Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 49


__ADS_3

“Apa yang akan kau lakukan Azego!” Sentak Tama saat melihat Kirana dibawa oleh tuan Azego. Tuan Azego hanya melayangkan senyuman penuh dengan tatapan tajam. Rentenir kaya itu yang tengah membawa Kirana keluar dari selnya pun menghentikan langkahnya dibarengi dengan Maria.


Maria melangkahkan kaki mendekati Tama. “Apa yang akan aku lakukan terhadap pria ini tuan?” Tanya Maria yang menarik leher baju dari Tama. “Itu tergantung dari dirinya sendiri. Ku rasa dia punya penawaran menarik untuk kita.” Tuan Azego menarik satu sudut bibirnya.


“Jangan pernah kau coba menyentuhnya Pak tua!” Teriak Tama dengan keras. Dengan teriakan itu sontak Maria semakin menarik erat leher baju dari Tama. “Jaga bicaramu! Kau bukan tuan muda di sini.” Bibir Maria pun bergetar karena menahan amarahnya. Ia tak mau melakukan hal kejam di depan tuannya tanpa arahan dari tuannya itu.


“Lepaskan Maria.” Kata tuan Azego yang ikut melepaskan Kirana. “Baik tuan.” Sahut Maria dan segera memegang Kirana yang telah dilepaskan oleh tuan Azego. Sementara itu, kini tuan Azego berjalan perlahan memasuki sel mendekati Tama.


“Halo tuan muda, bukankah wanita yang berdiri di sana yang sedang bersama dengan Maria adalah istrimu?” Dengan sangat lembut tuan Azego berkata lalu mendekatkan wajahnya kepada Tama. “Azego, jangan banyak berbasa-basi denganku. Sebenarnya apa mau mu?” Tama menatap tuan Azego dengan tatapan yang sangat marah. Andai saja ia tidak terikat, andai saja ia terlepas, mungkin saat itu juga ia akan menghabisi tuan Azego tanpa memperdulikan lagi semua anak buahnya yang akan murka. Baginya, bisa membuat orang tua yang ada di hadapannya itu babak belur sudah sangat mengobati rasa marahnya saat ini.


“Hahaha…” Tuan Azego tertawa keras. “Kau sangat tidak pandai dalam berkomunikasi dengan baik. Tenang Tama, jangan begitu tergesa-gesa, masih banyak permainan yang akan kau lalui.” Kata tuan Azego yang kemudian berdiri dan hendak meninggalkan putra kesayangan tuan Harun tersebut.


“Tunggu Azegoooo…” Tama kembali berteriak saat rentenir kaya itu berjalan pergi dan hampir keluar dari sel tempatnya dikurung. “Ada apa lagi tuan muda?” sahut tuan Azego dengan nada yang mengejek.


“Jangan bawa dia, bawa saja aku.” Ucap Tama dengan suara yang memelas. “Aku tidak membutuhkanmu. Aku lebih menyukainya untuk saat ini.” Tuan Azego melirik Kirana. “Jangan! Jangan sentuh dia!” Teriak Tama lagi.


“Azego… apapun akan aku lakukan untukmu asalkan kau tidak menyentuhnya.” Kedua bola mata Tama yang tadinya memancarkan kemarahan kini mulai dibasahi dengan air mata namun ia juga tidak meneteskan air mata itu.


Prok… prok… prok… “Hahaha…” Setelah bertepuk tangan tuan Azego pun kembali tertawa dengan keras. “Apa kau yakin dengan perkataanmu itu tuan muda?” Tuan Azego berhasil berjalan keluar dari sel Tama.


“Azegooooo…” Tama berteriak sekuat tenaga. “Aku adalah orang yang selalu memegang perkataanku. Lepaskan dia dan aku akan melakukan apa pun yang kau pinta.” Tama merasakan sesak didadanya setelah berteriak cukup keras.


“Baiklah, jika kau bisa memenuhi janjimu.” Sahut tuan Azego. “Lepaskan dia Maria.” Perintah tuan Azego. Maria pun mengangguk dan melepaskan Kirana. Maria membawa Kirana masuk ke dalam sel tahanan tempat dimana Tama berada.


“Kirana…” Ucap Tama sembari menghela nafas lega, ia pun merasa tenang karena istrinya tak jadi dibawa oleh tuan Azego. “Tama…” Panggil Kirana kepada suaminya, karena saat ini ia mulai merasakan ketakutan.


“Maria, sekarang kau bawa Tama kemari. Biarkan dia saja yang ikut denganku.” Perintah tuan Azego kepada pengawal pribadinya. “Baik tuan.” Berbarengan dengan jawabannya itu Maria gegas mendekati Tama dan membuatnya berdiri dengan paksa.


“Mari sayang, ikutlah denganku.” Ejek Maria kepada Tama. “Terserah kau saja ingin memanggilku apa, yang pasti jangan biarkan dua orang itu menyentuh istriku.” Kedua bola mata Tama melirik Tono dan Beno.

__ADS_1


“Ahhh… aku pun hampir melupakan mereka.” Sahut Maria. “Ku harap kau mendengarkan perkataan pria ini.” Kemudian Maria melayangkan senyuman tipisnya dan membawa Tama naik ke atas untuk meninggalkan rubanah itu bersama dengan tuannya.


*


*


Tuan Harun masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa. “Ada apa sayang?” Nyonya Bella menghampiri suaminya yang tampak kalut. “Bella, ternyata Tama diam-diam mengikutiku ke kantor polisi dan akhirnya dia ikut bersama kami ke rumah Azego lalu ia pun tertinggal di rumah Azego.” Tuan Harun memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing.


“APPAAA? Kenapa bisa begitu?” Nyonya Bella terkejut dengan perkataan suaminya. “Bagaimana bisa Tama tertinggal?” Tambahnya lagi. “Sayang, Tama bukan anak kecil yang bisa tertinggal saat pergi dengan ayahnya!” Nyonya Bella mengeluarkan nada yang cukup besar.


“Kau benar, tapi…” Tuan Harun mengusap seluruh wajahnya dengan kedua tangan. “Sayang, cepat kembali ke sana sekarang juga.” Nyonya Bella memegang kedua lengan suaminya dengan erat.


“Untuk saat ini tidak bisa sayang. Kau lihat sendiri semua anak buah kita sedang terluka dan babak belur. Belum lagi Pak Bambang yang saat ini telah di mutasi dari jabatannya. Kita tidak punya banyak kekuatan untuk pergi ke sana sekarang sayang.” Tuan Harun pun melepaskan genggaman kedua tangan istrinya.


“Tapi sayang, bagaimana dengan Tama putra kita hikss…” Nyonya Bella pun mulai menangis terseduh. “Tenanglah sayang.” Tuan Harun memeluk istrinya dengan hangat. “Aku akan mencari cara agar bisa menjemput Tama dan Kirana. Kau bersabarlah sayang…” Tuan Harun mengecup lembut rambut istrinya.


“Ini adalah biaya yang harus dibayarkan tante. Beberapa adalah biaya obat-obatan yang dibeli di apotek dan biaya lainnya yang harus dibayarkan ke rumah sakit.” Terang dokter Flo.


“Baiklah, letakkan saja di meja Flo.” Jawab tuan Harun datar. “Hm… om…” Dokter Flo merasa heran dengan melihat tuan Harun dan istrinya yang tampak cemas. “Apa om tau Tama pergi kemana? Dari tadi aku mencari dan tidak menemukannya om.” Tanya dokter Flo. Seketika tuan Harun dan Nyonya Bella pun saling memandang.


“Ahhh… kau benar sekali. Ke mana Tama sayang?” Dengan sedikit canggung Nyonya Bella berpura-pura tidak tahu. “Ku rasa dia sedang menenangkan diri Flo. Biarkan saja, dia akan pulang saat merasa sudah tenang.” Kata tuan Harun dengan tenang. Ia cukup pandai bersandiwara dibandingkan dengan istrinya.


“Oh begitu, baiklah. Apa om dan tante tidak apa-apa? Apa perlu aku periksa om, tante?” dokter Flo mulai memberikan lagi perhatian itu. Memang semenjak kedatangannya di kediaman tuan Harun ia selalu memperhatikan kesehatan kedua orang tua dari sahabat kecilnya tersebut.


“Kami baik-baik saja Flo. Hanya saja kami sedang ingin berdua.” Sahut Nyonya Bella. Mendengar hal itu, Dokter Flo langsung merasa tidak enak. “Ah benar, maaf om, tan.” Dokter Flo membalikkan badannya dengan cepat dan menghilang dibalik pintu.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya sayang?” Tanya Nyonya Bella kepada tuan Harun. Matanya yang sejak tadi berkaca-kaca akhirnya meneteskan air mata lagi. “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah siapkan mental dan berikan pengobatan bagi para pengawal pribadi kita sayang agar mereka bisa sehat dan kembali bekerja. Kemudian setelahnya kita akan mengatur strategi lagi.” Tuan Harun melepaskan jasnya dan merebahkan punggungnya di atas kasur.


“Untuk saat ini biarkan aku istirahat terlebih dahulu.” Tuan Harun pun memejamkan matanya tanpa memperdulikan lagi istrinya yang berdiri sendiri di dekat pintu. Tuan Harun tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Jika hanya mengandalkan emosinya seperti yang ia lakukan hari ini, itu akan merugikannya lagi dan entah pion mana lagi yang akan hilang. Ia perlu mendinginkan kepalanya agar bisa membaca serangan selanjutnya dari tuan Azego.

__ADS_1


*


*


Di dalam ruangan kerja rentenir kaya itu, baik tuan Azego, Maria dan Tama, mereka bertiga sampai di ruangan yang cukup megah tersebut. Tama dibawa dari rubanah ke atas tanpa ditutupi matanya namun masih dengan tangan yang terikat.


“Lepaskan saja ikatan tangannya Maria, dia tidak akan bisa melarikan diri lagi sekarang. Dia punya janji sebagai seorang pria untuk ia tepati.” Tuan Azego melihat dengan seksama kepada Tama.


“Baik Tuan.” Maria pun melepaskan tali yang melingkar di pergelangan tangan Tama. “Sekarang apa maumu Azego?” dengan hidung yang kembang kempis, Tama meredam amarahnya. Ia tidak berkutik untuk saat ini.


“Begini tuan muda, aku punya sebuah pekerjaan baru untukmu. Bukankah kau belum memiliki pekerjaan?” Tuan Azego mengepalkan kedua tangannya di atas meja sambil menopang dagu. Sedangkan Maria dengan paksa mendorong Tama hingga terduduk di depan tuan Azego.


“Pekerjaan katamu? Ku harap itu sungguh sebuah pekerjaan.” Kata Tama dengan terus menatap kedua bola mata orang tua yang ada dihadapannya tersebut.


“Yah, tentu ini sebuah pekerjaan. Ini adalah pekerjaan yang sangat menarik karena kau akan bekerja denganku untuk menghancurkan seseorang dan orang itu bukan orang lain melainkan ayahmu sendiri.” Dengan tenang tuan Azego berkata demikian.


Dar!


“Jangan bermain-main dengan keluarga kami Azego.” Tama pun menghentakkan kedua tangannya di atas meja. “Hati-hati tuan muda. Ingat, ini bukan rumahmu.” Dengan bengis Maria memegang kedua bahu Tama dan mendorongya ke bawah hingga membuatnya terduduk lagi.


“Yah, kau benar tuan muda. Aku memang sedang ingin bermain-main dengan keluargamu, keluarga Harun. Hahaha…” tuan Azego tertawa senang akhirnya sesuatu yang ia rencanakan pada puluhan tahun lalu bisa ia laksanakan sekarang.


“Ternyata seperti ini rasanya balas dendam. Melihat keluarga Harun memasuki ambang kehancuran sungguh sangat menyenangkan. Apalagi jika benar-benar mereka hancur.” Ucap Tuan Azego dalam hati. Ia merasakan sebuah sensasi kemenangan di dalam hatinya.


“Cepat katakan! Apa pekerjaan itu!” Bentak Tama. Walaupun ia bersedia melakukan semua perintah dari tuan Azego, tapi hal itu tidak membuatnya tunduk kepada rentenir kaya itu.


“Baiklah, jika kau memang sudah sangat penasaran akan ku beri tahu. Kau akan bekerja untukku untuk menghancurkan keluarga Harun.” Kata tuan Azego dengan nada yang sangat serius.


“APPAAA? Kau sudah gila Azego!” Dengan lantang Tama mengatakan bahwa tuan Azego benar-benar telah gila.

__ADS_1


__ADS_2