
Tama berlari di lapangan golf pribadi milik keluarga Harun. Emosi yang membakar dadanya melupakan mobil khusus lapangan golf milik keluarga itu. Ia terus berlari untuk menghampiri kedua orang tuanya.
“ayahhhh….” Teriak Tama dari kejauhan saat melihat ayahnya yang tengah memegang stick itu. Sontak Tuan Harun melihat ke sumber suara yang melayang di udara itu. “ada apa sayang?” tanya Nyonya Bella saat melihat suaminya menghentikan goyangan sticknya.
“sepertinya Tama mengetahui rencana kita.” Sahut Tuan Harun yang melihat anaknya sedang berlari menuju tempatnya di hamparan rumput hijau nan luas. Nyonya Bella pun mengikuti pandangan dari suaminya itu kemudian segera berlari menuju ke tempat putranya.
Nyonya Bella berlari perlahan bagaikan Tuan Putri. Kaki kecilnya tak dapat berlari dengan cepat hingga ia terlihat seperti siput yang sedang berlari namun tak tampak sedang berlari. Karena Tama yang berlari cukup kencang, Nyonya Bella yang seharusnya menghampiri putranya itu lebih dulu dihampiri oleh Tama tetapi Tama hanya berlalu melewati Nyonya Bella dan tak menghiraukannya.
“Tamaaa…” teriak Nyonya Bella yang kesal karena merasa diabaikan oleh putranya sendiri. Ibu dari Tama itu pun kembali mengejar putranya yang hampir lagi sampai ke tempat Tuan Harun. Nyonya Bella mengencangkan topi yang berwarna pink muda yang ia pakai dan kembali berlari, namun kali ini ia berlari sangat cepat, lebih cepat dibandingkan dengan putranya sendiri hingga ia sampai lebih dulu dari pada Tama.
“hentikan Tama, apa yang kau lakukan?” Nyonya Bella menghadang putranya tepat di depannya dengan suami yang berada di belakangnya. “ibu, ayolah, ibu pun pasti juga sudah tahu kan.” Dengan nafas yang tidak beraturan karena telah berlari Tama berusaha meneruskan perkataannya.
Sementara itu di waktu yang sama, Kirana telah selesai mandi. Ia masuk ke ruang ganti baju dan tersenyum gembira saat melihat ruangan itu yang tidak hanya dipenuhi oleh pakaian dari suaminya karena sebagian dari pakaian dari ruangan itu adalah pakaian wanita.
Kirana memilah dan memilih semua pakaian yang ada di depannya dengan mata yang terbelalak sambil menahan nafas tak percaya. Ia jelas melihat semua pakaian yang ada di lemari itu adalah barang branded yang tidak diragukan lagi keasliannya. Ia mengingat lagi semua baju itu yang pernah dipakai oleh model internasional pada channel TV internasional yaitu Fashion TV.
Rata-rata harga dari pakaian itu ratusan juta rupiah, di mulai dari harga puluhan juta rupiah sampai dengan harga termahal di harga lima ratus juta rupiah. Bahkan ada satu baju chanel yang seharga 1 milyar rupiah.
__ADS_1
Kirana membuka lebar mulutnya, setelah menahan nafasnya selama mungkin akhirnya ia jatuh terduduk dan kembali bernafas. “luar biasa, apa keluarga ini sekaya itu?” gumamnya. Kirana banyak menghabiskan waktunya di rumah. Ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus ibunya hingga betapapun populer dan kayanya keluarga Harun, ia tetap saja tidak mengenal keluarga itu.
Putri dari Riyanda itu mengambil baju yang paling murah dan sederhana, bukan karena ia tak menyukai keglamoran dari setiap pakaian yang disediakan, hanya saja ia masih merasa setengah takut untuk memakai itu semua, mengingat bahwa ia belum merasa dari bagian keluarga itu karena yang seharusnya menempati posisinya sekarang ialah ibunya.
Mata Kirana tertuju kepada lemari kaca yang berisi penuh dengan perhiasan. Perhiasan yang ada pada lemari itu di mulai dari anting, kalung, gelang, cincin dan lain sebagainya. Perhiasan itu juga terlihat sangat orisinil dan no tipu-tipu. Bahkan tampak sebuah kalung brand bvlgari bermodelkan ular yang pernah dipakai oleh Lisa Blankpink.
Nyonya muda itu tak berniat untuk memakai perhiasan itu. Setelah memakai baju, ia hanya melanjutkan dengan memakai skincare yang ada di meja rias. Kirana berdandan senatural mungkin, dan keluar dari ruang ganti itu.
Kirana menggapai telepon dan menekan tombol sembilan. “halo, ada yang bisa kami bantu Tuan Muda?” suara pelayan wanita menjawab panggilan suara Kirana. “bisa tolong membereskan kamarku?” kata Kirana pada panggilan itu. “baik Nyonya.” Sahut pelayan itu singkat.
Tak lama kemudian tiga orang pelayan wanita masuk termasuk Tumiyem. “selamat pagi menjelang siang Nyonya.” Sapa Tumiyem sopan sembari menunduk dan membungkuk. “Tumiyem kemari.” Perintah Kirana. Tumiyem pun datang menghampiri Kirana yang sedang duduk di sofa kamar itu.
Tumiyem tersenyum malu saat mendengar permintaan dari Nyonya Mudanya. “baik Nyonya, serahkan saja kepada kami.” Tumiyem mundur perlahan dan membungkuk. Ia kembali menghampiri dua orang pelayan bawahannya.
“kalian berdua cepat bereskan kamar ini. Jangan sampai ada satu helai kain yang berantakkan. Jangan ada satu debu pun pada kamar ini karena Tuan Harun sangat pembersih dan tidak menyukai ruangan yang kotor ataupun berdebu.” Tumiyem tampak memerintah kepada dua pelayan itu.
Dua orang pelayan itu mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh kepala pelayan. Dengan membawa troli yang berisi segala macam alat pembersih, dua orang pelayan itu melakukan tugasnya.
__ADS_1
Pelayan pertama menyapu dan mengepel dan membersihkan ruangan. Pelayan yang kedua terlihat merapikan dan melanjutkan pekerjaan dari pelayan pertama. Sedangkan Tumiyem, ia turun tangan langsung dalam mengganti sprei kasur Nyonya dan Tuan Mudanya.
Saat Tumiyem melihat bercak darah pada kain, ia hanya bisa tersenyum senang. Baginya itu menandakan bahwa, ada cinta yang tulus di antara mereka. Tumiyem satu di antara yang lain yang tidak mengetahui rencana Tuan Harun beserta istrinya.
20 menit berlalu, pelayan itu melakukan pekerjaannya secara sempurna. Setiap pelayan yang diterima bekerja pada keluarga Harun adalah lulusan dari sekolah pelayan professional yang telah memiliki sertifikasi.
“Permisi Nyonya, kami telah menyelesaikan perintah Nyonya untuk membereskan serta membersihkan kamar ini, kami pamit Nyonya.” Tumiyem membungkuk diikuti dua pelayan yang berbaris sejajar dibelakangnya.
“baik, terima kasih, sekarang pergilah.” Perintah Nyonya Muda itu. Kemudian tiga orang itu pergi meninggalkan kamar baru dari pengantin baru itu. Tak lupa salah seorang pelayan membawa kembali troli yang berisi peralatan dan sabun pembersih serta keluar dari kamar tersebut.
Kirana melihat TV besar yang menempel di dinding kamar itu. TV itu sangat besar, sebesar kasur yang ditiduri oleh Kirana dan Tama tadi malam. Seumurnya hidupnya Kirana belum pernah melihat TV yang sebesar itu.
Kirana meraba TV itu, ia mencoba cari cara untuk menghidupkannya. Ia menatap ke sekelilingnya untuk mencari remote TV, tetapi ia tak juga menemukan remote TV yang ia cari.
Dar!
Suara hentakkan pintu terdengar sangat jelas. Segerombolan pria berbaju hitam masuk diikuti oleh Tuan Harun dan Nyonya Bella. Kirana melihat suaminya sedang diangkat oleh tiga orang pengawal pribadi bawahan Mario. Mario tampak berada di depan dan menyuruh tiga orang bawahannya itu meletakkan Tuan Mudanya pada kasur yang telah diganti dan dirapikan oleh pelayan wanita tadi.
__ADS_1
“Tamaa…” Nyonya Bella berteriak histeris sambil menangis. Kirana jelas melihat suaminya diletakkan di atas kasur tak bergerak dan berwajah pucat.