
Lelaki yang berstatus suaminya itu hanya memutar bola matanya. Ia tak menghiraukan lagi perkataan dari Kirana. Kirana bergegas untuk pergi mandi, ia masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu meletakkan jas hitam milik Tama yang sejak tadi dipakainya. Ia mandi dengan kemben dan calana sot yang ia kenakan. Ia tak ingin mandi tanpa sehelai benang pun, karena entah mengapa ia tidak mempercayai laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu.
“dia pasti akan mengintipku, lebih baik aku seperti ini saja untuk berjaga-jaga.” Kirana mandi sampai selesai. Namun ada satu hal yang ia lupakan. “ya ampun, setelah ini aku memakai apa? Cuma ini yang bisa aku kenakan. Ya Tuhannn…” Kirana menghela nafas pasrahnya.
Anak dari Riyanda itu mau tidak mau membuka semua pakaian yang ada pada dirinya. Dengan sangat hati-hati, dengan mata siaga satu bak cctv yang memantau setiap detik. Ia membuka semua yang ia kenakan itu dan meraih handuk serta memakainya. Ia keluar kamar mandi dengan rambut panjang yang basah hingga ke punggung.
Kirana berjalan perlahan, ia berkeliling pada kamar itu. Ia mencari sosok Tama, herannya Tama tidak ada pada kamar itu. “berarti benar dia tidak disini, itu artinya dia tidak mengintipku. Tapi baju apa yang bisa kupakai?” Kirana kembali menghela nafas.
Tiba-tiba saja Kirana tersenyum, baru saja ia mendapatkan ide. Lekas saja ia masuk ke ruang ganti pakaian. ia mengambil sebuah kemeja putih polos milik Tama dan mengenakannya. “tidak ada hairdryer disini.” Kirana cemberut. ia membasuh rambut panjangnya yang basah dengan handuk yang ia kenakan tadi, mencoba untuk mengeringkannya.
“hey.. kenapa kau memakai kemejaku.” Bentak Tama yang tiba-tiba saja masuk. Tama telah tampak mengenakan kaos putih dan celana pendek. Rambut suami Kirana itu juga telah rapi, dengan jarak yang semakin mendekat karena Tama melangkah ke arahnya, Kirana jelas mencium aroma harum dari tubuh suaminya. Aroma woody yang modern dan maskulin merasuki lobang hidung Kirana. Ia hanya bisa menghirup aroma harum itu sambil melemas.
“ayah, kau jangan pelit. Aku ini anakmu, jadi biarkan aku memakainya. Aku tidak punya sehelai baju pun di rumah ini.” Ejek Kirana kala mengingat dirinya selalu dibilang anak dari Tama.
“ahhh.. kau ini, soal baju itu gampang. Apapun yang kau butuhkan, minta saja kepada pelayan. Mereka akan segera melayanimu. Kau ingat, meskipun kau anakku, tetap saja kau sudah menjadi Nyonya di rumah ini karena kau adalah istri sahku.” Jelas Tama. Ia berbangga hati memiliki anak secantik Kirana.
“kemarilah.” Tama memegang tangan istrinya dan menyeretnya mendekati telepon rumah. “ini, sekarang lakukan lagi seperti kau menyuruh para pelayan itu untuk membereskan makanan tadi.” Tama memberikan telepon rumah itu kepada istrinya.
Kirana tampak ragu melakukannya lagi, walaupun ia telah dipanggil Nyonya, tetap saja ia merasa canggung dengan hal itu. Semuanya yang ia lalui hari ini adalah kali pertama baginya. Sudah sejak lama ia terbiasa dengan menjadi gadis biasa.
Tama mengambil tangan Kirana dan meletakkan gagang telepon itu padanya. “ayo lakukan, aku akan berbaik hati padamu karena kau akan mempertemukanku dengan ibumu.” Tama tersenyum manis.
Entah mengapa ditengah senyum itu Kirana merasakan getaran dalam hatinya. Walaupun ia belum begitu tahu arti dari getaran itu. Dengan senyuman manis yang dilayangkan kepadanya membuat dirinya percaya diri untuk menekan tombol sembilan.
“halo…” Kirana mencobanya. “iya ada apa Nyonya, apa yang bisa kami bantu?” jawab pembantu pada panggilan suara itu. Kirana melirik ragu kepada Tama, ia menggelengkan kepalanya. “ahhh Kirana ayolahhh.” Kata Tama ketika melihat Kirana yang menggelengkan kepala.
Tama meraih kembali gagang telepon itu. “pelayan, katakan pada Tumiyem untuk mempersiapkan pakaian untuk Nyonya Mudanya. Beritahu kepadanya untuk mempersiapkan segala kebutuhan dari istriku. Mengerti?” dengan lantang Tama berkata pada pembantunya itu.
“baik Tuan.” Sahut pelayan itu lalu Tama meletakkan kembali gagang telepon itu pada tempatnya. “bagaimana? Mudah bukan?” Tama mengangkat kedua alisnya kemudian tersenyum manis.
“kau tinggal tunggu saja disini. Saat para pelayan itu datang, segera kembalikan kemeja yang kau kenakan itu.” Ujar Tama kemudian meninggalkan istrinya lagi sendirian di dalam kamar.
“kau mau kemana?” Kirana sedikit berteriak mengingat bahwa Tama telah berada di depan pintu. “aku akan menemui ayahku.” Sahut Tama kemudian menghilang dibalik pintu.
“ayah, bisakah besok aku meminjam mobilmu?” tanya Tama kepada ayahnya. Tama memang anak dari keluarga Harun yang kaya raya, namun walaupun ia anak orang kaya, tetap saja dirinya tidak bisa begitu bebas menggunakan semua fasilitas dan kekayaannya sesuka hati sebelum ia mendapatkan keturunan sebagai pewarisnya kelak.
__ADS_1
“kau mau ke mana?” Tuan Harun sedang terduduk di sofanya sembari menyeduh teh hangat tawar. “besok aku akan pergi bersama Kirana. Kami akan berjalan-jalan.” Jelas Tama. “tidakkah kau ingin berbulan madu?” Tuan Harun mengangkat satu alisnya ke atas.
“ku rasa belum, ayah ayolah, ayahkan tahu kalau yang aku inginkan bukan Kirana tetapi Riyanda. Bagaimana bisa aku mempunyai anak darinya jika aku mencintainya ibunya.” Tama merengek seperti anak kecil.
“Tama!” bentak Tuan Harun. “harus berapa kali ku katakan bahwa kau harus melupakan Riyanda. Malam ini juga lakukan malam pertamamu, kau harus segera punya anak. Kau lihat, walaupun umurku masih muda tetapi rambutku mulai memutih, semua bulu yang ada ditubuhku entah mengapa telah memutih dan itu membuatku takut. Jika kau belum mempunyai anak, bagaimana aku bisa menyerahkan harta keluarga Harun padamu.” Jelas Tuan Harun panjang lebar.
“ahhhh… ayah, ayah itu sudah tua, kenapa bilang umur masih muda.” Sahut Tama terheran. Bisa saja ayahnya itu selalu mengira umurnya tidak bertambah setiap tahun. Padahal, fisiknya yang menua jelas memperlihatkannya.
“apa kau bilang?” Tuan Harun berdiri seakan ia akan marah besar. “lupakan ayah, ayah memang masih muda kok.” Sahut Tama membenarkan perkataannya lagi. “apa kau baru tersadar.” Tuan Harun membenarkan pakaiannya dan kembali terduduk.
“baiklah, pakai saja Lamborghini yang berwarna merah.” Tuan Harun melemparkan sebuah kunci mobil yang ditangkap oleh Tama. “ayah, jangan yang merah, aku maunya yang kuning saja ayah.” Tama mengembalikan kunci mobil tersebut tetapi ditampik oleh Tuan Harun.
“jangan menolak, jika kau tidak mau maka kau bisa pergi naik bus saja.” Tuan Harun mengambil cangkir yang ada di atas meja dan meminumnya. “ahhh teh ini nikmat sekali.” Tuan Harun kembali meminum teh itu. Ia bagaikan duduk sendiri dan tak memperdulikan lagi putranya.
Tama mengerti, tidak ada lagi mobil yang lain, ayahnya sudah memutuskan. Ia hanya dapat memakai Lamborghini yang berwarna merah walaupun yang ia sukai Lamborghini yang berwarna kuning.
Tama beranjak dari tempatnya dan kembali ke kamarnya. “apa pelayan itu belum datang?” Tama mendekati Kirana sesaat setelah masuk. Istrinya itu tengah terbaring meringkuk di atas kasur.
“belum, apa memang selalu lama?” Kirana merasa bosan sendirian di kamar itu sejak tadi. “biasanya sebentar saja mereka akan datang. Aku akan memastikannya lagi.” Tama meraih telepon rumah yang ada di atas takas samping kasur. ternyata ada dua telepon rumah di kamar itu.
Dua orang pelayan mendorong sebuah besi yang memiliki roda. Besi itu dipenuhi dengan baju-baju yang tergantung. Ada banyak pakaian yang tergantung di dalam gantungan baju itu, seperti gaun, dress, blues, celana, rok, t-shirt, serta pakaian d4lam untuk Kirana. Tak lupa berbagai macam sandal sepatu dibawa oleh para pelayan itu.
“kenapa lama sekali Tumiyem?” Tama tampak menduduki punggung bokongnya pada sofa itu diikuti oleh Kirana. Mereka berdua sedang duduk bersama. Tama mengangkat kaki kanannya dan menaruhnya di atas kaki kirinya. Begitupun dengan Kirana, ia mengikuti setiap gerakan dari suaminya itu.
“maaf Tuan, kami lama karena kami baru saja sampai dari berbelanja untuk Nyonya Muda Tuan.” Tumiyem membungkuk dan melihat ke lantai. “ternyata seperti itu.” Sahut Tama singkat.
Kirana memperhatikan setiap baju yang dibawa oleh pelayan itu. Semua baju itu terlihat mahal dan bermerk. Ia hanya bisa membulatkan kedua matanya dan menarik nafas lalu menahannya. Walau rumah itu terasa seperti penjara baginya, tetapi disisi lain Kirana merasakan sensasi hidup sebagai orang kaya.
“kau pilih saja yang ingin kau kenakan Kirana. Jika kau bingung kau bisa suruh Tumiyem untuk memilihkannya untukmu. Pilihlah dress yang cantik, kita akan segera makan malam bersama keluargaku.” Terang Tama.
“makan malam bersama?” Kirana mengerutkan dahinya. Selama ini jika ingin makan malam, ia hanya membukak tudung saja atau jika tidak ada lauk dia bisa menggoreng telur dan memakannya karena Riyanda tak pernah hadir untuk sekedar makan bersama dengan putrinya.
“iya, apa kau tidak pernah makan malam bersama dengan ibumu?” Tama melihat reaksi dari istrinya. Istrinya terlihat seperti tak pernah makan malam bersama saja. “Kirana, kenapa kau sangat berbeda dengan ibumu. Entah mengapa kau terlihat seperti orang yang bukan dari kalangan atas.” Gumamnya.
Tama menampik pikirannya itu. “tidak mungkin, pasti Riyanda sangat sibuk hingga ia tak sempat memperhatikan anaknya.” Gumamnya lagi.
__ADS_1
Kirana berdiri, ia tampak memilah dan memilih baju-baju mahal itu lalu tangan Kirana tertuju pada sebuah dress natural berwarna hijau lumut. Tama memperhatikan Kirana “jangan yang itu Kirana, itu dress model lama.” Tama berdiri di samping Kirana dan ikut memilihkan baju untuk istrinya itu.
Saat Tama mendekat, Kirana kembali mencium aroma parfum Tama yang maskulin. Entah mengapa Kirana terlemas lagi.
“pakai yang ini.” Tama memberikan Kirana sebuah dress pendek selutut berwana merah muda. Tak tanggung-tanggung, Tama memilihkan semua pakaian yang akan dikenakannya untuk makan bersama hingga ke sepatu dan pakaian d4alam.
“hey kenapa kau yang memilihkan ini.” Ucap Kirana setengah kesal karena Tama memberikannya pakaian d4lam wanita dan sebuah bra yang berukuran persis seperti yang biasa ia pakai.
“jangan canggung, ingat kau itu hanya anakku.” Bisik Tama ke telinga istrinya itu. Kirana hanya bisa berdecak kesal. “bukankah kau bilang aku bisa meminta kepada pelayan jika aku tidak tahu harus memilih.” Kirana mengambil kasar pakaian d4lam yang diberikan itu.
Lekas Kirana pergi untuk memakai pakaian yang dipilihkan untuknya. Ia keluar dari ruang berganti pakaian dengan mengenakan dress itu. Dress yang terbuat dari borkat dan berbahan karet. Dari perut hingga ke pinggul dress yang berbahan borkatlah yang mendominasinya. Lalu dari pinggul hingga ke bahu bahan karet yang terlihat mengepas ke badan langsing Kirana.
Kirana memakai sendal sepatu putih dengan pita hitam di atasnya. Ia berjalan canggung mendekati Tama. “tidakkah ini terlalu sempit untukku?” Kirana menyentuh dress.
“tidak Nyonya, anda terlihat cantik.” Tumiyem tersenyum. Para pelayan itu berdecak kagum melihat kecantikan Kirana. “Tumiyem tolong kau urus rambut Kirana.” Tama pergi meninggalkan Kirana lagi.
“tunggu, kau mau kemana?” Kirana diabaikan oleh suaminya. “ahhh.. aku tidak tahu dimana ruang makan. Bagaimana ini?” gumamnya.
Para pelayan itu membawa pergi semua pakaian dan sepatu yang telah ia bawa. Kemudian pelayan dengan wajah yang berbeda membawa berbagai macam peralatan hias, skin care, dan alat-alat yang dibutuhkan Kirana nantinya seperti hairdryer dan laini-lain.
“aku memang membutuhkan ini.” Kirana senang akhirnya ia menemukan hairdryer. “Nyonya semua barang ini akan diberikan kepada Nyonya saat kamar Nyonya selesai dibereskan.” Kata Tumiyem tersenyum.
“maksudmu kamarku?” Kirana sedikit terheran. “ia Nyonya kamar Nyonya bersama dengan Tuan.” Sahut Tumiyem. “ahhh iya benar, tentu aku harus terus bersamanya karena statusku sebagai istrinya.” Kiranan menyeru dalam hati.
“maksudmu tadi setelah dibereskan, jadi itu adalah kamar baru? Lalu bagaimana dengan kamar ini?” tanya Kirana lagi. “kamar ini akan dikosongkan saja Nyonya, dan Tuan dan Nyonya Muda akan pindah ke kamar itu nantinya.” Jelas Tumiyem.
Keluarga Harun memang selalu seperti itu. Selalu mempersiapkan segalanya dengan bangunan yang baru. Termasuk kamar baru untuk pengantin baru. “setelah makan malam nanti dipastikan Nyonya dan Tuan sudah berpindah ke kamar yang baru.” Tambah Tumiyem.
Kirana menggelengkan kepalanya “itu namanya pemborosan, tapi ya sudahlah, toh mereka memang orang kaya.” Gumamnya.
Kemudian Tumiyem merias Kirana, menggunakan skincare yang telah ia bawa, mengeringkan rambut Nyonya Mudanya dan memberikan riasan natural kepada Kirana. “Nyonya, Nyonya sangat cantik, sungguh beruntung Tuan Muda mendapatkan Nyonya.” Tumiyem menyisir rambut Kirana.
“terima kasih.” Kirana tersenyum senang mendengar pujian itu. Kirana sudah siap untuk makan bersama keluarga Harun. Tumiyem dan para pelayan lain membungkuk permisi untuk pergi.
“kau..” Kirana memegang tangan Tumiyem, Tumiyem meluruskan punggungnya berdiri tegap. “bisakah kau tinggal disini bersamaku.” Pinta Kirana. Tentu dia butuh pemandu untuk mengantarnya ke setiap ruang pada rumah itu.
__ADS_1
“kalian berdua pergilah, aku akan di sini bersama Nyonya Muda.” Perintah Tumiyem kepada pelayan yang lain. Di antara semua pelayan wanita, Tumiyem memang memilik jabatan yang tertinggi yaitu kepala pelayan sehingga ia berhak untuk memerintah para pelayan wanita yang lain.