Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 51


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Tama berjalan santai masuk ke kediamannya. Memasuki satu persatu ruang mewah miliknya hingga akhirnya ia pun sampai di ruang tengah tempat di mana ayah dan ibunya sering duduk bersantai untuk mengobrol. Tak lupa dokter Flo ikut hadir dalam ruangan bersuhu hangat tersebut.


“Tama!” Seketika Nyonya Bella berdiri dan mendekati putranya saat matanya tertuju kepada sosok tuan muda yang sedang berjalan santai namun tetap terlihat sedikit kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Mendengar nama Tama yang disebutkan oleh Nyonya Bella sontak membuat Tuan Harun beserta Dokter Flo pun ikut berdiri dan menoleh ke arah dimana mata Nyonya besar di rumah itu memandang.


“Tama!” Dengan ekspresi dan nada yang sama seperti istrinya, Tuan Harun juga ikut memanggil putranya.


“Tama!” berbeda dengan kedua orang tua tuan muda itu, Dokter Flo memanggil pria yang dicintainya dengan lembut dan segera mendekatinya. Namun, langkahnya kalah cepat dengan langkah sang ibu dari tuan muda itu.


“Tama, kau tidak apa-apa nak?” Dengan mimic wajah yang sedih dan mata yang mulai berlinang air mata Nyonya Bella memeluk putranya. “Ibu, apa dokter Flo tau tentangku dari mana?” Bisik Tama kepada ibunya saat kepala ibunya menyender di dada bidang miliknya. “Tidak, dia tidak tahu.” Jawab Nyonya Bella.


“Kalau begitu, bersikaplah biasa saja ibu.” Bisik Tama lagi. “Baiklah.” Jawab Nyonya Bella sembari melepaskan pelukan itu sedangkan Tuan Harun terlihat lebih pintar dengan menahan diri dan berpura-pura tidak tahu.


“Tama, dari mana saja kau?” Kini Tuan Harun mendekati putranya dengan langkah yang santai. “Aku…” Ucap Tama kebingungan. “Tama, ibumu bilang kau ingin bekerja di perusahaan ayah?” Ujar Tuan Harun mencoba mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.


Sementara itu, di kediamannya yang lain dengan waktu yang sama. Tuan Azego duduk di ruangannya di temani beberapa pengawal pribadinya. Ruangan itu cukup gelap dan memiliki titik terang dibeberapa tempat yang diterangi oleh lampu yang cahayanya berwarna kuning. Tidak ketinggalan, Maria pun ikut duduk bersama dengan tuannya tetapi pengawal pribadi yang lain tampak berdiri. Maria duduk tepat di depan Tuan Azego dan sebuah box hitam berada di tengah di atas meja yang meraka duduki itu.


“Katakan kepada ayahmu bahwa kau memang ingin bekerja di perusahaan ayahmu.” Tuan Azego meraih mic kecil pada box hitam itu dan berkomunikasi dengan pesuruhnya saat ini yang tak lain dan tak bukan adalah Tama.


“Aku tahu itu, tidak kau bilang pun aku juga akan bekerja diperusahaan ayahku jauh sebelum kau memberiku tugas ini.” Kata Tama sembari memegang earphone yang menempel pada kupingnya itu.


“Apa katamu nak?” Tanya Tuan Harun yang mendengar samar perkataan putranya tapi tidak jelas intonasinya hingga ia pun tak mengerti apa yang dikatakan oleh putra kesayangannya itu.


“Ah tidak ayah, aku hanya meracau barusan. Ayah, bisa kita bicara empat mata saja?” Tama tak ingin menjadi lebih nerveus dalam menjalankan tugasnya karena harus berbicara dengan banyak telinga yang mendengarnya termasuk orang lain yang berada di luar sana.


“Kemari nak, kita akan berbincang berdua.” Tuan Harun terlihat sangat tenang dan berjalan perlahan bersama dengan Tama meninggalkan istri dan teman masa kecil anaknya.


Nyonya Bella yang mengetahui sesuatu dengan bersusah payah terlihat tenang dan tidak cemas. Namun sayangnya, betapapun ia berusaha menyembunyikan rasa cemas yang ada diwajahnya masih ada jemarinya yang bergerak dengan cepat. Ia pun mengepalkan kemudian melepaskan jari-jari itu berkali-kali.


Melihat tangan dari Nyonya Bella membuat Dokter Flo penasaran. Sebagai Dokter ia tentu menyadari bahwa Nyonya Bella ternyata memiliki gangguan kecemasan yang selama ini dia tidak tahu. “Tante, apa Tante ada penyakit gangguan kecemasan?” Tanya Dokter Flo dengan lembut. Ia pun meraih kedua tangan dari Nyonya Bella.


“Ah benarkah sayang? Kau tahu darimana?” Nyonya Bella berpura-pura tidak tahu. “Iya tante, kalau tante tidak tahu maka akan kuberitahu. Melihat tangan tante yang seperti ini, itu adalah salah satu ciri gangguan kecemasan tan.” Dokter Flo mengenggam kedua tangan itu dengan lembut.


Pada kesempatan itu pun, Nyonya Bella berinisiatif untuk mengalihkan perhatian Dokter Flo. “Ahh kau memang anak yang pintar sayang. Kalau begitu, jika memang aku mengindap penyakit itu, bisakah kau memberikan resep obat untukku sayang?” Ucap Nyonya Bella sembari memegang lengan Dokter Flo dan berusaha membawanya menjauh dari ruangan itu.

__ADS_1


“Tentu tante dengan senang hati.” Dokter Flo pun tersenyum sehingga membuat wajah putih itu terlihat sangat cantik. “Kau memang sangat cantik sayang.” Nyonya Bella memegang lembut wajah Dokter Flo sebentar kemudian melepaskannya.


“Terima kasih tan.” Dokter Flo semakin melebarkan senyumannya dan tampak salah tingkah dengan pujian yang dilayangkan kepadanya. “Sebentar tan, aku ambil pena dulu ya.” Ujarnya lagi.


“Kau mau ambil pena dimana sayang?” Tanya Nyonya Bella. “Akan ku ambil di kamarku. Aku melihat ada pena pada di meja kamarku tante.” Jawab Dokter Flo. “Kalau begitu mari kita ke kamarmu saja, ada banyak hal yang belum kita perbincangkan lagi bukan?! Seperti, kapan lagi Bvlgary akan diskoan sayang.” Sambung Nyonya Bella yang kemudian keduanya tertawa kecil bersama.


“Ayo tante.” Ajak Dokter Flo kepada Nyonya Bella. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan bersama, Nyonya Bella sempat melihat ke pintu tempat suaminya menghilang bersama dengan putra kesayangannya.


Pada halaman belakang rumah kediaman Tuan Harun, di sebuah koridor terbuka mengarah ke taman belakang, dua orang pria itu berjalan santai dan sedang berpura-pura seperti tidak ada yang sesuatu yang genting terjadi hingga akhirnya mereka sampai di sebuah Gazebo mewah milik keluarga Tuan Harun.


Keduanya duduk berhadapan dan saling menatap intens. “Tama, apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa nak?” Tuan Harun memeriksa seluruh tubuh Tama. Ia melihat ada banyak lebam yang telah disamarkan oleh foundation.


“Mereka sungguh biadab!” Umpat Tuan Harun saat melihat putranya yang babak belur. Seketika amarahnya mulai naik lagi dan pipinya merah padam. “Ayah ternyata kau menyadarinya?” Tanya Tama heran. Padahal, sebelum ia kembali ke rumahnya ia sempat membeli banyak foundation untuk menutupi seluruh lebam yang ada pada tubuhnya.


“Mungkin ibumu dan Dokter Flo tidak menyadarinya. Tetapi aku tahu siapa itu Azego. Dasar Azego sialan!” Tuan Harun kembali mengumpat. Tama hanya bisa membulatkan matanya. Bukan karena dia terkejut dengan semua umpatan ayahnya yang sudah tua tetapi karena semua percakapan itu didengar langsung oleh orang yang sedang dibicarakan itu.


“Tama, hentikan basa-basi itu! Langsung saja ke intinya, katakan kepada ayahmu bahwa kau akan bekerja di perusahaan ayahmu mulai besok.” Sebuah suara terdengar di dalam benda kecil yang menempel di kuping tuan muda tersebut.


“Apa kau gila? Aku baru saja bertemu ayahku wajar saja kalau dia menanyakan keadaanku.” Dengan sangat pelan Tama mengucapkan perkataanya. “Apa katamu?” Kata Tuan Harun yang mencoba mendengar kembali apa yang telah diucapkan oleh putranya.


Tama pun menghela nafas panjangnya. “Ayah aku tidak apa-apa. Hanya saja aku memikirkan perkataan ayah yang tadi. Ayah bilang mau memperkerjakan aku di perusahaan?” Tama to the point.


“Iya benar nak. Ibumu yang mengatakan itu dan memang sudah sejak lama ayah ingin kau bekerja di perusahaan kita hanya saja kau yang selalu menolaknya.” Terang Tuan Harun dengan wajah yang murung. “Oh ya kau sungguh tidak kenapa-napa nak? Dan bagaimana dengan Kirana?” Tanya Tuan Harun.


“Pertanyaan yang bagus bapak tua!” Jawab Tuan Azego ditempatnya tetapi dengan jelas Tama mendengarnya. Dengan memegang dadanya, Tama mencoba menahan amarahnya yang mendengar ayahnya disebut bapak tua oleh Tuan Azego. Tetapi, dia bisa apa selain memendamnya karena marah pun dia bisa-bisa dikatakan gila oleh ayahnya karena berbicara sendiri.


“Katakan kepada ayahmu bahwa Kirana masih dalam tahananku. Kirana akan aku rawat dengan baik asal ayahmu bersedia memberikan uang sebesar 1 Milyar tiap bulannya.” Kata Tuan Azego dengan senyuman tipis penuh arti. Maria juga ikut menarik satu sudut bibirnya karena merasa senang dengan apa yang telah didengarnya itu.


Dengan sangat berat akhirnya Tama pun mengatakan hal tersebut kepada ayahnya. “Aku bertemu dengan Azego ayah. Dia melepaskanku tetapi tidak dengan Kirana. Dia sedang menyanderanya dan meminta uang sebesar 1 Milyar tiap bulan agar Kirana tetap bisa aman di tangannya.” Tama pun melemahkan nafasnya kala mengingat Kirana yang sendirian di kediaman Tuan Azego.


“Dia memang rentenir gila. Kau tenang saja, ayah sudah mempunyai serangan balasan untuknya besok.” Dengan sangat percaya diri Tuan Harun mengatakan hal itu membuat Tama menelan salivanya karena dia sangat sadar akan hal yang sedang mengawasinya saat ini.


“Kau tahu nak, besok aku akan melakukan—“ Kalimat Tuan Harun berhenti saat dipotong langsung oleh Tama. “Hm… ayah sebaiknya kita bicarakan perusahaan saja.” Ujarnya.


“Tama… kau jangan coba-coba menghentikan kalimat ayahmu. Kau sangat tahu apa gunamu disana. Jangan mencoba menghentikan atau menghambat setiap informasi penting dari ayahmu atau Kirana akan…” Tuan Azego berbicara tegas tetapi ia tak perlu menyelesaikan perkataannya karena ia sadar Tama pun dengan cepat akan menyadarinya.

__ADS_1


Tama kembali menghela nafas panjangnya. Mau tidak mau ia harus menuruti setiap perintah dari Tuan Azego.


“Oh ya ayah aku tiba-tiba penasaran dengan rencana ayah yang tadi. Sebenarnya apa yang ayah rencanakan besok?” Bagaikan actor, Tama sedemikian rupa menata mimic wajahnya agar tetap terlihat normal di mata ayahnya.


“Besok aku akan mendatangi kediaman Azego lagi. Besok dia tidak akan bisa mengelak lagi. Besok semua kejahatannya akan terbongkar. Ayah telah memegang semua bukti kejahatannya.” Terang Tuan Harun dengan senyuman penuh arti.


Lagi, Tama hanya bisa menghela nafas panjangnya karena sehebat apapun rencana ayahnya sudah dipastikan dengan cepat Tuan Azego akan mendengar itu semua akibat kecerobohannya untuk menyelamatkan istrinya tanpa berpikir panjang dulu sebelum bertindak.


“Iya ayah, ku rasa itu memang rencana yang sangat hebat.” Wajah Tama pun berubah murung, berbanding terbalik dengan ayahnya yang tampak senang dan percaya diri.


Sementara itu, Tuan Azego beserta pengawal pribadinya yang lain jelas mendengar perkataan dari Tuan Harun. Mendengar perkataan itu seketika pandangan Tuan Azego yang awalnya melihat layar digital yang memiliki informasi lokasi dimana Tama berada dan grafik yang bergerak naik turun sesuai nada bicara percakapan yang dilakukan oleh Tama kini melihat Maria dengan tatapan yang tajam.


“Kau dengar itu Maria? Lakukan tugasmu sekarang. Lakukan apapun yang bisa membuat informasi bisnis gelapku tidak bocor.” Kata Tuan Azego kepada pengawal pribadi andalannya. “Baik tuan.” Jawab Maria yang kemudian berdiri dan bergegas keluar ruangan diikuti beberapa pengawal pribadi yang lain. Sedangkan Tuan Azego masih duduk di sana dengan mengambil korek api untuk menghisap lagi rokoknya ditemani oleh beberapa pengawal pribadi lainnya.


“Tanyakan kepada ayahmu, jam berapa besok ia akan datang kemari?” Kata Tuan Azego lagi.


“Besok jam berapa kita akan ke sana ayah?” Tanya Tama kepada ayahnya. “Kita akan kesana besok pagi. Kau harus sudah siap jam 7 pagi karena pada jam itu kita akan langsung berangkat kesana untuk menjemput Kirana.” Tuan Harun mengepalkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap meja kosong yang ada di hadapan mereka.


“Katakan padanya hei tuan muda. Katakan dengan lembut, katakan BAIK AYAH, hahaha…” Tuan Azego tertawa dengan keras, ia merasa terhibur lagi hari ini dengan permainan yang ia lakukan.


“Baik ayah.” Dengan nada yang lembut sesuai perintah Tama pun mengatakannya. “Kalau begitu, sekarang istirahatlah nak. Kau pasti sangat kelelahan baik fisik maupun batinmu.” Tuan Harun memegang pundak Tama.


Seketika Tama merasakan sakit namun tetap ia tahan karena tak ingin memperlihatkan rasa sakitnya di depan ayahnya.


“Iya ayah, ayo kita masuk bersama.” Tambahnya lagi. Lalu dua orang itu masuk ke dalam rumah sambil bersenda gurau. Tuan Harun yang merasa serangan balasannya akan berhasil merasakan sedikit ringan beban yang dipikul di kepalanya menghilang sedangkan Tama jantungnya sejak tadi tak bisa berhenti berdegup kencang karena tidak tahu hal apa yang akan terjadi besok pagi.


Sesampainya di kamar, gegas Tama membuka ponselnya. Ia pun mencari kontak bertuliskan nama istrinya yaitu Kirana setelahnya ia pun melakukan panggilan video. Tetapi sayangnya panggilan itu tak terjawab.


“Arghhh!” Tama pun berteriak. Karena kamar yang luas dan rumah yang sangat luas, teriakan itu tidak di dengar oleh siapapun. Akhirnya dia pun mengutak-atik ponsel barunya tersebut. Mencoba mencari solusi bagaimana agar bisa terhubung dengan Kirana.


“Azego, kau dengar aku? Aku yakin kau pasti mendengarku. Jika kau dengar ini tolong jawablah.” Tama berbicara sendiri melalui earphonenya. Bahkan ia pun berbicara bergantian antara earphone dan alat perekam yang dipakainya tersebut.


“Azego, mengapa panggilan videoku kepada Kirana tidak diangkat? Aku ingin memastikan dia masih utuh terawat dengan baik.” Nafas tuan muda itu kini tidak beraturan lagi.


Tuan Azego yang sejak tadi masih memantau Tama sekarang malah tersenyum. “Jika kau hanya ingin melihatnya, kau tidak perlu melakukan panggilan video. Ada aplikasi CCTV di ponsel itu. Kau tinggal klik saja aplikasi itu maka ada lima sudut CCTV yang bisa kau akses untuk melihat istrimu.” Terang Tuan Azego.

__ADS_1


__ADS_2