
“Baik Tuan.” Jawab Maria yang langsung meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan perintah tuannya. Kini Tuan Azego tersenyum sinis sambil menatap Tuan Harun.
“Apa yang kau rencanakan Azego? Kau tidak akan pernah bisa menang melawanku.” Kata Tuan Harun dengan nada yang tegas hingga menegaskan dirinya bahwa apapun yang dilakukan oleh Tuan Azego tidak akan membuatnya takut.
“Jangan terlalu membenciku Tuan Harun, ku rasa kau harus sedikit bersabar menunggu kedatangan Maria karena sebentar lagi kau tidak akan bisa membanggakan semua hartamu itu.” ucap Tuan Azego sembari menghisap lagi rokok miliknya. “Lalu kau Pak Bambang, ini juga akan menjadi hari sialmu.” Tambah Tuan Azego.
“Aku?” Pak Bambang menunjuk dirinya sendiri sambil melongo. Entah apa yang ada dipikiran Tuan Azego hingga melibatkan dirinya dalam perseteruan dua keluarga kaya itu.
“Iya benar.” Kata Tuan Azego singkat. “Ada apa denganku? Yang memiliki masalah disini adalah kalian berdua. Anda tidak perlu melibatkanku.” Sahut Pak Bambang dengan wajah yang datar.
“Dia benar Azego, kehadiran Pak Bambang disini malah sebagai penengah dan membantu masyarakatnya untuk menegakkan keadilan atas penyerangan dan penculikan yang kau perintahkan itu.” jelas Tuan Harun dengan wajah yang serius.
Kring-kring.
“ku rasa ponsel Anda berbunyi Pak Harun.” Pak Bambang menoleh melihat ke arah Tuan Harun untuk mengingatkan kakek tua itu. “Tidak, itu ponsel Anda Pak Bambang.” Tegas Tuan Harun karena sedari tadi ponsel yang berada di dalam kantong celananya itu tidak bergetar sama sekali apalagi berbunyi. Pak Bambang pun meraba celana pada pahanya.
“Anda benar.” Kata Pak Bambang sembari tersenyum dan mengambil ponsel yang berbunyi dan bergetar tersebut. “Halo…” Pak Bambang menjawab panggilan suara yang masuk.
“Maaf menganggu komandan, ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan.” Ujar polisi bawahan dari Pak Bambang. “Bisa kau beritahukan nanti saja? Saya sedang sibuk sekarang.” Ujar Pak Bambang yang berniat untuk mengakhiri panggilan suara itu.
__ADS_1
“Tidak, dengarkan dulu Pak. Ini berita yang sangat penting!” tegas bawahan dari Pak Bambang tersebut. Pak Bambang yang tadinya berbicara lembut kini merubah nada bicaranya. “Hal apa yang begitu penting itu?” tanya Pak Bambang.
“Ku rasa Bapak harus ke kantor sekarang juga!” tegas polisi bawahan itu dengan nada yang sedikit bergetar. “Ada apa? Apa hal serius itu?” kini Pak Bambang mulai menanggapi panggilan itu dengan serius saat mendengar getaran suara yang terdengar kaku tersebut.
“Di sini ada Pak Sentoyo dan Detektif Aigo Pak, mereka berdua sedang menunggu kedatangan Bapak.” Kata polisi bawahan itu masih dengan nada yang bergetar. “ohhh ternyata mereka, ku kira siapa. Ada apa kedua orang itu datang menemuiku tanpa membuat janji?” Pak Bambang menghela nafasnya, ia pikir hal penting yang disampaikan oleh polisi bawahannya itu bukanlah hal yang harus dianggap serius lagi.
“Mereka bilang bahwa Pak Bambang sudah di mutasi dari kantor ini Pak.” Polisi bawahan itu bergantian menghela nafasnya. “APPAAA? Apa kau serius? Siapa yang mengatakan itu?” Pak Bambang sontak berdiri dari kursinya sambil menatap tajam kepada Tuan Azego dengan ponsel yang berada di kuping kanannya.
“Katakan kepada mereka, aku sudah di jalan menuju kantor.” Pak Bambang membulatkan matanya menatap Tuan Azego tanpa berkedip sedikitpun. Sedangkan Tuan Harun mulai merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Jika Pak Bambang bisa dilengserkan oleh Tuan Azego, itu menandakan bahwa satu pionnya telah gugur di medan perang.
“Maaf Tuan Harun, saya harus permisi sekarang juga! Ada pekerjaan mendesak yang harus saya kerjakan.” Bisik Pak Bambang ke telinga Tuan Harun. “Kalau begitu, aku pun juga akan ikut denganmu.” Tuan Harun bediri sama seperti Pak Bambang. Baginya untuk apa lagi dia berada di kediaman Tuan Azego saat Tuan Azego dengan mudahnya melengserkan Pak Bambang dari jabatannya.
Tuan Azego ikut berdiri sambil bertepuk tangan dengan senyum penuh kemenangan. “Jangan tergesa-gesa kawan, masih ada berkas yang harus kalian lihat. Agar kau dan Tuan Harun bisa mati berdiri saat ini juga.” Kata Tuan Azego dengan kedua telapak tangan yang menyentuh mejanya sambil membusungkan dada dan memajukan wajahnya agar bisa berdekatan dengan wajah Tuan Harun.
Tuan Harun hanya bisa melebarkan kedua lobang hidungnya tanpa bisa berkata sepatah kata pun. “Mari Pak Bambang.” Ajak Tuan Harun sambil membalikkan badannya untuk meninggalkan ruangan itu kemudian diikuti oleh Pak Bambang dan anggota polisi lainnya.
“Hahaha…” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak sambil memandangi punggung segerombolan tamu istimewanya. “Permisi Tuan.” Maria pun datang dengan membawa beberapa tumpukan map yang berisi berkas penting tersebut.
“Sudah Maria, kau datang terlambat. Kau buang saja berkas-berkas palsu itu. Mereka semua sudah pulang dan tak perlu terkena penyakit jantung setelah melihat semua berkas palsumu itu.” terang Tuan Azego dengan senyuman sinis pada wajahnya. “Baik Tuan.” Jawab Maria singkat kemudian melakukan perintah tuannya.
__ADS_1
Sementara itu, saat semua anggota polisi itu pergi termasuk Pak Bambang bersama Tuan Harun, entah mengapa Tuan Harun merasakan sesuatu yang janggal. Ia sempat menoleh melihat rumah megah berdesain modern milik Tuan Azego sebelum masuk ke dalam mobil.
“Silahkan masuk Pak Harun, maaf jika saya tergesa-gesa karena ini menyangkut keberlangsungan dinas saya di kota ini Pak.” Kata Pak Bambang sembari membuka pintu mobil untuk Tuan Harun.
“Iya aku tahu Pak Bambang, oleh karena itu aku pun ikut pulang denganmu.” Jawab Tuan Harun lalu ia masuk ke dalam mobil itu dan meninggalkan kediaman Tuan Azego.
Di dalam perjalanan pulang, Tuan Harun makin merasakan perasaan yang aneh. “Pak Bambang, apa kau merasakan sesuatu yang aneh sejak tadi? Seperti sesuatu yang terlupakan atau sebagainya?” tanya Tuan Harun dengan kening yang berkerut.
“Maaf Pak Harun, saya sedang tidak bisa berpikir jernih karena saya khawatir apa yang disampaikan kepada saya tadi benar adanya yaitu saya telah di mutasi.” Jelas Pak Bambang dengan wajah yang sedikit cemas.
“ya, kau benar! Tetapi ku rasa…” Tuan Harun berpikir dan mengingat lagi akitifitas yang telah dilaluinya hari itu. “Bambang!” Dengan nada tegas Tuan Harun memanggil komandan polisi itu dengan hanya sebutan nama.
“Iya Pak Harun?” jawab Pak Bambang dengan datar. Suara keras dari kakek tua itu tak dapat lagi mengejutkannya karena saat ini yang ada dipikirannya adalah masa depannya karena terancam tak lagi bekerja di tempat yang basah seperti kota itu di mana Tuan Harun yang berkuasa dan sangat royal kepada aparat.
“Cepat kau putar balik mobil ini!” perintah Tuan Harun dengan menoleh ke belakang padahal kediaman Tuan Azego sudah sangat jauh mereka tinggalkan. “Ada apa Pak Harun?” kata Pak Bambang sembari melirik Tuan Harun.
“Kita melupakan Tama! Cepat kembali.” Kini Tuan Harun berkeringat dingin. Ia tahu betul bahwa Tuan Azego yang berdarah dingin tanpa punya belas kasih itu memiliki dua benteng miliknya.
“Benarkah?” Pak Bambang yang tadinya selalu bermuka datar kini mulai terkoneksi dengan keadaan. “Ta… tapi Pak Harun, saya juga ada urusan penting.” Tambah Pak Bambang jujur. “Kau benar, bisakah kau suruh saja anak buahmu untuk menjemputnya.” Ujar Tuan Harun dengan wajah yang sungguh cemas.
__ADS_1
“Baik Pak Harun.” jawab Pak Bambang singkat kemudian melakukan panggilan suara untuk memerintahkan salah satu anak buahnya untuk kembali dan mencari keberadaan Tama.