Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 55


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang lain, seorang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan Kirana dengan membawa sebuah nampan yang mana di atasnya ada sebuah ponsel berwarna merah.


“Permisi nyonya, saya ditugaskan memberikan ponsel ini kepada Anda.” Ujar pelayan tersebut sambil mendorong nampan itu ke depan Kirana. Ia pun menundukkan kepala saat melakukan hal itu membuat Kirana mengingat Tumiyem, teman satu-satunya di kediaman Tuan Harun.


“Untuk apa ponsel ini?” Tanya Kirana sembari mengambil ponsel tersebut. “Saya diberitahu bahwa Anda akan dihubungi oleh suami Anda.” Sahut pelayan wanita itu. “Oh seperti itu, baiklah, terima kasih.” Kata Kirana kemudian membuka kunci layar ponsel tersebut.


“Saya akan kembali lagi nanti saat anda selesai memakai ponsel itu nyonya.” Kemudian pelayan wanita itu mundur dan berbalik serta keluar dari ruangan Kirana. Kirana gegas memegang gagang pintu untuk menyusul pelayan wanita yang baru saja ia temui.


“Sial! Langsung di kunci oleh mereka.”


Gumamnya. Tiba-tiba telepon rumah yang berada di atas nakas berbunyi namun Kirana tidak memperdulikan lagi panggilan itu. Ia hanya duduk di kasur sambil menatap layar ponsel merah tersebut untuk menunggu Tama melakukan panggilan kepadanya.


“Kirana, tidak masalah jika kau tidak berniat untuk mengangkat panggilanku. Aku hanya ingin memberitahu mu bahwa sebentar lagi suami mu akan melakukan panggilan video pada ponsel yang sedang kau pegang itu.


Waktu mu hanya lima menit. Setelah waktu lima menit itu habis secara otomatis panggilan itu akan terputus.” Terang Tuan Azego.


Kirana hanya mendengar tanpa menjawab karena bagaimana pun ia menjawab, ia telah tahu suara berat dari seorang bapak tua yang terdengar itu tidak akan bisa mendengarnya.


*


*


Melirik Dokter Flo yang menghilang dibalik pintu, gegas Tama terbangun dan menutup pintu kamarnya. Ia pun mengambil ponselnya lalu melakukan video call dengan kontak bernama Kirana pada ponsel itu.


“Halo…” Suara yang dirindukan pun akhirnya terdengar. Wajah yang dicemaskan keadaannya pun muncul pada layar itu membuat Tama tidak menjawab sapa dari istrinya.


“Halo Tama? Kenapa kau diam saja?” Senyuman manis yang dilayangkan oleh Kirana seketika membuyarkan lamunan tuan muda itu. “Ah iya, apa kau baik-baik saja di sana?” Tama menggaruk kulit kepalanya. Ia merasa kaku dalam komunikasi itu.


“Ya, aku baik-baik saja.” Kirana tersenyum ceria. Yah, selama terkurung di sana akhirnya ia bisa merasa hidup karena bisa berhubungan dengan orang yang ia kenal. “Apa kau di perlakukan baik di sana?” Tanya Tama cemas mengingat perlakuan Tuan Azego kepada mereka di rubanah waktu itu.


“Tidak apa Kirana, katakan saja, jangan takut. Jika kau memang diperlakukan buruk aku akan ke sana sekarang juga.” Ujar Tama dengan tatapan tajam. Dia bersungguh-sungguh dalam kalimatnya itu. Ia akan meninggalkan tugas yang diberikan kepadanya jika Tuan Azego tak memegang perkataannya.


“Tidak, aku justru baik-baik saja di sini. Mereka melayaniku dengan baik, seperti di rumah mu walaupun ya memang ruangan di sini lebih sederhana dibandingkan dengan kamar kita. Tetapi, itu semua sudah lebih dari cukup.” Terang Kirana kemudian dia pun berdiri dan melangkahkan kaki menuju kulkas.


“Kau lihat ini?” Kirana merubah posisi kamera depan menjadi ke kamera belakang. “Ada banyak buah-buahan dan makanan di kulkas ini sehingga aku bisa makan apa saja yang aku inginkan. Dalam sehari aku juga dibawakan makanan berat tiga kali kemari dengan menu yang tak sama setiap hari. Tapi…” Kirana tampak berpikir.


“Tapi kenapa Kirana?” Tama berdiri dan cemas kepada istrinya. “Tapi, kenapa nafsu makan ku semakin bertambah. Kau lihat saja ini.” Kirana mengembalikan kembali posisi kamera belakang ke kamera depan. Kini Tama melihat perut Kirana yang sedikit besar dari biasanya.


“Ada apa dengan perutmu?” Tanya Tama bingung. “Kau lihat? Perutku bertambah besar dari sebelumnya karena aku banyak makan hehehe…” Kirana terkekeh. Yah, selain berdiam diri sendirian di ruangan itu, ia hanya bisa makan tanpa banyak bergerak.


“Bukankah itu karena bayi kita?” Tama tersenyum pada layar itu membuatnya Kirana membulatkan matanya. “Kau benar! Aku… aku sedang hamil bukan? Oh tidak bagaimana ini?” Tiba-tiba Kirana panik.


“Ada apa Kirana? Apa yang membuat mu panic?” Tama pun ikutan panic berjalan ke sana ke mari sambil melakukan panggilan itu.


“Bagaimana aku bisa hamil yang seharusnya janin ini menjadi adikku?” Kirana mengusap wajahnya dengan tangan kiri karena tangan kanannya sedang memegang ponsel.

__ADS_1


“Sudahlah Kirana. Jangan pikirkan itu lagi. Lebih baik kita sekarang pikirkan kebaikan dari bayi itu.” Sahut Tama yang menghentikan langkahnya dan berdiri tegak. Awalnya dia panic karena ia pikir Kirana sedang mengingat sesuatu yang sangat genting dan ternyata itu hanya menyangkut soal ibunya.


“Tapi, kau mencintainya bukan?” Tanya Kirana. Tetapi pertanyaan itu berhasil membuat Tama terdiam. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Tama menjawab, “Kirana lebih baik saat ini pikirkan kesehatan mu dan kesehatan janin itu dan tunggulah aku. Aku akan selalu mencari cara agar bisa membawa mu kembali.” Kemudian pangggilan itu terputus.


“Ada apa ini? Kenapa panggilan ini terputus?” Gumam Tama namun dalam hati. Ia pun mencoba untuk melakukan panggilan itu lagi namun gagal. “Hey, pak tua! Kenapa kau matikan panggilan ku terhadap Kirana?” Teriak Tama. Ia tahu betul bahwa itu pasti kelakuan dari Tuan Azego.


“Setiap kau melakukan panggilan video kepada istri mu, kau hanya bisa melakukan panggilan itu selama lima menit! Tidak lebih.” Sahut Tuan Azego saat mendengar dirinya sedang diajak bicara.


“Kau sangat pelit pak tua!” Kata Tama kesal. “Rupanya kau dan istri mu tidak saling mencintai tetapi memiliki anak bersama. Hm… itu sangat rumit hey tuan muda.” Tambah Tuan Azego, nadanya terdengar seperti orang yang berpikir.


“Itu bukan urusan mu.” Sentak Tama. “Yah, baiklah. Oh ya, kapan kau akan bekerja pada perusahaan ayahmu?” Tanya Tuan Azego. “Aku tidak tahu!” Jawab Tama ketus. “Hemm…” Tuan Azego pun tak berniat untuk bertanya lagi karena lambat laun ia akan mengetahuinya.


*


*


Keesokan harinya.


Sejak kemarin, bunyi dari telepon rumah dari Tuan Harun masih terus terdengar. Ada banyak panggilan yang sedang tidak ingin mereka layani termasuk dengan Tama. Pada saat sarapan bersama semuanya tampak terdiam dan tak saling manyapa satu sama lain.


“Apa tidur mu nyenyak Timi?” Tanya Dokter Flo saat melihat ada mata panda pada pria yang dicintainya. “Bagaimana aku bisa tidur jika telepon rumah yang ada di kamar ku terus berbunyi.” Sahutnya. “Kau benar, itu sangat mengganggu.” Dokter Flo ikut setuju dengan teman masa kecilnya karena ia pun merasakan hal sama.


“Biarkan saja telepon rumah itu. Mereka semua akan capek dengan sendirinya.” Sahut Tuan Harun pada percakapan putranya. “Iya nak, ayahmu bahkan mencabut kabel telepon yang terhubung oleh karena itu kami berdua bisa tidur nyenyak tadi malam.” Sambung Nyonya Bella dengan nada yang masih saja melemah persis kemarin.


“Ada banyak wartawan yang sedang menunggu di halaman tuan. Mereka semua ingin mewawancarai tuanku terkait siaran langsung yang telah viral kemarin.” Jelas Mario.


Kalimat yang diucapkan Mario itu sontak membuat semua yang mendengarnya menelan salivanya termasuk Dokter Flo yang bukan bagian dari keluarga itu.


“Apa perlu Flo saja yang keluar om?” Kata Dokter Flo, ia berencana menjadi pahlawan bagi keluarga itu agar ia bisa menarik perhatian Tama. “Tidak perlu sayangg…” Pesan Nyonya Bella kepada Dokter Flo hingga membuat dokter cantik itu mengurungkan niatkan.


“Biarkan saja mereka Mario.” Tuan Harun sedang tidak ingin digubris saat ini. Ia hanya melanjutkan untuk menyantap sarapannya tanpa ingin berpikir banyak.


“Baik tuan, akan ku sampaikan kepada mereka.” Kata Mario yang kemudian ia keluar dari ruang makan untuk bertemu dengan para wartawan. “Mario, biarkan saja. Kau tidak usah bertemu mereka. Kalau sudah lelah menunggu mereka akan pulang sendiri.” Teriak Tama namun teriakannya seakan tidak didengar sama sekali oleh Mario.


“Mariooo…” Kini Tuan Harun yang berteriak. “Tama benar. Biarkan saja mereka, jika kau muncul mereka malah akan mendapatkan berita dan kau pun akan terekspos lagi sama seperti kemarin.” Tambahnya. Akhirnya langkah Mario berhenti dan kembali berdiri di belakang Tuan Harun bak patung.


Sarapan itu berlangsung hening dan lesu. Semuanya mengakhiri sarapan mereka tanpa banyak berbicara. Tuan Harun melanjutkan aktifitasnya dengan membaca Koran di ruang tengah rumahnya. Isi dari Koran itu dipenuhi dengan berita keluarganya. Nyonya Bella pun terlihat setia menemani Tuan Harun dengan wajah lesunya. Sedang Tama banyak berdiam diri di kamar.


Tidak ada aktifitas di luar rumah bagi keluarga Harun termasuk Dokter Flo. Kebutuhan rumah tangga lainnya dilakukan oleh pelayan wanita ataupun pengawal pribadi kecuali Mario dan Tumiyem karena media cukup mengenal mereka bedua sebagai orang kepercayaan dari keluarga Harun.


“Apa kau tidak pergi bekerja hari ini tuan muda?” Tanya Tuan Azego kepada Tama. “Bagaimana aku bisa pergi bekerja dengan ayahku jika ingin keluar rumah saja tidak bisa.” Sahut Tama lesu. “Ada apa? Apa semua mobil ayahmu lenyap hingga kau tak bisa berkendara lagi?” Ejek Tuan Azego.


“Jangan berpura-pura tidak tahu. Ini semua karenamu pak tua! Ada banyak wartawan di luar sana yang menunggu kami untuk keluar.” Jawab Tama. “Kau bilang ini karena ku? Kau salah tuan muda. Bukankah yang membawa kru TV dan menyiarkan kejadian kemarin secara langsung adalah ayahmu? Hahaha…” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak.


“Terserah kau saja.” Kata Tama ketus. Bagaimana pun kondisinya, Tama akan selalu menyalahkan rentenir kaya itu. Ia tidak akan menyalahkan ayahnya karena kejadian itu.

__ADS_1


“Oh ya, aku lupa, itu semua juga gara-gara kau yang menukarkan berkas itu anak muda. Hahaha…” Tuan Azego merasa terhibur untuk hari ini. Tawanya cukup besar bagi orang tua sepertinya. Namun, kali ini Tama terdiam karena rentenir kaya itu ada benarnya juga.


“Ada apa tuan muda? Mengapa kau diam? Apa aku benar? Hahaha…” Rentetan pertanyaan itu membuat Tama jengkel tetapi ia hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa.


Kring… kring… kring…


“Arghhh! Ini lagi! Kenapa telepon ini tidak pernah berhenti berbunyi.” Teriak Tama.


Brakkk!


Telepon rumah itu hancur karena Tama melemparkannya ke lantai. “Fiuhhh…” Tama menghela nafasnya. Telepon yang sejak kemarin tak henti-hentinya berdering akhirnya mati juga.


“Ada apa tuan muda? Apa kau membanting sesuatu?” Suara berat yang berasal dari Earphone itu membuat Tama muak namun sayang alat yang menempel di telinganya itu tak dapat ia banting sama seperti telepon rumah miliknya.


Sementara itu, masih di kediaman Tuan Harun pada ruangan yang lain. “Permisi tuan.” Anak buah dari Mario datang menghampirinya dan berbisik. “Aku mengerti.” Sahut Mario saat bisikan itu selesai. Kemudian pengawal pribadi bawahan dari Mario tersebut pergi lagi.


“Maaf tuan.” Mario mendekati lagi tuannya dan hendak berbisik. “Jangan berbisik! Untuk hari ini katakan saja. Aku sedang tidak ingin mendengar bisikan dari siapapun.” Kata Tuan Harun yang belum selesai membaca Koran atas berita dirinya sendiri.


“Baik. Ada polisi di depan yang ingin bertemu Anda tuan.” Kata Mario. “Polisi? Untuk apa mereka kemari?” Seketika Nyonya Bella yang tadinya tampak lesu dan melamun tersadar dan terkejut.


“Katanya mereka ingin bertemu dengan Tuan Harun.” Sahut Mario. “Biarkan mereka masuk.” Kata Tuan Harun dengan ekspresi yang datar. “Sayanggg…” Nyonya Bella memegang punggung tangan suaminya dengan wajah yang bersedih. “Tidak mengapa sayangku.” Tuan Harun hanya tersenyum dan berusaha tegar.


“Permisi, apa Anda yang bernama Tuan Harun?” Tanya seorang polisi dengan pangkat perwira dibahunya. “Apa kau polisi baru hingga tidak mengenalku?” Kata Tuan Harun sambil menyeduh teh panas itu tanpa menoleh melihat ke sumber suara.


“Saya ke sini di perintahkan untuk memberikan Anda surat tahanan ini.” Kata polisi tersebut sambil memberikan surat itu kepada Tuan Harun. “APPAAA? Surat tahanan?” Sontak Nyonya Bella berdiri tidak percaya.


“Sayang… tenanglah.” Kata Tuan Harun kepada istrinya lalu meletakkan Koran yang dibacanya dan mengambil surat perintah itu dan membacanya. Setelah membacanya Tuan Harun kini melihat wajah dan seragam polisi tersebut.


“Apa kau tidak punya orang lain yang bisa kau suruh untuk mengantar surat ini? Maksudku, jika hanya sekedar mengantar surat, pangkatmu terlalu tinggi untuk itu.” Kata Tuan Harun datar.


“Yah, Anda benar pak. Tetapi saya ke sini bukan hanya untuk mengantar surat itu. Saya ke sini karena ditugaskan untuk sekalian membawa bapak ke kantor polisi karena bapak sekarang berstatus tersangka dalam pencemaran nama baik atas apa yang terjadi pada kediaman Tuan Azego.” Jelas perwira itu.


“Kau tidak perlu datang kemari. Pulanglah! Aku akan ke kantor polisi dengan sendirinya.” Kata Tuan Harun yang kemudian kembali mengambil Koran untuk membaca.


“Saya ditugaskan kemari untuk menahan bapak sekarang juga. Jika ada pembelaan diri, itu akan diproses secara hukum dan siapkan pengacara tuan di pengadilan nanti.” Kata perwira itu. Tuan Harun pun mendengus kesal.


“Apa kau tidak tahu siapa aku?” Tuan Harun berdiri dan menatap insten kepada perwira tersebut. “Hukum tidak memihak kepada siapa yang kaya dan siapa yang miskin.” Kata perwira itu yang membalas tatapan dari Tuan Harun.


“Kau sungguh naif!” Gigi Tuan Harun mulai bergemetar dan bergesekan satu sama lain. “Mari pak…” Polisi itu pun mempersilahkan Tuan Harun dengan sopan agar mau ikut dengannya. Karena telah membaca surat resmi itu, Tuan Harun akhirnya melangkahkan kakinya walaupun langkah itu terasa berat.


“Sayangggg…” Tiba-tiba Nyonya Bella berteriak sambil merangkul suaminya. Ia menahan langkah suaminya tersebut. “Sayang, jangan pergi. Kau tidak boleh ikut dengannya.” Teriak Nyonya Bella lagi.


“Kau jangan khawatir sayang, aku pulang dengan segera saat pengacara kita sampai di sana nanti.” Tuan Harun tampak tenang dan membelai rambut istrinya. “Mario berikan tongkatku.” Katanya lagi kepada pengawal pribadinya. Mario gegas mengambil tongkat itu dan memberikannya kepada tuannya.


“Sayanggg…” Nyonya Bella berteriak histeris. “Tama…” kemudian ia meneriaki putranya. Teriakannya cukup keras hingga membuat Tama keluar seketika dari kamarnya. “Ada apa ibu?” Kata Tama panic mendengar suara panggilan ibunya yang seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2