Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 25


__ADS_3

Tama membuka perlahan pintu apartemen itu. Kirana sedikit takut dan berdiri di belakang Tama dengan tangan yang memegang kedua bahu suaminya. “oh ****!” gumam Tama dalam hati saat ia merasakan genggaman tangan wanitanya. Yah, karena lagi focus mudah saja pikirannya teralih kepada siapa yang telah datang ke apartemen yang telah kosong selama dua hari itu.


“housekeeping…” teriak seorang pemuda dengan senyuman lebar. “fiuhhh..” Kirana dan Tama menghela nafas secara bersamaan. “maaf kami tidak memanggil housekeeping kemari.” Sahut Tama. Pemuda itu tampak bingung namun karena penolakan yang diberikan, ia pun memutar balik badannya dan melangkah pergi.


“Tungguuu…” Kirana gegas mengambil posisi Tama, ia mendorong kasar suaminya ke belakang. Pemuda itu menghentikan langkah dan menoleh kepada Kirana. “kenapa kau datang, siapa yang memanggilmu?” tatapan Kirana terlihat menyelidik.


Pemuda yang membawa alat-alat kebersihan itu kembali ke depan pintu apartemen. “Nyonya yang cantik dan berambut pirang selalu memintaku datang untuk membersihkan apartemen ini tiap hari.” Kata pemuda itu dengan wajah datarnya.


“benarkah?” kini Tama yang menarik paksa Kirana dan ia kembali ke posisi awal. Mendengar perkataan dari pemuda itu membuatnya sangat bersemangat. Tetapi Kirana tidak mau kalah, ia tak mau berada di belakang untuk mengetahui dimana keberadaan ibunya hingga dia berdiri sejajar bersama Tama.


“apa kemarin Riyanda juga memanggilmu?” tanya Tama dengan nafas yang terlihat cepat. “Riyanda? Apa Nyonya cantik itu bernama Riyanda?” tanya pemuda itu, ia tampak bingung karena selama ini ia tidak mengetahui siapa nama dari pelanggannya itu. Pemuda itu selama ini memanggil pelanggan yang paling royal itu dengan panggilan Nyonya.


“iya benar.” Sahut Kirana cepat. “apa dia kemarin memanggilmu juga?” tambah Kirana. Pemuda itu melihat Tama dan Kirana secara bergantian. “maaf anda siapa? Aku tidak bisa banyak berbicara kepada orang yang bukan klien kami.” Sahut pemuda itu datar.


“ahhhh kau ini sangat menyebalkan. Ini lihat.” Tama memegang lengan atas Kirana dan membawanya berdiri di depannya, sedangkan Kirana hanya bisa melebarkan kedua sudut bibirnya dengan paksa.


“wanita ini adalah anak dari Riyanda, silahkan saja kau lihat dengan pasat wajah wanita ini.” Kata Tama dengan wajah yang berada di atas kepala Kirana. Yah, memang Tama lebih tinggi dibandingkan Kirana.


“ahhh kau benar, mereka sangat mirip. Aku sungguh bodoh tidak dengan cepat menyadarinya. Salam kenal Nona, saya Vindra Housekeeping dari PT. Matahari Sunrise.” Pemuda itu tampak menunduk memberikan hormat.


“Housekeeping PT. Matahari Sunrise, ruang anda bersih kami pun tenang, Tadaaa….” Pemuda itu seketika bergerak seperti orang yang berlari di tempat serta dengan tangan yang naik ke atas dan turun ke bawah dengan tangan kanan yang memegang sapu dan tangan kiri yang memegang sapu pel. Nadanya pun tiba-tiba berubah riang dan memiliki ritme, karena tagline perusahaan mereka memiliki nada yang unik jika diucapkan.

__ADS_1


Kirana dan Tama memandang satu sama lain, ingin sekali rasanya mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Namun, apa boleh buat, tidak ada tawa sekarang, yang ada hanyalah mimic wajah yang serius dari keduanya untuk mendengarkan jawaban dari pemuda tersebut.


“hmm..” pemuda itu menghela nafas kasarnya. Ia sedang menyadari bahwa iyel-iyel miliknya barusan terlihat tidak menarik dan tidak lucu, padahal jika ia melakukan itu di depan Riyanda, maka janda satu itu akan tertawa terbahak-bahak hingga pemuda itu menjadi senang karena dapat menghibur kliennya.


“permis Tuan, Nona.” Pemuda itu berencana untuk pergi meninggalkan pintu apartemen. “tunggu…” Tama menarik lengan pemuda itu. Seketika pemuda yang berlambang Pelangi itu langsung tersenyum dan tersipu malu. “ada apa Tuan?” ia tersenyum manis sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


“mau kah kau bergabung bersama kami untuk makan siang bersama.” Tama melayangkan senyum yang tak bisa dibaca oleh pemuda itu. “tentu, memang aku belum makan dan lapar.” Jawab pemuda itu jujur.


“kalau begitu mari masuk.” Kirana membuka lebar pintu apartemen mewah tersebut. Pemuda itu masuk dibarengi dengan sepasang pengantin baru itu. “apartemen ini tetap bersih walaupun kemarin aku tak datang membersihkannya.” Gumamnya.


“oh ya silahkan duduk.” Ucap Tama. Kirana mengambil peran untuk membuka langsung kulkas besar dua pintu yang menempel pada kitchen set tersebut. Kemudian Kirana memulai keahliannya itu, ia lekas mengambil bahan makanan, memakai sarung tangan, mengambil pisau dan mulai beraksi untuk memasak.


Sementara itu, Tama sedang melakukan aksi detektifnya kepada pemuda berlambang Pelangi itu. “oh ya, kau bilang setiap hari datang membersihkan apartemen ini.” Tama memulai pembicaraan itu saat duduk bersama dengan pemuda tersebut.


“hey Vindra, aku pernah dibertahu oleh Riyanda kalau ia yang membersihkan seluruh ruangan ini. Siapa yang benar, dia atau kau?” dengan sekali lihat ke seragam pemuda itu Tama sudah bisa mengetahui nama pemuda itu dan tatapan Tama sungguh menyelidik. Pemuda itu berpindah tempat duduk ke tempat Tama.


“menurutmu siapa yang lebih bisa kau percaya.” Pemuda itu menyentuh paha dari putra Nyonya Bella itu. “ahhh… ku rasa…” Tama berkata terbata dengan bulu kuduk yang berdiri. Dia baru menyadari lambang dari Pelangi yang ada di atas kantong seragam pemuda tersebut.


“ku rasa kau yang benar.” Tama menyingkirkan tangan pemuda tersebut dari pahanya. “yang memasak itu adalah istriku. Jangan biarkan dia melihatnya.” Tama mengedipkan sebelah matanya kepada pemuda tersebut. Dia sedang berackting menjadi sesama lambang Pelangi agar rencana mengoreksi informasi tentang Riyanda berjalan dengan lancar.


“oh seperti itu, baiklah.” Pemuda itu membalas kedipan Tama. Ia berpindah tempat duduk ke tempat semula. “sebenarnya apa maumu Tuan?” pemuda itu mencoba langsung ke inti pembicaraannya bersama Tama. Dengan kedipan yang dilayangkan kepadanya dengan cepat ia mengambil kesimpulan bahwa Tama bukanlah seorang laki-laki yang sefrekuensi dengannya. Lambang Pelangi tidak diberikan dengan kedipan mata.

__ADS_1


Tama tersenyum senang. “ternyata kau cukup pintar untuk menyadarinya.” Ujar Tama. “untuk apa kau mencari wanita itu jika kau telah menikah dengan anaknya. Kau lelaki yang sangat serakah.” Pemuda itu kembali melipat kakinya dan seakan mengibaskan rambut pendeknya padahal tidak ada sehelai rambutnya yang terkibas.


“ceritanya sangat panjang, lain kali kuberitahu kepadamu. Oh ya, aku tahu kau datang jika Riyanda tidak sempat datang ke apartemen ini.” Tama kembali memasang tatapan yang penuh dengan menyelidik.


“okay, you are right! Lalu teruskan.” Pemuda itu melebarkan telapak tangannya dan memandangi kukunya yang berkilau bersih. “lalu kapan terakhir kau bertemu dengan Riyanda?” Tama sedikit mendekatkan diri dan berbisik kepada Vindra.


“dua hari yang lalu.” Vindra meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri. “waktu itu dia menyuruhku datang dan membersihkan semua apartemennya. Tetapi pada hari itu ada yang sedikit berbeda dengannya. Selain kecantikan dan mode fashion internasional yang selalu ia kenakan, pada hari itu Riyanda tampak mengemasi barang-barang dan memasukkannya ke dalam sebuah koper.” Terang Vindra.


“apa kau tahu dia pergi ke mana Vindra?” Tama menatap Vindra dengan intens. “ahhh ku mohon jangan menatapku seperti. Kau terlalu tampan hingga membuatku bergairah sayang.” Vindra mendekatkan wajahnya kepada Tama sedangkan Tama menjauh karena risih dengan reaksi dari housekeeping tersebut.


“baiklah, aku tidak akan menatapmu lagi.” Tama mengalihkan pandangannya. Sementara itu sambil memasak Kirana memasang kupingnya lebar-lebar. Jika saja dia tidak lapar, dia akan memilih duduk untuk bergabung bersama Tama dan Vindra.


“aku tidak tahu dia pergi ke mena sayang. Tetapi aku tahu kapan ia akan pulang.” Vindra berdiri beranjak dari tempatnya. “kau mau ke mana?” tanya Tama, jika Vindra melangkah lagi maka dengan cepat ia akan menarik lengan pemuda itu lagi.


“aku tidak akan ke mana-mana, aku hanya meluruskan punggungku sebentar. Hari ini ada banyak apartemen yang ku bersihkan hingga membuatku lelah.” Vindra merubah mimic wajahnya menjadi murung.


“oh ya, apa benar kau ingin tahu kapan dia akan pulang? dan apa alasanmu untuk itu, bagaimana dengan wanita itu?” Vindra menunjuk Kirana di dapur menggunakan bibirnya. “aku tidak mencintainya, dia pun juga begitu.” Sahut Tama.


“sayang sekali, padahal kau lebih serasi dengannya dari pada Nyonyaku. But, whatever! Itu bukan urusanku.” Pemuda itu duduk lagi dan melipat kaki dengan lentik. “kapan Riyanda akan pulang Vindra?” Tama agaknya merasa sangat tidak sabaran untuk mendengarkan jawaban dari pemuda itu.


“dia akan pulang hari ini, maka dari itu dia memintaku untuk membersihkan apartemennya hari ini.” Vindra tersenyum manis kepada Tama. Begitu juga sebaliknya, Tama tersenyum penuh dengan rasa gembira.

__ADS_1


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Kirana yang sedang memotong sayuran di atas talenan menghentikan kegiatannya. Vindra lekas berdiri diikuti oleh Tama. “ku rasa itu dia, karena dia selalu datang sebelum jam makan siang.” Ujar Vindra dengan wajah yang datar.


__ADS_2