
Tama begitu terkesima melihat sosok Riyanda yang baru datang. Selama ini dirinya hanya berkenalan dengan para gadis tua tanpa melihat fisiknya. Yang penting baginya wanita itu terlihat dewasa dan baik.
“maaf jika kalian datang lebih dulu. Apa aku terlambat?” Riyanda melihat jam tangan yang melingkar pada lengan kanannya. Jam tangan itu menunjukkan waktu yang pas, ia merasa tidak terlambat padahal jam itu terlambat sepuluh menit.
Riyanda duduk di kursi tepat berada di depan Nyonya Bella. Walaupun ia tahu Nyonya Bella datang bersama putranya yang tak lain dan tak bukan adalah calon suaminya, tetap saja untuk saat ini dia akan lebih merasa nyaman untuk duduk berhadapan dengan Nyonya Bella dibandingkan dengan putra temannya itu.
“tidak Riyanda, kami hanya datang lebih dulu beberapa menit.” Kata Nyonya Bella sambil mengangkat tangan untuk memanggil pelayan restaurant. Pelayan restaurant tersebut mendekati tempat Nyonya Bella dengan membawa buku menu makanan sebesar map. Ia memberikan masing-masing dari ketiga orang itu satu buku menu yang sama satu sama lain.
“hmm… bagusnya kita makan apa ya?” Nyonya Bella tampak berpikir setelah membuka dan melihat daftar makanan dan minuman pada buku menu itu. Tama dan Riyanda pun masih terdiam menatap buku menu yang telah terbuka di depan mereka.
“ibu biar aku yang saja yang memesan makanannya.” Tama mengambil buku menu yang dipegang oleh ibunya dan meletakkannya. Begitu pula dengan buku menu yang ada di tangan Riyanda, Tama merebutnya lembut dan tersenyum.
Riyanda tersenyum dan melipat tangan di atas meja saat Tama mengambil buku menu yang ada di tangannya. “mau pesan apa bocah ingusan ini.” Riyanda menyeru dalam hati. Tama menyebutkan satu persatu menu makanan dan minuman yang ada pada daftar menu pada buku menu itu.
Pelayan yang sejak tadi berdiri dan mencatat semua pesanan dari Tama itu sangat menyimak dengan hati-hati perkataan dari Tama. Karena jika ketinggalan satu saja menu yang di pesan, ia bisa terkena semburan kata-kata pedas dari para orang kaya. Yah, para orang kaya di kota itu terkenal kritis dan perfeksionis sama seperti Tuan Harun ayah dari Tama.
Pelayan itu berhenti mencatat pesanan dari Tama. Dia mengulangi lagi semua pesanan yang di pesan oleh Tama. Setelah selesai mengoreksi dan Tama mengangguk setuju, akhirnya pelayan itu beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan meja tempat Nyonya Bella duduk bersama putra dan temannya.
“bagaimana, apa kau suka dengan pesananku?” tanya Tama kepada Riyanda. Ia melayangkan senyuman bangga bak anak kecil yang ingin mendapatkan pujian setelah menyelesaikan pekerjaan yang menurut orang dewasa itu biasa saja.
“ahhh tentu sayang, semua makanan yang kau pesan adalah makanan rekomendasi dari restaurant ini dan sangat enak.” Nyonya Bella yang menjawab lebih dulu, ia tak mau ketinggalan untuk memuji anaknya sendiri.
“hm.. lumayan, ku rasa lain kali aku harus harus mengajakmu makan bersama dan biarkan aku yang memesankanmu makanan seperti yang kau lakukan hari ini kepadaku.” Riyanda menopang dagunya menggunakan kedua tangan yang di kepal.
“baiklah, aku akan sangat menunggu momen itu.” Tama melayangkan senyum sinisnya. Namun, di dalam hatinya telah tumbuh bunga-bunga yang sedang bersemi. Ia sangat senang sekali dengan jawaban dan respon yang diberikan oleh Riyanda.
Tama mengambil ponselnya dan mengirimi ibunya sebuah pesan. “ibu aku akan senang jika memang berjodoh dengannya. Ku pastikan aku mau menikah dengan wanita yang ada di depan ibu itu.” isi pesan tersebut.
Gerrkkk.. ponsel Nyonya Bella bergetar yang ada di atas meja. Lekas ia membuka dan membaca pesan yang masuk yang berasal dari putranya sendiri. Nyonya Bella pun menyentuh keypad touchscreen pada layar ponsel dan membalas pesan putranya. “baiklah sayang, kami merestuimu.” Isi balasan pesan dari Nyonya Bella.
__ADS_1
Makan siang bersama itu berlangsung dengan hangat. Seperti biasa, Riyanda selalu tampak elegan dan berkelas saat berbincang atau saat sedang menyantap makanan. Hal itu membuat Tama semakin tergila-gila padanya. Kepercayaan diri yang terpancar dari wajah Riyanda, membuatnya seakan tak pernah bisa melihat ke arah lain kecuali menatap wajah cantik berparas bule itu.
Flashback off
“oh jadi seperti itu rupanya. Kau jatuh cinta kepada ibuku pada saat pandangan pertama.” Kirana berargumen setelah mendengar cerita panjang dari Tama barusan. “yah bisa dibilang seperti itu.” sahut Tama.
“sekarang cepat katakan, harus pergi ke mana kita? Di mana ibumu berada Kirana?” Tama langsung ke inti dari kegiatan pergi bersama itu. “ahhh kalau soal itu aku juga tidak tahu ibuku ada di mana. Tapi aku mempunyai rencana untuk itu.” ujar Kirana percaya diri.
“apa rencanamu?” tanya Tama. Tuan Muda itu masih menyetir dengan kecepatan sedang sembari mengobrol dengan istrinya. “pertama kau bisa mengantarkanku pulang ke rumah, aku akan mengambil ponselku terlebih dahulu untuk menelepon ibuku.” Sahut Kirana.
“benar, kau pasti butuh ponselmu untuk menghubunginya. Jujur, hingga saat ini aku belum memiliki nomor ponsel ibumu.” Tama memandang kosong ke depan melihat jalan raya yang penuh dengan kendaraan roda empat itu.
“kau ini, calon suami macam apa yang tidak menyimpan nomor ponsel calon istrinya.” Gerutu Kirana. “maafkan aku, pada saat bertemu ibumu bersama ibuku, aku terlalu terkesima dengan kecantikannya hingga aku lupa untuk meminta nomor ponselnya. Pada pertemuan kedua kami, aku pun sangat menikmati masa di mana kami sedang bedua hingga kembali lupa untuk meminta nomor ponsel ibumu.” Terang Tama.
Kirana memutar kedua bola matanya. Ia memilih untuk tidak berkomentar lagi. “kau tahu, ibumu itu sangat highclass Kirana. Jika kau tidak miliki wajah yang sangat mirip dengannya, aku tidak akan percaya bahwa kau anak dari Riyanda. Kau tahu, ibumu bahkan berpakaian lebih mahal dari keluargaku. Padahal keluarga Harun adalah keluarga terkaya di provinsi ini.” Jelas Tama, ia melayangkan senyum yang tersipu malu dan membuat Kirana geli melihatnya.
“apa Tama benar membicarakan ibu? Ku rasa selain nama yang sama, semua yang diucapkan olehnya sangat berbeda dengan ibu. Walaupun ibu jarang di rumah bersamaku, tetapi ibu tidak berpakaian mewah sama seperti yang dikatakan oleh Tama. Bahkan untuk mengganti pakaian dalam yang rusak pun ibu tidak mampu.” Kirana menyeru dalam hati.
“hey, ada apa denganmu? Mengapa melamun?” tegur Tama kepada istrinya. “ahh tidak kenapa-kenapa, aku hanya mengantuk.” Kirana beralasan. “di sana, pada simpang empat yang ada di depan itu kau harus belok kiri.” Tunjuk Kirana di sebuah persimpangan kecil.
“apa benar rumahmu di sini Kirana?” tanya Tama heran saat membelok kiri dan masuk ke dalam jalan kecil. Seingat dari Tuan Muda yang kaya raya itu, ketika ia mengantar Riyanda pulang, ia jelas mengantar Riyanda ke sebuah apartemen mahal yang ada di tengah kota.
Flashback on
Tama masuk ke dalam parkiran sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi ke atas. Gedung itu adalah salah satu gedung yang berisi apartemen mahal pada kota itu. Setelah bertemu dengan Tama yang kedua kalinya, setelah selesai makan bersama, Riyanda mengajak Tama untuk berbelanja pada salah satu mall besar pada kota itu. Riyanda berbelanja sangat banyak hingga dirinya sendiri kewalahan untuk membawa barang belanjaannya.
“sini biar ku bantu.” Tama menawarkan diri saat Riyanda mengambil satu persatu barang belanjaannya dari bagasi mobil itu. “terima kasih.” Sahut Riyanda saat sebagian barangnya dibawa oleh Tama.
Mereka berdua masuk ke dalam lift dan naik menuju ke apartemen Riyanda. Sesampainya di pintu apartemen Riyanda, Tama meletakkan semua barang belanjaan Riyanda di depan pintu. “kurasa sampai disini saja untuk hari ini, jika kau mau besok aku akan menjemputmu dan kita bisa pergi untuk berbelanja lagi.” terang Tama di akhiri dengan senyuman manis.
__ADS_1
“ahhh tidak usah, terima kasih Tama. Besok aku harus berangkat ke Belanda untuk menjenguk anggota keluargaku yang sakit. Sebentar lagi kita akan menikah, jadi lebih baik jika kita tidak sering bertemu.” Terang Riyanda.
“baiklah kalau begitu, sampai jumpa.” Tama beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya. “Tama…” panggil Riyanda dengan setengah berteriak. “tidakkah kau ingin masuk?” Riyanda mengajak Tama untuk singgah pada apartemennya untuk sekedar menyeduh teh hangat. Ia ingin berterima kasih kepada Tama karena telah membayarkan semua belanjaannya pada mall tadi.
Tama pun masuk dengan membawakan semua barang belanjaan itu. Semua dari barang belanjaan itu di angkat oleh Tama tanpa terkecuali. Hanya kepada Riyanda, Tama sedikit merendahkan hati untuk membantu wanitanya karena putra Tuan Harun itu tidak pernah membawakan barang orang lain. Untuk membawa barang miliknya sendiri pun ia tak pernah, karena ada banyak pelayan dan pengawal pribadi yang akan membawakan barang miliknya.
Setelah melihat Tama masuk dan melihat di depan pintu tidak ada lagi barang berlanjaannya yang tertinggal, Riyanda ikut masuk dan menutup pintu.
“silahkan duduk Tama.” Riyanda mempersilahkan Tama duduk pada ruang tamunya. Ia duduk di di sofa berwarna putih yang berbentuk L. “luar biasa, apartemen Riyanda sangat bersih.” Gumam Tama. Ia sangat merasa cocok dengan Riyanda karena sama-sama menyukai kebersihan.
“ini silahkan di minum.” Riyanda memberikan cangkir yang berisikan teh panas manis. “terima kasih.” Tama mengambil cangkir itu dan meminumnya lalu meletakkannya di atas meja. “apa kau sendiri yang membersihkan semua apartemen ini?” tanya Tama takjub.
Di depan sofa itu ada sebuah TV berukuran 60 inch. Di samping kanan sofa ada dapur dengan design bergaya minimalis modern dan didominasi dengan warna putih. Di sebelah kiri sofa ada kamar set yang juga berwarna putih disertai dengan sprei dan lampu hias berwarna putih pula. Di samping tempat tidur itu ada sebuah pintu geser yang terbuat dari kaca yang memiliki pemandangan para gedung pencakar langit menjulang tinggi ke atas dihiasi dengan awan-awan putih yang bergerak perlahan.
“yah, jika bukan aku lalu siapa lagi?” Riyanda tersenyum manis. Seketika Tama meleleh dibuatnya. “oh ya sebentar.” Riyanda beranjak dari tempatnya dan pergi ke dapur untuk mengambil sembuah dompet kecil yang berisikan puluhan kartu atm dan kartu kredit.
“ini ambillah.” Riyanda memberikan sebuah kartu yang berwarna hitam. “maaf tadi merepotkanmu dengan membayar semua tagihanku. Sekarang aku ingin menggantinya.” Riyanda mengambil tangan Tama dan meletakkan kartu tersebut pada telapak tangannya.
Tama melihat dengan jelas kartu itu adalah kartu kredit dengan limit 1 triliun rupiah. Matanya terbelalak tak percaya. Bahkan keluarga Harun tidak dapat memiliki kartu kredit dengan limit yang sebesar itu.
“tidak usah Riyanda, itu semua ku belikan untukmu.” Terang Tama mengembalikan kartu itu kepada Riyanda. “jangan, aku tidak mau disebut cewek matre hanya karena kau membayar tagihanku sebelum kita resmi menjadi suami istri.” Riyanda meletakkan kartu itu di meja dan mendorongnya tepat berada di samping cangkir teh yang telah diminum oleh Tama.
“biarkan saja Riyanda, aku akan memastikan kedua orang tuaku tidak mengetahuinya.” Jelas Tama dan mendorong lagi kartu itu ke dekat Riyanda. “baiklah kalau begitu, jika kau memaksa akan ku terima pemberianmu.” Sahut Riyanda.
“ku rasa, sudah waktunya aku untuk pulang. jika tidak pulang saat makan malam bersama, ayahku akan mencariku.” Kata Tama sambil mengambil lagi cangkir itu dan meminumnya lagi. “hahaha…” Riyanda tertawa lepas. “apa kau masih anak kecil hingga harus pulang sebelum makan malam.” Tambah Kirana.
Tama hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Memang, di umur 25 tahun ia belum pernah pulang larut malam, karena Tuan Harun cukup ketat untuk mengontrol anggota keluarganya.
“aku tidak pernah pulang malam.” Jelas Tama dengan datar. “baiklah jika begitu kau tidak perlu pulang malam. Kau bisa menginap di sini dan pulang besok pagi, dengan begitu kau tidak akan pulang malam bukan? Kau mau?” Riyanda menatap intens kepada Tama begitupun sebaliknya Tama menatap Riyanda dengan jantung yang berdegup kencang.
__ADS_1