
Namun apa boleh buat, niat hati menjadikan kejadian babak belurnya para pengawal di kediaman tuan Harun sebagai alasan agar Kirana bisa melarikan diri dari rumah megah bak penjara itu menjadi gatot (Gagal Total).
“ahhh baiklah.” Kirana hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Keesokan harinya Maria kembali datang dengan pengawal pribadi yang lebih banyak dari sebelumnya.
Gedebuk\~
Gedebak\~
Blurrr\~
Semua pengawal pribadi tuan Harun yang sudah ditambah jumlahnya serta dikatakan handal oleh Mario tetap saja kalah telak dikandangnya sendiri sama seperti kemarin.
“ini kah yang dinamakan kediaman keluarga Harun? yang katanya berisi pengawal handal disetiap pintu dan tak tertembus? Cuihhh…!” Maria meludah pada ruangan besar yang berisikan beberapa sofa dan tempat duduk untuk tamu tersebut.
“apa lagi yang kau inginkan ha?” teriak Tama yang sedang berlutut dengan kedua lengan yang dipegang oleh anak buah dari tuan Azego. Semua orang di rumah itu berlutut dengan masing-masing dipegangi oleh para anak buah tuan Azego agar tidak bisa melakukan perlawanan. Setiap pria seperti Tama, tuan Harun, dan Mario masing-masing dipegangi oleh dua orang lelaki berbadan besar nan garang, begitu pula dengan para pengawal pribadi tuan Harun. Sedangkan wanitanya seperti Kirana, Nyonya Bella, dokter Flo dan Tumiyem dipegangi oleh satu orang laki-laki berbadan besar nan garang tersebut.
“bawa wanita itu ke sini!” perintah Maria kepada pengawal bawahannya. Kemudian bawahan dari Maria tersebut menyeret dokter Flo. “tidak jangan!” teriak histeris dokter Flo saat diseret dengan rambut yang ditarik.
“Sungguh kasian dokter cantik satu itu.” gumam Kirana.
__ADS_1
“bukan!” bentak Maria kepada bawahannya yang terlihat bodoh. “dasar bodoh!” umpat Maria kepada bawahannya tersebut karena yang Maria maksud adalah Kirana bukan dokter Flo. Maria beranjak dari tempatnya untuk membawa Kirana dengan tangannya sendiri.
“aku menyuruhmu membawa wanita ini dasar bodoh!” kata Maria sesaat setelah memegang rambut Kirana. Kirana diam tak melawan, ia juga pasrah dan tidak berteriak. Jika yang lain dibasahi oleh keringat karena tegang akibat penyerangan itu, maka Kirana santai dengan wajah sendunya karena memang dia menunggu untuk dibawa keluar dari rumah megah itu.
Kirana diseret ke dapan oleh Maria agar bisa berada disetiap hadapan anggota keluarga suaminya beserta dengan pengawal dan pelayannya. “tidak jangannn…” teriak Tama saat melihat istrinya di seret dengan paksa.
“jangan Maria, jangaaannn…!” teriak Mario yang ternyata lebih histeris lagi dari Tama. Para pengawal pribadi dari tuan Azego yang hadir diruangan itu saling melihat satu sama lain saat melihat reaksi Mario yang cukup aneh, terlebih lagi dengan Maria. Ketua pengawal pribadi tuan Azego tersebut gegas melangkahkan kaki dengan menyeret Kirana untuk mendekati ketua pengawal pribadi dari keluarga Harun yaitu Mario.
“ada apa Mario? Mengapa kau terlihat sangat marah saudaraku?” tanya Maria dengan mendekatkan wajah Kirana kepada wajah Mario. Seketika Mario seperti cacing kepanasan. Mario menggerakkan seluruh tubuhnya sekuat tenaga untuk terlepas dari ikatan itu dan cengkraman tangan dari dua orang kekar dibelakangnya agar bisa mencium Kirana.
“Maria…” bengis Mario. “kau tidak perlu khawatir kakak, wanita ini lebih aman denganku dibandingkan denganmu yang sangat lemah itu.” terang Maria dengan tawa tipis di wajahnya.
“kakak?” semua orang bergumam dipikirannya masing-masing. Yah, Maria adalah saudara kembar dari Mario. Hanya saja Maria adalah adik kembar yang berjenis kelamin perempuan. Walaupun Maria seorang perempuan dan seorang adik, tetapi dalam hal fisik ia lebih Tangguh dari saudara kembarnya yang bernama Mario.
“Maria, aku peringatkan kau, jangan lakukan ini! Aku tidak akan memberikan ampun kepada siapapun meskipun kau adalah saudara kembarku!” berang Mario. Seketika semua orang yang tinggal di kediaman tuan Harun terkejut.
“Hahaha…” sontak Maria tertawa terbahak-bahak sendirian, kemudian diikuti oleh bawahannya. Sedangkan orang-orang yang berada di kubu tuan Harun tampak bingung. Karena kedua orang ini sama sekali tidak mirip sehingga rasanya kurang tepat jika mereka dikatakan saudara kembar.
“aku tidak sudi menjadi saudara kembarmu!” Maria menodongkan pistol ke leher saudara kembarnya. Sontak hal itu membuat Mario terdiam dan menelan salivanya. Mario saat ini sedang mati kutu.
“hentikan Maria!” teriak tuan Harun. Akhirnya tuan Harun angkat bicara di tengah percakapan panas antar saudara kembar itu. “jika ini masalah pribadimu jangan bawa keluargaku. Kau tinggal bawa saja Mario. Untuk apa kau menyeret kami semua ke masalah keluargamu.” Berang tuan Harun.
__ADS_1
“maaf tuan kakek Harun. Aku tidak mempunyai masalah keluarga karena sejak dulu aku tidak mempunyai keluarga ataupun saudara kembar. Cuih!” Maria meludahi wajah saudara kembarnya.
Kirana yang berada tepat di depan Mario menarik kedua sudut bibirnya perlahan saat melihat Mario yang baru saja diludahi itu. Kirana merasakan kemenangan yang luar biasa. Kemenangan yang tanpa harus membuatnya turun tangan karena Tuhan memang maha adil.
Mario menyeringai geram, jika saja dia tidak terikat dan dibelenggu oleh tangan kedua pria kekar yang ada dibelakangnya, mungkin ia akan memangsa saudara kembarnya itu hidup-hidup.
“masalahnya adalah ini bukan urusanku tuan, ini adalah perintah dari tuanku, tuan Azego. Ku rasa semua orang di ruangan ini sudah mengenalnya bukan?!” Maria kembali melayangkan senyuman tipis penuh kebanggaan pada wajahnya itu.
“Maria!” teriak Tama. “ada apa tuan muda?” sahut Maria dengan mendekat ke sumber suara. Kirana masih saja ia seret hingga berada di dekat tuan muda itu. “Kirana…” panggil Tama cemas saat Kirana mendekatinya bersama dengan pengawal wanita yang berpenampilan persis seperti laki-laki itu.
Tama gegas mendekatkan wajahnya dan berbisik kepada istrinya. “apa kau tidak apa-apa Kirana?” bisik Tama. Kirana mengangguk seraya berkata iya aku tidak kenapa-kenapa.
“ohhh… kalian sangat manis.” Kata Maria saat melihat kedua kening dari sepasang suami istri itu saling bersentuhan.
“Maria, kau bilang akan memberikan kami waktu 1 hari. Ini bukan satu hari Maria. Di dalam rentang waktu 1 hari itu ada 24 jam sedangkan kau datang hanya dalam waktu 12 jam.” Terang Tama dengan tangan yang terikat dan berlutut di lantai karena tangan dan bahunya dipegangi oleh dua orang pria berbadan kekar dibelakangnya.
“benarkah? Ku rasa bagi tuan Azego satu hari miliknya hanya 12 jam hahaha…” Maria kembali tertawa dengan penuh kebanggaan. “dasar kalian orang gila!” berang Nyonya Bella yang tadinya memilih diam namun sekarang ikut ambil bagian untuk berbicara walaupun seluruh badannya terasa lemas karena gangguan kecemasannya yang mulai kambuh.
“Nyonya cantik, lebih baik kau diam saja. Jika kau tak ingin pingsan saat melihat darah yang muncrat dari kepala menantumu ini.” Maria menaruh pistol itu tepat di kepala Kirana.
“jangannnn.” Teriak Tama, Mario, dan Nyonya Bella bersamaan. Sedangkan dokter Flo, Tumiyem serta tuan Harun memilih untuk diam.
__ADS_1
“Maria, lepaskan aku!” teriak tuan Harun. “jika benar yang diinginkan oleh tuanmu adalah uang, kau harus melepaskan aku agar aku bisa mengambil uang dibrangkasku.” Tambah tuan Harun.
Kakek tua itu sangat merasakan kemarahan di dalam dadanya. Jika saja dia masih muda, dia akan terus melawan hingga menang. Namun apa daya, untuk mengangkat lututnya berjalan saja dia membutuhkan sebuah tongkat untuk menopang dirinya.