Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 7


__ADS_3

“iya ayah, hari ini selain merasa tampan, aku juga merasa sangat bahagia. Akhirnya teman ibu yang bernama Riyanda itu akan menjadi istriku. Sungguh dia sangat cantik ayah.” Sahut Tama dengan wajah yang berbinar. Dia tidak menyangka akan mendapatkan seorang istri secantik Riyanda. Selama ini ia tidak pernah bermimpi mendapatkan wanita yang cantik, karena baginya yang ia butuhkan hanyalah seorang wanita dewasa yang berumur 30 tahun ke atas. Baginya perempuan dengan usia 30 tahun ke atas sangat matang untuk dinikahi dan mengurusi suami beserta anak-anaknya kelak.


Deg!


“bagaimana ini?” kata Tuan Harun dalam hati. Dengan segala kemantapan kalimat telah ia siapkan untuk menghadapi putranya. Kalimat yang tersusun rapi dan sangat hati-hati itu, ia siapkan untuk memberitahukan kepada Tama kejadian yang sebenarnya terjadi, agar nanti putranya tidak merasa kecewa. Namun, setelah mendengar langsung perkatan putranya, Tuan Harun seakan tak tega merusak rasa bahagia itu. Semua kalimat yang ia siapkan pun hilang karenanya.


“Hemmm.. syukurlah jika kau merasa bahagia anakku.” pungkas Tuan Harun. “Mari nak.” Tuan Harun menyudutkan sikunya, jemarinya mengepal menyentuh pinggangnya, ia menawarkan Tama untuk menggandeng siku itu dengan maco. Lekas saja putra dari Tuan Harun itu melakukan aba-aba yang diberikan kepadanya kemudian berjalan keluar menuju ke panggung pernikahan yang megah.


Upacara pernikahan dilaksanakan di ruang terbuka (outdoor). Dengan kain putih sebagai hiasan yang sangat mendominasi disertai bunga dan lampu hias yang tergantung. Meja bundar bertalaskan kain putih bersih dan dikelilingi oleh kursi elegan berwarna krem. Bunga-bunga yang menghiasi meja beserta panggung pernikahan.


Tama berdiri sendiri di bawah setiap hiasan bunga hidup yang dirias sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah dekor bunga yang indah. Dengan mengenakan jas hitam diiringi senyum bahagianya, ia terlihat maskulin dan tampan. Putra dari keluarga terpandang dan kaya raya itu berdiri menghadap kepada semua tamu yang hadir.


Sebuah music upacara pernikahan terdengar menggema di udara. Para tamu yang datang berdiri untuk menyambut sang mempelai wanita. Kirana berjalan bersama dengan pria sewaan keluarga Tuan Harun sebagai orang tuanya. Tak lupa, Kirana juga ditopang oleh Tumiyem agar Kirana tampak berjalan sendiri. Namun tetap saja saat Kirana yang dianggap berjalan itu tampak sedikit terseret. Hanya saja gaun pengantin yang menjuntai itu menolong kaki Kirana agar tak terlihat dari pandangan setiap tamu yang datang.


Acara itu berlangsung lancar, setelah mengucap perjanjian pernikahan, Tama tampak bersemangat untuk membuka tirai pada wajah wanita cantik yang dihadapannya itu yang kini sudah sah menjadi istrinya. Saat tangan Tama menyentuh tirai itu dan siap membukanya, tiba-tiba saja tangannya di tampik oleh Tuan Harun.


Ayah dari mempelai laki-laki itu terlihat berbisik kepada penghulu. “pengantin wanita sedang tidak enak badan, dia sedang terkena flu. Jadi, saya harap tidak ada acara saling mengecup karena nanti anakku bisa ketularan. Langsung saja ke acara ramah tamah.” bisik Tuan Harun kepada bapak penghulu yang berbadan besar dan tinggi itu.


“Baik Pak.” Sahut penghulu itu singkat. kemudian acara pernihakan itu di akhiri dengan alunan live musik bergenre akustik. Para tamu dipersilahkan untuk menyantap sajian berbagai menu makanan yang telah dipersiapkan.


Kirana dibawa kembali oleh Tumiyem beserta ayah sewaanya. Kedua bola mata hitam Tama mengikuti ke mana arah Kirana di bawa. Ia pun langsung mendekati ayahnya “ayah, ada apa ini? Ada apa dengan Riyanda? Aku bahkan tak sempat menciumnya.” Tama berdecak kesal. Rasa bahagia yang sejak kemarin dirasakannya terasa seperti ada yang menjanggal saat adegan ciumannya di skip oleh ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Riyanda sedang tidak enak badan, dia harus di rawat terlebih dahulu. Jangan khawatir, istrimu sudah di urus oleh Tumiyem. Serahkan saja padanya.” Tuan Harun menutup sebagian mulutnya menggunakan tangan dan berbisik.


Tama segera melangkah pergi membiarkan ayah dan ibunya yang sedang meladeni para tamu yang datang. Saat Tuan Harun menyadari langkah Tama menuju rumah pengantin wanita, matanya langsung tertuju kepada pengawal pribadinya serta menatap tajam kepada Mario. Matanya membulat dan memutar ke arah Tama pergi sebagai isyarat untuk Mario.


Dengan sangat mengerti setelah melihat bola mata Tuannya, Mario langsung menyusul Tuan Mudanya. “Maaf Tuan, Tuan tidak diperkenan bertemu dengan istri Tuan sebelum semua tamu pulang.” kata Mario. Pengawal pribadi itu menghadang Tama tepat di hadapannya.


Tama berusaha mengambil langkah kiri dan kanan. Namun sayang, badan kekar dari Mario tak bisa Tama tembus hingga Tama memutar balik badannya dan mendekati kedua orang tuanya.


Pengawal pribadi itu seakan tak punya kata lelah dalam tubuhnya. Matanya masih saja menatap tajam kepada Tama. Memastikan Tuan Mudanya itu agar tidak pergi ke rumah pengantin wanita. Mario sangat memperhatikan setiap perintah dari Tuan Harun walaupun yang dihadapinya itu Tuan Mudanya sendiri.


“ayah ada apa lagi ini? Kenapa Mario menghalangiku untuk menemuinya?” tanya Tama heran. Ia kini mulai merasakan ada sesuatu yang janggal pada pesta pernihakannya.


“Oh come on ayah, ini adalah hari pernikahanku! Masih saja ayah membicarakan soal bisnis.” Tama hanya bisa berdecak kesal dan tak berkutik. Sedangkan Nyonya Bella hanya banyak diam dan tenang dibarengi senyuman manis kepada setiap tamu yang bertemu dengannya.


Pikirannya kembali tenang setelah memakan dua pil obat gangguan kecemasannya. Nyonya Bella juga memakan satu pil penenang agar acara pernikahan putranya dapat ia hadapi dengan tenang bersama dengan make up riasan dan gaun yang ia pesan khusus dari luar negeri.


Tak pantang menyerah, setelah melihat kedua orang tuanya bercengkrama dengan para tamu. Tama mengambil kesempatan untuk bisa pergi ke rumah pengantin wanitanya.


“hei pelayan kesini.” Tama memanggil seorang pelayan yang paling cantik pada acara itu. Pelayan itu terlihat seksi dengan baju kemeja putih ketat dan rok ketat yang sepaha. Dadanya yang besar dan kancing yang terbuka lebar membuat belahan dua gunung itu terlihat sangat jelas.


“Bisakah kau tumpahkan saja segelas air ini kepada pria yang sangar itu?” bisik Tama kepada pelayan seksi itu. Pelayan itu melihat ke arah Mario saat Tama menunjukkan ke arah pengawal pribadi ayahnya. “seram sekali Tuan, saya takut melihatnya.”sahut pelayan seksi itu.

__ADS_1


“tidak apa-apa, dia tidak sanggup untuk marah kepada wanita cantik sepertimu.” rayu Tama kepada pelayan seksi itu sembari memberikan selembar uang kertas yang berwarna merah nominal serratus ribu rupiah ke dalam kantong kecil yang ada tepat di depan dadanya tersebut.


Pelayan seksi itu hanya tersenyum lalu mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari pangeran satu hari itu. Mudah saja, dengan berpura-pura menyenggol sang pengawal garang, baju Mario langsung basah dan telihat kotor.


“Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja.” Ucap pelayan seksi tersebut dengan memasang wajah berbelas kasihan. “Ckckck.. kamu ini—” ucapan Mario seketika berhenti saat matanya tertuju pada sebuah belahan gunung yang membentang di atas samudera birahinya.


“sayang, lain kali jika berjalan hati-hati.” Mario menganggkat dagu pelayan seksi itu dan tersenyum. Pelayan itu hanya bisa tersenyum paksa saat melihat wajah garang yang tersenyum tetapi terlihat seperti setan yang tersenyum. Seketika bulu kuduknya merinding. Pelayan itu berusaha menjauh secara perlahan walaupun ia sadar bahwa mata Mario masih saja tertuju kepadanya.


Di saat mata Mario lengah, di saat itu pula Tama melangkah ke rumah pengantin wanitanya. Sesaat setelah masuk Tama sedikit merasa malu, ternyata rumah itu dipenuhi dengan kaum hawa. Mata dari perempuan di sana tertuju kepadanya. Kenapa tidak, ia adalah seorang lelaki muda dan tampan juga adalah mempelai pria untuk acara hari ini.


“anda mencari siapa Tuan?” sapa seorang kru designer, dia adalah Taniya, tangan kanan dari Linda Gunawan. “tidak apa-apa, hanya saja, apa kau melihat istriku?” tanya Tama kepada Taniya.


“Ahhh benar, apa Tuan merindukannya. Baru saja istri Tuan masuk ke dalam ruang ganti pakaian.” ujar Taniya, memang bibirnya sedang berbicara, tetapi matanya menatap tajam kepadanya Tama. Ia terkesima dengan ketampanan yang Tama miliki. Namun, Tama tampak terlihat tidak nyaman dengan tatapan dari gadis itu. Tama hanya bisa terus melangkah maju untuk masuk lebih dalam lagi dengan tatapan para gadis yang menatapnya.


Tama membuka pintu pada ruangan itu satu persatu. Memeriksa dimana keberadaan istri sahnya yang menurutnya itu adalah Riyanda. Disetiap pintu ruangan yang ia buka, selalu saja ada wanita muda yang berada di dalam ruangan itu serta melayangkan senyum manisnya. Bukan senang, Tama seakan merasakah rasa geli pada perutnya. Yah, itulah Tama! Tuan Muda dengan penyakit Oedipux Complexnya.


Tama terus melakukan aksi buka tutup pintu itu. Terkadang dia membuka dua pintu yang berbeda dan bertemu dengan satu ruangan yang sama.


Sementara itu diwaktu yang sama, saat pelayan seksi yang dilihat oleh Mario menghilang di tengah ramainya para tamu, tiba-tiba saja sebuah suara seorang kakek menegurnya. “apa yang kau lihat itu ha? Bukankah tugasmu adalah memastikan keberadaan Tama.” Dengan tatapan intens Tuan Harun menyergap mata Mario.


“Baik Tuan, maaf Tuan.” seketika Mario tertunduk malu karena di tegur langsung oleh Tuannya. “cepat ke rumah pengantin wanita. Tama pasti sedang berada di sana.” perintah Tuan Harun. “baik Tuan.” jawab Mario singkat, kemudian ia bergegas pergi ke rumah pengantin wanita.

__ADS_1


__ADS_2