
Dorr\~
Kirana tersadar, akhirnya jiwa dan pikirannya kembali kepada raganya di ruangan itu. Ia lekas membasuh pipinya yang dibasahi air mata tersebut.
“hentikan langkahmu pak!” teriak Tama sambil menangis. Setelah melepaskan tembakan pertama ke atas karena pak Bambang yang tidak mengikuti perkataannya untuk tidak mendekat. Pak Bambang yang memang melangkahkan kaki selangkah itu lekas terpatung dan tak bergerak.
Lengan kiri dari Tama sedang ia angkat untuk membasuh pipinya yang basah. Ia mengusap kedua pipinya itu menggunakan kulit lengannya.
“pak Tama, jangan gegabah pak.” Polisi muda itu meluruskan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka. Sedangkan pak Bambang sejak tadi mencoba mencuri pandangan mata bawahannya tersebut karena ia ingin memberikan kepadanya kode untuk bertindak. Hanya saja polisi muda itu masih terfokus kepada Tama yang sedang menggila.
Tama kini tak meletakkan lagi pistol yang ia pegang itu di kepalanya. Sekarang pistol itu tertuju kepada kedua polisi yang ada dihadapannya itu bergantian.
Pak Bambang melirik ke lantai ke dekat kakinya. Ternyata ada sebuah pena yang tergeletak di lantai yang hampir menyentuh kakinya. Pak Bambang menendang pena itu dengan sangat perlahan hingga akhirnya berguling dan mengenai polisi bawahannya.
Polisi muda tersebut melihat benda ringan yang baru saja menyentuh kakinya, lalu kedua bola matanya memutar untuk melihatnya atasannya. Dengan sekali lirik, polisi muda melihat bahasa isyarat yang perintahkan kepadanya dan hanya dia yang mengetahui arti dari kode tersebut.
Plak-tak-kerkkk\~
Dengan tiga gerakan pak Bambang berhasil mengalahkan Tama untuk melepaskan pistol tersebut. Pertama, pak Bambang memukul keras tangan Tama hingga pistol itu terjatuh. Kemudian dengan cepat ia menarik kedua lengan Tama dan menekuk lutut pada belakangnya hingga Tama terjatuh dan berlutut. Kedua tangan Tama ditarik ke atas dan langsung di borgol.
“masukkan pria ini ke dalam sel sementara.” Perintah pak Bambang kepada polisi bawahannya tersebut. Segera polisi muda itu mengambil dan mendorong kasar Tama untuk mengikuti perintahnya.
“Kirana, tolong kau hubungi ayahku!” Teriak Tama dengan menatap tajam kepada Kirana. Kirana mengangguk seraya berkata iya, namun bagaimana ia bisa menghubungi mertuanya itu jika kartunya saja sudah mati.
“maaf bu Kirana, kami terpaksa menahan suami anda untuk sementara. Karena membuat kekacauan disini.” Terang pak Bambang yang kembali mempersilahkan Kirana untuk duduk. Kirana mengikuti arahan dari polisi berpangkat tersebut.
Dar!
Pintu ruangan itu terbuka dengan paksa karena sepuluh polisi dari luar mendorong pintu tersebut menggunakan kaki mereka. Ke sepuluh orang itu masing-masing menyodorkan sebuah pistol ke dalam ruangan tersebut.
Polisi muda yang berjalan bersama Tama dengan posisi Tama berjalan di depannya serta dengan tangan yang diborgol, ketika pintu itu terbuka hampir saja pintu itu mengenai dirinya.
“sudah beres.” Kata pak Bambang sesaat setelah pintu itu terbuka. “siap pak!” ke sepuluh polisi itu berdiri tegap dan hormat pak Bambang kemudian mereka meletakkan pistolnya masing-masing di pinggul mereka dan membubarkan diri.
__ADS_1
Tama di giring ke dalam sel sementara di ruangan yang terbuka yang terdapat beberapa meja kerja polisi disana.
“maafkan kejadian ini pak polisi.” Ujar Kirana dengen menghela nafasnya. “tidak masalah bu, ini mudah untuk kami tangani.” Sahut pak Bambang. “oh ya bu Kirana, jika boleh tahu apa benar ibu adalah anak kandung dari Riyanda Beatrice Sugiono?” pak polisi itu menatap wanita yang duduk di depannya dengan tatapan yang penuh menyelidik.
“benar pak.” Jawab Kirana jujur. “lalu kapan terakhir ibu Kirana bertemu dengan ibunda?” sambung pak Bambang. “dua hari yang lalu pak.” Jawab Kirana lagi. Polisi berpangkat itu terlihat menulis setiap jawaban dari Kirana.
“dimana?” pak Bambang melanjutkan pertanyaannya. “di rumah saya pak, di jalan pangeran lorong melati.” Sahut Kirana datar. “loh kok?” pak Bambang menyentuh bibirnya dengan pangkal pena yang ia pegang. Ada kejanggalan yang polisi itu temukan.
“maksudnya bagaimana bu Kirana? Rumah ibu di jalan pangeran lorong melati, tetapi apartemen itu berada di jalan pattimura districk 11.” Kata pak Bambang seraya berpikir.
“iya benar pak, rumah saya di jalan pangeran lorong melati. Dan apartemen itu saya juga baru tahu ternyata apartemen itu milik ibu saya. Sebenarnya ini semua membuat saya bingung dan pusing pak. Saya merasa seseorang yang tinggal pada apartemen itu bukan ibu saya karena selama ini saya tinggal bersama ibu saya di alamat jalan pangeran itu.” Kirana menyentuh kepalanya menggunakan kedua tangannya.
“waduh, maksudnya gimana ini? Kenapa ada dua alamat dan kenapa ibu Kirana tidak mengetahuinya.” Kata pak Bambang sembari mengambil sebuah gagang telepon rumah yang ada pada meja kerjanya.
“halo, bisa hubungkan saya kepada detektif Aido?!” pak Bambang kemudian menunggu beberapa saat hingga akhirnya ia tersambung kepada panggilan detektid Aido. Kirana hanya memperhatikan polisi berpangkat di depannya itu dengan wajah datar nan sendu.
Setelah terdiam beberapa menit dan mengangguk mengerti, pak Bambang menutup panggilan suara itu dengan meletakkan gagang telepon rumah tersebut pada tempatnya.
“ahhh benar juga, biarkan anggota kepolisian yang lain yang mengantarkan ibu pulang.” pak Bambang tampak mengambil benda pipih miliknya yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Ia hendak menghubungi salah satu anggotanya untuk memperintahkan kepada anggotanya itu agar mengantar pulang Kirana.
“saya tidak mau pak. Saya akan pulang bersama dengan suami saya.” Ujar Kirana sembari melihat ke sisi kanan dan kiri untuk mencari sosok suaminya yang telah keluar ruangan. “pak Tama menjadi tahanan sementara kami. Atau begini saja, ibu bisa menghubungi keluarga ibu untuk memberitahu keadaan ibu sekarang beserta suami ibu.” Jelas pak Bambang. Benda pipih yang hampir ia gunakan itu kembali ia letakkan di atas meja.
“tapi saya tidak tahu nomor keluarga suami saya pak.” Kata Kirana jujur. Pak Bambang hanya bisa menghela nafasnya, entah Kirana polos atau bodoh yang jelas jawaban dari Kirana tak masuk akal baginya.
“baiklah, siapa nama keluarga suami anda bu Kirana? Biar saya yang akan coba untuk mencari informasinya.” Kini pak Bambang memilih untuk menanyai bawahannya dibandingkan dengan Kirana yang tampak bingung dengan informasi pribadi yang penting.
“nama keluarga suamiku adalah keluarga Harun. Dia anak dari tuan Harun.” Kirana berkata masih dengan wajah datarnya.
Deg.
“ternyata dia anak dari tuan Harun.” kata pak Bambang dalam hati. Yah, pak Bambang adalah salah satu polisi yang tunduk kepada tuan Harun. Apa lagi jika ia tunduk karena kekuasaan dan permainan uang. Tidak semua polisi seperti pak Bambang, namun di kantor itu pak Bambang cukup berkuasa hingga bisa mengatur bawahannya sesuai kemauannya.
“baiklah jika begitu kami akan menghubungi keluarga dari suami bu Kirana. Bu Kirana bisa menunggu pada ruang tunggu diluar ruangan ini sebelah kanan.” Jelas pak Bambang.
__ADS_1
Kirana keluar dari ruangan pak Bambang dan menuju ke sebuah kursi kosong yang disediakan bagi orang-orang yang sedang menunggu. Kemudian tiba-tiba tuan Harun datang dengan tiga orang pengawal pribadinya termasuk Mario.
“siapa yang berani menahan anakku disini.” Dengan lantang suara tuan Harun sontak membuat para polisi itu berdiri dan kebingungan. Mereka kebingungan karena siapa kakek tua itu yang sangat lancang masuk tanpa permisi dan langsung semena-mena menanyakan anaknya.
Pak Bambang mendengarkan teriakan tuan Harun hingga ke ruangannya. Gegas ia beranjak dari tempatnya dan keluar ruangan. “pak Harun, ku rasa ini hanya salah paham.” Dengan senyuman ramah di pipinya pak Bambang mendekati tuan Harun. “mari pak kita bicarakan baik-baik di ruanganku.” Pak Bambang menggiring kakek tua itu masuk ruangannya. Sedangkan tiga pengawal pribadinya berdiri di luar di depan pintu ruangan tersebut.
Melihat Mario yang berdiri yang menghadap kepada Kirana dengan senyuman sinis sontak membuat Kirana memutar arah duduknya untuk membelakangi pria brengsek tersebut.
Flashback on
Mario sedang berjaga di pintu luar kamar tuan Mario. Gerrkkk… ponselnya bergetar karena mendapatkan panggilan suara dari anak buahnya. “halo, bos, tuan muda sedang di tahan di kantor polisi!” kata anak buah Mario tersebut.
“apa benar dia tuan muda bernama Tama anak dari tuan Harun?” Mario mencoba untuk memastikannya lagi. “benar bos! Aku tidak mungkin salah.” Sahut anak buah Mario tersebut. “baiklah, terima kasih informasi yang kau berikan. Sebentar lagi akan ada uang yang masuk ke rekeningmu.” Tambah Mario. “wah, terima kasih bos!” suara anak buah Mario terdengar gembira. Lalu Mario menutup panggilan itu dan mengetuk pintu kamar tuannya.
Tok… tok… tok… suara ketukan tangan Mario pada pintu kamar tersebut. Gerrkkk… ponsel Mario bergetar lagi, namun panggilan suara kali ini berasal dari tuannya. “ada apa Mario?” dengan suara yang berat tuan Harun menelepon pengawal pribadinya setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya.
“Tama sedang di tahan kantor polisi tuan.” Jelas Mario to the point. “apa katamu?” sontak tuang Harun bangun dan duduk. “Bella cepat bangun!” jelas terdengar pada ponsel Mario tuan Harun yang membangunkan istrinya.
“kau bersiap-siap, kita akan ke kantor polisi sekarang juga.” Perintah tuan Harun kepada pengawal pribadinya. Kemudian ia bergegas mengenakan pakaiannya dan meninggalkan Nyonya Bella yang tertidur sendirian karena ia tak jua bangun setelah dibangunkan oleh tuan Harun.
Flashback off
“silahkan duduk tuan Harun.” pak Bambang mempersilahkan seseorang yang menjadi ATM berjalannya itu. “jangan banyak basa-basi. Apa yang membuat Tama ditahan di kantor ini?” tuan Harun tampak kesal.
“begini tuan, anak dan menantu tuan menemukan seorang wanita yang tak bernyawa di sebuah apartemen mewah districk 11.” Pak Bambang sedang memulai untuk menjelaskannya dari awal dan ia hendak untuk melanjutkannya lagi, namun tuan Harun langsung menyeka pembicaraan itu.
“lalu apa dia yang membunuhnya? Aku yakin bukan dia pelakunya. Dia memang anakku tapi dia tidak sama sepertiku.” Kata tuan Harun. “benar tuan. Bukan dia pelakunya tetapi dia membuat kekacauan disini dengan mengambil pistol salah satu anggota polisi di sini dan hendak bunuh diri dengan menggunakan pistol tersebut.” Jelas pak Bambang.
“apa? Itu tidak mungkin! Untuk apa Tama seperti itu?” tuan Harun bergidik heran. “saya juga tidak tahu tuan. Yang jelas saat dia mengetahui identitas dari wanita yang tak bernyawa itu ia langsung frustasi dan hilang kendali.” Tambah pak Bambang.
“memangnya siapa wanita itu?” tuan Harun melipat tangan di atas meja dan sedikit memajukan wajahnya untuk mendekatkannya kepada wajah pak Bambang. “wanita itu bernama Riyanda Beatrice Sugiono.” Sahut pak Bambang.
“APPAAA?” sontak tuan Harun berdiri. Kursi yang ia duduki otomatis mundur ke belakang. “pupus sudah harapan uang 5 milyarku kembali.” Gumamnya.
__ADS_1