Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 66


__ADS_3

Saat sudah waktunya jam pulang kerja. Semua karyawan bersiap untuk pulang termasuk tuan muda itu. Ia pun masuk ke dalam lift pribadinya. Lift di mana dirinya hanya bisa bertemu empat mata bersama Ravi. Ravi di izinkan masuk ke lift itu karena ia harus membersihkan lift itu sebanyak dua kali sehari. Jika ia masuk lebih dari dua kali sekalipun tidak ada yang memperdulikan hal tersebut karena masing-masing orang sibuk dengan pekerjaan mereka.


“Di mana kau menyimpan tas itu Ravi.” Tanya Tama pada catatan kecil miliknya. “Ada di loker kerja ku tuan.” Sahut Ravi menggunakan tulisan pada kertas yang juga dibawanya. “Apa kau punya tas yang lebih kecil dari tas milikku?” Tanya tuan muda itu lagi.


“Punya tuan. Tetapi aku tidak tahu, tas kecil yang tuan maksud sebesar apa?” Ravi menunjukkan tas miliknya yang sedang ia pakai sebagai tempat menyimpan alat kebersihan. Tas itu berukuran sedang, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar.


“Ku rasa tas itu cukup.” Kata Tama saat melihat tas yang dipakai oleh Ravi. “Kita harus ke ruang kerja ayah ku terlebih dahulu.” Tambahnya lagi. “Baik tuan.” Sahut Ravi kemudian keduanya kembali ke ruang kerja rahasia Tuan Harun.


“Masukkan semua uang ini ke dalam tas itu Ravi.” Perintah Tama pada sebuah tulisan kecil. “Baik tuan.” Ucap Ravi pada balasan tulisan itu sembari mengangguk.


10 Milyar rupiah yang diambil Tama tadi pagi adalah uang untuk membayar Tuan Azego yang berjumlah 8,4 Milyar rupiah. Sisanya untuk mengganti kerugian anak perusahan Harun Corporation dan beberapa cabang perusahaan lain yang bekerjasama dengannya. Namun, setelah berkeliling dari pagi hingga sore hari tadi ternyata jika dijumlahkan sisa uang yang berjumlah 1,6 Milyar rupiah itu tidak cukup. Akhirnya Tama kembali mengambil uang ayahnya untuk menambah kekurangan dari uang tersebut.


Selain tas yang dibawa Ravi, Tama mengambil lagi tas yang lain untuk mengisinya dengan sisa uang yang berjumlah 1,6 Milyar rupiah tersebut. Setelah selesai gegas mereka berdua keluar dari ruangan itu. Tak lupa pintu itu dikunci menggunakan sidik jari dari Ravi.


Setelah melewati lift dan sampai ke lantai dasar tempat di mana loker untuk para Cleaning Service berada, Tama mencari ruangan kosong lain agar ia bisa menunggu dengan aman. Ruangan itu kosong itu adalah tempat di mana para alat-alat kebersihan diletakkan seperti sapu, pel, cairan pembersih dan lain-lain.


“Aku akan menungggu mu di sini.” Pesan Tama saat Ravi berjalan menuju loker kerjanya. Ravi mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Lalu ia pun menuju loker kerjanya dan mengambil satu tas berukuran besar yang berisi penuh dengan uang dan beberapa emas batangan.


“Wow, kenapa tas mu besar sekali? Apa saja isinya.” Seorang Cleaning Service yang terkejut melihat Ravi menarik sebuah tas besar. Ia pun mendekati Ravi untuk memastikan apa isi tas itu. “Jika kau mendekat, aku akan membunuh mu.” Ravi berkata kepada teman kerjanya dengan sangat ketus dan tatapan mata yang membunuh.


“Ahhh… kenapa kau begitu menyeramkan saat mengancam seperti itu. Padahal kau itu cantik Ravi. Jika terus seperti itu kau bisa menjadi perawan tua. Sudahlah. Lebih baik aku pergi dari sini.” Ujar teman sesama Cleaning Service itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melihat apa isi tas dari Ravi.


Melihat kondisi yang mulai aman. Ravi menyeret tas itu dengan susah payah ke gudang peralatan kebersihan tempat Tama menunggu.


Das!


Suara hentakkan tas yang dilakukan oleh Ravi. Ia melempar tas itu dengan kasar karena lelah. “Huff…” Ravi bernafas tidak beraturan karena lelah telah menyeret tas itu.


Tama yang focus kepada tas itu tidak lagi memperhatikan bawahannya yang tampak berkeringat dan capek akibat menyeret tas yang berat itu.


“Tolong bantu aku.” Tama menulis lagi pada kertas kosong yang ia bawa. Ravi pun mengusap keringatnya dan berjongkok sama persis seperti yang dilakukan oleh tuannya. Dengan membutuhkan banyak waktu karena menghitung uang 1,6 Milyar itu, Tama mengeluarkan semua uang itu dari dalam tas yang dibawa oleh Ravi.


“Masukkan semua uang ini ke dalam tas kosong yang ku bawa.” Perintah Tama kepada Ravi dari tulisan itu. Ravi langsung menyentuh uang yang telah dikeluarkan itu dan memasukkannya ke dalam tas kosong yang dibawa oleh tuannya karena ia tak lagi menjawabnya menggunakan tulisan.


Setelah semuanya beres. Satu tas besar berisi uang 8,4 Milyar untuk Tuan Azego pun telah siap. Dua tas kecil yang berisikan uang milyaran juga telah selesai dimasukkan oleh keduanya.


“Sekarang aku ada pekerjaan untuk mu Ravi.” Tama kembali menulis ke kertas kosong. “Tolong kau antarkan uang ini hari ini. Antarkan uang ini kepada semua anak perusahaan Harun Corporation beserta dengan kantor perusahaan yang masih dalam naungan dan kerjasama dengan perusahaan kita. Untuk daftar penerimanya, telah aku letakkan di dalam laci meja kerja ku. Kau bisa ke sana nanti saat melakukan bersih-bersih.” Terang Tama pada kertas kecil yang silih berganti ia tukar ke kertas yang baru saat kertas itu sudah penuh dengan tulisannya.


“Bisakah kau selesai kan hari ini? Tidak masalah kau antar hingga larut malam. Aku telah memberitahukan kepada mereka bahwa kau datang membawa uangnya dan membutuhkan banyak waktu. Tapi aku berjanji akan memberikannya hari ini. Karena banyaknya tempat yang harus kau datangi, mereka akan maklum.” Tambahnya lagi.

__ADS_1


“Apa kau bisa?” Tanya Tama pada kertas terakhir miliknya. “Bisa tuan.” Jawab Ravi penuh percaya diri. “Okay, terima kasih.” Tulis Tama pada kertas yang sama dengan yang tadi. Lalu keduanya keluar secara bergantian dari gudang tersebut.


Tama yang berjalan secara pelan-pelan sambil memperhatikan sekitarnya akhirnya sampai diparkiran tempat ia memarkir mobil miliknya itu. Ia pun membuka pintu bagasi mobil dan memasukkan tas yang dibawanya ke dalamnya.


“Azego, aku sedang menuju ke rumah mu.” Kata Tama yang berbicara dengan Tuan Azego melalu alat komunikasi yang dipasangkan pada dadanya tersebut. “Baiklah, aku menunggu mu.” Sahut Tuan Azego pada Earphone yang menempel pada telinga tuan muda itu.


Saat sampai di kediaman Tuan Azego. Tama langsung disambut oleh Maria dan satu orang pengawal pribadi lainnya.


“Ambil tas itu.” Perintah Maria kepada pengawal pribadi bawahannya yang sedang bersamanya. Pengawal pribadi itu langsung menarik tas itu dari Tama. “Jangan, biarkan aku sendiri yang mengantarnya.” Tolak Tama yang tak mau melepaskan sedikitpun tas itu dari tangannya.


“Baiklah, biarkan dia.” Perintah Maria sembari menarik satu sudut bibirnya. Pengawal pribadi yang bersamanya itu pun kembali ke tempatnya. “Kalau begitu, silahkan masuk tuan muda.” Kata Maria sambil mengejek tuan muda itu. Ia mempersilahkan Tama untuk masuk ke dalam rumah milik Tuan Azego.


Walaupun Tama terlihat sedikit kewalahan membawa tas besar yang penuh dengan uang dan emas batangan, tetapi wajahnya dipenuhi dengan senyuman.


“Wah-wah, ternyata kau menepati janji mu Tama.” Ucap Tuan Azego saat melihat sosok pewaris tunggal keluarga Harun masuk ke dalam ruangannya. “Maria, ambil tas itu.” Perintah rentenir kaya itu. Lekas Maria mendekati Tama untuk melakukan perintah tuannya.


“Tidak!” Lagi, Tama menolak untuk melepaskan tas itu dari tangannya. “Ada apa dengan mu tuan muda? Bukankah kau ke sini ingin membayar hutang dengan uang kes?!” Tuan Azego mengernyit.


“Kau benar. Tetapi, bisakah kau membawa Kirana ke mari. Aku ingin melihatnya.” Pinta Tama sembari memegang erat tas itu. “Kau sungguh bodoh!” Umpat Tuan Azego. “Maria, ambil saja tas itu!” Perintah Tuan Azego lagi.


“Baik tuan.” Sahut Maria yang kemudian mengambil paksa tas itu dari tangan Tama. “Jangan…” Tama bersikukuh untuk tidak memberikan tas itu namun apa boleh buat, tenaganya kalah jauh dari tenaga seorang wanita seperti Maria.


Marai gegas membawa tas itu dan membukanya. Kemudian ia mulai menghitung uang yang dibawa oleh tuan muda tersebut. Tak lupa ia pun memeriksa keaslian dari uang kertas tersebut beserta dengan emas batangannya.


Sambil menghitung. “Kenapa kau mematung seperti itu tuan muda?” Tanya Tuan Azego yang sejak tadi menatap Tama sambil menikmati rokoknya. Sesekali asap rokok itu keluar dari mulutnya. “Apa Kirana yang membuat mu datang kemari?” Tuan Azego to the point.


Tama yang tadinya melihat ke bawah menatap kosong ke lantai akhirnya mendongak untuk menatap Tuan Azego setelah mendengar perkataannya.


“Ternyata benar dugaanku.” Ucap Tuan Azego. “Kau bisa saja mentrasnfernya bukan? Kau tidak perlu repot-repot kemari hanya untuk membayar hutang. Bahkan anak buah ku bisa ke sana untuk menjemput uang ini. Tetapi, kau datang dengan sendirinya kemari, siapa lagi kalau bukan karena istrimu. Benar bukan?” Tuan Azego mematikan rokoknya pada asbak yang ada di atas meja yang berada tepat di depannya.


“Di mana kamar Kirana Azego?” Tama akhirnya mengakui semua dugaan Tuan Azego dengan pertanyaannya. “Masih ku rahasia kan. Kau tidak boleh menjenguknya.” Sahut Tuan Azego.


“Tuan, sudah saya hitung. Semuanya genap senilai 8,4 Milyar rupiah jika dihitung dengan nilai emas batangan yang ia bawa.” Jelas Maria yang masih berdiri di tempatnya.


“Keluarga Harun memang kaya. Kau bahkan membawa uang ini tanpa rasa bersalah sama sekali. Itu menandakan uang memang benar tidak menjadi kendala bagi keluarga Harun.” Kata Tuan Azego sambil tersenyum sinis.


“Apa kau tahu tuan muda. Uang memang tidak menjadi masalah bagi keluarga mu tetapi ketahuilah bahwa uang itu bisa habis dan tak abadi.” Tuan Azego menatap tajam kepada Tama. Tuan muda itu juga menatap tajam kepada rentenir kaya yang ada di depannya. Ia menatap tajam kepadanya bukan karena perkataan dari rentenir itu tetapi karena rentenir kaya itu tidak memperbolehkannya bertemu dengan istrinya.


“Kau boleh pulang tuan muda.” Ujar Tuan Azego sembari mengayunkan tangannya. Sontak dua orang pengawal pribadi yang berdiri di dekat Tama cepat merangkul lengan tuan muda tersebut.

__ADS_1


“Apa lagi ini Azegooo…” Teriak Tama. “Silahkan pulang untuk beristirahat tuan muda. Hahaha…” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak. “Azegoooo…” Tama berteriak histeris saat dirinya diseret dengan paksa karena telah diusir oleh pemilik rumah itu.


“Pulanglah! Jangan coba untuk masuk.” Ancam salah seorang pengawal pribadi yang telah berhasil membawanya keluar. “Tidak bisa, aku ingin melihat istriku!” Tama berdiri dan berusaha masuk kembali ke kediaman Tuan Azego.


“Kami tidak akan membiarkannya.” Kata dua pengawal pribadi itu secara bersamaan. Sekuat tenaga Tama berusaha mendorong ataupun menerobos badan dua orang kekar itu namun naas ia tak berhasil dan malah membuatnya kelelahan.


“Minggir! Minggir kalian berdua!” Teriak Tama lagi saat terus berusaha menerobos masuk ke dalam kediaman Tuan Azego. “Kami tidak akan membiarkan mu masuk lagi. Kau sudah tahu bahwa itu perintah dari Tuan Azego. Jangan membuang-buang tenaga mu.” Sentak salah seorang pengawal pribadi itu.


“Huff…” Tama bungkuk sambil memegang kedua lututnya. Dia lelah dan tak bisa melewati dua orang kekar itu. “Aku akan kembali lagi besok!” Ancam Tama saat berjalan mundur dan menatap kedua pengawal pribadi itu dengan tatapan yang membunuh.


“Kami tidak takut.” Ejek dari pengawal pribadi tersebut.


Tama pulang tanpa bisa menemui Kirana terlebih dahulu. “Ergghh…” Kesal Tama saat ia menyetir mobil miliknya dalam perjalanan pulang.


Bug-bug!


Ia pun memukul-mukul dashboar mobilnya karena kesal akan perlakuan Tuan Azego beserta anak buahnya. Tetapi dia tidak terlarut dalam kekesalan itu. Ia terus mengemudi dengan kencang agar bisa segera sampai ke kediaman keluarga Harun.


*


*


Sesuai perintah tuannya. Ravi mendatangi kantor presidential milik tuannya. Ia membersihkan seluruh ruangan itu beserta isinya setelah Merry dan Keanu telah pulang. Saat telah menyelesaikan tugasnya, ia pun mengambil daftar nama-nama anak perusahaan dan perusahaan kecil yang bekerjasama dengan Harun Corporation untuk mengganti rugi kerugian yang diakibatkan skandal keluarga Harun akhir-akhir ini.


Ravi mendatangi satu persatu nama-nama yang tertera pada kertas yang telah disediakan untuknya.


“Permisi…” Sapa Ravi pada saat ia sampai di salah satu anak perusahaan milik Harun Corporation. “Iya silahkan masuk mba.” Sahut pemilik anak perusahaan tersebut.


“Saya Ravi dari Harun Corporation. Apa sebelumnya tuan muda pernah ke sini?” Tanya Ravi sambil berjalan masuk ke dalam kantor tersebut. “Tuan muda? Tuan muda yang mana yang kamu maksud?” Tanya orang itu bingung.


“Dia putra dari Tuan Harun. Dia tinggi, putih, berhidung mancung dan sangat tampan.” Jelas Ravi sambil tersenyum saat mengingat Tama yang begitu tampan. “Ahhh kau benar. Maksud mu adalah Tama bukan?” Bapak itu memastikan lagi.


“Iya benar pak, kami memanggilnya tuan muda.” Sahut Ravi sambil bertepuk tangan sekali karena reflex. “Apa kau membawa uang seperti yang dijanjikannya kepada kami?” Tanya Bapak itu sambil mendekati Ravi.


“Kau benar! Tada…” Ravi mengangkat tasnya yang berisi uang. “Ini… ambillah.” Ravi memberikan beberapa uang untuk bapak itu. Gegas bapak itu menerima dan menghitung uang pemberian dari Ravi.


“200 juta, iya ini sudah cukup, terima kasih nak.” Ucap bapak itu sambil meneteskan air mata. “Jangan bersedih, tuan muda kami adalah pemimpin yang bertanggung jawab.” Ravi membelai lembut bahu bapak itu sebagai rasa ikut bersedih dan sekaligus memberikan semangat untuknya.


“Bukan nak. Aku berterima kasih dan merasa senang, ternyata masih ada orang besar diluar sana yang peduli orang kecil seperti kami.” Bapak itu membasuh air mata yang ada di pipinya.

__ADS_1


“Baiklah pak. Saya ikut bersyukur atas rasa senang bapak. Saya pamit pulang dulu ya pak karena masih banyak lagi tempat yang harus saya datangi.” Ravi pun berpamitan pergi dari tempat itu.


__ADS_2