
Sesampainya di kantor polisi. Semua polisi menatap kedatangan Nyonya Bella bersama dengan Dokter Flo. Seakan kompak, semua polisi yang melihat mereka membulatkan matanya dan menelan salivanya. Ada juga beberapa dari mereka yang tidak sanggup untuk menahan tawanya.
“Permisi, apa aku bisa menjenguk suamiku?” Nyonya Bella mendekati meja polisi yang bertugas secara random. “Maksudnya ibu mau besuk suami ibu ya? Kalau mau besuk silahkan mendaftar di meja yang sebelah sana.” Tunjuk polisi itu dengan menutup mulutnya karena menahan tawa.
“Baik, terima kasih pak.” Sahut Nyonya Bella kemudian ia pergi ke tempat yang telah ditunjuk dengan diikuti oleh Dokter Flo dan tiga orang pengawal pribadinya. Ketiga pengawal pribadi Tuan Harun yang ikut itu adalah anak buah dari Mario. Mario tidak diajak sama sekali pada momen menjenguk Tuan Harun ini.
“Permisi, apa aku bisa menjenguk suamiku?” Tanya Nyonya Bella lagi dengan polisi yang berbeda. “Siapa suami yang Anda maksud bu?” Tanya Polisi tersebut. “Tuan Harun, namanya Harun.” Sambung Nyonya Bella. “Ah iya ternyata Pak Harun. Mari bu…” Polisi itu mempersilahkan Nyonya Bella untuk mengikutinya karena ingin mengantarkannya ke sel Tuan Harun.
“Ahhhh suamiku…” Nyonya Bella gegas berlari dan memeluk suaminya yang terhalang oleh besi jeruji sel namun mereka berdua tetap bisa berpelukan. “Hiksss…” Nyonya Bella pun menangis. “Jangan menangis sayang, aku baik-baik saja di sini.” Tuan Harun membelai lembut rambut istrinya.
“Kau terlihat kurus sayangku.” Nyonya Bella cemberut sambil memegang lembut wajah Tuan Harun. “Pasti makanan di sini sangat tidak enak.” Sambungya lagi. “Oh ya, aku membawakanmu makanan sayang.” Nyonya Bella tersenyum manis.
“Flo, bawa kemari makanan-makanan itu.” Nyonya Bella menunjuk salah satu pengawal pribadinya yang membawa banyak tempat plastic yang di isi oleh makanan. Dokter Flo pun menghampiri pengawal pribadi itu yang tak dapat dilihat lagi wajahnya karena banyak makanan yang ia bawa. Sesungguhnya ia kewalahan untuk membawa makanan itu tetapi karena perintah tuannya ia tetap berusaha membawanya dengan baik.
Dokter Flo hanya bisa mengambil dua tempat makanan. “Kau ikut saja denganku.” Kata Dokter Flo sambil berjalan agar semua makanan itu bisa sampai ke Nyonya Bella. Pengawal pribadi yang membawa makanan itu pun berjalan perlahan mengikuti Dokter Flo.
“Ini tante.” Dokter Flo memberikan tempat makanan yang terbuat dari plastic dengan brand internasional dan berwarna merah muda. Nyonya Bella mengambil dua tempat makanan itu dan lekas membukanya di depan Tuan Harun.
“Ini sayang, aku membawakan mu banyak makanan.” Kedua tempat itu berisi masing-masing sebuah Sandwich dan Kukis. “Nyam… nyam…” Tuan Harun mengambil Sandwich itu dan menggigitnya. Baru dua gigitan Nyonya Bella kembali mengambil tempat makanan yang dibawa oleh pengawal pribadinya.
“Sayangku, aku juga membawakan mu nasi, rendang, gulai ayam, sayur bayam bening, ayam goreng, gurami asam manis, sambal ikan, kwitiau, mi goreng, udang gala bakar, tongseng daging sapi,…” Dan banyak lagi makanan dan minuman yang disebutkan dan dibawakan oleh Nyonya Bella yang membuat Tuan Harun telah kenyang mendengarnya sehingga Sandwich yang sedang digigitnya itu pun berhenti ia makan. Tuan Harun melongo tak percaya melihat semua makanan yang disebutkan istrinya benar telah dibawanya ke sel tahanan itu.
“Kenapa kau membawa banyak sekali makanan sayangku? Aku tidak akan bisa menghabiskan itu semua.” Tuan Harun menelan salivanya saat ini juga, ia merasa segan karena semua mata orang yang ada di sana matanya tertuju kepada Tuan Harun termasuk para tahanan.
“Oh ya, ini juga aku membawakanmu selimut, kasur, dan bantal serta guling. Agar kau bisa tidur nyenyak sayangku. Tidur tanpa alas seperti itu pasti sangat menyiksamu. Hikss…” Nyonya Bella menangis dan segera mengusap air matanya karena beralih pandang untuk melihat Dokter Flo yang berdiri di belakangnya.
“Flo bawakan barang-barang itu kemari. Kasur, selimut, bantal dan guling itu.” Perintah Nyonya Bella. Dokter Flo melongo, bagaimana ia membawa itu semua. “Kau ikut saja denganku.” Dengan strategi yang sama Dokter Flo kembali menyuruh pengawal pribadi Tuan Harun yang lain untuk ikut dengannya mendekati sel Tuan Harun.
“Hm… maaf ibu, tidak diperekenankan bagi tahanan untuk membawa barang sebanyak ini. Kami telah memberikan fasilitas kami kepada para tahanan.” Polisi yang mengantarkan Nyonya Bella untuk bertemu Tuan Harun yang sejak tadi berada di sana akhirnya angkat bicara. Ia pun sebenarnya tercengang dengan sikap Nyonya Bella.
“Kau tidak boleh melarangku! Tidakkah kau lihat suami ku sedang ditahan dan tidak mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang layak?” Bentak Nyonya Bella lalu kemudian ia pun menangis terseduh. “Jangan menangis sayang…” Tuan Harun ikut bersedih melihat istirnya yang menangis karenanya.
“Ini penjara ibu, bukan hotel. Jika mau hidup nyaman dan enak, bisa saja Anda menginap di hotel. Tetapi, Pak Harun adalah tahanan kami jadi sudah semestinya dia berada di sini dan memakai fasilitas yang kami berikan ibu.” Jelas Polisi tersebut.
__ADS_1
“Ini belum seberapa! Kau lihat itu.” Nyonya Bella menunjuk satu orang pengawal pribadinya yang lain. Pengawal pribadi yang terakhir itu juga dipenuhi dengan barang bawaan. Pengawal satu ini membawa Ac duduk, Televisi, obat nyamuk elektrik, alat pemanas air beserta dengan kopi dan teh juga air mineral. Itulah mengapa orang-orang yang ada di kantor tersebut terkejut sekaligus merasa heran dan mengocok perut mereka saat kedatangan Nyonya Bella.
Polisi itu menggaruk-garuk kepalanya. Menghadapi ibu-ibu seperti Nyonya Bella tentu sedikit berat karena pasal ibu-ibu adalah selalu benar.
“Tante, bapak ini ada benarnya. Kita memang sedikit berlebihan membawakan oom makanan dan barang lainnya tan.” Dokter Flo mencoba menyadarkan Nyonya Bella. “Flo? Apa secepat itu? Apa kau sekarang berpihak kepada orang lain selain kami?” Nyonya Bella seakan tak percaya dengan perkataan Dokter Flo yang membela polisi tersebut.
“Bukan seperti itu tante, hanya saja, hm…” Dokter Flo tampak bingung untuk menjelaskan kembali kepada Nyonya Bella. Dokter cantik itu terdiam sejenak seakan berpikir lalu kembali berbicara.
“Begini tante, semua barang yang kita bawa ini tidak bisa diterima oleh Oom karena sel Om Harun sangat kecil. Bagaimana kalau kita membiarkan Om Harun memilih makanan yang bisa dia makan saja dan beberapa barang yang kita bawa sesuai kebutuhan Om Harun serta sesuai ruangan sel yang tersedia itu tan.” Tambah Dokter Flo.
“Dan tolong biarkan kami pak, aku tidak ingin melihat Nyonya ini memberontak di kantor ini. Nyonya ini sangat menyayangi suaminya. Bapak pasti sudah tau saat melihat dia kemari bukan?!” Bisik Dokter Flo kepada polisi tersebut. “Biarkan semua barang bawaan kami ditaruh di sini dengan alasan bapak membolehkannya. Selebihnya nanti bisa bapak bagikan kepada orang-orang yang ada di sini.” Tambahnya. Polisi itu mengangguk mengerti.
“Baiklah ibu, tidak mengapa jika ibu ingin memberikan semua barang itu kepada suami ibu. Oh ya, waktu besuk ibu tinggal 10 menit lagi. Karena waktu besuk di kantor ini hanya diberikan selama 15 menit.” Terang polisi tersebut.
“Okay!” Akhirnya Nyonya Bella tampak bersemangat. “Sayang, makanlah yang banyak. Aku ingin melihat kau makan dengan lahap dan kenyang.” Nyonya Bella tersenyum senang melihat suaminya. Tuan Harun pun mengambil makanan yang lain untuk mencobanya.
Setelah selesai melihat suaminya makan dengan lahap dan kenyang serta meletakkan barang-barang itu ke dalam sel tempat Tuan Harun ditahan, akhirnya Nyonya Bella pamit pulang kepada Tuan Harun. “Aku pulang dulu sayangku. Aku akan merindukanmu lagi.” Keduanya kembali berpelukan dengan mesra.
Kini Nyonya Bella dan Dokter Flo beserta tiga anak buahnya yang lain menuju ke kantor di mana Tama sedang bekerja.
“Wah… kantor nya lumayan besar tan. Seingatku dulu perusahaan oom tidak sebesar dan semegah ini tan.” Ucap Dokter Flo terkesima. Yah, waktu kecil, saat duduk dibangku Taman Kanak-kanan bersama dengan Tama memang bisnis Tuan Harun belum sebesar yang sekarang. Bisnis Tuan Harun terus bertumbuh dan berkembang tiap tahunnya hingga akhirnya Harun Corporation mencapai posisi perusahaan tersukses.
“Selamat datang Nyonya.” Seorang Karyawan yang mengenali Nyonya Bella pun menyapa Nyonya Besar itu. Nyonya Bella membalas sapaan itu dengan senyuman.
Nyonya besar itu tampak keren dengan kacamata hitam. Mengenakan Asian Fashion yang dipengaruhi oleh trend Fashion dari Negara asal Song Hye Kyo, Korea. Nyonya Bella tampak lebih muda dan energik. Sedangkan Dokter Flo mengenakan Eropa Style dengan rok selutut. Tak lupa Dokter Flo juga mengenakan kacamata hitam agar tak kalah keren dengan Nyonya besar itu.
Tiga pengawal pribadi yang bersamanya? Jangan ditanya. Rasanya kurang keren jika mereka bertiga juga tidak mengenakan kacamata hitam ala pengawal pribadi orang eropa.
Nyonya Bella meraih ponsel pada tas jinjingnya. “Halo Merry, aku di kantor, bisa antarkan aku ke ruangan kerja anakku.” Kata Nyonya Bella pada panggilan itu. Sontak Merry yang sedang duduk di meja kerjanya berdiri dan membenarkan pakaiannya.
“Baik nyonya, nyonya ada di mana sekarang?” Tanya Merry. “Aku ada di lantai dasar, cepat ke mari.” Perintah Nyonya Bella. “Baik nyonya.” Gegas Merry menuju lantai dasar untuk menemui nyonyanya.
Tak lama kemudian Merry datang sendiri untuk menjumpai Nyonya Bella yang sedang menunggu bersama Dokter Flo. Tiga pengawal pribadi itu berdiri di samping keduanya untuk berjaga.
__ADS_1
“Selamat datang nyonya.” Sambut Merry sambil membungkuk memberi hormat. Ia pun meraih punggung tangan Nyonya Bella untuk bersalaman dan mencium punggung tangan itu. “Ayo cepat, aku ingin melihat putraku.” Ujar Nyonya Bella.
“Kalian bertiga tunggu saja di sini.” Dokter Flo memberikan perintah kepada pengawal pribadi itu. para pengawal pribadi itu mengangguk mengerti dan diam di tempat tidak mengikuti Nyonya Bella yang berjalan bersama Dokter Flo dan Merry.
Saat memasuki lift, Merry melirik Dokter Flo dari bawah sampai atas. “Cukup fashionable.” Ucapnya dalam hati saat selesai memperhatikan Dokter Flo. “Oh ya nyonya, nyonya kemari bersama dengan siapa?” Singgung Merry sambil melirik Dokter Flo. Dokter cantik itu tetap berdiri tegap dan tidak menoleh sedikit pun. Ia lebih memikirkan rasa senangnya karena sebentar lagi akan bertemu dengan pria yang dicintainya.
“Oh iya, dia Dokter Flo teman Tama, Merry.” Kata Nyonya Bella. “Flo, Merry ingin berkenalan denganmu.” Nyonya Bella menyentuh lengan Dokter cantik itu dan membuat lamunannya berhenti. “Ah iya ada apa tan?” Tanya Dokter Flo kepada Nyonya Bella.
“Perkenalkan aku Merry, aku sekretaris di sini.”Merry mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Dokter cantik itu. “Aku Flo. Teman Tama dari kecil.” Sahut Dokter Flo sambil meraih tangan sekretaris itu kemudian keduanya saling melayangkan senyuman manis mereka.
“Kenapa lama sekali Merry?” Tanya Nyonya Bella karena sejak tadi lift yang dinaikinya terus terbuka tapi Merry tidak mengajaknya keluar. “Kantor tuan muda berada di lantai paling atas nyonya.” Sahut Merry. “Lain kali jika mau ke sini hubungi saja Keanu. Nanti biar Keanu yang menjemput nyonya menggunakan Helikopter. Jadi, nyonya tidak perlu repot untuk naik lift lagi seperti ini.” Jelas Merry.
“Wahhh…” Dokter Flo berdecak kagum mendengar perkataan dari sekretaris itu. “Sungguh keluarga ini terlalu kaya.” Gumamnya namun dalam hati. Dokter Flo memang temasuk dari keluarga orang kaya, namun kekayaan Tuan Harun belum ada yang bisa menandinginya hingga membuatnya terpukau seketika.
“Ah kau tidak usah repot-repot Merry. Tidak masalah aku menggunakan lift ini. Lagi pula aku tidak suka ketinggian.” Terang Nyonya Bella. Yah, gangguan kecemasannya bisa kambuh jika dia naik Helikopter itu dan melihat ke bawah.
“Baik nyonya.” Jawab Merry singkat. Lalu ketiga orang itu akhirnya sampai di kantor Tama. “Tama…” Nyonya Bella menghampiri meja kerja putranya laluk mengecup kedua pipi putranya.
“Ibu, ada perlu apa ke sini?” Tanya Tama. “Tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu. Dokter Flo juga demikian.” Nyonya Bella melirik Dokter Flo yang berdiri bak patung sambil menatap Tama dengan pipi yang memerah.
“Ya, ibumu benar. Aku penasaran ingin melihat temanku yang satu ini. Bagaimana bisa dia bekerja padahal dia tidak pernah berniat untuk meneruskan perusahaan ayahnya selama ini.” Setelah berdiam sesaat, akhirnya Dokter Flo ikut mendekati teman masa kecilnya itu dan merangkulnya dengan manja.
“Ahhh kalian berdua sama saja. Jika ingin melihatku bekerja, kenapa tidak melakukan video call saja?” Tutur Tama. “Kau benar…” Nyonya Bella tampak setuju dan berpikir.
“Ya, pasti beda lah Timi. Dengan kami ke sini, kami juga bisa melihatmu langsung atau bahkan jika kau butuh, kami bisa membantumu. Benar begitu tan?” Dokter Flo menaikkan satu alisnya dan melirik Nyonya Bella.
“Ya, Flo ada benarnya juga Tama.” Nyonya Bella membenarkan. “Tapi, jika kalian berdua merangkul ku seperti itu, bagaimana bisa aku melanjutkan pekerjaan ku.” Tama cemberut. “Ah benar sekali sayang.” Nyonya Bella melepaskan tangan Tama begitu pun dengan Dokter Flo.
“Silahkan duduk ibu.” Tama mengantarkan ibunya dan Dokter Flo untuk duduk pada sofa yang ada di ruangan itu. Sofa itu tampak empuk dan nyaman.
“Ini ada air jika kalian berdua ingin minum. Kalian bisa melihatku bekerja dari sini dan kalau sudah bosan, ibu dan Flo boleh pulang.” Kata Tama datar. “Jadi, kau mengusir kami?” Sahut Dokter Flo secara tiba-tiba.
“Aku tidak mengatakan kalau aku mengusirmu. Kau yang mengatakan itu.” Tama mengeluarkan lidahnya untuk mengejek teman masa kecilnya itu. Seketika Dokter Flo cemberut. “Hahaha…” Nyonya Bella terkekeh melihat tingkah dua sahabat itu.
__ADS_1