Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 24


__ADS_3

“ada apa denganmu Tama? Mengapa kau selalu berkata aku bukan anak ibuku. Aku pasti anak ibuku.” Kirana mengeluarkan nada yang tegas. Ia mulai jengkel dengan perkataan yang menyatakan bahwa ia bukan anak dari Riyanda. Tentu saja dirinya adalah anak dari Riyanda yang terbukti dari wajah mereka yang sangat mirip bagaikan saudara kembar. Wajah mereka hanya bisa dibedakan dari rambut yang berbeda warna dan kulit wajah Riyanda yang sedikit memiliki kulit yang berkeriput.


“Argghhh..” akhirnya Tama berteriak setelah ia tahan. Ia memukul-mukul kasur dengan keras. Ia mengalihkan amarahnya pada kasur itu walaupun sebenarnya ingin sekali rasanya untuk memukul Kirana yang sangat menyebalkan dari tadi.


*


*


Mario sampai ke rumah dimana ia berhasil menculik Kirana. Dengan melihat kondisi tetangga dan jalan yang sepi, ia mencongkel jendela rumah itu menggunakan linggis dan berhasil masuk. Ia mendapati rumah kecil yang sederhana itu berantakkan.


Pengawal pribadi Tuan Harun itu masuk ke dalam kamar dimana ia memberikan jimat keramatnya kepada Kirana saat tertidur pulas dan saat itu pula Kirana pingsan serta berhasil dibawa oleh Mario.


Mario melihat ruang kamar tidur milik Kirana yang sangat berantakkan. Pakaian berhamburan dilantai dan sebuah serpihan kaca dari vas bunga juga tampak menyatu dengan berbagai pakaian. Kemudian pengawal pribadi itu meraih ponsel pada kantong celananya.


“halo, ada apa Tuan?” Mario menjawab panggilan suara yang ia tahu jelas bahwa itu adalah Tuan Harun. “Mario, apa kau menemukan mereka?” suara Tuan Harun terdengar menyidik. “belum Tuan, kurasa aku sedikit terlambat. Tapi Tuan jangan khawatir, aku akan menemukan mereka dengan cepat.” Sahut Mario pada panggilan itu.


Panggilan suara itu terputus tanpa pamit dari Tuan Harun. Itu adalah hal yang biasa jika yang menelepon lebih dulu dari Tuan Harun. Mario mencari kontak teman-teman sesama premannya pada kota itu. Walaupun Mario adalah preman pensiun, tetapi jaringannya masih terbentuk utuh pada kota itu.


“halo Dito, kau dimana?” Mario melakukan panggilan suara kepada teman lamanya. “aku sedang mengambil setoran para toko di pasar. Ada hal apa kau meneleponku lagi?” terdengar suara yang begitu berat dari panggilan suara itu.


“apa anak buahmu masih berkeliaran di seluruh kota?” Mario duduk pada sofa dimana Tama sudah mendudukinya tadi. Ia mengambil mancis dan sebuah bungkus rokok dan menaikkan kaki kanannya serta melipatnya di atas kaki kiri.


“tentu, informasi apa yang kau butuhkan?” jawab Dito pada panggilan itu. “bisa kau cari tahu di mana mobil Lamborghini berwarna merah berada? Mobil itu bernomor plat B 805 TH.” Mario menghidupkan apinya dan membakar rokoknya.

__ADS_1


“baiklah tunggu sebentar, aku akan mengeceknya.” Dito memutuskan panggilan itu. sedangkan Mario menghisap rokok yang telah terbakar dan menikmatinya sambil menunggu kabar dari teman lamanya.


*


*


“Tama, hentikan! untuk apa kau sampai berteriak dan melampiaskan amarahmu ke kasur itu. seharusnya aku yang marah padamu.” Kirana berdecak kesal. Selain Tama, sebenarnya Kirana juga sangat ingin marah kepada suaminya itu. Wanita mana yang tidak marah saat kesuciannya direnggut tanpa sepengetahuannya.


“apa katamu? Kau yang harus marah? Kirana, aku seharusnya menikah dengan ibumu bukan denganmu.” Tama membalikkan badan dan menatap tajam kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


“yah, aku yang harus marahhhh..” tiba-tiba saja Kirana berteriak. “aku yang diculik dan tidak tahu apa-apa. Aku yang tanpa sadar menikah dengan orang yang bahkan aku tidak kenal. Aku yang keperawananku hilang dengan orang yang tidak bertanggung jawab sepertimu. Aku adalah korban disini Tama, bukan KAUUU!!!” Kirana menunjuk wajah Tama. Ia tak sanggup menahan air mata yang telah membasahi pipinya. Kirana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan jongkok.


“hiksss..” Kirana terus menangis melampiaskan segalanya. Sedangkan Tama berdiri diam seribu bahasa sambil menatap ke bawah memandang istrinya. Kata-kata Kirana barusan menampar batinnya. Yah, memang Tama tidak dengan sengaja merenggut kesucian dari Kirana tetapi memang benar bahwa Kirana korban dari segalanya.


“maafkan aku Kirana. Soal malam pertama itu aku pun juga korban. Aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu apalagi sampai merenggut kesucianmu. Untuk hal itu aku sangat menjamin dari niat baikku dan aku sudah menemukan pelakunya. Ada banyak kejanggalan pada malam pertama itu.” terang Tama.


Kirana berhenti menangis dan menyingkirkan air matanya. “siapa pelakunya? Katakan? Siapa pelaku yang tega membuatku kehilangan kehormatanku.” Sahut Kirana. “mereka adalah kedua orang tuaku. Aku sangat yakin itu.” tambah Tama.


“Hiksss…” Kirana menangis lagi. Tama memeluk Kirana. “ku mohon maafkan aku. Soal kejadian kau diculik juga ku rasa itu ulah dari kedua orang tuaku. Namun, penyebab kau diculik itu karena ibumu yang telah berkhianat kepada keluarga kami maka dari itu ayahku tidak akan pernah bisa melepasmu. Ibumu harus hadir untuk menjelaskan semua ini Kirana.” Jelas Tama. Ia pun mengelus perlahan rambut Kirana.


*


*

__ADS_1


Mario telah menghabis dua batang rokok, ia ingin melanjutkan untuk menikmati rokok ketiganya. Namun, ponselnya berbunyi hingga ia harus mematikan bara api merah pada akhir rokok tersebut dan meletakkannya pada asbak yang berada di bawah meja.


“halo Mario.” Suara Dito mengawali panggilan itu. “halo Dito, apa kau sudah menemukannya?” Mario berdiri dan menaikkan celananya. Ia cukup yakin dengan hasil kerja temannya itu. “iya anak buahku telah menemukannya. Mobil yang kau sebut itu berada disebuah apartemen mewah ... bla bla bla ...” Dito menjelaskan dengan detail alamat apartemen tersebut.


“baiklah, aku akan segera ke sana.” Mario berjalan keluar melalui jendela tempat ia masuk tadi. “Mario, ada yang kau lupakan.” Dito kembali berkata pada panggilan yang belum terputus itu. Mario masih saja menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


“aku tahu maksudmu. Kau tinggal tunggu saja, uangku akan masuk ke rekeningmu dengan segera.” Mario memutuskan panggilan itu dan langsung membuka mobile banking miliknya untuk mentransferkan sejumlah uang kepada Dito. Ia terbiasa dengan urusan itu hingga nomor rekening Dito telah ia simpan sejak lama.


Mario melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Riyanda. Sama seperti yang dilakukan oleh Tama, Mario juga mengendarai roda empat milik keluarga Harun dengan cepat hingga akhirnya dia tiba pada apartemen itu.


Pengawal pribadi itu memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Lamborghini berwarna merah yang dikendarai oleh Tama. “aku menemukanmu Kirana.” Mario tersenyum tipis dan penuh kebanggaan saat menyadari ia tidak terlambat menyusul Tuannya itu.


Seakan tau dimana apartemen Riyanda berada, Mario masuk ke dalam lift dan memencet angka lantai di mana apartemen milik Riyanda berada. Jaringan Dito cukup professional dalam bekerja karena bisa mengetahui informasi yang sangat detail. Bahkan alamat apartemen Riyanda pun ia beritahukan kepada pengawal pribadi Tuan Harun itu.


*


*


Dingdong! Suara bel apartemen Riyanda berbunyi. Pelukan hangat sepasang suami istri itu sontak terlepas. Kirana membulatkan matanya begitupun sebaliknya, Tama membelalakkan kedua bola matanya. Kedua orang ini sedang berkhayal bahwa yang datang itu adalah pemilik apartemen.


Kedua orang itu bergegas untuk membuka pintu. “tunggu.” Tama menghentikan langkahnya diikuti oleh Kirana. “dia bukan Riyanda.” Tegas Tama. Ia sedang menoleh ke samping menatap istrinya.


“bagaimana kau bisa tahu?” Kirana memiringkan wajahnya seraya berpikir. “jika memang itu ibumu, kenapa ia harus memencet bel?” terang Tama. “ahhh kau benar. Lalu siapakah yang datang itu?” Kirana makin membulatkan matanya dan takut.

__ADS_1


__ADS_2