
Tiga pengawal itu pergi setelah meletakkan Tuan Muda mereka di atas kasur. Mario berjalan dan mengambil tempat di samping pintu kamar itu. Kirana yang berdiri melihat Mario yang ada di sana tak berani mendekati suaminya yang sedang bersama kedua orang tuanya.
“Mario, segera hubungi dokter Flo untuk bersiap kemari. Kau pergi sekarang juga untuk menjemputnya.” Titah Tuan Harun. “baik Tuan.” Sahut Mario singkat. ia pun bergegas mengambil ponsel pada kantong celananya dan keluar dari kamar tersebut.
“sayang, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Tama masih saja tak sadarkan diri.” Nyonya Bella bergemetaran dan lemas. Seperti biasa, gangguan kecemasannya mulai kambuh. “kau tenang saja sayang.” Tuan Harun membelai lembut bahu serta merangkul istrinya. “Mario sedang menjemput dokter Flo dan akan membawanya kemari dengan segera.” Tambah Tuan Harun.
Nyonya Bella tampak mengigit tangannya, ia mencoba untuk menahan kecemasan yang teramat ia rasakan itu. Setelah melihat Mario menghilang dibalik pintu kamar itu, Kirana melangkahkan kakinya untuk melihat lebih dekat calon suami dari ibunya tersebut.
“sayanggg…” peluk Nyonya Bella sesaat setelah Kirana berdiri di samping kasur tempat Tama tertidur. “ada apa Nyonya? Kenapa Tama tak sadarkan diri?” tanya Kirana saat melihat betapa pucatnya laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Nyonya Bella melepaskan pelukan itu.
“kami juga tidak tahu pasti sayang, kita tunggu saja dokter datang untuk memeriksanya.” Jelas Nyonya Bella, ia terlihat mengelap air mata yang membasahi pipinya itu. Kirana duduk pada kasur tempat Tama tak sadarkan. Ia memegang punggung tangan Tama. “semoga Tama tidak apa-apa Nyonya.” Kirana ikut prihatin melihat keadaan dari suaminya.
Kirana terus memandang Tama yang terlihat pucat pasih itu. Tuan Harun dan Nyonya Bella saling menatap dan tersenyum senang. Mereka sedang berpikir bahwa di antara Kirana dan Tama telah mulai tumbuh rasa yang mereka berdua yang ingin bangun untuk putranya. Walaupun Tama tadi di lapangan golf tidak terlihat senang, tetapi setelah melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh menantunya kepada Tama memperlihatkan sebuah titik terang bagi Tuan Harun dan Nyonya Bella.
Istri dari Tuan Muda itu sangat mengkhawatirkan Tama bukan karena ia mempunyai perasaan kepadanya. Yah, walaupun terkadang Kirana sangat mudah terbawa perasaan olehnya, tetap saja Kirana memberikan prinsip kepada dirinya untuk mengingat dan menghargai calon suami ibunya karena bagaimanapun Tama adalah calon ayahnya dan sangat mencintai Riyanda.
30 menit berlalu, Mario datang bersama seorang dokter perempuan muda yang bernama dokter Flo. “permisi Tuan, dokter Flo sudah datang.” Sapa Mario kepada Tuannya. Ketiga orang yang sejak tadi menunggu di dalam kamar itu menoleh secara bersamaan.
“wah… cantiknya!” Kirana menyeru dalam hati. “permisi om, tante, saya periksa dulu Tama ya tante.” Sapa Dokter Flo saat melewati kedua orang tua dari Tama. “om, tante?” Kirana bertanya dalam hati, siapa dokter itu yang memanggil mertuanya dengan panggilan om dan tante.
Yang paling mencengangkan lagi adalah dokter itu muda dan cantik. “Jika dokter itu masih single, lalu dia akan menjadi pesaing terberat ibuku.” Kirana menyeru dalam hati.
Kirana berdiri sebelum disuruh, ia beranjak dari tempatnya dan mengambil posisi sejajar dengan kedua orang tua dari suaminya tersebut. Nyonya Bella lekas meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. Kirana melihat mertuanya, Nyonya Bella melayangkan senyum sebagai isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja walaupun dirinya sendiri merasa sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“om, tante, apa Tama sudah sarapan?” tanya Dokter Flo sesaat setelah memeriksa keadaan dari Tuan Muda nan ganteng itu. “sarapan?” tanya Tuan Harun heran. “Kirana, apa Tama sudah sarapan tadi pagi?” Tuan Harun menatap tajam kepada menantu barunya.
“sarapan? Kami berdua belum sarapan Tuan. Kami berdua baru saja terbangun.” Jawab Kirana menunduk. Wanita yang telah direnggut kesuciannya dari putra Tuan Harun itu terlihat takut. “sayaannggg… tentu mereka akan bangun siang. Bukankah mereka baru saja melakukan malam pertama mereka.” Nyonya Bella tampak tersenyum malu sambil membelai dada suaminya.
Deg!
“malam pertama?” dua kata itu melayang-layang dipikiran dokter Flo. Ternyata dokter satu ini adalah teman masa kecil Tama. Ia telah menyukai Tama sejak kecil. Namun sayangnya, karena Tama mengidap penyakit Oedipus Complex, betapapun cantiknya Flo yang selalu bersama dengannya dari kecil tak dapat menarik hatinya. Selalu saja Tama tertarik kepada wanita separuh baya dan terlihat seperti ibu-ibu.
Dokter Flo menelan salivanya saat tersadar bahwa wanita disamping Tama tadi yang menurutnya bukan siapa-siapa ternyata adalah istri sah dari Tama. “ahhh… salahku terlalu lama tinggal diluar negeri hingga aku tak mengetahui lagi kabar dari Timi.” Doktet Flo menyeru dalam hati. Timi adalah panggilan kecil untuk Tama sejak mereka duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) dari dokter Flo.
“ahhhh… kau benar sayangku.” Tuan Harun mengecup kening istrinya. “sebenarnya ada apa ini Flo, apa yang terjadi kepada Tama?” Tuan Harun menatap dokter Flo. “om bisa suruh pelayan untuk masuk dan membawa makanan. Tama hanya sedang kelelahan dan perutnya kembung karena tidak berisi makanan. Kurasa dia kelaparan dan sangat kelelahan, bahkan beberapa gejala dehidrasi tampak padanya om.” Jelas dokter Flo.
“ah benar!” sahut Nyonya Bella tiba-tiba. “sayang... bukankah Tama telah berlari di tengah luasnya lapangan golf itu.” Bisik Nyonya Bella kepada suaminya. “benar, Mario segera beritahukan kepada pelayan untuk membawakan Tuan Muda makanan kemari. Cepat!” perintah Tuan Harun kepada pengawal pribadinya itu. “baik Tuan.” Jawab Mario singkat. kemudian Mario bergegas meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum meninggalkan ruangan itu, ketika ia melewati Kirana, sempat-sempatnya ia menoel bokong Kirana.
“What?!” sontak Kirana terkejut. Ia membulatkan matanya, ia pun menahan nafasnya karena takut. “sial! Awas kau Mario. Kurang ajar sekali kau! Tunggu pembalasan dariku.” Kirana menyeru kesal dalam hati. Wajahnya tampak marah walaupun tak mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Kirana yang tadi menahan nafasnya semakin menahan nafasnya karena tak sanggup melihat adegan mesra antara Tama dan dokter Flo. “ini lagi, tambah lagi dokter sial satu ini, jika ibuku tahu kau adalah rivalnya maka tamat riwayatmu dokter!” Kirana menyeru dalam hati dan berdecak kesal.
Karena telah lama menahan nafasnya, akhirnya Kirana menghembuskan nafas dan jatuh terduduk kemudian bernafas terengah-engah. “ada apa sayang?” Nyonya Bella lekas membantu manantu barunya untuk berdiri.
“tidak apa Nyonya.” Kirana berdiri dan mulai mengatur nafasnya lagi. “jangan panggil diriku dengan sebutan Nyonya sayang. Kau adalah menantuku, istri dari anakku. Panggil saja aku ibu sayang.” Nyonya Bella tersenyum manis layaknya senyuman seorang ibu kepada anaknya. Kirana tak pernah melihat Riyanda yang tersenyum seperti itu sama seperti senyuman Nyonya Bella barusan.
Kirana pun menjadi malu-malu dan salah tingkah. Ia tak menjawab perkataan dari mertuanya. Sedangkan dokter Flo, wajahnya tampak tidak menyukai sikap Nyonya Bella kepada Kirana yang terkesan sangat baik.
__ADS_1
“Flo, sejak kapan kau datang dari luar negeri? Mengapa kau tak memberitahuku?” tanya Tama tiba-tiba. “baru tadi malam aku sampai.” Sahut dokter Flo dengan ekspresi datar. “apa tadi malam? Kalau begitu kami sangat merepotkanmu. Maafkan kami sayang, kami tidak tahu kalau semalam kau baru sampai jadi kami menghubungimu. Padahal kau bisa saja melanjutkan istirahatmu karena mungkin jetlag mu saja belum hilang.” Nyonya Bella merangkul punggung tangan dokter Flo dengan rasa penyesalan.
“tidak apa-apa tante, lagian apa Tama mau di sentuh oleh dokter lain?” ejek dokter Flo sambil melirik ke arah Tama. “aahhhh benar, semenjak kau tidak ada. Tama tidak mau sama sekali berobat ke dokter dan ia hanya meminum obat se adanya.” Sahut Nyonya Bella.
“apa kau tidak mendapatkan undangan dari kami Flo? Kau bahkan tidak hadir di pesta pernikahanku kemarin.” Terang Tama. “iya, undanganmu sampai kok cuman aku masih sibuk untuk menyelesaikan S2 ku di sana, tapi kan sekarang aku sudah datang jadi kau tak perlu khawatir lagi.” dokter Flo tersenyum manis dan memegang tangan Tama. Sontak Kirana cemberut dan tak terima calon suami ibunya didekati oleh perempuan lain.
Tama membalas senyuman dokter Flo walaupun senyumnya itu masih saja terlihat lemah karena baru tersadar dari pingsannya. Dokter Flo memang mendapatkan undangan pernikahan Tama, bukan karena sibuk di negeri orang makanya ia tidak datang, melainkan karena hatinya terasa tercabik-cabik saat melihat undangan itu. Agar tidak hancur, ia pun memutuskan untuk tidak datang pada pesta pernikahan teman masa kecilnya itu. Namun, karena rindu yang teramat dalam kepada Tama, akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi. Dan pagi ini secara tiba-tiba dia mendapat kabar bahwa Tama sedang tak sadarkan diri hingga ia bergegas untuk datang ke kediaman Tuan Harun dengan di akomodasi oleh Tuan Harun sendiri.
“kalau begitu saya pamit om, tante, nanti saya akan meresepkan obat untuk Tama. Silahkan suruh Mario atau yang lain untuk membelinya di apotik.” Dokter Flo mencium punggung tangan Tuan Harun dan Nyonya Bella bergantian.
“ku rasa Tama masih tidak enak badan, bisakah kau tinggal saja di sini. Ku yakin kedua orang tua mu masih berada di jerman.” Nyonya Bella sedang berbaik hati kepada dokter Flo yang tinggal sendirian di rumahnya.
“benar, tinggallah di sini. Aku juga butuh kau Flo, walaupun umurku masih muda, tetapi entah mengapa sendiku sering merasa sakit. Apalagi setelah malam jumat, semua sendiku terasa seperti sedang ditusuk paku.” Terang Tuan Harun.
Mendengar kata habis malam jumat, sontak Nyonya Bella mencubit pinggir perut suaminya. “hehehe.. bisa saja om mu Flo, dia memang sering merasakan sendinya sakit. Tidak harus di malam jumat sakitnya.” Sahut Nyonya Bella tak enak hati.
Dokter Flo tertawa kecil melihat om dan tantenya itu. “om dan tante memang sangat romantis, aku senang mendengarnya om. Tetapi maaf aku tidak bisa tinggal disini, nanti kalau ada apa-apa silahkan suruh saja Mario menjemput lagi.” jelas dokter Flo. Lalu dokter cantik itu berlalu dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan kamar baru dari pengantin baru itu.
“Flo..” Tama memegang lengan dokter cantik itu. “tetaplah disini, aku membutuhkanmu.” Kata Tama dengan nada yang melemas.
Deg!
“Kenapa harus kau yang menahanku Tama. Aku tidak akan bisa menolaknya.” Gumam dokter Flo dalam hati. “ahhh… baiklah.” Nonya Bella mengambil telepon rumah dan menekan tombol sembilan. “pelayan, siapkan satu kamar untuk dokter Flo. Siapkan kamar yang berada di samping kamar Tama saja ya.” Nyonya Bella menutup panggilan suara itu.
__ADS_1
“tante?” dokter Flo menatap heran kepada Nyonya Bella. “ayolah sayang, Tama yang mengajakmu tinggal, jadi mau ya pleaseee…” Nyonya Bella seraya memohon kepada dokter cantik itu. “huf baiklah.” Dokter Flo menghela nafasnya. Ia terlihat murung walaupun dalam hati ia sangat merasakan kegembiraan saat yang menahannya untuk tinggal adalah Tama.
Sementara itu Kirana yang menyaksikan semua itu seakan merasakan sakit perut. Ia merasa jijik dengan semua adegan yang dilihatnya barusan. Entah apa mau dari Tama, setelah mencintai Riyandah ibu dari Kirana, mengambil kesucian anaknya, dan sekarang malah menahan seorang dokter cantik yang dibenci oleh Kirana karena menganggap wanita itu adalah pesaing ibunya.