Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 68


__ADS_3

Breaking News: “Pemirsa, saham Harun Corporation dinyatakan turun sebanyak 75% karena pemilik dari Harun Coporatioan yaitu Harun Karimun yang telah merusak nama baik keluarganya, merusak nama baik perusahaannya hingga banyak investor yang menjual asset dan saham mereka dari Harun Corporation.” Kata Pembawa Acara pada berita pagi ini.


Sontak Dokter Flo membuka lebar mulutnya. “Tama, bagaimana ini?” Pertanyaan itu berhasil membuat teman masa kecilnya terdiam mematung sambil melihat ke layar TV.


Kring… kring… kring…


Telepon rumah yang berkabel itu berdering tepat di tengah-tengah dua orang sahabat itu. “Halo, kediaman keluarga Harun?” Dengan lembut Dokter Flo mengangkat panggilan itu. “Iya benar. Oh begitu baiklah, akan saya sampaikan.” Dokter Flo pun menutup panggilan itu dengan ramah.


“Tama, sekarang ada pertemuan bagi para pemegang saham di kantor mu. Itu tadi telepon dari Keanu.” Ujar Dokter Flo sembari menyentuh lembut lengan teman masa kecilnya. “Iya aku tahu.” Jawab Tama dengan wajah yang murung kemudian ia berdiri.


“Kemarilah Tama…” Dokter Flo meraih blazer milik temannya yang tergeletak rapi di punggung sofa lalu memasangkannya ke tubuh Tama dari belakang. “Kau harus semangat bekerja hari ini.” Bisik Dokter Flo sambil memeluk teman masa kecilnya setelah jaz yang telah ia kenakan ke tubuh Tama.


Tama terlihat diam dan melamun. Ia pergi dengan melepaskan pelukan itu perlahan dan menuju kantornya. Dokter Flo melihat punggung bidang itu dengan senyuman senang di wajahnya. Untuk kali pertama bagi dirinya untuk bisa memeluk pria yang ia cintai. Apalagi di masa yang sulit bagi Tama saat ini tentu membuat perasaan yang dimiliki Dokter Flo menjadi senang. Tetapi, sayangnya di masa sulit seperti itu Tama sangat ingin ditemani oleh Kirana.


Pada saat rapat darurat Harun Corporation. Di sana tinggal lima orang yang telah hadir yaitu Tama sebagai pemimpin perusahaan, Keanu dan Merry yang mendampingi pemimpinnya serta tiga orang yang bersisa sebagai pemegang saham karena yang lainnya telah menjual saham mereka sebelum Harun Coporation diambang kehancuran.


“Selamat pagi semuanya. Saya sangat menghargai respon kalian untuk melakukan rapat darurat pagi ini. Kita semua tahu, Harun Corporation diambang kehancuran. Kedatangan saya pagi ini untuk memberitahukan kepada kalian semua bahwa tidak perlu berkecil hati atas masalah ini. Setiap pencapaian akan selalu ada masa di mana waktunya untuk menurun karena sejatinya tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun, yang ingin saya sampaikan secara pribadi adalah kalian para pemegang saham Harun Corporation tidak perlu berkecil hati. Tidak perlu takut untuk terus melangkah maju bersama Harun Corporation karena saya berjanji akan membawa kembali masa jaya perusahaan ini seperti apa yang dilakukan oleh ayah saya.” Tama berkata sambil menatap insten tiga orang pemegang saham itu.


Tiga orang pemegang saham yang tersisa bernama Gono, Kyosung, dan Albert. Mereka bertiga berasal dari negara yang berbeda. Gono berasal dari Indonesia, Kyosung berasal dari Korea Selatan dan Albert berasal dari negara Belanda. Ketiga pemegang saham itu semuanya fasih berbahasa Indonesia karena meraka telah lama tinggal dan berbisnis di negara kepulauan ini.


“Kau tidak perlu banyak berorasi tuan muda. Setelah aku menjual 30% saham ku kepada mu, aku berharap kau bisa bertahan dalam krisis yang disebabkan oleh ayah mu. Tetapi, kau justru makin membawa Harun Corporation menjadi bangkrut. Aku tidak akan bisa lagi percaya kepada mu.” Tutur Gono dengan wajahnya yang tampak pesimis.


“Gono benar Tama! Kami di sini datang bukan untuk mendengarkan kalimat mu yang terdengar seperti dongeng itu. Perusahaan ini tidak akan pernah bangkit lagi. Selain bangkrut, Harun Corporation juga meninggalkan banyak hutang.” Tambah Kyosung.


“Soal hutang, aku masih punya banyak asset untuk menutupinya. Soal kerugian, kita masih bisa membangunnya kembali. Aku hanya butuh kalian tetap di sini bersama ku. Karena Harun Corporation tidak akan bisa bangkit tanpa pemegang saham yang hanya dimiliki oleh keluarga Harun seorang.” Sahut Tama, ia kembali mencoba meyakinkan para pemegang saham itu.


“Maaf memotong pembicaraan bapak. Begini Pak Tama, kita semua tahu semua asset keluarga Harun sudah terjual. Bapak telah membeli saham Pak Gono dengan harga yang sangat mahal. Baiknya kita berpikir secara logis, dari sudut pandang mana Harun Corporation bisa bertahan?” Ujar Albert. Ia tampak lebih bijaksana dibandingkan dengan kedua pemegang saham yang lain.


Mendengarkan penjelasan dari Albert membuat Tama menghela nafas panjangnya. Ada benarnya juga dengan apa yang telah dikatakan oleh Albert.


“Jadi, bagaimana menurut kalian?” Tama berpasrah diri. “Aku akan menjual saham ku lagi. Tidak ada gunanya aku mempertahankan 10 % saham ku di sini. Yang ada aku selalu rugi. Cuih!” Gono meludah ke samping.


“Iya benar, aku juga akan menjual semua saham ku di perusahaan ini. Selama ini aku bertahan karena saham ku kecil tetapi menguntungkan. Tapi tidak untuk saat ini, bahkan pajak yang ku bayarkan lebih mahal dibandingkan penghasilanku dari perusahaan ini.” Tutur Kyosung yang sependapat dengan Gono.


“Bagaimana dengan anda Pak Albert?” Tama menatap sendu pemegangn saham satu itu. “Pak Tama, saya memang banyak berutang budi pada ayah Anda. Dia pemimpin yang sangat baik dan bijaksana. Tetapi, untuk saat ini, saya meminta maaf kepada ayahanda melalui Anda Pak Tama. Saya harus ikut menjual sisa saham saya di perusahaan ini. Semoga kelak, keluarga Harun dapat bangkit dan berjaya.” Kata Albert dengan wajah yang bersedih.

__ADS_1


Untuk beberapa saat tuan muda yang banyak berharap kepada para pemegang saham yang tersisa akhirnya pun menyerah.


“Keanu, Merry, siapkan semua berkas yang dibutuhkan oleh para pemegang saham.” Tama menoleh ke kiri untuk melihat wajah asisten pribadinya. “Tuan…” Keanu tampak bersedih atas apa yang telah disepakati oleh para pemegang saham.


Setelah Albert berjalan mendekati Tama dan menepuk bahu anak dari temannya itu kemudian ia berkata, “Kalau begitu, kami permisi Tama.” Dan kemudian para pemegang saham itu meninggalkan ruang rapat itu hingga tinggal bersisa tiga orang tersebut.


Tuan muda itu meninggalkan ruang rapat itu bersama dua orang karyawannya yang mendampinginya tadi. Keanu dan Merry kembali ke meja kerjanya untuk melaksanakan perintah dari tuannya sedangkan Tama berkeliling memandangi setiap sudut ruangan perusahaan yang tampak megah itu.


Tama menyusuri perusahaannya. Tidak banyak yang harus ia kerjakan hari ini. Perusahaan megah itu terlihat sepi. Ada banyak karyawan yang harus mengundurkan diri atau bahkan harus mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).


“Selamat siang tuan.” Sapa Ravi saat Tama memasuki lift pribadinya. Ketika lift itu terbuka, Ravi sedang membersihkan lift itu menggunakan alat pembersih yang selalu ia bawa. “Siang Ravi.” Tulis Tama sembari memaksakan diri untuk tersenyum.


“Kenapa kau tidak ikutan berhenti seperti yang lain?” Tulis Tama pada kertas itu. “Aku tidak bisa berhenti hanya karena perusahaan ini bangkrut atau tutup. Bahkan jika tuan ingin tau, andai aku mati sekalipun hantu ku akan tetap berada di perusahaan ini.” Balas Ravi pada kertas yang tertulis tulisan tangannya itu.


Sontak setelah membaca tulisan itu Tama tersenyum sambil menutupi mulutnya. “Mungkin bagi tuan ini lucu tapi saya sangat serius tuan.” Tulis Ravi lagi pada kertas kosong yang lain sambil mengangkat kedua alisnya. Dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.


“Baiklah aku mengerti. Cepat antarkan aku ke ruangan rahasia milik ayah ku.” Tulis Tama lagi. “Baik tuan.” Sahut Ravi pada tulisan yang baru. Keduanya ke ruangan kerja rahasia tempat di mana Tuan Harun sering menyendiri.


*


Sementara itu, Nyonya Bella tengah meneguk gelas yang berisikan Whiskey berkali-kali. Ia sedang merasa depresi dengan berita yang memberitakan tentang suaminya. Dari mulai tuduhan yang tidak ada benarnya, bangkrutnya keluarga Harun, belum lagi dia merindukan Tuan Harun yang selalu saja memanjakan dengan hal-hal mewah. Saat ini? Untuk berbelanja saja ia harus memintanya kepada Tama yang tentu akan diberikan oleh Tama dari hasil mengambil tabungan rahasia ayahnya pada ruangan rahasia tersebut.


Kekayaan Tuan Harun memang sangat banyak. Tapi rumus dari harta dan uang yaitu bisa habis dan hilang karena sejatinya tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun sayangnya, kebanyakan orang tidak terbiasa untuk hidup susah termasuk Nyonya Bella.


*


*


Di waktu yang sama, Tuan Azego sedang berpesta dengan seluruh anak buahnya. Mereka menghidupkan music yang cukup besar dan berjoget ria satu sama lain. Tak lupa mereka pun ditemani dengan minuman keras dan berbagai macam narkoba serta snack pendukung lainnya.


“Sekarang aku sudah kaya raya Maria…” Teriak Tuan Azego sambil berjoget senang. Terlihat dua orang wanita yang sedang ia rangkul dan berjoget bersama. Entah dari mana datangnya wanita itu, tetapi Maria hanya berdiri sambil menemani tuannya.


“Dan sekarang aku telah menjadi orang terkaya! Harun telah bangkrut. Tidak ada lagi yang dapat menyaingiku. Hahaha…” Bak di dalam surga, Tuan Azego merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


“Maria aku telah kaya raya sekarang!” Tuan Azego melepaskan rangkulan wanitanya. Dia memegang kedua bahu kepala pengawal pribadinya itu dan mengguncangnya dengan keras.

__ADS_1


“Tuan, Anda belum makan siang. Lebih baik Anda makan siang terlebih dahulu sebelum berpesta seperti ini.” Kata Maria dengan ekpresi wajah yang prihatin. Tidak seperti anak buah Tuan Azego yang lain yang ikut berpesta menikmati sajian gratis yang diberikan tuannya. Maria dengan hati yang tulus mengkhawatirkan tuannya yang telah menolongnya di masa lampau.


“Biarkan saja. Aku bahkan sudah kenyang! Aku tidak butuh makanan lagi. Kau tahu, setiap hari pun aku bisa memakan uang kertas ini.” Tiba-tiba saja Tuan Azego memegang uang kertas yang entah dari mana asalnya. Dengan kondisi yang melayang dan mabuk, ia mengunyah uang kertas itu.


“Tuan, Anda sedang mabuk parah.” Maria mengambil uang itu dari mulut tuannya. Ia melihat kesekeliling untuk mencari bawahannya yang bisa disuruh. Setelah melihat semua orang yang ada di ruangan gelap itu Maria mengurungkan niatnya. Tidak ada satupun orang di ruangan itu yang sedang waras selain dirinya.


“Maria, mengapa kau mengambil uang itu? berikan padaku. Aku akan memakannya.” Wajah sedih yang sedang mabuk dari rentenir kaya itu merengek untuk diberi makan uang kertas lagi.


“Tuan ku mohon hentikan ini. Ingat kesehatan tuan.” Pesan Maria kepada tuannya. “HAHAHA!” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak lagi. “Kau dengar itu sayangku? Dia sangat perhatian pada ku. Untung saja aku memperkerjakannya.” Kata rentenir kaya itu sambil merangkul dua orang wanitanya yang tidak ia kenal sebelumnya.


Maria hanya bisa menghela nafas panjangnya dan berusaha tetap waras di tengah gempuran pesta yang tak kunjung usai. Ia berprinsip, saat semua telah menjadi gila karena pesta, setidaknya ada satu orang waras yang masih bertahan dan harus berjaga.


*


*


“Tuan saya akan kembali lagi nanti.” Tulis Ravi saat telah sampai pada ruangan rahasia itu. “Tidak, tunggu saja. Aku hanya sebentar.” Kata Tama. Kemudian Ravi melangkah masuk ke ruangan itu dan berdiri tegap untuk menunggu tuan mudanya.


“Kau duduk saja Ravi.” Tulis Tama pada sebuah kertas yang tampak lecek sebelumnya. Ravi mengangguk dan mencari kursi untuk duduk. Dia duduk sendiri sambil memperhatikan apa saja yang tuan mudanya kerjakan.


Tuan muda itu mengambil emas batangan yang telah bisa dihitung jumlahnya. Uang kertas yang ada di dalam brangkasnya pun telah habis karena harus membayar Tuan Azego setiap kali ia bertemu dengan istrinya.


“Ravi, apa kau tahu penyimpanan ayah selain di sini?” Tama melirik Ravi. Ravi menggeleng tidak tahu. Tama telah kehabisan uangnya atau lebih tepatnya ia telah kehabisan semua harta dari harta keluarga Harun.


Tuan muda itu mengambil 10 emas batangan yang tersisa. Semua ruangan yang dulunya dipenuhi oleh emas batangan dan uang kertas yang tidak ternilai jumlahnya kini telah habis ketika Tama mengambil 10 emas batangan yang terakhir.


“Tuan, bolehkah saya bertanya?” Ravi mendekati tuan mudanya dan memperlihatkan kertasnya. “Tentu, kau ingin bertanya apa Ravi?” Balas Tama. “Ada apa ini? Kenapa Tuan mengambil semua emas dan uang yang ada di sini. Ini jauh berbeda dengan Tuan Harun. Jika tuan kemari untuk mengambilnya, Tuan Harun datang ke sini dengan membawa satu persatu emas dan uang itu secara bertahap selama puluhan tahun.” Jelas Ravi yang menulis di kertas dengan tulisan yang cukup kecil agar semua tulisannya muat pada kertas itu.


“Selama puluhan tahun? Maksud mu?” Tama mengernyit. “Iya tuan, pekerjaan ini dulunya adalah pekerjaan ibu saya. Ibu saya banyak bercerita tentang keluarga tuan. Kami banyak berutang budi kepada keluarga Harun maka dari itu kami mendedikasi waktu kami untuk keluarga Harun.” Jelas Ravi pada tulisan itu dengan raut wajah yang sedih.


“Tapi tuan, yang membuat saya bersedih, kemalangan ini kenapa terjadi saat saya yang bekerja di sini. Saya sangat senang jika keluarga Harun terus dalam kejayaan tuan. Hikss..” Ravi pun tak sanggup menahan air matanya. Air mata itu jatuh di pipinya tanpa ia bisa bersuara.


Deg!


Tama seakan merasakan jantungnya berhenti. Jika Ravi saja bisa sesedih itu hanya karena keluarga Harun jatuh saat Ravi yang bekerja pada perusahaan itu, lalu bagaimana dengan dirinya? Bukankah itu semua terjadi karena dirinya yang memimpin perusahaan.

__ADS_1


Pewaris tunggal itu berdiam diri untuk sesaat, merenungi segala perbuatannya yang merugikan keluarga Harun.


__ADS_2