Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 22


__ADS_3

“tidak, aku akan tetap pulang Riyanda.” Tama berdiri. Kirana meraih lengan Tama. “tinggallah untuk semalam.” ajak Riyanda. Ibu dari Kirana itu mencoba untuk merayu calon suaminya. Tama duduk kembali dan mengambil tempat di samping Riyanda. “maaf Riyanda, walau aku menyukaimu, aku tetap tidak bisa. Setelah menikah, aku yang akan menahanmu agar terus bersamaku.” Ujar Tama sembari memegang kedua pipi Riyanda dan mencium kening wanitanya.


“ternyata kau lebih baik dibandingkan dengan ayahmu.” Riyanda menyeru dalam hati. “aku akan kembali besok pagi.” Tama melepaskan tangannya yang menempel pada kedua pipi Riyanda. Riyanda mengangguk setuju dan mengantar calon suaminya itu hingga keluar melewati pintu apartemennya.


Flashback off


Tama beserta istri akhirnya sampai di sebuah rumah kecil yang sederhana. Kirana tampak membuka alas kaki yang ada di depan pintu. Ia mengambil sebuah kunci yang berada di bawah alas kaki tersebut.


“ayo masuk Tama.” Ajak Kirana saat berhasil membuka pintu rumahnya. Tama masuk dan melihat sebuah ruangan yang cukup sederhana. Ruagan itu sangat jauh berbeda dengan apartemen Riyanda apalagi kediaman keluarga Harun.


“silahkan duduk Tama.” Ucap Kirana. Tama masuk dan duduk pada kursi tamu yang ada pada ruangan tersebut. Kursi itu adalah kursi sederhana yang terbuat kayu dengan busa kursi yang dibalut bahan kulit biasa yang berwarna merah.


“kau tunggu saja disini, aku akan ke dapur sebentar.” Kata Kirana kemudian meninggalkan Tama sendirian di rumah itu. Rumah itu tampak berdebu dan berantakkan. Baru saja dua hari Kirana meninggalkan rumah itu entah mengapa rumah itu sudah terlihat sangat berdebu. Mungkin karena Tama yang tak pernah mendapati ruangan yang berdebu seperti itu. karena Tama selalu saja punya pelayan yang membersihkan rumahnya dan selalu saja tempat yang ia datangi adalah tempat-tempat elite yang mempunyai standard kebersihan tersendiri.


Berselang beberapa menit, Kirana kembali dengan membawa sebuah nampan berisikan secangkir teh manis yang panas. “ini silahkan diminum.” Kirana meletakkan cangkir yang berisi air teh itu di atas meja tepat di depan Tama. Untuk beberapa saat Tama bernostalgia membayangkan saat pertama kali ia masuk ke dalam apartemen mewah Riyanda.


“oh ya terima kasih, kau tidak usah repot. Kita tidak akan berlama-lama disini.” Terang Tama. “bisakah kau menungguku sebentar, aku akan ke kamarku untuk mengambil ponselku.” Sahut Kirana. “baiklah.” Jawab Tama singkat kemudian ia mengambil cangkir itu dan meminumnya.

__ADS_1


Kirana kembali meninggalkan Tama sendirian pada ruang tamunya. Gegas langkahnya terlihat seperti orang yang sedang tergesa-gesa. Sesampainya di kamar, alih-alih mengambil ponselnya, ia langsung menuju toilet untuk buang air kecil karena sejak tadi dalam perjalanan ia telah berusaha menahannya dan enggan untuk memberitahu kepada Tama.


“sruttt…” Kirana merasakan rasa perih pada alat vitalnya saat air seninya keluar. “sial! Jika dia bukan calon suami ibu, aku pasti akan marah besar dan menghajarnya.” Kata Kirana dalam hati. Yah, setelah kesuciannya direnggut oleh Tama, kini Kirana masih merasakan perih setiap buang air kecil dan itu menyiksanya.


Setelah selesai buang air kecil, Kirana menuju nakas yang berada disamping kasur dan mengambil ponselnya yang telah tergeletak. Ia mendapati ponselnya itu matot alias mati total karena telah kehabisan baterai dan tak di cas selama kurang lebih dua hari. Kirana pun keluar dari kamar tidurnya dengan membawa ponsel dan cas hpnya.


“Tama, ponselku mati. Jadi kurasa aku harus mengecas dan menunggunya untuk beberapa saat agar bisa menelepon ibuku.” Kirana meletakkan ponselnya di atas meja dan mencolokkan casan itu serta mengecas ponselnya pada ruang tamu itu.


Tama mengangguk meng-iyakan. Mereka berdua duduk di ruang itu tanpa berbicara sedikit pun. Jika Tama terus berpikir mengenai perbedaan yang ada di rumah Kirana dengan apartemen milik Riyanda, maka berbeda dengan Kirana, wanita itu sedang memikirkan bagaimana caranya ia bisa kabur.


Ingin sekali rasanya saat itu juga Kirana melarikan diri, namun kemanakah Kirana harus pergi mengingat bahwa hanya rumah itulah tempat satu-satunya yang ia bisa tinggali. Ia tak pernah kemana pun semenjak menetap di Indonesia. Bahkan Kirana tidak sering nongkrong seperti anak muda lainnya.


“hey, ku rasa kau sudah bisa menghidupkan ponselmu.” Tama membuyarkan lamunan dari Kirana. “ahh iya.” Jawab Kirana singkat dan menghidupkan ponsel miliknya. “ya ampunnn..” Kirana menepuk jidatnya menggunakan tangan.


“ada apa Kirana?” Tama menegakkan duduknya. “sudah lama kartuku mati Tama.” Seketika wajah Kirana murung, ia sedang berkata jujur. “apa? Bagaimana mungkin?” Tama berdecak heran. Zaman sekarang masih ada manusia yang seperti Kirana, bahkan kartunya mati ia baru tahu.


“apa baru hari ini kartumu mati Kirana?” Tama mendekati istrinya dan mulai melihat layar ponsel yang tidak memiliki jaringan itu. “benar, sepertinya kartumu memang mati.” Tama mundur dan duduk kembali ke tempatnya semula. Ia akan selalu menjaga jaraknya karena Kirana sangat menggoda baginya setelah malam panas itu.

__ADS_1


“tidak, kartuku sudah mati satu tahun yang lalu.” Kirana meletakkan ponselnya. “what! Maksudmu bagaimana? Tidak masuk akal jika kartumu sudah satu tahun mati dan kau tidak mengisi atau menggantinya.” Tama tampak kesal, ia mulai merasa dipermainkan oleh Kirana.


“jika kartumu mati, bagaimana bisa kau selama ini menghubungi ibumu?” Tama meninggikan suaranya. Kirana tertegun dan tertunduk malu. “Kirana, jawab aku!” “apa kau mengelabuiku?” Tama membulatkan matanya.


“tidak, aku tidak mengelabuimu. Selama ini aku jarang berkomunikasi melalui ponsel. Ibuku akan pulang dan pergi sesuka hatinya dan aku selalu disuruh untuk menjaga rumah dan membereskannya. Aku juga akan memasak jika ibu pulang dan merasa lapar.” Jelas Kirana.


“selama ini ibu jarang memberikanku uang. Jadi saat kuotaku mati atau pulsaku habis aku tak sanggup membelinya hingga kartuku mati satu tahun yang lalu.” Tambah Kirana.


“kenapa ini semua terdengar tidak masuk akal. Apa kau benar anak Riyanda.” Tama berdiri dan masuk ke rumah lebih dalam. Dia sedang mencari sesuatu bukti bahwa apa benar rumah itu adalah rumah Riyanda dan Kirana adalah anaknya.


“Tama apa yang kau lakukan?” Kirana mencoba menghentikan Tama yang memporak-porandakan rumah itu. Tama memulainya dengan masuk ke kamar Kirana terlebih dahulu. Ia melihat ke sekeliling dinding, tidak ada satu foto pun disana. Tama melanjutkan dengan membuka laci nakas Kirana, tangannya terhenti kala melihat sebuah foto yang berbingkai, foto itu adalah foto Kirana bersama Riyanda.


“hentikan Tama.” Kirana menarik paksa foto yang sedang dipegang oleh Tama. “ada apa denganmu?” mata Kirana mulai berkaca-kaca. “arghhh…!” Tama melempar vas bunga di atas nakas hingga pecah.


“Kirana ku rasa kau tahu bahwa aku mencintai ibumu. Tetapi dengan melihat kondisimu disini, aku tidak percaya lagi bahwa kau anak dari Riyanda.” Tama memegang kepalanya seakan frustasi dengan itu semua.


“lalu bagaimana dengan foto ini, apa ini Riyanda yang kau kenal?” Kirana memperlihatkan foto dirinya yang sedang bersama ibunya kepada Tama. Suaminya itu terdiam beberapa saat dan melihat foto itu. “iya benar, dia Riyanda.” Sahut Tama. “dan dia juga ibuku. Jadi tidak ada lagi alasan kau mengatakan aku bukan anak ibuku.” jelas Kirana.

__ADS_1


“sebaiknya kau ikut denganku sekarang juga.” Tama menarik lengan Kirana dan membawanya pergi dari rumah itu.


__ADS_2