Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 27


__ADS_3

Flashback on


Setelah menempuh perjalanan udara lebih kurang 16 jam 15 menit, akhirnya Riyanda sampai di bandara internasional Charles de Geulle atau biasa dikenal dengan sebutan bandara Roissy. Dengan percaya diri, Riyanda menarik kopernya menuju pintu keluar bandara.


“Avez-vous besoin d'un Taxi Madame?”


(apa anda butuh taksi Nyonya?)


Seorang supir taksi menghampiri Riyanda dengan menggunakan bahasa Prancis. Supir taksi itu menawarkannya sebuah tumpangan yang berbayar.


“Non, merci!”


(tidak! Terima kasih.”


Ternyata Riyanda belum melupakan bahasa masa kecilnya itu, ia menolak tawaran supir taksi itu karena dia telah dijemput oleh seseorang. Sebuah kertas besar berwarna putih yang bertuliskan namanya tampak di antara penjemput lainnya. Ibu dari Kirana itu menghampiri seorang lelaki berbadan tinggi, berambut pirang, berhidung mancung dan berkulit putih, yah wajah bule Perancis sangat melekat pada laki-laki itu karena ia adalah warga asli kota Paris.


“Bienvenue à Paris, Riyanda.”


(selamat datang di kota Paris, Riyanda.)


Laki-laki itu melayangkan senyum manisnya.


“tu es remarié?”


(apa kau sudah berisitri lagi?)


Tanpa menjawab sapaan dari mantan suaminya, Riyanda melayangkan pertanyaan yang cukup mencengangkan.


“pas encore, ne vous inquiétez pas.”


(belum, jangan kuatir.)


Lelaki itu kembali tersenyum kepada Riyanda sedangkan Riyanda hanya memasang ekspresi datarnya namun tetap terlihat elegan. Riyanda lekas berjalan bersama laki-laki itu. kemudian Riyanda menunggu sebentar laki-laki itu untuk datang membawa mobilnya. Laki-laki itu adalah suami pertama dari Riyanda yang bernama Abellard.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan Riyanda. Saat kaca pintu mobil bagian depan terbuka dan melihat Abellard yang sedang berada di dalam mobil tersebut, gegas Riyanda menaiki mobil itu. Tak lupa ia memasukkan kopernya lebih dulu.


Mobil itu melaju melewati jalan raya kota Paris.


“qu'est-ce qui t'a fait venir ici Riyanda?”


(apa yang membuatmu datang kemari Riyanda?)


Abellard memperhatikan Riyanda menggunakan kaca mobil yang ada di depan. Ia mencoba untuk menalar ekpresi wajah dari Riyanda ketika ia melayangkan pertanyaan itu.


“je vais prendre mon argent et retourner en Indonésie.”

__ADS_1


(aku akan mengambil uangku dan kembali ke Indonesia.)


Riyanda menatap kosong ke samping. Ia sedang melihat pemandangan kota Paris. Matanya jelas melihat semua gedung kota itu, tetapi sayangnya yang ada dipikirannya hanyalah Kirana. Baru kali ini ia meninggalkan anak semata wayangnya itu sendirian tanpa memberi kabar.


“emmène-moi à la Banque de France.”


(antarkan aku ke bank sentral Prancis.”


Walau Abellard adalah mantan suami Riyanda, tetapi ia masih menganggap laki-laki itu adalah pesuruhnya di kota Paris, sama seperti dulu saat ia menjalin hubungan asmara dan memutuskan untuk menikah. Namun sayang, laki-laki berwajah bule mantan suami Riyanda tersebut tak bisa memliki keturunan karena dia telah di vonis mandul oleh dokter setempat.


“oui.”


(baik.)


Abellard menjawab singkat Riyanda walaupun ingin sekali rasanya ia bernostalgia bersama mantan istrinya itu. Sudah puluhan tahun ia baru bisa bertemu Riyanda kembali, namun nampaknya Riyanda sedang tidak ingin banyak bicara.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, akhirnya Riyanda sampai di bank sentral Prancis yang berada di kota Paris. Abellard menurunkan Riyanda pada pintu depan bank tersebut. Riyanda turun dengan penuh percaya diri.


“veux-tu que je t'attende ? Je pense que ce serait plus sûr si tu étais avec moi.”


(apa kau mau jika aku menunggumu? Kurasa lebih aman jika kau bersamaku.)


Abellard mencoba berbaik hati kepada mantan istrinya itu.


(okay, tidak masalah.)


Riyanda menjawab masih dengan ekpresi yang tak dapat dibaca oleh Abellard. Riyanda masuk ke bank itu dengan koper yang ia tinggalkan di mobil Abellard.


Riyanda masuk dan mengambil semua warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya sejak dulu. Warisan itu berupa uang asuransi dari orang tuanya yang hanya bisa diambil saat ia berumur 26 tahun. Namun, karena ia menikah pertama kali pada umur 21 tahun, akhirnya ia mengurungkan niat untuk mengambil warisan itu karena ia sudah berniat becerai setelah melakukan pernikahan selama tiga tahun. Dengan begitu Riyanda bisa mengajukan banding untuk mengajukan pembagian harta gono gini tanpa harus membagi warisan yang ia miliki karena uang itu belum ada pada rekeningnya.


Lalu apakah Abellard tidak mengetahui hal tersebut. Ia jelas tahu, karena Abellard adalah keluarga jauh dari ayah Riyanda, namun Abellard tenggelam dalam cinta buta dan tak memperdulikan hartanya karena Riyanda akan kembali disaat ia merasa bosan dengan kehidupannya.


Abellard menunggu sendiri di dalam mobil. Dengan wajah yang sumringah, ia sangat merasakan kebahagiaan karena Riyanda telah kembali menepati janjinya.


“bonjour, nous avons rompu aujourd'hui aussi.”


(halo, kita akan putus hari ini juga.)


Abellard mengatakan itu kepada pacarnya yang sudah menjalin hubungan asmara dengannya selama lima tahun.


“what?! es-tu sérieux chérie?”


(apa? Apa kau serius sayang?)


Pacarnya itu tampak tak percaya dengan ucapan dari Abellard yang tanpa angin dan tanpa hujan ia memutuskannya secara tiba-tiba.

__ADS_1


“je veux toujours—”


(aku masih ingin berhu…)


Abellard memutuskan panggilan suara itu sebelum pacarnya itu marah. Gegas ia memblokir nomor pacarnya atau lebih tepatnya mantan pacar karena ia sudah putus saat ini juga.


Sementara itu dengan santai Riyanda menarik dan mencairkan semua uang warisan dari orang tuanya. Uang itu semakin bertambah banyak setelah dibekukan selama puluhan tahun. Uang warisan Riyanda bertambah 3x lipat, itu membuatnya seperti seorang dewi berjenis fortuna.


“Cet argent ira sur votre compte madame. c'est juste que parce que le compte que vous utilisez est un compte étranger, l'argent arrivera dans les 1x24 heures.”


(uang ini akan masuk ke rekening anda Nyonya. hanya saja karena rekening yang anda gunakan adalah rekening asing, jadi uang itu akan sampai dalam waktu 1x24 jam.)


Perempuan petugas bank itu mendorong sebuah cek bukti transaksi kepada Riyanda. Riyanda mengambilnya dan berkata terima kasih sebelum keluar dari gedung tersebut.


Saat Riyanda berdiri di depan pintu utama bank tersebut, secara tiba-tiba Abellard sudah berada di depan mantan istrinya.


“Passons la nuit dans mon appartement.”


(mari bermalam di apartemenku.)


Abellard menawarkan Riyanda untuk menginap di rumahnya.


“Non, merci. je resterai à l'hôtel.”


(tidak, terima kasih. Aku akan menginap saja di hotel.)


Sepertinya Riyanda masih mengingat bahwa ia sudah menjadi calon istri dari Tama hingga ia menolak tawaran yang menggoda dari Abellard.


“ça s'est passé comme ça.”


(seperti itu rupanya.)


Abellard terlihat murung dan sedih.


“tu vas rester combien de temps à paris?”


(berapa lama kau akan tinggal di kota Paris?)


Abellard mencoba untuk mencairkan suasana hatinya. Jika ia ditolak karena telah mengajak Riyanda untuk menginap di apartemennya, tetapi ia akan merasa lebih baik jika terus bertemu dengan mantan istrinya itu.


“Je pense que demain je dois rentrer à la maison.”


(ku rasa besok aku harus pulang.)


Riyanda berkata jujur dan tak ingin memberikan harapan palsu kepada lelaki lajang itu. Seketika Abellard merasakan penyesalan karena telah memutuskan pacarnya barusan. Setelah puluhan tahun tak bertemu, ia lupa dengan sifat Riyanda yang cenderung sesuka hati dan sangat dominan.

__ADS_1


__ADS_2