
Sesampainya di kediaman tuan Azego, tuan Harun, Tama, pak Bambang beserta anggotanya langsung dipersilahkan masuk ke dalam ruang pribadi tuan Azego.
“halo selamat datang di rumahku. Aku tidak menyangka kedatangan tamu yang sungguh istimewa di hari ini.” Kata tuan Azego yang sedang merokok dengan kedua kaki yang lurus serta tumit sepatu yang berada di atas meja.
“hentikan omong kosongmu itu! kau telah menculik Kirana menantuku, kembalikan dia sekarang juga!” Berang tuan Harun kepada seorang rentenir yang kaya raya seperti tuan Azego.
“pak Harun benar pak Azego. Anda bisa di pidana karena telah menculik menantunya. Anda akan terkena pasal 328 KUHP atas penculikan tersebut dan untuk penyerangan anak buah bapak di kediaman pak Harun anda akan terkena pasal pasal 257 ayat 1. Jadi, tolong kembalikan menantu pak Harun yang bernama Kirana itu.” jelas pak Bambang.
Tuan Azego mendengarkan dengan tenang sembari mengeluarkan asap rokoknya sesekali. Ia tampak sangat menikmati nikotin dalam bungkusan rokok tersebut. Sedangkan tuan Harun sedang meredam amarahnya hingga membuatnya terlihat bernafas tidak stabil. Tama? Ia selalu melirik ke sekeliling kalau-kalau dia bisa melihat sosok istrinya yang tidak ia cintai tetapi mengandung benih yaitu anaknya.
“anda benar pak polisi. Hm, maaf nama bapak siapa?” ujar tuan Azego. Rokok dari tuan Azego menyentuh asbak dan ia memutar ujung rokok yang membara itu hingga mengeluarkan asap dan mati.
“nama saya Bambang pak.” Sahut pak Bambang singkat saat namanya ditanyakan oleh rentenir itu. “oh baiklah, pak Bambang, atas dasar apa bapak ke sini bersama dengan bapak tua ini? Apa karena aku telah melanggar pasal-pasal yang telah bapak sebutkan tadi?” tuan Azego melipat kedua tangannya di atas meja.
“aku tidak sedang bersalah! Yang menyerang kediaman tuan Harun itu bukan atas perintahku. Untuk apa menyerang keluarga terkaya di kota ini? Apa kau pikir aku sudah tidak punya otak?! Hahah…” tuan Azego melepaskan tawa yang berkesan mengejek.
“kau!” berang Tama yang sejak tadi mendengarkan perbincangan itu. ia segera melangkahkan kaki untuk maju. Wajahnya tampak serius dan marah dengan kedua mata yang membulat menatap tajam sosok tuan Azego. Tama seakan ingin meninju pemilik rumah itu sekarang juga namun sayang kakinya dihadang oleh kaki tiga ayahnya sendiri.
“jangan bertindak gegabah Tama.” Bisik tuan Harun ke telinga Tama yang tak jauh darinya itu. “hahaha… ada apa tuan muda? Apa kau marah jika istrimu berada disini? Hahaha.” Tuan Azego tertawa lagi, sungguh dia merasa terhibur dengan kedatangan tamu istimewanya itu.
__ADS_1
“Maria…” tuan Azego melirik ke kanan tempat di mana kepala pengawal pribadinya itu telah berdiri sejak tadi ditemani oleh dua orang pengawal pribadi bawahannya. “iya tuan?” Maria mendekatkan kupingnya ke wajah tuan Azego.
“bawa pria sialan itu yang berani menyerang kediaman keluarga Harun!” kata tuan Azego. “baik tuan.” Sahut Maria singkat kemudian matanya melirik tajam kepada dua orang pengawal pribadi bawahannya tersebut.
“siap tuan.” Keduanya menjawab Maria walaupun hanya dengan tatapan, tetapi kedua pengawal pribadi bawahan Maria tersebut mengerti dengan aba-aba pergerakan mata dari Maria. Lalu kedua pengawal pribadi itu bergegas keluar dari ruangan itu.
“pak Azego, akan lebih baik jika kita bicarakan baik-baik tanpa kekerasan. Anda di duga bersalah karena penyerangan dan penculikan ini.” Terang pak Bambang. Tetapi tuan Azego hanya tersenyum tipis sembari menatap pak Bambang.
“dia benar Azego, lebih baik kau kembalikan menantuku sebelum dia membawamu pargi dari kandangmu sendiri dan menahanmu di kendang barumu!” Bibir tuan Harun mulai bergetar karena sejak tadi telah menahan amarahnya.
“kalian tidak perlu khawatir! Aku akan membantu kalian menemukan dalang dibalik penyerangan itu. Soal menantumu yang bernama Kirana itu, aku juga akan membantumu untuk menemukannya.” Terang tuan Azego dengan wajah yang datar.
“permisi tuan.” Ucap salah seorang dari dua pengawal pribadi bawahan dari Maria. Mereka dengan cepatnya kembali ke dalam ruangan itu. “ini dia dalang dari orang-orang yang telah menyerang kediaman keluarga Harun.” tambahnya.
Kedua pengawal pribadi itu masuk dengan menyeret satu orang pria yang telah diikat tangannya ke belakang dan mulut yang terbungkus oleh lakban yang berwarna hitam. Pria itu adalah salah satu bawahan Maria yang tidak disukai oleh tuan Azego. Pria itu akan menjadi kambing hitam dari semua perbuatan Maria atas perintah tuannya.
“pak Bambang, inilah dalang dari penyerangan itu. sebelumnya anak buahku telah melaporkan kepadaku bahwa pria yang bernama Anton ini akan menyerang kediaman tuan Harun berdasarkan dendam pribadinya.” Terang tuan Azego.
“aku telah melarangnya tetapi dia cukup keras kepala hingga aku tak bisa memberinya saran lagi.” tambah tuan Azego.
__ADS_1
Bug!
Maria yang telah berada di dekat pria itu menendang pria tersebut dengan kuat hingga jatuh dan terduduk seperti seseorang yang sedang berlutut.
“ayo mengakulah! Kau adalah orang yang menyerang kediaman tuan Harun bukan?” ujar Maria yang menatap tajam ke arah pria itu. “ayo cepat mengaku!” teriak Maria.
“jangan bercanda kau Azego! Kau tahu dia hanya alasanmu saja. Di rumah ku dilengkapi dengan CCTV. Kau tidak bisa menjadikan orang ini kambing hitam atas perbuatanmu itu. kau akan tetap ditangkap Azego.” Kata tuan Harun dengan senyuman tipis di wajahnya.
“benar! Atas bukti yang kuat, anda akan tetap ditahan pak Azego. Jadi, sebaiknya bapak kembalikan saja menantu dari pak Harun.” tegas pak Bambang. “oh ya, pria ini…” pak Bambang menunjuk pria yang sedang berlutut itu. “pria ini tidak akan kami tahan dan kami bawa karena tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa pria ini bersalah atas penyerangan dan penculikan yang terjadi di kediaman keluarga Harun.” tambahnya.
“pak Bambangku yang terkasih, seharusnya yang kau ancam itu adalah tuan Harun. Dia lebih layak untuk kau tahan karena dia memiliki banyak hutang kepadaku.” Kini tuan Azego berdiri dan beranjak dari singgahsananya. “apa kau tahu pak, selain itu menantunya juga punya banyak hutang kepadaku.” Tambahnya.
“apa katamu? Kau jangan mengada-ngada! Hati-hati jika berbicara Azego. Sejak kapan aku meminjam uang kepadamu? Semua orang tau bahwa uang bukan menjadi masalah bagi keluarga kami.” Teriak tuan Harun, ia tak lagi menahan amarahnya.
“ckckck! Kau sungguh tidak sopan berteriak di rumah orang tuan.” Ejek tuan Azego sembari mengitari ketiga orang itu. sedangkan anggota polisi yang lain masih berdiri tegap di belakang ketiga orang itu menunggu perintah dari atasannya.
“apa bukti anda mengatakan hal tersebut pak Azego?” pak Bambang mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak menyangka akan mendengar hal itu.
“Maria, segera bawa kemari berkas yang telah di tanda tangani oleh tuan Harun.” perintah tuan Azego kepada kepala pengawal pribadinya itu.
__ADS_1