Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 19


__ADS_3

Kirana tampak lahap memakan makanan yang ada didepannya. Sejak makan malam bersama keluarga Harun tadi malam, ia memang belum mengisi perutnya dengan apapun hingga sekarang.


“hey, apa kau serius sudah kenyang?” Kirana sedikit berteriak untuk mengajak suaminya berbicara, mengingat bahwa mereka sedang berada di jarak yang tidak dekat. “aku sudah kenyang. Apa harus terus ku katakan bahwa aku sudah kenyang.” Jawab Tama setengah jutek.


“baiklah, jika begitu akan ku habiskan makanan ini. Aku memang sangat lapar. Lagipula makanan ini sangat enak.” Kirana terus menyuapi mulutnya hingga terlihat penuh dan pipinya menjadi tembem yang dipenuhi dengan makanan.


“para koki di rumahku, mereka adalah mantan koki hotel bintang lima. Ketika ayahku makan di hotel berbintang lima dan saat ia menyukai masakannya, ia akan terus merayu koki itu untuk bekerja dengannya.” Jelas Tama, sepertinya kini perasaannya serta sesuatu yang berdiri itu telah kembali melemas.


“wah, keren sih.” Kirana menyelesaikan sarapan itu dengan meneguk segelas air putih. “erghh.. kenyangnya.” Sambil bersendawa Kirana menyentuh perutnya. “cepat sekali kau makan Kirana, apa kau selapar itu?” Tama berdecak kaget. Bisa-bisanya, perempuan cantik seperti Kirana makan secepat kilat dan bersendawa di depannya.


“sudah ku bilang kalau aku sangat lapar. Makanya tadi aku heran melihat kau yang makan sedikit.” Ujar Kirana sembari melipat kaki. Tama hanya diam tidak menjawab obrolan itu. Jauh di dalam pencernaannya memang ia masih merasa lapar. Namun, dengan beberapa suapan dari Kirana dan dirinya tadi membuatnya bisa bertahan.


“permisi…” dokter Flo masuk, ia masuk dengan mengenakan dress bermotif bunga selutut. Ia tampak menawan. “apa kau sudah makan Tama?” tanpa sungkan dokter Flo langsung mendekati Tama dan duduk di kasur tepat di samping Tama. Ia memegang kening teman masa kecilnya itu lalu menyentuh keningnya sendiri.


“kurasa kau tidak demam, apa kau masih merasa lemas Tama?” dokter Flo tampak perhatian sekali. Bukan karena dokter terhadap pasiennya, tetapi antara seorang wanita yang mencintai prianya.

__ADS_1


“aku tidak apa.” Tama menjawab lirih, memang benar ia masih merasa lemas walaupun sudah mendingan setelah setengah sarapan barusan. “ini obatmu, tadi Mario yang pergi membelikannya. Jika kau sudah makan, makan lah obatmu ini dan jangan bolong, harus terartur, jika tidak kau akan terus sakit dan aku akan terpenjara di dalam kastil ini.” Ejek dokter Flo.


Tama tersenyum geli, yah… memang benar dengan apa yang dikatakan oleh dokter cantik nan muda itu. Kediaman keluarga Harun yang besar membuatnya terlihat seperti kastil. Ketatnya pengawalan para penjaga yang ada di setiap pintu membuatnya seperti penjara. Tama saja yang jelas anggota dari keluarga itu merasakan demikian. Hanya Tuan Harun yang dapat pergi dan pulang sesuka hatinya. Selain dari itu, jika ingin pergi harus dengan persetujuan Tuan Harun terlebih dahulu baru bisa melakukan kegiatan apa saja tak terkecuali dengan semua kendaraan mewah miliknya.


“yah kau benar. Tapi aku membutuhkanmu Flo. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepadamu. Tetapi tidak disini. Saat aku bisa berdiri dan tak pusing lagi, aku akan menemuimu diruanganmu Flo.” Terang Tama.


“baiklah, jangan pikirkan itu. Kau tinggal menelepon ke telepon ruanganku bukan, dengan begitu aku akan datang. Jangan merepotkan dirimu yang datang padaku.” Jelas teman masa kecil dari Tama.


Dokter Flo membuka plastic biru yang bertuliskan jadwal makan obat itu. Dokter itu mengambil dua buah pil di tempat yang berbeda. “ini makanlah sekarang juga, dengan begitu pusing dan lemasmu bisa hilang.” Dokter Flo meletakkan satu pil ke dalam mulut Tama dan memberikannya segelas air putih. Tama menelan dan meminum air pemberian dari teman masa kecilnya itu.


“satu lagi.” dokter Flo kembali meletakkan satu pil obat untuk Tama kemudian memberikannya gelas yang berisi air putih yang telah diminum oleh Tama barusan. “sekarang beristirahatlah.” Dokter Flo membenarkan selimut Tama lalu berdiri.


Sementara itu, Kirana yang menyaksikan dokter Flo yang masuk serta memberikan obat kepada Tama telah memastikan bahwa dokter cantik itu memendam perasaan kepada Tama. Sedangkan calon suami ibunya masih terlihat absurd dan belum bisa ditebak apakah Tama juga memiliki perasaan kepada dokter cantik nan muda itu. Yang jelas, bagi Kirana, Riyanda yang mana adalah ibunya sendiri masih menjadi orang yang mengambil banyak tempat di hati Tama.


“Ehem-ehem.” Kirana berdehem setelah melihat dokter Flo menghilang dibalik pintu. “ada yang melupakan ibuku nih.” Sindir Kirana sembari berpura-pura membaca majalah bisnis yang sejak tadi tergeletak di meja itu.

__ADS_1


“itu majalah yang kamu baca ke balik.” Tegur Tama. Kirana menelan salivanya karena merasa malu ia pun berkata “aku sengaja, aku lebih suka membaca buku dengan terbalik.” Tama hanya bisa menghela nafasnya. “yah terserah.” Katanya singkat. “soal ibumu, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Kurasa kau tahu soal itu.” tambah Tama.


“tetapi mengapa kau hanya diam saat dia begitu perhatian denganmu?” ucap Kirana sambil membalikkan lagi majalah itu hingga terlihat tak terbalik lagi. “dia itu Flo, teman masa kecilku. Kami sudah berteman dari TK, dan dia sudah bagaikan saudara di rumah ini. Flo juga memang selalu seperti itu, selalu perhatian kepada semua orang termasuk kedua orang tuaku. Lagian dia itu kan dokter yang merawatku, alias aku ini pasiennya. Jadi, wajar-wajar saja jika dia memperhatikanku.” Jelas Tama.


“yah..yah..yah..” Kirana tampak malas untuk meladeni semua penjelasan itu. “katamu suka baca buku terbalik?” Tama melihat majalah yang dibaca oleh Kirana lagi. Ia kembali mengingatkan kalimat yang diucapkan oleh Kirana tadi. “sekarang sudah tidak.” Balas Kirana. “ahhh terserahlah.” Tama menghela nafas panjangnya.


“oh ya, apa kau sudah siap untuk pergi bersamaku?” Tama ingin memastikan sesuatu. “pergi? kita mau kemana?” sahut Kirana. ‘apa Tama akan mengajakku untuk berbulan madu? Tapi kurasa itu tidak mungkin karena wanita yang dia cintai adalah ibuku.’ Kirana menyeru dalam hati, ia meletakkan majalah bisnis itu dan menopang dagu sembari memandang ke kanan atas. Matanya tertuju kepada langit-langit kamar itu.


“apa kau lupa, katamu kau akan mempertemukan aku dengan ibumu hari ini.” Ujar Tama santai.


Deg!


“benar! Aku melupakan satu hal itu. Bagaimana ini? Harus kubawa kemana dia?” Kirana kembali menyeru dalam hati. “hey, apa yang kau lamunkan dari tadi. Apakah sarapanmu kurang Kirana?” tanya Tama heran.


“tidak-tidak, bukan seperti itu. aku hanya berfikir bahwa kau baru saja pingsan dan masih dalam pengawasan dokter teman masa kecilmu itu. apakah tidak masalah jika kita tetap pergi hari ini?” Kirana mencoba mencari alasan.

__ADS_1


“aku sudah makan obat, jadi aku tidak akan kenapa-kenapa.” Terang Tama kepada istrinya. “lagipula, hanya hari ini aku bisa pergi berdua denganmu. Itu sesuai dengan syarat yang kau pinta kan. Jika kita pergi besok, ku rasa aku tidak akan bisa memenuhi syaratmu karena besok bisa jadi kita akan di antar oleh supir atau Mario.” Jelas Tama.


“APA? Mario? Tidak! Baiklah, ayo pergi sekarang.” Kirana langsung berdiri dan siap untuk pergi sekarang juga saat mendengar kemungkina Mario yang akan ikut mengantar mereka jika mereka menundanya untuk hari ini.


__ADS_2