Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 35


__ADS_3

“hm.” Jawab Kirana dengan hanya mengeluarkan tekanan suara dari kerongkongannya.


“apa yang sedang kau pikirkan? Jika kau memikirkan ibumu maka aku pun demikian. Ku rasa kita berdua sama-sama mencintai orang yang sama. Tapi Kirana, sekarang bukan saatnya untuk terus bersedih. Kau masih muda, dan masih terus bisa melakukan banyak hal.” Terang Tama.


“Tama…” bergantian, kini Kirana yang memanggil lembut suaminya.


“hm.” Jawab Tama singkat mengikuti jawaban Kirana sebelumnya.


“aku tahu kalau aku masih muda, aku tahu kalau aku masih punya banyak waktu. Tetapi aku sangat menyesal karena tidak banyak waktu yang bisa ku jalani bersama ibuku.” Air mata Kirana menetes lagi. “sudahlah, jangan menangis. Aku akan terus menjagamu, kau ingat, kau itu anakku.” Tama membasuh air mata istrinya kemudian memeluknya.


Kirana yang dipeluk pun semakin mendekatkan dirinya kepada Tama. Memang benar jika sekarang dia sangat butuh sandaran. Tidak ada siapapun di dunia ini yang ia miliki selain ibunya dan untungnya ada Tama yang selama dua minggu terakhir ini selalu menemaninya.


Kepala Kirana tepat berada di dagu Tama. Mereka berpelukan dan tenggelam ke dalam kenangan terhadap orang yang sama yaitu Riyanda. Tama tampak mengelus lembut rambut Kirana. Ia mencium aroma khas shampoo yang dipakai oleh istrinya. Di leher Tama sangat jelas terasa hembusan nafas hangat yang keluar dari hidung Kirana.


Merasa kasihan, Tama pun semakin memeluk erat istrinya.


“mau kah kau berjanji untuk terus berada di sampingku? Agar aku bisa menjagamu kau harus terus berada di sampingku.” Tama memikirkan banyak hal hingga ia menawarkan hal tersebut.


“tidak perlu Tama, saat aku merasa baik, aku akan segera meninggalkan rumah ini.” Kirana menjawab dengan jujur. Untuk apa lagi dia tinggal di rumah itu jika ia tak bisa mengharapkan kedatangan ibunya. Karena selama ini selain terjebak di rumah itu, ia juga berharap ibunya datang untuk menjemputnya mengingat bahwa Tama adalah calon suaminya yang tentu Riyanda akan datang untuk menemuinya.


“jangan lakukan itu Kirana, ku mohon!” Tama mencium kepala Kirana. Saat ini, tidak ada lagi wanita yang ingin ia jaga selain Kirana. Istri dari tuan muda itu terdiam untuk yang kesekian kalinya.


“aku tidak akan sanggup untuk terus berada di sampingmu Tama.” Gumamnya. “karena kau sangat perhatian kepadaku, dan hal itu bisa merobohkan pertahananku selama ini. Aku masih ingin menghormati ibuku walaupun ia telah tiada.” Kirana menyeru dalam hati.


Kirana sebenarnya enggan untuk terus bersama Tama. Salah satu alasannya adalah wanita itu tidak ingin mencintai laki-laki yang hendak menjadi ayahnya sendiri. Apalagi Tama terlalu tampan dan kaya. Terlebih lagi, pria yang sedang memeluk hangat dirinya itu ternyata sangat perhatian. Dan itu semua membuat pertahanan Kirana yang selama ini dia bangun hampir goyah dan hancur.


Kedua orang itu terlarut dalam tidurnya masing-masing dengan tubuh yang saling berpelukan.


*


*


“maaf tuan.” Gegas Mario meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai itu. Pengawal pribadi tuan Harun itu memakai pakaiannya dengan terburu-buru. Begitu pula dengan kedua wanita seksi itu. Karena tak sanggup melihatnya, tuan Harun keluar dari ruangan itu dan duduk kembali diruangan VIP yang telah di sewanya.


“kalian berdua kemari.” Tuan Harun mengeluarkan uangnya lagi untuk memberikan biaya jasa yang telah diberikan kedua wanita itu untuk pengawal pribadinya. Kedua wanita itu keluar lebih dulu dibandingkan dengan Mario.


“ini ambillah, semua untuk kalian berdua, bagi dua saja.” Tuan Harun memberikan uang senilai 15.000.000 rupiah kepada satu dari wanita seksi tersebut. “terima kasih tuan.” Kata wanita yang menerima uang pemberian dari tuan Harun. Lalu keduanya beranjak pergi meninggalkan ruangan VIP itu.


Mario pun akhirnya keluar dari kamar itu. “Mario ayo kita pulang sekarang juga.” Titah tuan Harun. “baik tuan.” Sahut Mario singkat. Kemudian tuan Harun meninggalkan bengkel itu. sebelum meninggalkan bengkel itu tak lupa ia juga membayar tagihan dari kamar VIP dan minuman beralkohol yang telah ia pesan tadi.

__ADS_1


Di dalam perjalanan pulang menuju rumahnya tuan Harun memulai percakapan atas rasa penasarannya dari mendengarkan perbincangan dua orang pria yang ia dengarkan pada rooftop bengkel tersebut.


“Mario.” Kata tuan Harun sembari memandang kosong ke depan memandang jalan raya tersebut. “iya tuan?” sahut Mario. “coba kau selidiki kematian Riyanda dan cari kebenarannya.” Perintah tuan Harun. “baik tuan.” Sahut Mario yang menyetir mobil mewah milik keluarga Harun.


*


*


Toktoktok\~


Belum sempat keduanya tertidur pulas, suara ketukan kamar Tama terdengar samar. “ahhh siapa itu.” Tama berdecak kesal. Sedangkan Kirana tampak melanjutkan tidurnya. Ia lelah setelah menghabiskan banyak air mata dari makam ibunya.


Tama meletakkan perlahan kepala istrinya yang tertidur pada lengannya kemudian ia beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek\~


“sayanggg…” Nyonya Bella langsung menyapa putra kesayangannya. Tampak dokter Flo yang sedang bersamanya dibelakangnya. “ada apa ibu, kami sedang tidur siang. Hoamm…” ujar Tama dengan menguap sesekali.


“kau ini, sudah besar masih saja tidur siang.” Ejek dokter Flo. Tama tak menyahut perkataan teman masa kecilnya itu. “bisa kita bicara sebentar sayang.” Nyonya Bella menarik lengan putranya. Mau tidak mau Tama keluar dari kamarnya dengan mata sayup diikuti oleh dokter Flo dibelakangnya.


“duduklah sayang.” Nyonya Bella mendorong pelan putranya untuk duduk di sofa pada ruang tamu tersebut. Nyonya Bella duduk tepat di samping putranya sedangkan dokter Flo duduk di sofa yang lain.


“iya ada hal penting. Sangat penting sekali.” Ucap Nyonya Bella kepada putranya dengan penekanan kata pada kata penting. “apa itu ibu?” yang tadinya Tama tampak biasa saja dengan raut wajah yang mengantuk, sekarang suami dari Kirana itu terlihat sangat penasaran.


Dokter Flo duduk menyimak dengan melipat kedua kaki dan tangan yang dilipat di atas perut.


“bisakah kau menggantikan saja posisi ayahmu?” Nyonya Bella menatap intens kepada putranya. “untuk apa ibu? Akan lebih baik jika ayah yang menjalankan bisnisnya.” Sahut Tama. “kau benar. Tapi jika kau tidak ingin menggantikan ayahmu lebih baik kau membantunya untuk mengurus bisnisnya sayang.” Nyonya Bella memegang punggung tangan putranya.


Dokter Flo tersenyum tipis. Yah, setelah mendekati Nyonya Bella selama dua minggu ini, ia berhasil menghasut ibunya Tama itu untuk membuat putranya sibuk hingga ia bisa menjauhkan Tama dari istrinya. Karena selama tinggal di kediaman tuan Harun, mata dokter Flo mendapatkan polusi mata dari perhatian dan kedekatan Tama terhadap Kirana. Padahal, ia tahu jelas bahwa keduanya berstatus suami istri yang tidak berdasarkan cinta.


“ibu, untuk saat ini aku tidak bisa. Kirana masih saja terlarut dalam kesedihannya.” Tolak Tama kepada ibunya. “ibu tahu sayang, tetapi jangan terlalu memanjakannya. Jika kau bekerja dia akan teralih olehmu yang tidak ada di rumah.” Terang Nyonya Bella.


“ibumu benar Timi. Seseorang tidak boleh terlarut dalam kesedihannya. Dia seperti itu karena terus mendapatkan perhatianmu dan dia merasa nyaman. Makanya masih saja Kirana bersedih dan tidak terima kenyataan.” Tambah dokter Flo sebagai dukungan atas tindakan Nyonya Bella.


“Hm.” Tama tampak berpikir. Mungkin baginya akan lebih baik jika memang dia bekerja mulai sekarang karena dia merasa sudah mempunyai tanggung jawab setelah berjanji kepada Kirana untuk selalu menjaganya.


“Tama, jika kau bekerja membantu ayahmu ku rasa kau akan diberikan salary yang cukup besar dan bisa kau pakai untuk berbulan madu tanpa harus meminta kepada ayahmu.” Jelas Nyonya Bella. Setelah melihat Tama yang hampir saja tidur siang bersama Kirana, tidak dipungkiri bahwa ia senang dengan apa yang dilihatnya tadi.


“benar Tama. Dan kau bisa menabung untuk membeli rumah sendiri. Bukankah rumah ini terasa seperti penjara.” Tambah dokter Flo. “Flo? Untuk apa Tama membeli rumah? Jika hanya rumah, kami bisa memberikannya tanpa memintanya bekerja. Hanya saja kami tak ingin berpisah dengannya.” Seketika Nyonya Bella berbalik badan untuk menatap dokter Flo. Nyonya Bella tak terima dengan usulan dokter Flo kali ini.

__ADS_1


Ops\~


“aku salah memberi saran kali ini.” Kata dokter Flo dalam hati. “iya tante, maaf.” Dengan wajah tak enak hati dokter Flo segera meminta maaf kepada istri dari tuan Harun tersebut. “Tama jangan dengarkan perkataan dokter Flo yang tadi, yang jelas besok mulai lah bekerja.” Nyonya Bella memegang erat tangan putranya sambil menatap insten putranya.


“ahhh baiklah.” Tama hanya bisa menghela nafas panjangnya. “okay.” Sahut Nyonya Bella dengan senyum penuh kepuasan karena memiliki anak yang penurut. Sedangkan dokter Flo juga menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum dengan penuh kemenangan.


“Nyonya…” Tumiyem datang menyapa dengan membungkuk memberikan hormat kepada tuannya. “iya, ada apa Tumiyem?” sahut Nyonya Bella. “ada dua orang pria berbadan besar yang sedang mencari Nyonya Muda, Nyonya.” Jelas Tumiyem, dirinya masih saja menunduk dan sedikit was-was setelah melihat dua orang pria garang berseragam hitam.


“suruh saja masuk ke sini.” Perintah Nyonya Bella. “baik Nyonya.” Tumiyem lekas pergi untuk melakukan perintah dari tuannya.


Tak lama kemudian dua orang pria yang disebutkan oleh Tumiyem masuk ke dalam ruang tamu kediaman tuan Harun. “silahkan duduk.” Sapa Tama dengan senyuman ramahnya. Kedua pria itu duduk di sofa tepat di depan Nyonya Bella dan Tama. Sedangkan dokter Flo duduk di sofa samping dari mereka dengan Tumiyem yang berdiri yang dibelakangnya.


“apa benar ini adalah rumah Nona Kirana?” tanya salah seorang dari pria berseragam itu. “tidak benar. Lebih tepatnya ini adalah kediaman keluarga Harun, tetapi anda siapa?” Tama mengerutkan kedua alisnya. Sedangkan ketiga wanita yang sedang berada pada ruangan itu diam penuh dengan tanda tanya dibenaknya.


“saya adalah pengawal pribadi dari tuan Azego. Kami ke sini atas perintah darinya untuk membawa Nona Kirana.” jelas pria tersebut. “apa?” Nyonya Bella tampak terkejut, sama seperti dua orang wanita lainnya yaitu dokter Flo dan Tumiyem.


“untuk apa kau ingin membawa menantuku?” tambah Nyonya Bella dengan raut wajah yang kesal. “ibu, biarkan saja aku yang berhadapan dengannya. Bisakah ibu pergi saja bersama dengan lain.” Tama menyentuh punggung tangan ibunya.


“tidak, ibu tidak akan pergi. Ibu akan tetap disini untuk mengetahui ada perlu apa dua orang pria ini ingin membawa menantuku.” Nyonya Bella tampak kesal dan memalingkan wajahnya ke kiri tepat ke arah dokter Flo dan Tumiyem.


Tama kembali menghela nafas panjangnya karena ibunya yang keras kepala. Kedua pria yang baru saja datang itu terkekeh melihat reaksi Nyonya Bella yang terlihat sayang kepada menantu barunya itu. “ibuku benar, kenapa kau ingin membawa istriku? Dan siapa tuan Azego yang kau maksud itu?” tanya Tama yang penuh dengan tatapan menyelidik.


“begini tuan muda.” Pria yang sejak tadi berbicara itu melipat kaki dengan mengangkat kaki kanannya ke atas paha kirinya. “ibu dari wanita yang bernama Kirana itu adalah salah satu pemohon pinjaman kepada tuan kami yaitu tuan Azego. Tuan Azego adalah orang dermawan yang meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkannya dengan bunga yang sangat rendah.” Jelas pria itu.


Azego adalah orang terkaya kedua setelah keluarga Harun. Dia adalah seorang rentenir yang selalu memberikan pinjaman tanpa agunan dengan syarat menanda tangani beberapa perjanjian yang hanya menguntungkan satu pihak yaitu dirinya.


“karena ibunya telah meninggal tanpa membayar hutangnya sepeserpun, jadi kami akan meminta pertanggung jawaban dari Nona Kirana karena Nona Kirana satu-satunya keluarga yang dapat kami temui.” Terang pria itu lagi.


“dia bukan Nona, tapi dia Nyonya, Kirana adalah istriku.” Ujar Tama dengan penuh penekanan nada pada kalimatnya. “baiklah, mau dia Nona ataupun Nyonya yang jelas tuan kami ingin dibayar. Jika tuan kami tak dibayar maka dengan sangat menyesal kami terpaksa membawanya pergi dari rumah ini.” Jelas pria itu lagi.


“coba saja jika kau bisa melawan semua penjaga yang ada di rumah ini.” Sombong Tama. Tiba-tiba segerombolan pria berbaju hitam masuk lagi tanpa permisi dengan membawa para pengawal pribadi keluarga Harun yang sudah babak belur.


“kau lihat? Di dalam kandangmu saja kami bisa mengalahkan semua pengawal yang lemah itu.” pria itu tersenyum tipis dengan penuh kemenangan. Nyonya Bella, dokter Flo dan Tukiyem hanya bisa membulatkan mata sembari membuka mulut mereka lebar-lebar. Rumah yang tidak bisa dimasuki siapapun kecuali mereka yang tinggal disana dalam hitungan detik kalah dengan anggota dari pria yang berseragam hitam tersebut.


Tama yang melihat itu tidak memperlihatkan ekspresi wajah yang terkejut. Ia mencoba menahan diri walaupun sebenarnya jantungnya berdegup kencang tak menerima kondisi itu. mereka sudah kalah telak sebelum berperang.


“berapa hutang dari ibu istriku?” tanya Tama dengan wajah yang serius. “sedikit saja, hutangnya hanya sebesar 100 juta. Tetapi bunga yang harus dia bayar adalah 10 milyar.” Terang pria berseragam hitam itu.


“APPAAA?” bersamaan dengan Tama, Nyonya Bella dan dokter Flo juga Tumiyem terkejut mendengar bunga yang luar biasa besar itu.

__ADS_1


__ADS_2