Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 57


__ADS_3

Tama berdiri. Ia mengambil remote TV itu dan mematikan TV tersebut. “Flo, jangan pernah percaya kepada orang itu.” Pesannya kemudian ia beranjak dari tempatnya untuk pergi. “Jadi, bagaimana denganku? Apa aku boleh ikut untuk menjenguk ayah mu?” Teriak Dokter Flo karena teman masa kecilnya itu telah berjalan jauh.


“Tidak usah, kau di rumah saja. Jaga ibuku.” Tama membalas teriakan itu kemudian melanjutkan langkahnya hingga Dokter Flo tak dapat melihat lagi wujudnya.


Seperti rencananya, Tama pergi kantor polisi terlebih dahulu. Ia mendatangi kantor polisi di mana ayahnya sedang ditahan.


“Permisi Pak… Kalau boleh tahu, Tuan Harun ada di ruangan mana ya?” Tama menghampiri meja paling depan yang diduduki oleh dua orang polisi dengan satu computer di depan mereka. “Anda siapa ya?” Tanyanya.


“Saya Tama, putra dari Tuan Harun.” Jawab Tama datar. “Oh ternyata Anda putranya? Kemari Pak.” Polisi itu mempersilahkan Tama sambil berdiri dan berjalan. Tama mengikuti polisi itu hingga sampai di ruangan di mana Tuan Harun ditahan.


Di balik jeruji tahanan itu Tuan Harun duduk termenung memandangi lantai penjara. “Saya tinggal ya Pak. Anda punya waktu 15 menit untuk menjenguknya.” Ujar polisi tersebut kemudian meninggalkan mereka berdua.


“Tama? Mengapa kau kemari nak? Tidakkah kau akan bekerja hari ini?” Setelah berdiri selama 10 menit akhirnya Tuan Harun menyadari kedatangan putranya. “Hm… Aku merindukanmu ayah.” Sahut Tama terseduh.


“Ayah juga. Ayah juga merindukanmu. Berada 1 jam di sini terasa seperti melalui waktu selama waktu satu hari. Di sini membosankan nak.” Kata Tuan Harun, matanya kembali menatap lantai penjara. “Oh ya…” Tuan Harun menarik sudut pandangnya dan tertuju kepada putranya.


“Apa kau tahu bagaimana caranya bekerja di perusahaan?” Tanya Tuan Harun sembari mengangkat kedua alisnya dengan wajah yang maju ke depan. Tangannya memegang masing-masing satu besi jeruji di kiri dan kanan.


“Ku rasa itu salah satu alasanku kemari ayah.” Jawab Tama jujur. Dia belum bisa membayangkan apa yang akan ia kerjakan di perusahaan ayahnya. Menginjakkan kaki saja tidak pernah di perusahaan itu apalagi langsung bekerja dengan posisi jabatan yang tidak main-main yaitu menggantikan ayahnya sebagai pemimpin perusahaan.


“Temui saja orang yang bernama Ravi di sana. Dia bukan siapa-siapa di kantor itu. Dia hanya seorang Cleaning Service perusahaan kita, tetapi dia akan banyak membantumu nanti.” Kata Tuan Harun. “Datangilah perusahaan ayah yang kantor cabang terlebih dahulu, kemudian setelah kau mendatangi semuanya, barulah kau ke kantor pusat dan di sana akan nada Ravi menunggumu. Sebelum ponsel ayah diambil oleh polisi ayah sempat mengabarinya tentangmu.” Tambahnya.


“Baik ayah.” Sahut Tama dengan wajah yang bersedih. “Permisi bapak Tama, maaf, waktu besuk anda sudah habis.” Polisi yang tadi menghampiri Tama. “Baik pak.” Tama pun berdiri sejajar bersama dengan polisi itu.


“Ayah akan baik-baik saja di sini nak. Tugas ayah sekarang ayah serahkan kepadamu.” Pesan Tuan Harun. Tama pun mengangguk kemudian meninggalkan ayahnya. Dengan rasa bersalah yang cukup banyak, dengan rasa tanggung jawab yang baru saja diberikan kepadanya membuatnya harus menelan salivanya berkali-kali karena bagaimana ia bisa bertahan dengan tanggung jawab itu sedangkan Tuan Azego sengaja mengirimkannya untuk menghancurkan perusahaan milik ayahnya tersebut.


Di dalam perjalanan menuju ke perusahaan cabang yang mana ayahnya lah yang telah menyuruhnya untuk datang terlebih dahulu, sebuah suara yang tak asing lagi terdengar pada alat yang menempel pada telinga Tama.


“Kau sudah memegang kartu As ku tuan muda. Semoga kau menjadi anak buah yang patuh kepada tuannya.” Tuan Azego berbicara sendiri pada alat penyampai suara itu karena Tama sama sekali tidak menjawabnya. Mobil yang ia kendarai terus melaju hingga sampai ke tempat tujuan.


Tama datang dicabang paling kecil perusahaannya. Kantor cabang itu berada di sebuah persimpangan gang kecil berukuran 3x6 meter. Di sana ada seorang manager dan lima orang karyawannya yang mana perusahaan kecil berada pada naungan Harun Corporation.


Harun Corporatioan adalah perusahaan besar terkemuka yang bergerak di berbagai bidang seperti pertambangan, property, dan angkutan umum. Namun, ada banyak lagi perusahaan lainnya yang dalam kerjasama Harun Corporation contohnya tempat yang Tama datangi saat ini.

__ADS_1


Kantor itu berbentuk seperti hunian rumah biasa tetapi itulah kantor mereka. Tama melirik dari luar pintu isi dari kantor itu. Ada banyak textile yang terlipat rapi di rak lemari. Ada pula gulungan textile yang tampak menumpuk dan beberapa mesin jahit yang tampak karyawannya sedang menjahit sesuatu.


“Ada apa pak? Ada yang bisa kami bantu?” Seorang pria paruh baya dan berambut putih datang menghampiri Tama. “Ah iya pak, saya adalah Tama.” Tama pun berjabat tangan dengan pria paruh baya itu. “Saya Tarno.” Jawabnya.


“Saya ingin melihat-lihat bagaimana keadaan kantor textile ini. Saya di utus dari Harun Corporation untuk berkunjung kemari.” Terang Tama. “Ahhh seperti itu ternyata, mari pak masuk.” Ujar Pak Tarno. Kemudian mereka berdua masuk dan langsung menuju ruangan Pak Tarno.


Ruangan yang dimasuki itu terbilang kecil. Hanya berukuran 2x3 dengan satu meja kerja beserta dua kursi. Ada sebuah Aquarium yang berisi ikan-ikan kecil yang tak mahal harganya.


“Untung saja Tuan Harun selalu cepat dalam bertindak. Kami melihat berita yang ada di TV setiap hari yang menyudutkan namanya. Seluruh kota sedang membicarakan Tuan Harun. Karena berita itu, pelanggan yang mengetahui bahwa perusahaan kami bekerja sama dengannya akhirnya datang kemari dan mengembalikan textile yang pernah kami jual kepada mereka. Hal itu sungguh merugikan kami pak!” Tutur Pak Tarno. Raut wajahnya tampak bersedih.


“Memangnya berapa kerugian yang bapak terima karena musibah yang menimpa keluarga Harun?” Tanya Tama. Ia pun menyembunyikan identitasnya sebagai putra dari Tuan Harun. “Sekitar 50 juta rupiah pak.” Sahut Pak Tarno.


“Apa? Hanya dengan dua hari kenapa kerugian bapak sebanyak itu?” Tama pun terkejut. Pak Tarno menjelaskan semuanya secara rinci kepada Tama hingga akhirnya Tama mengerti. Hal itu membuatnya semakin membenci Tuan Azego karena menjadi dalang utama terjadi masalah itu.


Tama mendatangi satu persatu cabang perusahaanya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Hal yang paling membuatnya bersedih adalah hanya dalam waktu dua hari kerugian setiap cabang mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.


Setelah mendatangi setiap cabang, pada siang menjelang sore hari akhirnya Tama pergi ke kantor pusat perusahaan yang berada di tengah kota. Ia masuk tanpa ada yang mengenalinya. Jika yang mereka lihat adalah Tuan Harun, tentu semua karyawan seketika berhenti dan memberi hormat kepada tuannya.


“Permisi, apa kau mengenal Gavi?” Secara random Tama bertanya kepada karyawan yang ada di sana. “Gavi? Siapa itu Gavi?” Sahut Karyawan itu. Saat ditanya malah ia menanyakannya kembali hingga membuat Tama mengehela nafasnya.


“Baiklah, terima kasih.” Tama tersenyum kemudian meninggalkan karyawan tersebut. Tuan muda itu berjalan lurus dan belok kiri sesuai arahan dari orang yang disapanya tadi. Namun, sesampainya di tempat itu, ada banyak pekerja Cleaning Service yang sedang membereskan peralatan kerjanya.


Tama memperhatikan seksama satu persatu Cleaning Service yang berjenis kelamin laki-laki. Ia sedang mencoba mencari sendiri siapa yang bernama Ravi tetapi usahanya gagal karena sebelumnya ia tak pernah mendengar nama itu disebut oleh ayahnya apalagi mengenalnya.


“Permisi, apa di sini ada bapak yang bernama Pak Ravi?” Akhirnya Tama mendekati salah satu dari karyawan itu. “Oh Mba Ravi maksudnya ya? Itu dia.” Tunjuk orang itu. Mendengar kalimat itu membuat Tama tercengang karena sejak tadi yang dibayangkan olehnya adalah Ravi dalam wujud laki-laki.


“Mba Ravi…” Tiba-tiba orang yang disapa oleh Tama meneriaki seorang perempuan muda yang cantik. “Ada apa denganmu? Kenapa memanggilku?” Sahut Ravi dengan berteriak. Seketika wajah yang awalnya cantik itu memudar karena ekspresi wajah yang tampak ketus.


“Kau lihat, tidak ada pria di kantor ini yang mau mendekatinya walaupun dia sangat cantik. Itu karena dia itu sangat galak.” Bisik orang tersebut kepada Tama. Tama pun menelan salivanya. Tetapi, hal itu tidak membuatnya mengurungkan diri untuk bertemu dengan Ravi.


“Maaf Mba Ravi, saya yang menanyakan Anda kepadanya sehingga dia memanggil Anda.” Tama berbalik badan untuk menunjuk orang yang telah disapanya barusan sebelum berbicara kepada Ravi untuk menjelaskan semuanya. Namun, orang itu telah lari sekencang mungkin karena takut kena semburan api lagi dari Ravi.


“Apa? Apa maumu? Aku sedang sibuk.” Kata Ravi dengan ketus. “Perkenalkan saya Tama.” Tama pun meluruskan tangannya untuk berjabat tangan, tapi Ravi hanya mengabaikannya.

__ADS_1


“Sebutkan saja apa maumu. Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pulang sekarang.” Ravi menyelesaikan membereskan peralatan kerjanya. “Aku diberitahu Tuan Harun agar bertemu denganmu. Katanya kau bisa membantuku jika aku membutuhkanmu.” Terang Tama.


Setelah mendengar kalimat itu sontak membuat Ravi membelalakkan matanya. “Ap… Apa Anda adalah putra Tuan Harun?” dengan terbata Ravi berkata. “Ya, Kau benar.” Jawab Tama datar.


“Maafkan aku tuan muda.” Seketika Ravi meraih tangan Tama dan berjabat kepadanya. “Tidak masalah. Bisa kau beritahu aku apa saja yang akan ku lakukan di kantor ini?” Tanya Tama. Ravi terdiam dan melongo. Pertanyaan yang dilayangkan kepadanya tidak masuk akal baginya. Bagaimana bisa dirinya yang hanya seorang Cleaning Service bisa membantu tuannya yang jelas adalah pewaris tunggal harta keluarga Harun.


“Ku rasa untuk hal itu aku tidak tau tuan.” Jawabnya bingung. Namun, Tama terlihat lebih bingung.


“Apa yang kau lakukan tuan muda? Jangan membuang waktu mu dengan seorang Clening Service rendahan seperti dia.” Kata Tuan Azego tiba-tiba. Tama pun setuju dengan pernyataan yang dikatakan oleh Tuan Azego karena tampaknya Ravi pun bingung dengan kedatangannya.


“Tuan, sebaiknya aku mengantarkan Anda ke kantor atau ruangan kerja di mana ayahanda tuan dulunya sering bekerja.” Tutur Ravi. Mengingat bahwa kebiasaan dari Tuan Harun sebelum rapat ia minta diantarkan ke kantor tempatnya bekerja. Kantor itu bersifat pribadi dan privasi.


“Sudahlah, tinggalkan Cleaning Service itu!” Perintah Tuan Azego. Tama memegang Earphonenya dan berbisik serta menutup seluruh mulutnya dengan telapak tangan serta berbalik arah. “Baik pak tua! Kau lupa aku tak bisa selalu menjawabmu.” Tegas Tama pada jawabannya itu. Perkataan itu berhasil membuat Tuan Azego terdiam dan tak berbicara lagi.


“Mari tuan.” Ravi pun mengantarkan tuan muda itu ke ruang kerja ayahnya. Untuk masuk ke ruangan kerja itu ternyata harus menggunakan sidik jari Ravi bukan sandi ataupun sidik jari Tuan Harun. Hal itu tentu membuat Tama mengerutkan dahinya dan betapa terkejutnya Tama saat masuk ke ruang kerja itu.


“Tuan ini adalah—“ Kalimat Ravi terhenti saat mulutnya langsung di tutup oleh Tama. “Sssstttt…” Tama menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai tanda agar Ravi tidak banyak bicara dan diam. Tama memberikan kode kepada Ravi agar keluar dari ruangan itu dan Ravi pun mengikuti perintahnya.


Setelah Ravi pergi dan Tama sudah sendirian di ruangan itu, barulah ia berkeliling sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ruangan itu di penuhi dengan emas batangan yang entah berapa nilainya. Yang jelas tak dapat dihitung dengan kalkulator biasa.


“Rupanya ini kah salah satu kekayaan keluarga Harun?” Gumam Tama namun dalam hati. Tak lupa ada sebuah meja kerja di sana. Ada sebuah mini bar dan sebuah toilet berdesain minimalis yang dilapisi emas 24 karat serta sudut ruangan yang dipenuhi dengan lemari yang menempel. Lemari itu di isi oleh beragam jenis buku dan berkas-berkas penting perusahaan.


Saat semua orang telah berangsur pulang karena jam kerja yang telah usai. Ravi masih belum pulang dengan membersihkan kaca-kaca yang ada dilantai dasar perusahaan. Sebelum pulang ia pun kembali menaiki lift untuk memastikan ruangan kerja Tuan Harun sudah kosong dan aman. Lalu ia pun masuk ke dalam ruangan itu.


“Ha! Ya ampun… Anda membuat saya kaget tuan.” Kata Ravi sembari memegang dadanya. Bagaimana tidak kaget saat ia memasuki ruang kerja itu tiba-tiba saja Tama muncul di depannya dengan sebuah kertas yang ia pegang di depan dadanya.


“Sssttt…” Tama menaruh jari telunjuk kanannya di mulutnya. Syukurnya, Ravi mengerti lagi walaupun di dalam benaknya dia bertanya-tanya. Tangan kiri Tama masih memegang sebuah kertas berukuran A4 yang bertuliskan sesuatu.


“Baca ini…” Kata Tama sembari berbisik. “Apa?” Sahut Ravi yang ikutan berbisik. “Ini!” Tama menunjukkan kertas yang ada di depannya itu.


“Jika denganku jangan berbicara menggunakan mulut. Kita hanya bisa berkomunikasi memakai tulisan dan jangan membacanya sampai terdengar. Kau mengerti?” Ravi membaca tulisan itu di dalam hati. Ravi mengangguk mengerti. Tama pun menghela nafas leganya.


Tama mengambil lagi sebuah kertas kosong dan menuliskan sesuatu. “Sekarang masuklah, ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.” Isi tulisan yang baru saja tuan muda itu tuliskan. Ravi masuk bersama Tama.

__ADS_1


“Bagaimana caranya agar aku bisa masuk dan keluar ruangan ini tanpa bantuanmu? Sejak tadi aku ingin keluar tetapi tidak bisa.” Tulis Tama lagi. “Kalau soal itu saya pun tidak tahu tuan. Ini semua perintah dari ayah Anda dan saya hanya menjalankannya saja.” Kata Ravi yang ikut menjawab percakapan itu dengan tulisan di sebuah kertas.


__ADS_2