
“tunggu sebentar.” Kirana menyempatkan diri untuk mengambil ponsel yang baterainya sudah terisi setengah itu. Tak lupa Kirana menutup pintu rumah lagi dan menguncinya. Lalu mereka berdua bergegas pergi dan menuju ke suatu tempat.
“kau mau membawaku kemana?” Kirana tidak takut kepada Tama sama sekali. Yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya bisa kabur dari suaminya itu. “aku akan membawamu ke rumah ibumu.” Sahut Tama.
Tama membukakan pintu Kirana dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Kirana pun tampak menurut dengan suaminya itu. Lalu Tama masuk ke dalam mobil, menghidupkan mobil, dan dengan cepat menginjak pedal gas. Tama menyetir dengan kecepatan cepat.
“Tama, kemana kau akan membawaku?” Kirana mengulangi pertanyaanya yang telah dijawab oleh suaminya. “aku akan membawamu kerumah ibumu.” Jawab Tama dengan ekspresi yang masih kesal.
“yang tadi itu rumah ibuku, kita mau ke mana ini?” Kirana tampak mengerutkan dahinya. Rumah ibunya jelas baru saja mereka tinggalkan. “kau ikut saja denganku dan kau diam saja, jangan banyak bicara.” Sahut Tama.
*
*
“sayang, ada apa denganmu?” Nyonya Bella memperhatikan raut wajah keriput dari suaminya. Tidak biasanya suaminya itu terdiam termenung. “sayang apa kau lelah?” tanya Nyonya Bella lagi. “Mariooo..” panggil Tuan Harun kepada pengawal pribadinya yang ada dibelakangnya sejak tadi.
“iya Tuan.” Mario mendekatkan wajahnya ke samping wajah Tuannya. “cepat kau ikuti Tama, ada yang tidak beres dengannya.” Perintah Tuan Harun. “baik Tuan.” Jawab Mario singkat lalu pergi meninggalkan kedua Tuannya itu.
“jangan, ada apa denganmu sayang? Bukankah kau senang jika mereka saling menyukai. Mereka sedang ingin menghabiskan waktu berdua saja. Sayang, jangan merusaknya dengan menyuruh Mario mengikutinya.” ibu dari Tama itu bersikeras untuk tidak menganggu putranya.
__ADS_1
“biarkan Mario mengikutinya.” kata Tuan Harun sembari mengangkat dagu dan menatap istrinya. “sayang, sebenarnya apa yang terjadi?” Nyonya Bella memegang lembut lengan Tuan Harun.
“tidak biasanya Tama ingin pergi dengan kondisi yang kurang sehat seperti itu sayang. Kau jelas melihat bahwa wajah Tama masih pucat dan dia tetap bersikeras ingin pergi berdua dengan Kirana. Ada yang tidak beres dengannya sayang.” Tuan Harun memegang lembut pipi istrinya.
“ahhh benar, sedang sehat pun terkadang Tama tidak biasa keluar tanpa pengawal dan pelayan yang mengikutinya, kecuali..” Nyonya Bella terdiam dan tak melanjutkan kalimatnya. “kecuali apa sayang?” Tuan Harun tertarik untuk mendengarkan kelanjutan kalimat dari istrinya.
“kecuali ini berkenaan dengan Riyanda. Tama akan selalu pergi sendiri dan menyetir mobilnya sendiri tanpa pengawal ataupun pelayan.” Nyonya Bella melepaskan tangan Tuan Harun dari pipinya dan meletakkan tangan Tuan Harun pada pahanya. “kau tenang saja sayang, ku rasa tidak akan terjadi apa-apa. Aku cukup mempercayai Tama, maka dari itu biarkan mereka tetap bersama tanpa Mario.” Nyonya Bella memegang punggung tangan suaminya.
“tidak bisa, aku akan memastikan dulu apa yang mereka kerjakan sekarang.” Jelas Tuan Harun.
*
*
Dua orang itu memasuki lift. “kau lihat, sekarang kita sedang menuju apartemen ibumu.” Kata Tama sinis. “apa? Apartemen ibuku? kau yakin?” lagi, Kirana mengerutkan dahinya, kali ini ia seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Sesampainya di depan pintu apartemen Riyanda, Tama memencet tombol yang berisikan password pintu apartemen itu. Setelah memasukkan empat angka yang ia lihat saat Riyanda memencetnya ketika mereka bertemu di apartemen itu untuk yang kedua kalinya, Tama masuk dengan tangan yang belum melepaskan lengan Kirana.
“kau lihat?” Tama menumpukan kedua telapak tangannya pada meja kitchen set di apartemen itu. ia menatapa ke bawah melihat lantai putih yang masih saja bersih. Sedangkan Kirana sedang berdecak kagum dan terperanga saat memasuki apartemen itu dan melihat semua isinya.
__ADS_1
“apa benar ini milik ibuku?” tanya Kirana masih tak percaya. Bahkan saat itu juga ia merasa sedang bermimpi. “bangun Kirana bangun.” Kirana menutup matanya dan membukanya beberapa kali. “sudahlah, kau sedang tidak bermimpi.” Dengan kesal Tama mendekati Kirana dan mencium bibirnya. Mereka saling bertautan bibir selama beberapa menit.
Tama memberikan ciuman yang memaksa, sedangkan Kirana tampak menikmati ciuman itu. Tama melepaskan ciuman itu dengan sepihak karena Kirana masih menginginkannya. “kau lihat, kau sedang tidak bermimpi!” Tama masih saja menunjukkan wajah kesalnya.
“kau benar, aku sedang tidak bermimpi.” Kirana terdiam dan mematung berdiri di depan Tama. Sementara itu Tama mulai merasa panas saat memori malam panas bersama KIrana kembali terputar otomatis di kepalanya.
“sial!” Tama bergegas masuk ke dalam toilet saat tersadar benda pusakanya berdiri dan mengeras. Tama mencuci mukanya setelah mencuci tangan pada westafel toilet tersebut. “kenapa aku harus membuktikan kepadanya dengan sebuah ciuman bahwa dia sedang tidak bermimpi.” Tama berdecak kesal dan menyesali perbuatannya itu.
Tama keluar dari toilet dan masih melihat Kirana yang sedang berdiri dengan melamunkan semua isi ruangan itu. Kirana menoleh saat tersadar Tama berjalan mendekatinya. “Tama, apa buktimu kalau ini adalah apartemen milik ibuku?” Kirana tetap saja belum percaya bahwa ibunya memiliki sebuah apartemen semewah itu. Karena selama ini ia jelas tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana.
“ayolahhh Kirana, bukan pikiranmu itu.” ingin sekali rasanya Tama menguncang badan Kirana agar tersadar lebih cepat namun ia menghindari untuk mendekat kepada istrinya mengingat benda pusakanya masih berangsur melemas.
Tama mendekati kasur dengan kamar set serba putih itu. Tama membuka laci dan mengacak-ngacak isi dari laci tersebut hingga ia menemukan sebuah buku berwarna merah muda yang bertuliskan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun.
“kau lihat ini.” Tama memberikan surat itu kepada Kirana. “apa ini Tama?” Kirana tampak bingung, entah surat atau buku apa yang sedang dipegangnya. “itu adalah sertifikat hak milik apartemen, silahkan kau baca siapa nama pemiliknya.” Terang Tama.
Kirana mulai membuka lembaran sertifikat itu. “Riyanda Beatrice Sugiono.” Kirana membacanya dengan jelas hingga Tama bisa mendengarkan. “ada yang salah dengan nama ini. Ini bukan nama ibuku. Nama ibuku adalah Riyanda Sugiono. Berarti benar bahwa apartemen ini bukan milik ibuku.” jelas Kirana.
“Kirana, kau itu mempunyai keturunan Prancis, ibumu lahir di Paris. Riyanda Beatrice Sugiono adalah nama asli ibumu.” Terang Tama kepada Kirana. Tama menghela nafas panjangnya, ia tidak menyangka tau lebih banyak tentang Riyanda dibandingkan dengan anaknya sendiri.
__ADS_1
“tidak mungkin Tama, jelas di akte kelahiranku nama ibu adalah Riyanda Sugiono.” Kirana masih bersikeras bahwa nama ibunya bukan dengan embel-embel Beatrice. “ya Tuhannn…” Tama ingin sekali berteriak sekuat tenaga melepaskan segala pusing di kepalanya.
“Kirana, sebenarnya kau ini siapa?” Tama memegang kedua lengan atas Kirana. Ia sedang menatap intens wanita itu dengan berbagai perasaan yang campur aduk. Perasaan kesal, marah, atau bahkan rasa senang yang dicampuri dengan hawa nafsunya.