
“Baik tuan.” Maria pun bergegas pergi diikuti dua orang pengawal lainnya untuk melaksanakan perintah tuannya, sedangkan pengawal yang lain masih berjaga dan menjaga tuannya.
Jika Kirana sedang dipersiapkan untuk dirawat dengan kamar yang terbaik, maka berbeda dengan Tama. Dengan setengah sadar ia pun dibawa keluar dari rumah sakit tersebut ditemani oleh Dokter Flo dan Tumiyem.
“Dari mana saja kau Tumiyem?” Ucap Dokter Flo ketus. “Maafkan aku dok, tadi aku sangat kebelet sehingga tidak sempat lagi memberitahukan anda.” Ujar Tumiyem yang berusaha menutupi kebohongannya.
“Jangan mengulanginya lagi! Aku sangat kesusahan jika kau tidak membantuku.” Sambung Dokter Flo sambil mengiringi Tumiyem yang membawa Tama dengan kursi roda. “Baik.” Sahut Tumiyem singkat.
“Tuan, apa tuan tidak apa-apa?” Tanya Tumiyem yang mencoba mengalihkan lawan bicara kepada Tama. Tama mengangguk pelan, ia sedang tidak ingin berbicara sekarang. Ada banyak yang ia pikirkan tentang istrinya, namun untuk hal itu, ia harus menjauh dan tidak mendekati Tuan Azego untuk sementara waktu mengingat kondisinya yang babak belur, ditambah lagi Tuan Azego yang sangat berkuasa saat ini.
“Apa kau tidak punya mata? Sudah seperti ini masih saja kau menanyakan keadaannya. Tentu Tama sedang tidak baik-baik saja Miyem. Ah kau ini.” Gerutu Dokter Flo. Tumiyem hanya bisa terdiam tanpa bisa melawan Dokter cantik itu.
Mereka betiga pulang menggunakan taksi karena Mario tak menunggu saat mengantarkannya tadi.
*
*
Beberapa bulan kemudian.
Kirana berjalan di area taman di kediaman Tuan Azego dengan pengawal pribadi yang mengawasinya di setiap sudut matanya tertuju. Perutnya yang semakin membesarkan membuatnya sulit berjalan cepat hingga ia pun memelankan jalannya. Ia berkeliling tanpa arah di taman itu dengan pandangan yang kosong tapi tidak dengan pikirannya. Pikirannya dipenuhi dengan bagaimana caranya ia bisa kabur dan tidak melahirkan di rumah mewah yang terasa seperti Neraka itu. Walaupun Kirana dilayani dengan sangat baik dan fasilitas terbaik serta tidak ada penyiksaan di dalamnya, tetap saja Kirana menganggap rumah mewah itu seperti Neraka.
__ADS_1
“Sial! Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan dengan keadaanku yang seperti ini.” Gumam Kirana dalam hati. “Aku tidak ingin melahirkan bayiku di sini bersama dengan pak tau yang sok romantis itu.” Tambahnya lagi.
Yah, Kirana di manja bak sang ratu. Tuan Azego bahkan menyuapi Kirana saat menemani Kirana makan. Istri dari Tama itu pun tak sanggup menolak karena kondisinya yang dipegang oleh para pelayan wanita agar tidak melawan. Di awal ia pun menolak dengan menutup mulutnya, tetapi perutnya tak mampu bersahabat hingga akhirnya ia pasrah dan memakan apa saja yang disuapi Tuan Azego kepadanya.
Kemudian, di kediaman yang lain, Tama sudah pulih sepenuhnya. Namun, jika badan ataupun fisiknya telah pulih sepenuhnya, tapi tidak dengan finansialnya. Satu persatu pengawal pribadi dan pelayannya berhenti. Mereka tidak sanggup lagi bekerja tanpa di gaji oleh tuannya.
“Maaf tuan, saya harus pamit hari ini.” Ujar Mario dengan berat hati. “Apa kau harus meninggalkan rumah ini Mario?” Tanya Tama dengan sepenuh hati. “Apa kau lupa bahwa kau telah berjanji untuk selalu bekerja dengan ayahku apapun situasinya?” Sambung Tama.
Mario terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh tuannya, namun dengan kondisinya yang harus berobat dan memakan obat seumur hidup pasca penyerangan saudara perempuannya atas perintah Tuan Azego membuatnya hampir mati. Untung saja ia cepat dibawa ke rumah sakit dan di vonis oleh dokter harus terus melakukan perawatan dan pengobatan mengingat kepalanya yang mengalami geger otak.
“Mario, jika kau butuh uang, kau bisa bekerja di mana saja yang kau inginkan. Tetapi jangan tinggalkan kami.” Pinta Tama dengan raut wajah yang bersedih. Mario tertunduk, sebenarnya ia cukup bersedih tetapi ia pun harus meninggalkan kediaman itu untuk bertahan hidup karena selain tidak digaji, kediaman tuan Harun terus diteror oleh anak buah dari Tuan Azego.
“Maafkan aku tuan.” Kalimat terakhir Mario berhasil membuat Tama tertegun yang sekaligus melihat kepergian satu-satunya pengawal pribadi yang tersisa di rumah itu.
“Tidak tuan.” Jawab Tumiyem sambil menatap wajah tuannya. “Tidak katamu?” Tama pun menoleh dan menatap tajam kepada Tumiyem. Sungguh itu jawaban diluar dugaannya. “Lalu apa yang membuatmu datang kepadaku dengan membawa tas sebesar itu. Bukankah itu semua isinya adalah pakaian?” Tanya Tama sambil melihat tas itu.
“Benar tuan. Isi tas ini adalah pakaian, tetapi ini bukan pakaian saya tuan.” Sahut Tumiyem singkat. “Lalu? Siapa pemilik pakaian itu Miyem?” Tama merasa heran. Dia pikir Tumiyem akan pergi seperti pelayan yang lain, namun pelayan satu ini ternyata berbeda.
“Aku tidak akan pergi meninggalkan keluarga Harun. Aku akan setia menemani keluarga anda tuan. Aku tidak bisa lupa bagaimana keluarga Harun memperlakukan saya dengan baik sejak kecil. Dan tas ini milik Dokter Flo tuan. Dia menelepon saya untuk mengemas bajunya dan mengirimkannya.” Jelas Tumiyem.
“Syukurlah. Kau memang pelayan yang tidak ada duanya Miyem. Kau begitu setia dan aku salut kepadamu. Lalu tas itu silahkan kau kirimkan segera ke pemiliknya. Isi dari tas itu pasti sangat mahal, bahkan lebih mahal dari apartemen kota. Kau pasti tahu itu.” Kata Tama. Raut wajahnya yang tadinya sedih berubah menjadi kaku dan sedikit kesal.
__ADS_1
“Kau tahu, Flo yang selalu bilang teman masa kecilku itu ternyata sama saja dengan wanita diluar sana yang memandang seorang laki-laki dengan materinya. Bahkan dia pernah mengaku mencintaiku Miyem, dan untung saja aku tidak pernah tertarik kepadanya. Kemudian waktu memperlihatkan segalanya Miyem. Cepat kirimkan tas itu!” Perintah Tama kepada kepala pelayan wanita itu.
“Baik tuan.” Gegas Tumiyem pergi meninggalkan tuannya.
“Oh ya, bagaimana dengan keadaan ibu?” Kata Tama namun dalam hati. Ia pun beranjak dari tempatnya dan menuju ke kamar kedua orang tuanya.
“Tama…” Lirih Nyonya Bella saat melihat putra tampannya masuk dengan membuka pintu. “Ibu, apa lagi ini?” Tama segera membereskan botol-botol minuman keras yang berserakan di lantai kamar itu.
“Apa itu? aku tidak tahu.” Sahut Nyonya Bella dengan pipi yang merah karena sedang mabuk. Selama ini, ditengah kondisi ekonomi keluarga Harun yang hancur masih saja nyonya besar itu bisa membeli minuman keras. Semua perhiasan miliknya ia jual satu persatu demi meneguk minuman keras untuk menghilangkan stress yang dirasakannya. Namun sayangnya, hal itu menghilangkan stressnya hanya sesaat.
“Hentikan ibu! Jangan memperburuk keadaan dengan terus mabuk!” Kata Tama dengan nada bicara yang cukup keras. Kepalanya semakin terasa berat sampai ke ubun-ubun. “Jangan meminumnya lagi.” Tama mengambil gelas yang dipegang oleh ibunya. Gelas itu berisikan air miras yang tinggal seperempat gelas.
“Jangan Tama! Jangan! Itu minuman terakhir ibu hari ini.” Air mata Nyonya Bella jatuh. Ia memohon bak orang yang sedang lapar dan butuh makanan untuk mengisi perutnya. “Tidak, tidak ada akan kubiarkan ibu terus seperti ini.” Ujar Tama yang menangkis tangan ibunya yang terus ingin mengambil gelas itu.
“Tama!” Bentak Nyonya Bella dengan tatapan yang marah dan mata yang merah. “Berikan gelas itu sekarang!” Nyonya Bella seakan berbicara dengan orang lain bukan kepada Tama. Dari Tama kecil hingga sekarang, ibu yang selalu menyayanginya dan tak pernah memarahinya kini berubah hanya karena kecanduan miras.
“Tidak! Tidak akan!” Sahut Tama. Terjadilah tarik menarik gelas antara ibu dan anak hingga akhirnya…
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka lagi. Seseorang masuk tanpa permisi ke kamar itu.
__ADS_1
“Kau…” Ucap Tama dan Nyonya Bella bersamaan.