memegang kedua bahu Tumiyem dan membalik arah badan ketua pelayan wanita itu agar berhadapan dengannya.

__ADS_1


“aku… aku belum memastikannya lagi. Tetapi selama ini nyonya muda belum pernah datang bulan tuan.” Terang Tumiyem. Tama melepaskan genggaman tangannya pada bahu kepala pelayan wanita itu dengan bibir yang bergetar. Tuan muda itu tidak pernah menyangka sesuatu yang ia lakukan diluar kendalinya bisa membuahkan hasil secepat itu.


“mungkin saja siklus datang bulannya memang tidak lancar Tumiyem. Jangan mengada-ngada!” potong dokter Flo. Ia mencoba mencairkan suasana tersebut. Untuk apa Kirana hamil? Tama saja terpaksa menikah dengan Kirana dan tidak mencintainya. Dokter cantik itu tahu betul bahwa Tama mencintai ibu dari Kirana.


“tetapi ku rasa nyonya muda benaran hamil tuan. Karena sejak kemarin nyonya muda sedang tidak enak badan dan selalu muntah-muntah. Walaupun nafsu makannya akhir-akhir ini naik, tetapi ia tetap saja lemas dan sering mual serta muntah tuan.” Tumiyem menatap intens tuan mudanya itu.


“kau tidak bisa memastikan hal itu. jika memang benar nyonya muda mu itu hamil, mengapa kau tak memberikannya test pack agar mengetahui akurasi kehamilannya.” Kata dokter Flo yang melangkah maju mendekati Tumiyem.


“dokter Flo ada benarnya Tumiyem.” Kata Nyonya Bella. Walaupun perkataan dari dokter Flo benar adanya, tetapi ia senang mendengar kabar kehamilan dari menantunya tersebut karena keluarga Harun memang membutuhkan penerus dan pewaris harta di masa yang akan datang.


“soal itu, aku telah memberikannya test pack pagi ini tuan. Saat itu, tadi pagi sebelum kita di datangi para preman itu, kami sedang di toilet untuk melakukan test kehamilan nyonya muda. Namun, saat selesai, kami tidak sempat melihatnya. Nyonya muda langsung menyimpan test pack itu di kantong bajunya dan segera keluar bersamaku untuk melihat apa yang terjadi.” Jelas Tumiyem.


“yah berarti belum jelas kan kalau begitu. Jangan terlalu berlebihan.” Kata dokter Flo yang kembali melipat kedua tangan di atas perut. “tapi Tama, mungkin saja Tumiyem benar. Kau yang patut lebih tahu karena kau suaminya. Dan itu pasti karena perbuatanmu. Bukan begitu nak?” sahut Nyonya Bella.


Tama terdiam, dia tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa dia menghamili anak dari calon istrinya. Walaupun Riyanda dinyatakan meninggal, tetapi sisa cinta di dalam dadanya masih sangat dirasakan olehnya. Itu sebabnya selama ini dia tidak tidur bersama Kirana.


Tama tidak ingin menyentuh gadis cantik itu disaat ia mulai bergairah lagi akibat difusser yang selalu dipasang oleh kedua orang tuanya. Terkadang disaat Tama tersadar, difusser itu akan langsung ia matikan agar tidak terlarut dalam pengaruh cairan penambah gairah tersebut.


“Tama…” Nyonya Bella memegang lengan putranya. “jika Kirana hamil, tentu anak yang dikandungnya itu anakku ibu.” Terang Tama. “dia tidak pernah ke mana-mana selama ini ibu. Dia pernah keluar rumah hanya pada saat kami pergi mencari Riyanda. Dia wanita baik-baik ibu, aku sudah memastikan itu.” jelas Tama dengan raut wajah yang sedikit cemas.


“ahhhh syukurlah. Semoga saja dia benar hamil dan keluarga kita akan mendapatkan seorang cucu.” Kata Nyonya Bella dengan mengulum senyum senang. “aku akan memberitahukan hal ini kepada ayahmu. Kau jangan khawatir, Kirana akan cepat kita bawa kemari.” Nyonya Bella membelai punggung anaknya kemudian berlari ke tempat tuan Harun yang masih saja belum sampai pada jalanan kediaman keluarga Harun itu.

__ADS_1


“selamat Timi, kau telah menjadi seorang ayah.” Dokter Flo gegas memegang kedua tangan Tama untuk menjadi orang yang mengucapkan selamat untuk pertama kali kepada tuan muda itu. Walaupun hatinya tersakiti dengan mendengar kabar itu setidaknya dia bisa mengambil kesempatan untuk memegang tangan pria yang dicintainya.


“Flo, bisa ikut aku sebentar?” Tama menarik lengan dokter Flo dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tumiyem membasuh air matanya yang telah membasahi pipinya sejak tadi. Hatinya masih bergetar ketakutan melihat sahabatnya yang sedang hamil dibawa oleh orang-orang terlihat jahat dimatanya tersebut.


__ADS_2