Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 33


__ADS_3

Dua minggu berlalu. Tama dengan mudahnya keluar dari sel tahanan sementara pada malam itu. Dengan jaminan tanda tangan berkas sebagai formalitas keluarnya Tama, dibalik itu ada uang dari tuan Harun yang mengalir ke rekening pak Bambang.


Tidak banyak yang mengenal Riyanda, tetapi kematiannya tersebar luas. Kematiannya yang mengenaskan itu menjadi topik utama pada berita criminal di setiap televisi. Belum lagi berita online yang lebih dulu menayangkan berita tentang tersebut. Pada pencaharian google, dengan mudahnya kata kunci ‘kematian wanita tragis di dalam apartemen’ muncul.


Kini Tama bersama dengan Kirana sedang mengunjungi makam dari Riyanda di TPA (Tempat Pemakaman Umum) daerah rumah sederhana milik Kirana. Almarhumah Riyanda Beatrice Sugiono di makamkan di sana karena memang hanya di sanalah ia mempunyai tetangga yang ia kenal dan juga Kirana dibesarkan oleh ibunya di lingkungan rumah sederhana itu.


“hiks…” Kirana menangis terseduh. Kepergian ibunya selama ini seperti mimpi baginya. Bagi Kirana, baru saja ia memasakkan makanan kesukaan ibunya kemarin, dan hari ini dengan sadar Kirana melihat sebuah makam bernamakan ibunya.


“Kirana, ayo kita pulang.” Tama mengusap lembut bahu istrinya. Selama 30 menit mereka berdua berdiri terdiam menatap makam orang yang sangat merekai cintai. Kirana dengan cintanya terhadap ibunya. Sedangkan Tama dengan cintanya untuk calon istrinya.


Saat perjalanan pulang dari makam itu, ketika mereka berdua di dalam mobil, Kirana tampak melamun sejak tadi. “apa kau lapar?” Tama mencoba mencairkan suasana yang hening. “aku sedang tidak lapar.” Sahut Kirana.


Selama dua minggu ini Kirana banyak diam dan Tama yang banyak memulai pembicaraan. Kirana pun akan menjawab seperlunya.


*


*


“halo sayang…” Nyonya Bella datang mengecup pipi tuan Harun. Ia baru saja pulang dari berbelanja bersama dengan dokter Flo. Dua minggu terakhir ini, penyakit gangguan kecemasan Nyonya Bella bisa dibilang tidak pernah kambuh. Ia semakin dekat saja dengan teman masa kecil dari putranya itu.

__ADS_1


Di belakang Nyonya Bella ada empat orang pengawal pribadi yang baru masuk dengan tumpukan kantong belanja yang dibeli dari Nyonya Bella bersama dengan dokter Flo. Masing-masing ada dua orang pengawal pribadi yang masuk ke dalam kamar yang berbeda. Yaitu dua orang pengawal pribadi yang masuk ke kamar dokter Flo, kemudian yang dua lagi masuk juga dengan membawa barang belanjaan ke kamar Nyonya Bella.


“dari mana saja kau Bella?” tuan Harun tampak cemberut saat dirinya kesepian di rumah tanpa Nyonya Bella. “aku baru saja dari mall bersama dokter Flo. Dia punya selera yang sama denganku. Benarkan Flooo?” Nyonya Bella memeluk lengan dokter Flo dengan riang. Dokter hanya bisa menarik paksa kedua pipinya karena tak enak hati kepada tuan Harun.


Tuan Harun mengambil cangkir di atas meja yang ada di depannya. “lain kali jika kau pergi ajak Kirana.” Pesan tuan Harun. “ahhh kau benar sayang.” Sahut Nyonya Bella. Sedangkan dokter Flo dari yang tadinya senang tiba-tiba moodnya hilang saat nama Kirana disebut oleh tuan Harun.


“aku akan mandi untuk membersihkan badanku dulu. Karena banyak berkeliling aku jadi berkeringat.” Nyonya Bella mengecup lagi pipi suaminya. “saya juga om, saya akan istirahat di kamar.” Tambah dokter Flo.


Kemudian kedua wanita itu meninggalkan tuan Harun duduk sendiri di ruang tamu. Tuan Harun kembali meminum air pada cangkir yang masih berada ditangannya itu. Kemudian setelah minum, ia meletakkan cangkir itu lagi di atas meja. “ahhh punya banyak harta ternyata tidak menjamin diri ini jauh dari kesepian.” Gumamnya.


Sekarang, Kirana dan Tama masuk berbarengan. “hai ayah…” sapa Tama kepada ayahnya, tetapi ia hanya menyapa saja kemudian berlalu untuk masuk ke ruang tidurnya. “tunggu Tama…” sahut tuan Harun.


“dari mana saja kau Tama?” tanya tuan Harun. “aku baru saja pulang dari makamnya Riyanda ayah.” Jawab Tama singkat. “dia sudah tidak ada, jadi lupakan dia dan cintai istrimu yang sekarang.” Pesan tuan Harun.


“ayahhh… ayolah, ayah tahu aku cinta dengan siapa.” Tama berdecak kesal. “lalu kau akan selalu cinta kepada orang yang sudah mati?” berang tuan Harun. Tama terdiam, ia tak ingin beradu mulut dengan ayahnya sendiri. Ada banyak pengawal pribadi di sana yang mendengarkan pembicaraan mereka termasuk Mario.


“sudahlah ayah, aku lelah.” Tama pergi meninggalkan ayahnya sendirian di ruang tamu. Sedangkan tuan Harun menghela nafasnya lagi. “ahhh punya banyak harta ternyata tidak menjamin diri ini untuk bisa mengatur perasaan anaknya sendiri.” Gumamnya lagi.


“Mariooo…” tuan Harun beranjak dari tempatnya. “iya tuan.” Sahut Mario saat ia sampai di dekat tuan Harun. “bawa aku pergi dari rumah ini.” Titah tuan Harun. Rumah yang ia bangun semewah itu, rumah yang tidak ada yang mengalahkan kemewahannya di kota itu pun tak bisa membuatnya tenang.

__ADS_1


*


*


Kirana terbaring di kasur merebahkan tubuhnya. Sedangkan Tama merebahkan tubuhnya pada sofa yang ada di kamar itu. Selama dua minggu ini ia membiarkan istrinya tidur di kasur itu dan dirinya tidur di atas sofa. Keduanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Flashback on


“siapa nama lengkap bapak sesuai ktp?” tanya seorang polisi yang kedua tangannya bersiap mengetik di atas keyboard. “Vindra Vindranya.” Sahut Vindra dengan wajah yang datar. “pada pukul berapa bapak menemukan jasad itu di apartemen tersebut?” sambung pak polisi.


“sekitar pukul 11:30 WIB saya datang. Saya sempat makan siang di sana hingga saya menemukan wanita yang tak bernyawa itu pukul 13:00 WIB” jawab Vindra. “bagaimana keadaan jasad itu saat ditemukan?” tanya pak polisi lagi.


“awalnya saya hanya melihat kaki seorang wanita yang memakai sepatu highheels berwarna putih. Kemudian saya menjerit ketakutan, hingga wanita yang mengaku anak dari ibu itu memeriksanya dan bilang kalau itu ibunya. Kondisi jasad itu sudah tidak dapat saya kenali karena wajahnya yang penuh darah dan luka sayatan.” Jelas Vindra.


“baiklah, terima kasih penjelasan bapak. Jika kami masih membutuhkan informasi lagi, kami akan menghubungi bapak.” Polisi itu hendak menyudahi wawancara itu. “tapi pak ada yang aneh.” Vindra memegang dagu menggunakan tangan kanannya.


“aneh bagaimana maksud bapak?” tanya polisi itu penasaran. “dua hari sebelum saya ke sana, pemilik apartemen memberitahu saya agar datang membersihkan apartemen pada hari itu. biasanya pemilik apartemen akan pulang di saat jam makan siang. Namun, kenapa dia bisa pulang lebih awal?” Vindra mengerutkan dahinya.


“kalau soal itu mungkin pemilik apartemen tidak terkena macet dijalan jadi datang lebih awal.” Terang polisi tersebut. “tapi pak, setiap kali saya melihat pemilik apartemen itu pasti ia selalu terlihat cantik dan fashionable. Sangat berbeda dengan wanita yang saya temukan di lemari itu. terlebih lagi, Nyonya Riyanda mempunyai tattoo di lehernya, sedangkan wanita itu tidak mempunya tattoo di lehernya.” Jelas Vindra.

__ADS_1


“benarkah?” polisi itu terkejut. Ia melewatkan informasi penting. Polisi itu lekas menulis lagi laporan yang disampaikan oleh Vindra.


__ADS_2