
Mario bergegas menyusul Tuan Mudanya ke rumah pengantin wanita. Sebentar saja, pengawal pribadi itu langsung menemukan Tuannya. “mau ke mana lagi anda Tuan? Bukankah anda sudah diperintahkan oleh Tuan Harun agar tidak berada di sini.” Mario menggertakkan gigi atas dan bawahnya. Ingin sekali ia memarahi Tuan Mudanya itu, namun ia tak punya nyali untuk memarahinya karena ia tahu akan dimarahi oleh Tuan Harun.
“ada apa denganmu Mario, aku hanya mencari istriku. Minggir kau!” Tama tak dapat lagi menahan amarahnya. Kali ini ia menunjukkan wajah yang tidak senang dan siap untuk beradu otot walaupun ia tahu pada akhirnya Mario yang akan menang.
“jangan lakukan itu Tuan.” Mario masih saja menghadang Tuan Mudanya. “sekali Tuan Harun berkata tidak, maka tidak Tuan.” Mario tetap saja menghadang arah dari Tama ingin pergi. “dasar pengawal takt ahu diri. Kau pikir kau itu siapa ha!” suara raja sehari ini mulai meninggi.
Bug.
Tama melayangkan tinju kepada wajah garang yang berdiri di depannya. Namun naas, berharap Mario bisa lebam dan babak belur malah tangannya yang kesakitan. “auw!” Tama mengelus dan meniup kepalan tangannya. “sial, hebat juga badut ini.” Umpatnya dalam hati.
“Tuan, saya tidak akan melawan. Ini peringatan yang terakhir kali, mari kita keluar dari sini.” Mario menarik lengan Tuan Mudanya. “tidak akan, aku tidak akan pergi sebelum melihat istriku.” Tama menghempas tangan Mario hingga tangannya terlepas.
“dasar Tuan Muda manja.” umpat Mario dalam hati. Sengaja ia mengajak Tuan Mudanya untuk berbicara tanpa kekerasan. Ia juga sengaja menarik tangan Tama dengan tanpa kekuatan agar tidak menarik perhatian semua gadis-gadis yang ada di rumah itu.
“Tuan, jangan biarkan aku melakukan sesuatu yang tak harus ku lakukan Tuan.” Ancam Mario kepada Tuan Mudanya. Mata membulat memerah, bibir bergetar, ia tak sanggup lagi menahan kekesalan terhadap Tuan Muda manja dan sok galak yang ada di depannya itu.
Seketika nyali Tama menciut, ia mendapati pengawal pribadi ayahnya seperti sedang kesurupan, seorang yang berbadan manusia tetapi berwajah setan.
“kemarilah Tuan, biarkan saya menemani anda.” Mario merangkul Tuan Mudanya. “lepaskan, biarkan aku berjalan sendiri.” Tama menepis lengan Mario kemudian melangkah kaki untuk berjalan keluar dari rumah pengantin wanita.
Mario tersenyum tipis tapi senyuman itu entah mengapa terlihat seperti senyuman menyeringai. Ia menatap punggung seorang lelaki muda yang lemah berjalan, ia juga memastikan bahwa pemilik punggun itu tidak akan lepas lagi pantauannya. Mario tak menghiraukan lagi para gadis cantik yang bisa menarik perhatiannya. pengawal pribadi itu menjaga matanya kali ini, ia tidak ingin gagal dalam menjalankan perintah Tuannya.
Sedangkan Tama berjalan lurus hingga keluar dari rumah itu. Dengan wajah yang tampak kesal, ia tak lagi berniat untuk menjamu ataupun berbicara kepada tamu. Bahkan saat keluar dan melihat kedua orang tua pun ia membuang muka. Tama terus berjalan di taman itu melewati keramaian yang ada dan menuju ke salah satu gazebo.
Ia duduk sendiri di bawah gazebo sambil menopang dagu dan cemberut. Ia duduk di bawah gazebo di mana ia pertama kali membicarakan tentang dirinya yang sebenarnya kepada ibunya.
Tama memandangi ibunya dari kejauhan. Ia pun menyadari bahwa ibunya salah orang yang terlihat aneh di hari pernikahannya. Ibu yang biasa penuh keceriaan di dalam acara megah seperti yang dilaksanakan hari ini, entah kenapa ia terus tersenyum sambil menggandeng suaminya tanpa berbicara.
Tama hanya bisa terdiam. Melamun. Ia terus membayangkan wajah cantik istrinya, wajah dari Riyanda. Selama berjam-jam Tama duduk di bawah gazebo itu.
“Tuan, tidakkah anda lapar?” tanya Mario kepada Tuan Mudanya. Ia membawakan sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.
Dar.
__ADS_1
Nampan itu ditampik oleh Tama hingga jatuh dan semua makanan terlihat berantakkan dengan gelas dan piring yang terpecah belah. Mario hanya bisa menghela nafas kasar dan membersihkan pecahan kaca itu. Tidak pembantu di sana, mereka semua sibuk meladeni para tamu dan dapur.
“silahkan kau bersihkan itu semua.” Perintah Tama kepada pengawal pribadi ayahnya itu. “baik Tuan.” Jawab Mario dengan ekspresi yang datar. Tetap saja walaupun ekspresinya datar, wajah itu masih terlihat garang.
Tama memandangi jam tangan yang ia kenakan pada lengan kirinya. “sisa satu jam lagi acara selesai.” Gumamnya. Ternyata ia lebih memilih menjadi anak penurut dan menunggu hingga acara pernikahannya selesai.
Dengan sedikit menguap dan mengantuk. Tama terus menunggu satu jam itu. Kepala jatuh perlahan sesekali, matanya terpejam. Ternyata dia pun menahan kantuknya. Ketika kepala jatuh dan ia tersadar, lekas saja Tama menghirup nafas dalam-dalam dan mulai membelalakkan matanya agar tidak tertidur.
Tuan Muda itu kembali melihat jam tangannya “lima menit lagi.” gumamnya. Setelah lima menit itu berlalu, Tama berdiri dan mencari sosok kedua orang tuanya terlebih dahulu. “kemana lagi kedua orang itu.” Di tengah kursi-kursi yang berjejer, Tama tidak mendapati kedua orang tuanya.
Tama mengabaikan keberadaan kedua orang tuanya. Ia harus bergegas menemui istrinya di rumah pengantin wanita. Ia berjalan dengan Mario mengikutinya di belakang. “apa lagi? bukankah resepsi pernikahan ini sudah selesai? Untuk apa lagi kau mengikutiku Mario.” Berang Tama.
“hanya untuk berjaga-jaga Tuan.” Jawab Mario ringkas. “ahhh dasar kau memang badut ayahku.” Umpat Tama. Ia hanya terus berjalan, hingga sampai ke rumah pengantin wanita. Ia mulai mencari keberadaan Riyanda. Tak lupa dengan Mario yang mengawasinya dari belakang.
Rumah pengantin wanita itu terlihat sepi dan berantakkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana alias tidak siapapun di sana termasuk Riyanda. “kemana perginya semua orang Mario?” Tama meninggikan suaranya, Tuan muda itu kembali berdecak kesal.
“tidak tahu Tuan, bukankah sejak tadi saya hanya terus bersama Tuan. Jadi, saya pun tidak mengetahuinya Tuan.” sahut Mario datar.
“arghhh…” Tama berteriak sembari memegang rambutnya dengan kedua tangannya. Rambut yang tadinya terlihat rapi kini terlihat berantakkan. Lekas saja Tama meraih ponselnya dan menghubungi ibunya.
Nyonya Bella yang mendengar suara memelas dari putranya tak sanggup membendung air matanya. Ia hanya bisa menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kiri karena tangan kanannya sedang memegang ponsel pada kuping kanannya. Kakinya gemetaran, sepertinya efek dua pil yang ia minum sudah mulai berangsur hilang.
Ia segeran mengambil segelas air putih dan menelan lagi sebuah pil penenang lalu menarik nafas dalam-dalam. “Tama bisakah kau ke kamar ibu nak.” Kata Nyonya Bella lembut. “baik ibu, tunggu aku di sana.” Sahut Tama.
Dengan cepat Tama berlari menuju kamar kedua orang tuanya. Mario terlihat berjalan santai tanpa mengejar Tuan Mudanya, karena di dalam benaknya ini hanyalah sebuah masalah kecil dalam keluarga Tuan Harun. Masalah yang hanya bisa diselesaikan antar anggota keluarga.
Tama masuk membuka pintu kamar kedua orang tuanya. Ia tak sempat lagi untuk permisi lebih dahulu. Ia mendapati ibu dan ayahnya yang sedang duduk disofa kamar itu. Kemudian melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk menunggu, Tama memelankan langkahnya. Ia berjalan lamban seperti manusia normal.
“ada apa ayah, ibu? Apa yang terjadi kepada Riyanda? Apa ia mengidap penyakit yang parah hingga harus berbuat seperti ini.” Tama duduk di sofa tepat berada di samping ibunya dan ayah yang berada di depannya.
Tuan Harun hanya bisa memutar kedua bola matanya kala mendengar putranya masih saja mengira itu adalah Riyanda. “Tama kami akan memberitahumu dua berita yang sedikit mencengangkan. Yang pertama adalah berita baik dan yang kedua berita buruk. Ku harap kau mempersiapkan kepala dan perasaanmu.” Tegas Tuan Harun.
“ada apa ayah, apa memang yang harus ku dengar.” Seketika jantung Tama berdegup kencang. Ia tahu ada hal yang sangat serius yang harus diketahuinya. Yang sangat ia khawatirkan adalah Riyanda. Dalam pikirannya entah mengapa Janda beranak satu itu sedang sakit parah dan tak sadarkan diri hingga membuatnya pusing tujuh keliling untuk mencarinya.
__ADS_1
“berita buruk yang pertama adalah Riyanda kabur membawa uang mahar 5 milyar yang kita berikan dan—” kalimat Tuan Harun harus berhenti saat Tama yang tiba-tiba memotongnya.
“APPAA? Itu tidak mungkin ayah. Ibu bilang Riyanda itu orang yang sangat kaya. Tidak mungkin Riyanda membawa kabur uang 5 Milyar jika sepatunya saja seharga 28 Milyar.” Tama menggelengkan kepalanya berkali-kali. Baginya dengan Riyanda membawa kabur uang 5 milyar itu diluar logikanya.
“itu benar sayang, cepat kau lihat ini.” Sambung Nyonya Bella dan memperlihatkan layar ponselnya yang berisikan pesan dari Riyanda. “ibu apa ini, mengapa Riyanda setega itu ibu.” Tama memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Kepala itu terasa berat, seakan di isi oleh ribuan batu. Seketika wajah Tama terlihat pucat. Nyonya Bella pun mulai khawatir melihat putranya walaupun ia tidak begitu cemas lagi karena sudah memakan satu buah pil lagi tadi.
“ibu jika itu benar, lalu apa berita baiknya ibu.” Tama berkata dengan nafas yang lemah. Ia tak pernah menyangka calon istri yang sangat dicintai kabur entah kemana. Ditambah lagi, calon istrinya itu sangat cantik membuatnya tak sanggup merelakannya.
“berita baiknya adalah kau telah menikahi anaknya yang lebih muda dan lebih cantik. Dialah yang kau nikahi saat resepsi pernikahanmu berlangsung.” Tambah Tuan Harun. Tuan Harun hanya terus menghisap kayu yang diujungnya ada sebuah rokok yang telah menyala. Sesekali asap dari kayu itu keluar.
“APPPAAAAA?” tak tahan mendengarnya Tama pingsan. “Tama-tama, bangun nak, Tama….” Nyonya Bella mulai cemas, pil itu tak lagi bereaksi. Melihat anaknya pucat dan tak bergerak membuatnya histeris. “sayang… bagaimana ini, sayang cepat lakukan sesuatu…” teriak Nyonya Bella.
Tuan Harun melirik Mario yang sejak tadi telah berdiri dibelakang sofa yang diduduki oleh Tama dan istrinya. Dengan langkah bak ninja, ia hadir tanpa sepengetahuan kedua orang itu kecuali Tuan Harun.
“baiklah Tuan.” Sahut Mario singkat. Dia sangat mengerti tatapan itu, tatapan perintah dari Tuan Harun. Lekas saja Mario membuka sepatunya dan mengambil satu dari kaos kakinya serta meletakkan kaos kaki itu pada hidung Tuan Mudanya.
“Uekkkk… bau apa ini?” seketika Tama bangun dan mengendus-ngendus hidungnya. Bahkan wajah Tuan Muda itu tak lagi pucat akibat bau busuk dari kaos kaki itu. Wajahnya sekarang merah padam tak tahan mencium bau dari kaos kaki jimat keramat dari Mario.
Kompak, Tuan Harun beserta istri juga menjepit kedua hidungnya menggunakan jepitan jemuran baju yang sudah ia persiapkan sebelumnya, wanti-wanti jika putra kesayangannya itu pingsan pada kabar buruk yang mereka beritahukan. Alih-alih pingsan pada berita buruk, malah anak kesayangannya mereka pingsan pada berita baiknya.
Mario memakai kembali jimat keramatnya itu dan memasang sepatunya. Lalu ia kembali berdiri tegap dan diam bak penjaga pengawal kerajaan inggris pada gerbang masuk istana.
“ayah itu bukan berita baik. Itu malah berita buruk lagi. bukankah kalian berdua tahu bahwa aku tidak…” kalimat Tama terhenti kala menoleh ke belakang melihat pengawal itu. “ayah bisakah kau suruh dia keluar saja.” Pinta Tama kepada ayahnya.
Tuan Harun memandang Mario dan menggeser bola matanya ke kanan arah dimana pintu berada. “baik Tuan.” Mario pun meninggalkan tiga orang itu.
“ayah, ibu, kalian tahu aku hanya mencintai Riyanda.” Pinta Tama berbelas kasih kepada orang tuanya. “berita yang kalian bilang baik itu, itu bukan berita baik sama sekali melainkan berita buruk ayah.” Tambah Tama.
“sudahlah, kau jangan banyak bicara. Aku tahu kau menyukai Riyanda bukan karena dia cantik saja. Karena dia itu sudah tua.” Tegas Tuan Harun. Dia kesal dengan putranya sendiri yang mulai berbicara berbelit-belit. “lupakan Riyanda! Sekarang ada Kirana yang sudah menjadi istrimu.” Tambah Tuan Harun.
“Ayahhh… ku mohon.” Tama menyatukan kedua telapak tangan dan mengangkatnya tepat di depan wajahnya. Ia sedang memohon kepada ayahnya sendiri. Tuan Harun tak memperdulikan anaknya yang tengah memohon itu. Sebagai seorang ayah, ia senang jika putranya menikah dengan gadis yang lebih muda bukan wanita yang lebih tua.
__ADS_1
“Miyemmm..” teriak Tuan Harun memanggil pembantunya. “iya Tuan.” Tumiyem datang dengan sopan dengan wajah yang menunduk dan badan yang membungkuk. “bawa Kirana kemari.” Titah Tuan Harun. “baik Tuan.” Sahut Tumiyem singkat dan berjalan mundur lalu memutar balik meninggalkan Tuannya.