
Saat melihat suaminya bergegas pergi untuk menemui Azego, Nyonya Bella tak bisa membiarkan suaminya pergi begitu saja.
“sayang…” Nyonya Bella menahan tuan Harun. “jangan pergi menemuinya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Lebih baik kita lapor ke polisi saja sayang.” Tambah Nyonya Bella.
“benar ayah, jangan ke sana. Di rumah ini saja anak buah Azego dengan mudah menaklukan kita apalagi di kandangnya sendiri.” terang Tama. Tuan Harun tampak berpikir, sepertinya saran dari kedua anggota keluarganya itu masuk akal.
“Mario, mulai sekarang tambah personilmu untuk berjaga di rumah ini. Pilihlah orang-orang yang bisa dipercaya dan handal. Kau mengerti?” tuan Harun memegang kedua bahu Mario dan menariknya. Jika kejadian ini terulang lagi, munkin tuan Harun tak dapat memaafkan pengawal pribadinya itu karena di anggap tidak handal dalam menugaskan pengawal pribadi bawahannya.
“baik tuan, saya mengerti.” Sahut Mario dengan lantang. Kemudian tuan Harun melepaskan genggaman kedua tangannya pada bahu Mario. Di kedua bahu pada jas hitam Mario terlihat sedikit kusut akibat genggaman itu.
Mario bergegas pergi dari kediaman tuan Harun untuk menjalankan perintah dari tuannya. “jangan khawatir, kejadian ini tidak akan terulang lagi.” kata tuan Harun sembari menenangkan anggota keluarganya.
Flashback on
“Maria…” panggil tuan Azego kepada pengawal pribadi andalannya yang berjenis kelamin perempuan namun tampak persis seperti laki-laki itu. “ada apa tuan?” Maria mendekati tuannya yang tengah duduk di kursi hitam beserta dengan meja kerjanya.
“apa benar Riyanda sudah meninggal?” tanya tuan Azego memastikan. “benar tuan, dia meninggal mengenaskan dengan wajah yang tak dapat di identifikasi lagi.” sahut Maria.
“bagus kalau begitu.” Tuan Azego melayangkan senyuman tipisnya sambil mengepal kedua tangannya. “ada apa tuan?” tanya Maria yang tampak bingung melihat ekspresi dari tuannya. “ini saatnya kita menyerang keluarga Harun.” kata tuan Azego.
“keluarga Harun? apa hubungannya Nyonya Riyanda dengan keluarga Harun tuan?” Maria semakin bingung karena Riyanda wanita cantik yang ia kenal adalah seoarang wanita kaya yang tidak mempunyai banyak kenalan.
“ku rasa kau belum tahu. Anak Riyanda yang bernama Kirana telah menikah dengan anak dari pewaris tunggal keluarga Harun.” ujar tuan Azego dengan penuh tatapan yang membunuh melihat pengawal pribadinya. Kemudian keduanya tertawa bersama-sama.
Flashback off
__ADS_1
Kirana terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekeliling kamar tersebut tidak ada sosok yang ia cari yaitu Tama. Ia juga tidak mendengar desiran air yang berjatuhan di dalam kamar mandi. Kirana bangun dengan memegang kepalanya yang pusing. “apa aku tertidur terlalu lama?” gumamnya.
Kirana bangun dengan menatap cermin pada kamar itu. ia merapikan rambutnya dan memakai lipstick tipis agar tidak terlihat pucat lalu ia keluar dari kamar tersebut. Setelah keluar dari kamar itu Kirana tampak bingung saat melihat Flo dan pelayan wanita lainnya yang sedang melakukan pertolongan pertama kepada para pengawal keluarga Harun. Gegas Kirana mendekati suaminya untuk memastikan sesuatu.
“ada apa ini Tama?” Kirana yang telah sampai di dekat Tama langsung memegang lengan suaminya dan bertanya. “tidak ada apa-apa Kirana. Apa kau sudah merasa enakan setelah tidur?” Tama mengusap lembut rambut istrinya. Kirana mengangguk perlahan dengan imut.
“sayaanggg….” Panggil Nyonya Bella dengan lembut dan langsung memeluk menantunya tersebut. “ada apa ibu, kenapa ibu menangis?” Kirana melirik Tama sejenak saat melihat ibu mertuanya meneteskan air mata.
“tidak ada apa-apa sayang.” Nyonya Bella mencoba menahan tangisannya karena ia pun enggan untuk menceritakan semuanya sama seperti yang Tama lakukan.
“ayah, ibu, dan kau Kirana, lebih baik kita makan siang dulu.” Kata Tama saat mendekati anggota keluarganya. Tama juga memegang lengan kedua wanita yang ada di depannya itu untuk mengajak keluarganya makan siang bersama. Kedua wanita di depan Tama itu juga mengangguk setuju. Sedangkan tuan Harun diam dengan segala pemikiran di kepalanya.
“Tumiyem, kemarilah.” Tama mengayunkan telapak tangan kanannya sembari memanggil ketua pelayan wanita itu. Tumiyem pun mendekati tuan mudanya. “ada apa tuan?” Tumiyem datang dengan membungkuk hormat.
“apa masakan untuk makan siang sudah siap?” tanya Tama kepada pelayan wanitanya. “sudah tuan, hanya saja belum dihidangkan di meja makan karena seperti biasa akan dihidangkan hangat di meja saat anggota keluarga tuan sudah hadir dan lengkap untuk duduk pada meja makan itu tuan.” Terang Tumiyem.
“Flo, kami akan makan siang sekarang. Apa kau mau ikut?” teriak Tama pada ruang tamu nan luas itu. “aku akan menyusul nanti, aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Kau duluan saja.” Sahut dokter Flo yang setelahnya melanjutkan lagi untuk mengobati luka dan lebam pada wajah para pengawal yang babak belur tersebut.
Makan siang itu berlangsung hangat. Seakan tidak terjadi apapun, Tama dan Nyonya Bella seakan kompak dengan tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Kirana. Tuan Harun juga banyak terdiam dan tidak berkomentar apa-apa.
“ini Kirana…” Tama mengambil sesendok nasi dan meletakkannya di atas piring Kirana. Putra kesayangan tuan Harun itu tampak senang saat melihat Kirana yang makan dengan lahap.
“ku rasa nafsu makanmu sedang tinggi sayang.” Kata Nyonya Bella sambil tersenyum manis menatap menantunya yang tampak menggemaskan saat makan dengan lahap. “sepertinya iya ibu. Dan entah mengapa semua makanan ini terasa sangat enak.” Sahut Kirana dengan kedua pipi yang menggembul terisi penuh makanan.
“makannya hati-hati Kirana.” kata Tama dengan lembut sembari mengusap lembut punggung tangan istrinya. Nyonya Bella pun semakin berbunga-bunga melihat sikap ramah dan perhatian Tama kepada istrinya. Hal itu membuatnya tenang, tanpa harus melihat Tama bersedih atas kehilangan Riyanda dua minggu yang lalu. Sedangkan tuan Harun banyak melamun di meja makan itu.
__ADS_1
Ketika mengetahui bahwa Riyanda meninggal, hal pertama yang Nyonya Bella takutkan adalah putranya yang akan frustasi. Namun dengan keadaan selama minggu ini yang berjalan lancar tanpa adanya drama kegaulauan dari Tama membuat Nyonya Bella senang. Apalagi, aksi tembak menembak ataupun aksi hampir bunuh diri yang dilakukan oleh Tama di kantor polisi pada saat itu sama sekali tidak diketahui oleh Nyonya Bella. Hingga akhirnya Nyonya Bella santai dan menikmati hidupnya dengan banyak meluangkan waktu bersama dokter Flo.
“maaf baru datang. Para pengawal di rumah ini cukup banyak hingga aku baru selesai menyelesaikan pekerjaanku sebagai dokter.” Canda dokter Flo sembari menarik kedua sudut bibirnya kemudian terduduk tepat disamping Tama.
“kau benar.” Nyonya Bella terkekeh mendengar candaan dari dokter Flo. Sedangkan Tama masih dengan terus memperhatikan Kirana. Tuan Harun? diam seribu bahasa.
“Tama? Kenapa kau belum makan juga?” dokter Flo terkejut saat melihat nasi dan lauk Tama yang tampak tidak disentuh sama sekali. Padahal kedua wanita yang ada di meja makan itu hampir saja menyelesaikan makan siang mereka.
“ahhh kau benar, aku sampai lupa makan.” Sahut Tama dengan menggaruk kepalanya. Nyonya Bella kembali terkekeh. “kau tahu Flo, Tama bahkan belum makan sama sekali karena sibuk memperhatikan istrinya.” Kata Nyonya Bella dengan wajah riang.
“benarkah ibu?” kata Kirana tak enak hati. Kemudian Kirana mengambil sendok di atas piring yang ada di depan suaminya. “ini makanlah…” kata Kirana saat ia telah menyendok sesuap nasi beserta lauknya lalu mengarahkannya ke mulut Tama.
Amm\~
Sesendok suapan pemberian Kirana akhirnya di makan oleh Tama dengan sedikit ekspresi yang berlebihan. “nyam-nyam! Benar katamu Kirana, semua makanan ini sungguh lezat.” Ujar Tama dengan sedikit tertawa kecil dibarengi dengan Kirana.
Nyonya Bella juga terkekeh melihat aksi putranya yang sedikit kekanak-kanakan namun sangat menghibur. Sedangkan dokter Flo memutar kedua bola matanya seakan jijik melihat tingkah dari sepasang suami istri itu.
Plak\~
Secara tiba-tiba tuan Harun meletakkan sendok garpunya di atas meja. Ia pun gegas berdiri dari duduknya. Semua orang di ruang makan tersebut terkejut melihat tindakan tiba-tiba dari tuan Harun.
“ada apa sayang?” kini Nyonya Bella ikut berdiri melangkah untuk mendekati suaminya. “kalian lanjut saja makannya. Aku akan ke kamar untuk menelepon polisi untuk melaporkan kejadian hari ini!” berang tuan Harun.
Suasana makan yang tadinya riang seketika mencair menjadi suasana yang sedikit menegangkan. Menengangkan karena sesuatu yang Tama dan Nyonya Bella berusaha tutupi akhirnya tak menjadi rahasia lagi saat tuan Harun yang tiba-tiba berdiri dengan ekpresi wajah yang marah.
__ADS_1
Kirana pun ikut berdiri dan menyudahi makannya. “ayah sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kirana yang menatap kepada tuan Harun dengan tatapan yang penuh tanda tanya.