Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 43


__ADS_3

“ada apa sayang? Apa dia mati?” kata Nyonya Bella yang berpura-pura terkejut namun dalam hatinya seraya berkata yah, mati saja kau Mario. “tidak, dia masih hidup tapi harus segera dibawa ke rumah sakit.” Sahut tuan Harun.


“ahhh begitu rupanya.” Ujar Nyonya Bella dengan mengangkat kedua alisnya ke atas sekilas.


Tama pun datang dengan berjalan cepat melewati kedua orang tuanya. “Tama… mana dokter Flo?” teriak Nyonya Bella sembari menatap putranya yang berjalan menunduk melihat ke bawah itu. tapi sayangnya, Nyonya Bella tak mendapatkan jawaban dari putranya dan Tama terus berjalan hingga menghilang di balik pintu kamarnya.


Tak lama kemudian, dokter Flo pun masuk dengan berjalan santai. “Flo, kemari nak.” Teriak Nyonya Bella sembari menganyunkan tangannya. lalu dokter Flo pun menghampiri Nyonya Bella dan tuan Harun yang sedang bersama Mario yang sekarat.


“ada apa tante?” tanya dokter Flo dengan raut wajah yang datar. “cepat hubungi pihak rumah sakit dan suruh mereka membawa bantuan kesini. Minta kepada mereka untuk membawa tiga mobil ambulance.” Terang Nyonya Bella.


“baik tante.” Kata dokter Flo yang langsung mengambil benda pipih yang sejak tadi telah dipegangnya itu. “halo, emergency! tolong bawakan tiga ambulance ke kediaman keluarga Harun sekarang juga. Ada satu orang yang sekarat dan dua puluh lima orang lainnya luka-luka. Baik terima kasih.” Ucap dokter Flo pada panggilan suara tersebut.


“tante tenang, tak lama lagi mereka akan datang. Lebih baik tante dan om beristirahat. Aku akan mengurus mereka.” Dokter cantik itu memegang kedua bahu Nyonya Bella dan sesekali melihat kepada tuan Harun saat berkata.


“ahhh terima kasih Flo, untung kau ada disini. Kau sangat membantu kami disini sayang.” Nyonya Bella memeluk dokter cantik itu dengan bernafas lega. “ini sudah tugasku tante, aku yang seharusnya berterima kasih sudah diberikan tempat tinggal yang nyaman disini.” Kata dokter Flo sambil mengulum senyum penuh rasa senang.


“baiklah, kalau begitu sesuai saranmu kami akan berisitrahat.” Nyonya Bella melepaskan pelukan itu kemudian nyonya Bella beranjak dari tempatnya bersama dengan tuan Harun. sementara itu dokter Flo memeriksa para pengawal pribadi keluarga Harun yang babak belur itu.


Sesampainya di dalam kamar, tuan Harun dan Nyonya Bella sama-sama merasa lelah walaupun tidak sedang melakukan pekerjaan yang berat.


“ahhh… sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang.” Kata nyonya Bella sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur mewah nan empuk tersebut. “kau benar.” Kata tuan Harun yang malah mengambil posisi dengan duduk di sofa dan meletakkan kaki tiganya tersebut di pinggir sofanya.


Tuan Harun memeriksa kantong celananya, ia sedang mencari benda pipih pada kantong celananya tersebut namun tak kunjung ia temukan. Kemudian tuan Harun beralih meraba kantong bajunya tetapi tak jua ia menemukan benda pipih yang ia harapkan itu. lalu tuan Harun menoleh untuk melihat istrinya.


“Bella, apa kau melihat di mana ponselku?” tanya tuan Harun sembari menaikkan alisnya. Nyonya Bella pun lekas terbangun dan melihat ke sekelilingnya dan dengan cepat ia melihat ponsel milik suaminya itu.

__ADS_1


“ini sayang, kau meletakkannya di atas nakas.” Ujar nyonya Bella sambil mengambil benda pipih tersebut dan berdiri untuk melangkahkan kakinya menghampiri tuan Harun. “ahhh terima kasih sayang.” Sahut tuan Harun saat nyonya Bella memberikan ponsel miliknya.


Nyonya Bella tak kembali pada kasur mewah nan empuk itu. ia duduk di sofa pada kamar itu tepat disamping tuan Harun duduk sambil merebahkan kepalanya pada bahu suaminya itu.


“halo…” kata tuan Harun pada panggilan suara itu sembari membelai lembut rambut istrinya. “iya halo pak Harun?” terdengar jawaban pada panggilan suara itu yang tak asing lagi suaranya di kuping tuan Harun.


“halo pak Bambang, aku ingin melaporkan penculikan anggota keluarga saya.” Terang tuan Harun dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. “penculikan? Siapa anggota keluarga bapak yang diculik? Dan siapa yang berani menculik anggota keluarga Harun?” suara polisi yang bernama Bambang itu terdengar terkejut.


“kau sudah tahu, siapa lagi kalau bukan Azego sialan itu!” umpat tuan Harun. “oh iya benar, laporan pak Harun juga sudah saya selesaikan kemarin. Hari ini tim kami sedang melakukan penyidikan.” Terang pak Bambang pada panggilan suara itu.


“ahhh bagus! Bisa sekalian kau bawa aku untuk menjemput menantuku Kirana. Azego sialan itu menculiknya pagi ini.” Berang tuan Harun. sontak nyonya Bella membelai dada suaminya agar bisa menenangkan diri.


“baiklah, saya akan menunggu bapak di kantorku saat ini juga.” Jawab pak Bambang kemudian mengakhiri panggilan itu.


*


*


“bagaimana bisa menantu bapak di culik oleh pak Azego? Berani sekali dia.” Kata pak Bambang sembari menghisap sebatang rokok yang kemudian asapnya ia keluarkan dari mulutnya.


“iya kau benar, dia memang terlalu lancang! Hari ini pengawal pribadinya yang bernama Maria datang dan menghabisi semua pengawal pribadiku kemudian membawa pergi menantuku.” Ucap tuan Harun dengan hidung yang mengembang kemudian mengempis.


“siapkan anggotamu, ayo kita pergi ke kediaman Azego.” Kata tuan Harun dengan bibir yang bergetar. “aku akan membawa menantuku pulang hari ini juga.” Tambah tuan Harun. “baiklah kalau itu maunya pak Harun, boleh kita pergi saat ini juga.” Sahut pak Bambang dengan mematikan rokoknya yang masih bersisa setengah batang itu.


Dar!

__ADS_1


Tiba-tiba salah seorang polisi bawahan pak Bambang membuka pintu ruangan hingga berbunyi keras. Sontak tuan Harun terkejut dan berbalik memandangi polisi itu begitu pula dengan pak Bambang.


“permisi pak!” kata polisi itu sembari menaikkan tangannya sebagai tanda pemberian hormat kepada atasannya. “ada apa? Apa ada sesuatu yang begitu urgent sampai kau berkeringat seperti itu?!” berang pak Bambang yang merasa bawahannya itu perlu untuk dilatih lagi.


“di luar ada seorang pria yang sedang mengamuk pak!” Polisi itu memutar bola matanya mengarah ke luar ruangan. “pria itu berteriak-teriak agar menyelematkan istrinya yang sedang hamil yang telah diculik oleh anak buah dari tuan Azego pak.” Tambah polisi tersebut.


Deg!


Seketika tuan Harun menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. “dasar Tama! Kau sangat tidak pandai bermain cerdik!!!” kata tuan Harun namun dalam hati dengan raut wajah yang kesal.


“pak Harun?” lirikan mata pak Bambang kepada tuan Harun penuh dengan arti. Tuan Harun hanya bisa menghela nafas panjangnya sambil berkata “ya, itu Tama, putraku!”. “kau tenangkan saja dulu pria itu. Aku akan keluar untuk menghadapinya.” Kini pak Bambang berdiri dari tempat duduknya.


“mari pak Harun, kita temui putra bapak.” Kata pak Bambang yang melangkahnya kakinya diikuti dengan tuan Harun yang juga beranjak dari tempatnya.


Setelah keluar dari ruangan itu, tuan Harun jelas melihat putranya yang lengannya sedang dipegang kuat oleh dua orang aparat negara berseragam lengkap tersebut.


“ayah… apa yang ayah lakukan disini?” tanya Tama yang tidak pernah menyangka akan melihat ayahnya keluar rumah tanpa seorang pengawal satupun. “lepaskan dia.” Perintah tuan Harun kepada polisi bawahan pak Bambang tersebut.


“kau dengar? Ayahku menyuruhmu untuk melepaskanku.” Berang Tama yang dipenuhi dengan amarahnya. Kedua polisi itu tampak ragu untuk melepaskan lengan Tama. “lepaskan saja.” Tambah pak Bambang sembari mengangguk. Lalu Tama dilepaskan oleh kedua polisi tersebut.


“mari pak Harun kita berangkat.” Pak Bambang mempersilahkan tuan Harun berjalan lebih dulu walaupun langkahnya sangat lambat. Kemudian ada sepuluh orang polisi yang mengikuti keduanya dari belakang.


“ayah… mau kemana? Kenapa aku—” perkataan Tama terhenti yang kemudian ia lanjutkan dalam hati. “kenapa aku seakan tidak ada diruangan ini? Kenapa aku dicuekin?” kata Tama dalam hati dengan wajah yang datar.


“ayah tungguuuu…” teriak Tama yang kemudian berlari untuk mengejar ayahnya beserta anggota polisi yang lain. ia tak mau ketinggalan, feelingnya berkata bahwa mereka semua pasti menuju ke kediaman tuan Azego.

__ADS_1


__ADS_2