
Sebelum sampai di dalam rumah, Tama melepaskan tangannya dari menggenggam lengan dokter Flo agar tidak ada kecurigaan di antara mereka. Sambil berjalan bersama, Tama memulai percakapan itu dengan nada yang pelan.
“Flo, apa benar jika dalam semalam aku melakukan hubungan suami istri bersama Kirana bisa membuatnya hamil?” tanya Tama dengan raut wajah yang cemas. “tapi kalau ku ingat-ingat lagi, entah berapa kali aku melakukannya, yang jelas setelah ayam berkokok pada subuh itu aku baru menghentikannya. Dan kami berdua memang sama-sama melakukan pelepasan bersamaan. Tetapi, rasanya tidak mungkin Flo jika Kirana hamil hanya dalam semalam.” jelas Tama, ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
“Timi…” dokter Flo menyentuh lengan Tama dan menghentikan langkahnya. “hm. Flo terus berjalan, kita harus mengobrol santai agar tidak yang ada mencurigakan.” Terang Tama yang terus berjalan diikuti oleh teman masa kecilnya itu.
“baiklah…” kata dokter Flo sembari tersenyum lalu ia kembali berjalan bersama Tama. “Timi, jika Kirana sedang masa subur dan kau juga sedang fit, bisa saja memang Kirana benar-benar hamil. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah pada saat kau menyadari telah berhubungan badan dengan istrimu itu langsung kau berikan obat atau pil KB agar ia tidak hamil?” tanya dokter Flo santai.
“tidak, karena kami berdua sedang kalut dan tidak menginginkan hal itu jadi kami tidak bisa berpikir jernih. Lagi pula pada saat itu, aku sedang fokus mencari keberadaan ibunya.” Tama menjawab pertanyaan teman masa kecilnya itu dengan jujur.
“dan apa kau yang pertama kali menyentuhnya? Hm.. kau mengerti maksudku bukan?” tambah dokter Flo. “iya aku mengerti, aku sungguh mengerti. Memang benar, aku lah yang mengambil kesuciannya.” Kata Tama dengan raut wajah yang bersalah.
Deg!
Ada rasa sakit yang terasa di dalam hati dokter Flo namun ia tampik karena dokter cantik itu tahu bahwa cinta teman masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya itu untuk orang lain bukan istrinya.
“kalau begitu, bisa dikatakan Kirana benar hamil dan janin yang ia kandung adalah anakmu.” Kata dokter Flo yang berusaha tersenyum. “tetapi Timi, akan lebih baik lagi jika kau mengetahui hasil dari test pack Kirana pagi ini.” Tambah dokter Flo.
“kau benar. Baiklah, aku akan segera bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. Terima kasih Flo.” Ujar Tama kemudian ia mempercepat lengkahnya meninggalkan teman masa kecilnya itu berjalan sendirian.
__ADS_1
Dokter Flo hanya bisa menghela nafas panjangnya. “ku pikir yang kau ingin bicarakan itu bukan tentang Kirana, Timi. Aku sempat senang kau buat.” Kata dokter Flo namun dalam hati.
*
*
“sayangg…” Nyonya Bella gegas menghampiri suaminya. “ada apa Bella?” sahut tuan Harun dengan nafas yang terengah. “apa kau tidak apa-apa sayang?” nyonya Bella menyentuh dada suaminya saat ia melihat suaminya yang sedang sesak nafas.
“ku rasa kau tidak ada riwayat asma sayang.” Nyonya Bella mengerutkan kedua alisnya sembari menatap kepada suaminya. “kau benar, hanya saja aku sedikit sesak nafas karena mengejar kalian yang berlari. Kau tahu, aku tidak sanggup lagi berlari sekarang mungkin karena aku kurang olahraga.” Sahut tuan Harun dengan keringat yang bercucuran di kening dan wajahnya.
“oh tidak, bukan karena kau kurang olahraga sayang. Itu karena kau sudah tu—” perkataan Nyonya Bella terhenti kala ia mengingat bahwa suaminya cukup sensitive jika menyangkut soal umur dan ketuaan.
“sudah apa Bella?” tuan Harun yang sedari tadi menatap jalan aspal di kediaman miliknya kini tiba-tiba menatap istrinya dengan tatapan tajam. “hm. Tidak sayangku. Kurasa itu karena kau sudah terlalu banyak menghirup aroma difusser yang kita pasang di kamar yang kau selalu berikan cairan penambah gairah itu sayang.” Nyonya Bella mencoba meluruskan perkataannya untuk menghindari masalah.
“ini soal Kirana sayang.” Kata Nyonya Bella sembari tersenyum. “kau akan senang mendengarnya.” Nyonya Bella merangkul lengan suaminya dan berjalan bersama.
“ada apa dengan Kirana?” tuan Harun menoleh untuk melihat wajah cantik istrinya yang tersenyum senang itu. “dia sedang hamil sayang.” Sahut Nyonya Bella. “APA? Apa kau benar?” kata tuan Harun yang menghentikan langkahnya begitu pun dengan Nyonya Bella.
“iya tentu!” kata Nyonya Bella yang sekarang terkekeh melihat ekspresi kaget suaminya. “kenapa kau baru bilang sekarang? Sekarang cucu kita sedang dibawa oleh anak buah dari Azego sialan itu!” berang tuan Harun dengan nada yang meninggi.
__ADS_1
Nyonya Bella menelan salivanya. Entah mengapa berita baik yang ia bawa itu membuatnya malah terkena omelan dari suaminya sendiri.
“ya karena aku juga sama denganmu. Aku juga baru mengetahuinya barusan. Kami semua baru mengetahuinya tadi termasuk Tama. Tumiyem yang memberitahukan kepada kami semua.” Jelas Nyonya Bella yang tiada lagi senyuman senang di wajahnya.
“Mariioooooo….” Teriak tuan Harun dengan suara yang menggema di udara. Walaupun kakek tua itu tidak bisa berjalan sempurna namun suaranya cukup besar jika dibandingkan dengan suara dari kakek seusianya.
Lama tuan Harun menunggu kedatangan pengawal pribadi andalannya itu tetapi pengawal pribadi itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“sayangg… apa kau lupa bahwa Mario sudah babak belur dan tak sadarkan diri. Ku harap kau mengganti saja pengawal pribadimu itu yang tidak becus menjaga rumah kita.” Kata Nyonya Bella dengan melipat tangan di atas perut.
Bagaimana tidak nyonya Bella tidak menyarankan suaminya untuk mengganti saja pengawal pribadinya itu karena Mario cukup menyebalkan bagi Nyonya Bella yang jika Nyonya Bella memberikan perintah Mario seakan berpura-pura tidak mendengarkannya. Mario hanya mendengarkan perintah dari tuan Harun saja.
“apa lagi, dia telah membiarkan Kirana dibawa oleh anak buah Azego. Terlebih lagi, cucumu juga bersamanya.” Kata Nyonya bella dengan mata yang terlihat tidak seperti biasanya. Tuan Harun hanya terdiam dan tampak berpikir. Kemudian dia melanjutkan untuk melangkahnya kakinya bersama Nyonya Bella. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, tuan Harun terdiam dengan raut wajah yang sangat marah. Ia mendapati semua pengawal yang berjaga di kediamannya babak belur untuk yang kedua kalinya. Ini bahkan lebih parah dibandingkan serangan yang terjadi kemarin.
Tuan Harun berjalan menggunakan tongkatnya dan mendekati kepala pengawal pribadi keluarga Harun yaitu Mario. “Mariooo..” panggil tuan Harun dengan mendorong lengan dari pengawal pribadinya tersebut menggunakan kakinya tiganya (tongkatnya).
Setelah beberapa kali tuan Harun memanggil kepala pengawal pribadinya itu berbarengan dengan menganyunkan tongkatnya secara perlahan ke tubuhnya, akhirnya tuan Harun menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres terhadap Mario.
__ADS_1
Tuan Harun dengan susah payah berusaha jongkok. Karena lututnya yang sakit, raut wajahnya pun berubah menjadi masam dan berkerut. Akhirnya tuan Harun berhasil jongkok tepat dihadapan pengawal pribadinya.
Ia lekas menaruh jari tengah dan jari telunjuknya ke leher kepala pengawal pribadinya tersebut. “Bella…” tuan Harun mendongak dengan wajah yang cemas untuk menatap istrinya.