
Keesokan harinya. Pewaris tunggal dari keluarga Harun berangkat ke tempat kerjanya. Seperti biasanya, setiap karyawan yang melihatnya akan langsung menyapa tuan muda itu sambil memberikan hormat.
“Selamat pagi tuan.” Sesaat setelah masuk lift, Tama melihat sapaan Ravi melalui tulisan pada kertas yang sedang ia pegang. “Selamat pagi Ravi.” Balas Tama dengan tulisan di kertas kecil yang telah ia bawa sebelumnya beserta alat tulisnya.
“Bawa aku ke ruang kerja rahasia ayahku Ravi.” Perintah Tama pada tulisan itu. “Baik tuan.” Jawab Ravi melalui tulisan pula. Lalu keduanya pergi ke ruangan di mana hanya Ravi, Tama dan Tuan Harun yang mengetahuinya.
“Saya akan kembali nanti tuan. Saya harus membersihkan kantor tuan terlebih dahulu sebelum tuan masuk.” Ravi berpamitan dan merobek kertasnya lalu meninggalkan Tama dari ruangan itu.
Tama gegas mengambil beberapa emas batangan milik ayahnya. Ia pun mengambil banyak uang kertas yang ada di dalam berangkasnya. Ia masukkan semua barang bernilai itu di dalam sebuah tas yang besar.
“Azego…” Panggil Tama yang terlihat seperti berbicara sendiri. “Azego, kau dengar aku?” Tama berbicara lagi. “Ada apa tuan muda? Pagi-pagi begini kau sedang mengganggu waktu sarapan ku.” Kata Tuan Azego yang sedang melaksanakan sarapan pagi di kediamannya ditemani oleh Maria.
“Apa boleh aku memberikan mu uang secara kes?” Tama ingin memastikan. “Bisa saja, walaupun sedikit merepotkan karena harus menghitungnya tetapi asalkan itu uang, akan aku terima.” Terang Tuan Azego sembari menyantap roti lapis dengan selai strawberry.
“Tetapi tidak semua dalam bentuk uang. Aku mengambil beberapa emas batangan ayah ku. Apa itu tidak masalah?” Tanya tuan muda itu lagi. “Tidak masalah, yang terpenting adalah jumlah dan nilai emas itu.” Sahut Tuan Azego santai.
“Baiklah, sepulang dari bekerja aku akan mengantarkannya langsung ke rumah mu.” Ujar Tama sembari kembali membereskan uang-uang itu. “Kau tidak perlu kemari. Aku akan menyuruh anak buah ku untuk menjemputnya.” Sahut Tuan Azego.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak mempercayai mereka. Ini jumlah uang yang cukup banyak Azego. Aku yang akan mengantarkannya langsung kepada mu.” Jelas Tama dengan raut wajah yang serius. “Baiklah, terserah kau saja. Kapan kau akan ke mari?” Tuan Azego memastikan.
“Aku akan ke sana saat aku pulang dari bekerja. Aku akan ke sana pada sore hari.” Pesan tuan muda itu. “Baiklah, aku akan menunggu mu tuan muda.” Tuan Azego pun kembali menyantap sarapannya sampai habis sedangkan Tama menambah jumlah uang itu ke dalam tasnya. Uang dan emas batangan yang ia bawa jumlahnya berkisar 10 Milyar rupiah.
“Maaf tuan, apa saya membuat tuan menunggu lama?” Ravi datang dan memberikan pesan melalui tulisan lagi. Tama berdiri untuk mengambil pena yang ia letakkan di atas meja kerja ayahnya kemudian mengambil kertas dari buku kecil yang ia taruh di dalam saku jasnya.
“Tidak, kau datang di waktu yang tepat.” Balas Tama melalui tulisan tersebut. “Ini ada tas, tolong kau amankan terlebih dahulu. Sepulang bekerja, temui aku di lift dan bawakan kembali tas ini kepada ku.” Pesan Tama. “Baik tuan.” Tulisan balasan yang ditulis oleh Ravi.
Keduanya keluar dari ruangan itu dan masuk lift secara bersamaan. Walaupun Ravi terlihat kawalahan membawa tas besar yang berisi uang kertas dan emas batangan itu, ia tidak pantang menyerah dan terus memegang tas itu sampai Tama keluar lift untuk meniggalkannya.
“Kebetulan sekali. Aku ada pekerjaan untuk kalian berdua.” Tama menatap dua karyawan yang berdiri bersama tepat di depannya tersebut. “Keanu, ini ambil dan lihatlah.” Tama memberikan beberapa berkas kepada Keanu. “Tolong perbaiki laporan keuangan itu sesuai dengan yang telah aku perbaiki.” Perintah Tama kepada asisten pribadinya.
“Hm… Baiklah tuan.” Walaupun Keanu tampak berpikir, ia tetap menerima berkas-berkas itu dan berencana merevisinya sesuai perintah tuannya. “Dan kau Merry, coba kau atur ulang jadwalku hari ini. Batalkan semua pertemuan ku hari ini karena aku akan keluar untuk mengerjakan sesuatu yang lain.” Terang Tama kepada sekretarisnya.
“Kalau boleh tau tuan ingin pergi ke mana ya?” Tanya Merry penasaran. Sontak pertanyaan itu membuat dua orang laki-laki yang sedang bersamanya menatapnya bersamaan. “Merry, kau tidak boleh bertanya seperti itu kepada tuan muda.” Bisik Keanu. Namun tampaknya Merry tidak menghiraukan saran dari kekasihnya tersebut.
“Itu bukan urusan mu! Kerjakan saja apa yang sudah aku perintahkan kepada mu.” Jawab Tama ketus. “Kalian boleh meninggalkan ruangan ini.” Tambahnya lagi. Dengan cepat keduanya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah memberikan tugas kepada dua orang karyawannya barusan. Tama mengambil jasnya yang ia gantung pada tiang gantungan baju yang berada tepat di sampingnya. Lalu ia mengenakan jas tersebut dan mengambil dompet serta kunci mobilnya. Ia pun gegas meninggalkan perusahaan itu dan pergi ke suatu tempat.
Untuk yang kedua kalinya Tama mendatangi setiap cabang perusahaan yang terkena dampak kerugian atas menurunnya saham bisnis keluarga Harun. Ia pun mendatangi setiap perusahaan kecil yang bekerjasama dengan perusahaan ayahnya.
Secara mendetail, ia memberi kabar kepada kantor-kantor yang ia datangi tersebut dengan kabar yang gembira.
“Terima kasih tuan. Kami sangat menghargai bantuan tuan yang rela mengganti semua kerugian kami. Semoga saja Harun Corporation akan terus dalam naungan kerja tuan muda. Saya yakin, jika Harun Corporation dipimpin oleh tuan muda seperti anda akan semakin jaya di kemudian hari.” Ujar pemimpin anak cabang dari perusahaan yang Tama datangi dan mengatakan berjanji akan menggantikan semua kerugiannya sore nanti.
Setelah berkeliling, akhirnya Tama kembali ke kantornya pada sore hari sebelum jam kerjanya habis pada hari itu. Ia pun langsung menuju ke presidential room yaitu ruang kerjanya yang didesain khusus untuknya dari Tuan Harun.
“Permisi tuan.” Keanu datang membawa berkas-berkas baru yang telah ia revisi sesuai perintah dari Tama. “Letakkan saja di meja itu.” Kata Tama tanpa menoleh karena ia sedang mengerjakan sesuatu pada computer yang tengah menyala itu.
“Baik tuan.” Keanu meletakkan berkas-berkas itu di atas meja kemudian pamit dan keluar ruangan. Sedangkan tuan muda itu masih asyik dengan bekerja pada computer yang ada di depannya itu.
“Apa yang sedang dilakukannya?” Tanya Merry secara berbisik kepada Keanu setelah berhasil sampai pada meja kerjanya. “Aku tidak bisa melihatnya, ia memutar layar monitor komputernya. Ku rasa ia sengaja melakukannya agar kita tidak melihatnya.” Tutur Keanu yang tampak kebingungan.
“Ya sudahlah, kita tunggu saja, nanti juga akan ketahuan kalau dia ingin melakukan hal yang aneh.” Kata Merry yang sekarang sedang merangkul lengan Keanu. Keanu pun tersenyum senang atas rangkulan itu. kemudian keduanya menghilang di bawah meja kerja dan melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.
__ADS_1