Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 28


__ADS_3

Riyanda masuk ke dalam mobil dengan dibukakan pintu oleh Abellard. Kali ini ia memilih duduk dibangku depan mobil tersebut.


“dans quel hôtel allez-vous séjourner, Riyanda?”


(kau akan menginap di hotel mana Riyanda?)


Sebelum menginjak pedal gas pada mobil miliknya, Abellard ingin memastikan terlebih dahulu tujuannya karena jika tidak dia tidak dapat mengatur strategi agar terhindar dari macetnya kota Paris.


“emmène-moi à l'hôtel Shangri-La Paris!”


(antarkan aku ke hotel Shangri-La Paris.)


Riyanda memegang punggung tangan Abellard yang sedang memegang tuas untuk mengganti lajur mobil tersebut.


“Je suis désolé chérie, parce que je dois revenir demain. J'espère que tu te marieras après mon départ cette fois.”


(maafkan aku sayang, karena aku harus kembali besok. Ku harap kau akan menikah setelah kepergianku kali ini.)


Riyanda menatap intens kepada mantan suaminya tersebut. Abellard tak sanggup menahan perasaannya yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Mata dari lelaki itu tampak berkaca-kaca karena menahan air matanya, ia tak mau memperlihatkan kepada Riyanda betapa dalam cintanya untuk wanita tersebut.


“tu me manqueras toujours.”


(aku akan selalu merindukanmu.)


Abellard memeluk hangat mantan istrinya. Riyanda menghela nafasnya, untuk yang kedua kalinya ia menyakiti laki-laki yang baik yang ada di dekatnya tersebut. Riyanda membalas pelukan itu dengan erat. Setelah Abellard cukup lama memeluk wanitanya, ia pun melepaskan pelukan itu.


“j'espère que tu es toujours heureuse chérie.”


(aku harap kau selalu bahagia sayang.)


Abellard mencium kening Riyanda kemudian kembali memeluknya dengan hangat. Riyanda melepaskan pelukan yang memang terasa hangat dan nyaman itu, ia merasakan ketulusan dari Abellard tepat dihatinya, namun sayangnya Riyanda wanita yang gemar berpetualang.


“je pense que ce sera toujours comme ça. merci pour tout mon Abellard.”


(ku rasa akan selalu seperti itu. terima kasih untuk semuanya Abellardku.)


Riyanda membalas kecupan Abellard pada pipinya.


“allons-y maintenant! Je suis assez fatigué et je me sens toujours en décalage horaire.”

__ADS_1


(mari kita pergi sekarang! Aku cukup lelah dan masih merasakan Jetlag.)


Kemudian Abellard mengingjak pedal gas pada mobil yang telah dihidupkan sejak tadi tersebut. Lelaki lajang itu mengantarkan mantan istrinya ke sebuah hotel berbintang di sekitaran menara Eiffel yang menjulang tinggi ke langit.


Sesampainya dihotel, Abellard langsung turun dan menurunkan koper merah hati milik Riyanda. Di dalam mobil, sebelum turun Riyanda mengenakan kacamata kecoklatan miliknya agar makin terlihat fashionable.


“nous sommes là bébé.”


(kita sudah sampai sayang.)


Abellard membukakan pintu kepada mantan istrinya. Riyanda menurunkan kaki mulusnya dengan menggunakan sepatu highheels berwarna putih.


Flashback off


*


*


“ada apa Vindra, apa yang membuatmu berteriak seperti itu.” Tama setidaknya panik mendengar suara teriakan seorang pria yang terdengar seperti teriakan seorang wanita. Kirana menyusul Tama dan bersama berada di samping Vindra pada masing-masing kirinya. Sepasang pengantin baru itu memegang lengan Vindra dan menenangkannya.


“itu-itu… aku melihat sebuah kaki perempuan di dalam lemari itu.” Vindra menunjuk lemari kitchen pada bagian bawah tersebut. Tangan Vindra bergemetar, keringatnya bercucuran seperti sebuah kran air yang terbuka. Sedangkan seluruh tubuhnya seakan lemas.


“ya Tuhaannn…” Kirana yang melihat kaki itu pun terperanga, mulutnya terbuka lebar namun cepat ia tutup menggunakan kedua telapak tangannya.


“ibuuuuu….” Kirana meninggalkan Vindra bersama Tama. Ia gegas mendekati sosok perempuan yang ia kenal itu. Perempuan yang sekujur tubuhnya tampak pucat dan tak bergerak. Wajahnya dipenuhi dengan darah luka parah seperti habis disayat oleh pisau tajam.


“Tama apa yang kau lakukan? Cepat telepon polisi sekarang juga!” teriak Kirana sesaat menoleh ke arah suaminya dengan tatapan yang tajam. “sebenarnya dia siapa Kirana?” Tama tak percaya dengan teriakan Kirana yang memanggil perempuan itu dengan kata ibu. Di dalam benaknya Riyanda tidak sejelek mayat itu yang berlumuran darah dan tak dapat dikenali.


“sepatu yang dipakai wanita ini adalah sepatu milik ibuku. aku tahu betul itu. cepat telepon polisi Tamaaa…” berang Kirana. Ia bahkan meneriaki suaminya yang tak bersalah itu. Dengan tangan yang bergemetaran, Tama meraih ponselnya yang berada di kantong celananya. Sedangkan Vindra terbujur kaku tanpa berkata dengan wajah pucat menyaingi wajah mayat yang ia temukan itu.


“ha… halo pak! Apa ini kantor polisi?” bibirnya Tama bergetar sesuai dengan ritme getaran tangannya. sedangkan jantung Tama lebih unggul dengan jantung yang berdegup lebih cepat dari getaran bibirnya.


“iya benar, ada apa pak? Ada yang bisa kami bantu?” suara jawaban polisi pada panggilan suara tersebut. “bisa bapak ke sini, kami menemukan mayat seorang perempuan dengan luka parah diwajahnya.” Tambah Tama. “silahkan kirimkan alamat tempat bapak sekarang berada.” Sahut pak polisi.


Tama memutuskan panggilan suara itu secara sepihak. Ia membuka aplikasi pesan untuk mengirimkan titik lokasinya kepada nomor telepon yang tertera pada ponselnya. Nomor tersebut adalah nomor kantor polisi yang diketahui masyarakat umum. Sebuah nomor untuk layanan masyarakat selama 24 jam.


Kirana bergerak semakin dekat mendekati mayat itu. “Jangan!” Tama berteriak dengan tegas kepada istrinya. “kau jangan menyentuhnya hingga polisi datang kemari. Polisi akan melacak sidik jari sang pelaku jika ini kasus pembunuhan. Kau jangan menyentuhnya dan mencampuri sidik jarimu pada mayat itu.” perintah Tama.


Kirana tampak sangat ingin memeluk mayat wanita itu namun perkataan dari suaminya sangat masuk akal dan membuatnya tertegun dan meneteskan air mata.

__ADS_1


*


*


Flashback on


Keesokan harinya Riyanda sedang sarapan di restaurant yang ada pada menara Eiffel. Restaurant berbintang yang setinggi 125 meter tersebut berada pada lantai dua pada menara Eiffel yang bernama Le Jules Verne Restaurant.


Riyanda tampak menyantap sajian menu Extraordinary Voyages. Ia menyempatkan makan siang pada restaurant itu sebelum keberangkatannya pulang ke Indonesia.


“vous êtes magnifique avec ce collier Vague Madame.”


(kau terlihat sangat cantik dengan mengenakan kalung Vague itu Nyonya.)


Seorang pelayan menyapa Riyanda saat mengantarkan pesanannya.


“sérieuse? Merci.”


(sungguh? Terima kasih.)


Riyanda tersenyum manis kepada pelayan itu lalu menyantap sarapannya sampai dengan selesai. Gerkkk… sebuah pesan masuk dari bank lokal Indonesia. Gegas Riyanda mengecek saldo rekening miliknya. Sejumlah uang telah masuk ke dalam rekening itu sebesar 900 triliun rupiah.


30 menit berlalu, Riyanda beranjak dari tempatnya dan telah menyelesaikan tagihan pembayarannya pada restaurant tersebut. Sekarang ia tengah menunggu taksi untuk pergi ke bandara menaiki pesawat tumpangannya.


Sesampainya di bandara, tiba-tiba saja Abellard menghampirinya. Sontak Riyanda terkejut dan tak menyangka. Bagaimana mungkin Abellard bisa tahu jam keberangkatannya.


Riyanda, je te supplie de rester avec moi cette fois.”


(Riyanda, ku mohon untuk kali ini tinggallah bersamaku.)


Abellard menggenggam erat tangan Riyanda. Genggaman tangan itu ditampik oleh Riyanda.


“Abellard, qu'est-ce qui t'arrive? arrête tes conneries.”


(Abellard, ada apa denganmu? Hentikan omong kosongmu itu.)


Riyanda meninggalkan Abellard sendirian dan bergegas menyeret koper merah hati miliknya lalu masuk ke dalam untuk check in.


“Riyanda, cette fois je ne te permettrai plus de me quitter.”

__ADS_1


(Riyanda, untuk kali ini aku tidak akan membiarkanmu untuk meninggalkanku lagi.)


Abellard menggetarkan bibirnya, raut wajahnya tampak marah. Ia mengeluarkan sebuah tiket pesawat yang sama dengan pesawat yang dipakai Riyanda untuk pulang ke Indonesia.


__ADS_2