Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 18


__ADS_3

“baiklah Timi, aku akan disini sampai kau merasa fit. Setelah kau sudah enakan dan mulai membaik, aku akan pulang.” dokter Flo tersenyum manis kepada Tama. Selang beberapa menit seorang pelayan masuk. “permisi Tuan kamar sudah siap.” Kata Tumiyem sambil menunduk dan membungkuk sesaat setelah memasuki kamar Tuan Mudanya.


“ahhh baiklah, mari ku antar kau ke kamarmu sayang.” Nyonya Bella merangkul dokter Flo. Mereka sedang menuju ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh pelayan keluarga Harun. Tumiyem tampak mengikuti kedua orang itu dari belakang.


“permisi Tuan makanan sudah datang” Mario datang dengan membawa dua orang pelayan wanita di belakangnya. Dua pelayan wanita itu masing-masing membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman. Makanan dan minuman itu untuk dua orang yang ditujukan kepada untuk Tuan Muda dan Nyonya Mudanya.


Dua pelayan wanita itu meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja kecil yang telah disediakan sebagai sarana untuk Tuan Muda mereka makan. Kirana kembali mengambil tempat dan duduk pada kasur di samping Tama untuk membantu para pelayan itu. Kemudian dua pelayan itu permisi dan keluar dari kamar tidur Tuan Mudanya.


“ternyata kau anak yang baik.” Bisik Tama kepada Kirana. “oh tentu, karena aku anak ibuku.” Sahut Kirana. Tuan Harun terlihat gembira saat pengantin baru itu saling berbisik di hadapannya. Sedangkan Mario, samudera birahinya terus naik saat terus menatap Kirana dari dekat.


“Mario, tebus resep obat ini.” Tuan Harun memberikan sebuah kertas resep obat yang diberikan oleh dokter Flo sebelum ia keluar ruangan. “kau juga silahkan pergi bersama pelayan wanita untuk memberikan segala kebutuhan dokter Flo saat tinggal di rumah ini.” Titah Tuan Harun.


“baik Tuan.” Mario menjawab singkat dan beranjak dari tempatnya untuk pergi melaksanakan perintah dari Tuannya. Kali ini ia tak berani menoel lagi bokong Kirana karena ia takut ketahuan jika melakukan itu. Mengingat bahwa Kirana sedang duduk di samping Tama dan di depan Tuan Harun.


“ahhhh sial, bokong seksi itu tak dapat ku sentuh lagi.” gerutu Mario sesaat setelah pergi dari ruangan itu.


Sementara itu Nyonya Bella yang telah bersama dengan dokter muda kesayangannya sudah sampai pada sebuah kamar tamu yang telah di persiapkan sepuluh pelayannya. Dengan sepuluh pelayan wanita yang membersihkan ruangan itu secara bersamaan membuat ruangan itu selesai dalam hitungan menit dan menjadi bersih juga rapi.


Saat masuk ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya oleh keluarga Harun, dokter Flo langsung mencium aroma bunga kasturi. Ruangan itu di penuhi bunga-bunga hidup yang wangi. “tante sudah tahu sejak kecil kau sangat menyukai bunga, jadi kami menjadikan kamarmu bagaikan tanaman bunga.” Terang Nyonya Bella.


“tante tidak perlu serepot ini.” Dokter Flo terlihat gembira dengan pelayanan yang diberikan kepadanya, terlebih kejutan dari bunga-bunga indah itu. Dokter Flo mendekati sebuah vas bunga yang ada di atas meja yang berisi bunga mawar. Ia mengambil sebatang bunga mawar segar itu dan menghirup aroma bau harum dari bunga tersebut.

__ADS_1


“sungguh wangi tante.” Dokter Flo tersenyum senang kepada Nyonya Bella. “bunga itu sangat mirip denganmu, ia cantik dan indah seperti kau selalu saja cantik dan elok untuk dipandang sayang.” Nyonya Bella membelai rambut panjang dokter Flo.


“tante bisa saja.” Ujar dokter Flo dengan pipi yang memerah. “kalau saja Tama mau menikah denganmu, tentu tante akan sangat bergembira.” Tiba-tiba saja mimic wajah dari Nyonya Bella berubah murung.


“tante bilang apa, jangan seperti itu tante. Istri Tama juga tidak kalah cantik tan.” Dokter Flo tampak memegang punggung tangan Nyonya Bella. “yah, ia memang cantik tetapi…” kalimat Nyonya Bella terhenti kala ia tersadar untuk tidak meneruskannya. Untuk apa menceritakan keadaan sebenarnya kepada dokter Flo yang tidak tahu apa-apa itu.


“tetapi kenapa tan?” dokter Flo menjadi penasaran akibat sebuah kalimat dari Nyonya Bella yang terkesan meyakinkan namun ragu untuk meneruskannya. “sudahlah sayang, lebih baik kau istirahat dulu. Pada saat makan siang, datanglah untuk makan siang bersama kami. Tante akan menantikan kehadiranmu sayang.” Nyonya Bella kembali membelai rambut dokter Flo.


“tante akan melihat keadaan Tama dulu, ku rasa para pelayan wanita sudah datang untuk membawakannya makanan.” Tambah Nyonya Bella. Kemudian Nyonya yang berambut pendek sebahu itu pergi meninggalkan dokter Flo sendirian.


“sepertinya ada yang tidak beres dengan pernikahan Timi.” Dokter Flo menyeru dalam hati. Ia tampak menopang dagu dengan dahi yang dikerutkan. Dokter muda nan cantik itu terlihat berpikir dan mulai menyusun strategi untuk mengetahui rahasia apa yang disimpan oleh keluarga kaya itu.


Diruangan sebelah, tepatnya pada kamar baru Tama dan Kirana, Tuan Harun masih berdiri tegap dengan sebuah tongkat hitam yang dipakainya untuk menopang kedua lututnya yang lemah. “hai sayang, apa kau menungguku?” Nyonya Bella melayangkan kecupan singkat pada bibir suaminya.


“kalian berdua silahkan makan, ayah akan menemui dokter Flo untuk berkonsultasi. Lutut ayah akhir-akhir ini memang sering terasa sakit.” Terang Tuan Harun. “ahhhh aku harus bilang apa yah.” Sahut Tama. Jika ia mengatakannya yang sebenarnya bahwa ayahnya memang sudah cukup tua untuk merasakan sakit pada lututnya maka ayahnya akan dengan cepat tersinggung dan susah untuk kembali mengambil hatinya. Namun, Tama juga tidak mau berbohong dengan menyanjung dan mengatakan bahwa ayahnya masih cukup muda dan itu hanya sebuah penyakit yang tak biasa yang dialami oleh pria yang berumur muda.


“sssttt…” Nyonya Bella mengeluarkan suara seperti ular dan memberikan sinyal kepada Tama agar tetap diam saja. “kalau begitu mari kita temui saja dokter Flo sekarang sayang.” Gegas Nyonya Bella menarik lengan suaminya untuk segera keluar dari ruangan itu.


Setelah keluar, alih-alih mengajak suaminya ke kamar tamu yang ditempati oleh dokter Flo, Nyonya Bella membawa suaminya untuk pergi ke ruang gym. Ruang khusus olahraga milik keluarga Harun itu berada jauh dari kamar yang baru saja mereka tinggalkan.


“sayang, mengapa kau membawaku ke sini? Bukankah kamar dokter Flo ada di sebelah kamar Tama?” Tuan Harun bernafas tak beraturan, ia memegang kedua lututnya. “Flo akan berisitirahat dahulu jadi kita jangan mengganggunya. Di umur yang masih muda seperti ini, kau harus banyak olahraga agar lututmu tidak sakit.” Jelas Nyonya Bella.

__ADS_1


Istri dari Tuan Harun seakan mengerjai suaminya sendiri. “ahhh kau benar, baiklah aku akan berolahraga.” Balas Tuan Harun.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Kirana mengambil sendok dan menyuapi Tama. Tama tampak menikmati suapan yang dilayangkan kepadanya. “aku akan merawatmu, aku tidak ingin ibuku sedih jika calon suaminya jatuh sakit.” Jelas Kirana.


“yah, kau benar. Kau anak yang baik.” Tama tersenyum dengan makanan yang berada di kedua pipinya. Ia membelai kasar rambut Kirana. “jangan menyentuh rambutku! Aku bersusah payah mencatoknya, nanti berantakkan lagi.” Kirana menampik tangan suaminya.


“baiklah.” Tama kembali membuka lebar mulutnya agar Kirana menyuapinya lagi. Tangan Kirana mengambil sesuap nasi dengan lauk sop iga sapi yang ada pada meja kecil yang ada dihadapan mereka berdua, lalu Kirana menyuapi suaminya lagi.


“sini berikan kepadaku.” Tama mengambil sendok yang ada pada tangan Kirana. “apa kau sudah kenyang?” Kirana tampak bingung. “tidak, kau ambil yang ini.” Tama memberikan sendok yang belum terpakai kepada telapak tangan Kirana.


“kau juga harus makan, kau juga pasti lapar, kita berdua sama sekali belum memakan apapun bukan. Kita berdua telah melewati malam yang panjang bersama” jelas Tama sambil menyuapi dirinya sendiri.


Deg!


Kirana menelan salivanya. Entah mengapa ketika mendengar perkataan dari seorang pria muda yang merenggut kesuciannya tanpa persetujuan darinya membuatnya tertegun. Walaupun malam itu terkesan dipaksakan dan tidak berdasarkan cinta, tetapi Kirana tetap menikmatinya dan menginginkannya lagi dan lagi.


Tama masih menikmati makanannya. Sepertinya ia tidak menyadari apa yang telah dikatakannya barusan. Setelah menyadari bahwa istri yang berada di depannya itu hanya melongo terdiam sambil memegang sendok ia pun berkata “kenapa kau tidak makan Kirana?” tanyanya dengan ekspresi yang datar.


Tiba-tiba saja Tama mengingat kembali perkataannya dan menelan salivanya. “uhuk-uhuk.” Ia terbatuk dan keselek saat mengingat lagi momen panas tadi malam yang terjadi. Tama melihat ke bawah memperhatikan sesuatu yang bergerak melamban dibawah sana. Tubuhnya merasakan kepanasan.


“baiklah aku sudah kenyang. Ini ambillah!” Tama memberikan semua makanan itu kepada istrinya beserta dengan meja kecil itu. “kau silahkan makan pada sofa itu.” perintah Tama kepada istrinya.

__ADS_1


Tanpa banyak pikir, tanpa banyak bertanya, Kirana mengambil meja beserta dengan makanan dan minuman yang ada di atas dan berjalan menuju sofa untuk memakan sarapannya. Ia pun juga merasakan hawa panas dari dalam tubuhnya. Panas yang tak dapat ia artikan, yang jelas momen panas itu jelas terputar otomatis pada ingatan Kirana.


“sial! Kenapa benda pusakaku terus berdiri saat berada disampingnya.” Umpat Tama. Ia menarik selimut dan menyelimuti dirinya hingga ke leher. Ia berbaring miring ke kanan membelakangi istrinya. Tama sedang menyembunyikan sesuatu yang tengah berdiri dibawah sana.


__ADS_2