
Kirana terus berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Harun. ia memegang baju kemeja dari suaminya. Entah mengapa, badannya bergidik melihat rumah yang sebesar itu. “bagaimana caranya aku bisa kabur di dalam rumah sebesar ini, belum lagi para penjaga yang ada di setiap pintu.” Gumamnya.
“hentikan Kirana. Lepaskan kemejaku.” Tama menarik kemejanya dengan kasar dan kembali membenarkannya agar tidak terlihat kusut. Sedangkan Kirana hanya bisa mengerucutkan bibirnya tanpa bisa menuntut apa pun.
Empat orang itu berada di ruang tamu yang luas dan super megah. Ruang itu berada di tengah-tengah rumah Tuan Harun. Dimana ruangan itu di kelilingi beberapa pintu kamar, ada satu pintu besar otomatis yang terbuat dari kaca bening dan terhubung ke ruangan depan rumah, satu pintu besar lainnya terhubung ke ruang makan serta dapur.
Tuan Harun dan Nyonya Bella tampak bergandengan menuju kamar. “Tama, jaga wanitamu itu.” Titah Tuan Harun lagi. “a…ayah—” baru saja Tama ingin memprotes dan menyarankan ayahnya untuk menugaskan Mario saja yang menjaga Kirana, kedua orang tuanya telah menutup rapat pintu kamarnya.
Tama menghela nafasnya, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan ayahnya. Tama masuk ke kamar di ikuti oleh Kirana. Setelah masuk, Kirana disuguhkan dengan sebuah kamar yang begitu luas. Bahkan lebih luas dari rumahnya yang kecil itu.
Mata Kirana memandang ke sekelilingnya, di kamar itu ia mendapati sebuah kamar berdesain modern klasik. Dekorasi dinding, teknik ukir dan pahat pada furniture, hingga pilihan dan kombinasi warna yang tegas namun menenangkan. Kirana seakan berada di sebuah ruangan yang bernuansa istana.
Di kamar itu juga terdapat sebuah mini bar serta toilet. Toiletnya pun juga sangat canggih, setelah selesai digunakan, closetnya bisa terlipat otomatis. Dan tak lupa, semua ruangan itu terlihat sangat bersih. Tak ada satu debu pun yang bersisa pada setiap ruangan itu.
Kirana mendapati sebuah sofa dan meja sama seperti yang ada di kamar Tuan Harun dan Nyonya Bella. Hanya saja sofa yang ada di kamar tama hanya satu dan hanya bisa diduduki oleh dua orang. Melihat sofa yang begitu menggoda, langsung saja Kirana duduk tanpa dipersilahkan. Dia sedikit menaikkan turunkan punggung bokongnya, merasakan betapa empuknya sofa itu.
“pasti ini harganya sangat mahal.” Kata Kirana dalam hati. Kirana melihat Tama yang berjalan menuju mini bar kamarnya. Ia mengambil sesuatu, namun Kirana tak dapat melihatnya dengan jelas karena posisi Tama yang membelakanginya.
“ini ambillah.” Tama memberikan sebuah gelas bening yang berisikan air putih. “terima kasih.” Sahut Kirana. “karena ayahku telah menyuruhku kau untuk tidur di sini, jadi tidak masalah jika kau tinggal bersamaku di kamar ini. Aku akan mencari cara agar ayahku berubah pikiran. Jadi, tunggu saja, kau tidak perlu khawatir.” Jelas Tama.
Kirana meneguk air yang diberikan kepadanya. Setelah melewati lorong panjang ventilasi udara tadi, dirinya memang sedikit kehausan. “apa kau juga punya makanan? Aku sangat lapar.” Ucap Kirana sambil memegangi perutnya.
“ahhh benar, pasti kau belum diberi makan oleh Mario. Aku tahu pasti pria satu itu memang tidak punya belas kasih.” Sahut Tama, ia mengambil gagang telepon rumah yang ada di meja kecil pada samping sofa.
“halo, pelayan tolong antarkan makanan ke kamar ku.” Tama kembali menaruh telepon rumah tanpa kabel itu di atas portal yang memiliki tombol. “sambil menunggu makananmu, bagaimana jika sebaiknya kita saling berkenalan.” Tama tampak ramah, ia jauh lebih baik sekarang, sepertinya dia menginginkan sesuatu yang ada pada Kirana.
“baiklah, namaku Kirana dan kamu?” Kirana meluruskan tangan dan melebarkan telapak tangannya. “namaku Tama.” suami dari Kirana itu berjabat tangan. “apa benar Riyanda adalah ibumu?” tanya Tama, ia sedang berbasa-basi. Sekali melihat wajah Kirana saja sudah jelas bahwa ia anak dari wanita yang hampir menjadi istrinya tersebut.
“benar, apa aku begitu terlihat berbeda sampai kau tak percaya.” Sahut Kirana kesal. Ia bukan kesal karena pertanyaan dari suaminya itu. Hanya saja, mendengar nama ibunya untuk saat ini membuatnya ingin marah. Karena ibunya, ia akhirnya terperangkap di rumah itu.
__ADS_1
“ahhh. Tidak-tidak. Bukan seperti, kau bahkan terlihat sangat mirip dengannya. Yang ku maksud adalah, jika kau benar anak dari Riyanda, apa kau tahu ibumu sekarang ada dimana?” Tama memulai inti dari perbuatan baiknya barusan. Ia mencoba baik kepada Kirana karena ingin mengorek informasi mengenai tentang kepergian Riyanda supaya ia bisa menikah dengannya.
“aku tidak tahu.” Jawab Kirana dengan ekpresi yang datar. “tidak mungkin kau tidak tahu, kau adalah anaknya.” Suara Tama sedikit meninggi. “hey ada apa denganmu, sebentar baik, sebentar tidak.” Sahut Kirana dengan nada sedikit meninggi mengikuti Tama.
Tama hanya bisa bersabar, ia tak mau beradu mulut dengan wanita yang ia butuhkan demi Riyanda. “ahhh.. baiklah maaf. Hanya saja aku tidak menginginkan semua ini terjadi. Aku.. kau tahu, aku seharusnya menikahi ibumu.” Seketika Kirana melihat raut wajah sedih pada pria yang ada dihadapannya itu.
“apa? Menikahi ibuku? Bagaimana bisa?” mata Kirana membulat. Ia menopang dagu dan mengernyitkan dahi, kini ia mengerti dengan semua yang terjadi. “sebenarnya apa yang ibu rencanakan.” Kirana berbicara dalam hati.
“iya benar, aku mencintainya, ibuku menjodohkan kami dan ibumu menyetujuinya tetapi ia kabur setelah membawa uang mahar sebesar 5 milyar yang diberikan oleh kedua orang tuaku.” Tambah Tama dengan wajah murungnya.
“AAPPPAAA??? 5 mil… milyar?” bola mata Kirana semakin membulat seakan keluar dari kelopak matanya, berkali-kali ia menelan salivanya. “MATI AKU!” ia menyeru dalam hati. “hmm.. maaf aku ingin ke toilet untuk buang air kecil.” Kirana segera berdiri dan ingin menuju toilet.
“tunggu.” Tama menahan lengan Kirana. Kirana yang berdiri itu melihat perlahan ke arah Tama. Ia menatap Tama dengan mata yang membesar dan dagu yang terangkat ke atas. “tidak akan kubiarkan kau kabur lagi.” kata Tama sesaat Kirana melihatnya.
Kirana terdiam seribu bahasa. Belum saja ia memulai untuk kabur, kini niatnya sudah diketahui terlebih dahulu. “baiklah aku akan pipis saja disini kalau begitu.” Ancam Kirana. “silahkan, tidak masalah.” Sahut Tama, ia tahu bahwa itu hanya akal-akalan wanita itu.
“baiklah, kalau begitu besok kita pergi menemuinya. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi.” Kirana menyetujui permintaan Tama seakan ia bisa memenuhinya. Padahal, ia sendiri juga tidak tahu kemana ibunya pergi. Ia pun baru tahu ibunya telah pergi ketika ia disadarkan oleh Tuan Harun di kamarnya tadi.
“apa syaratmu?”sahut Tama. “hanya kita berdua saja yang boleh pergi menemuinya. Jangan bawa siapapun apa lagi untuk memberitahukan kepada orang lain.” pesan Kirana. “baiklah, aku akan memenuhi syaratmu itu.” Balas Tama sembari tersenyum.
“tapi Tama, apa benar kita berdua telah menikah?” Kirana masih ingin memastikan hal itu. Dengan gaun dan riasan wajah yang ia lihat di cermin toilet sebelum kabur membuatnya kebingungan karena ia tak mengingat apapun lagi setelah Mario menangkapnya saat ingin kabur dari rumah pengantin wanita.
“ahhhh.. iya benar, aku lupa. Kita sudah sah menjadi suami dan istri.” Ucap Tama cemberut. “ya Tuhan, kena sial apa lagi aku ini. Hey kenapa kau menikahiku kalau menyukai ibuku.” Kirana menarik kerah kemeja Tama.
“lepaskan!” Tama menenpis kasar tangan Kirana. “aku pun tidak berniat untuk menikahimu. Aku bahkan tidak tahu yang kunikahi adalah kau dan bukan ibumu, ini semua rencana kedua orang tuaku. Mereka pasti tidak terima uangnya dibawa kabur oleh ibumu. Kurasa mereka akan membuatmu bertanggung jawab atas perbuatan ibumu.” Terang Tama.
“bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan.” Kirana mengigit bibirnya. Ia tak mau menanggung akibat dari perbuatan ibunya. Sudah hidup tanpa seorang ayah saja sudah membuatnya cukup. Ia tak mau menanggung lagi beban yang diberikan ibunya kepadanya.
“permisi Tuan, ini makanan pesanan Tuan.” Seorang pembantu membawa nampan dengan makanan dan minuman yang telah ia bawa. Ia membawa makanan itu untuk porsi dua orang. Pembantu itu tahu bahwa kini Tuannya tak sendiri lagi.
__ADS_1
“letakkan saja pada meja itu.” Titah Tama. “baik Tuan.” Pembantu itu menaruh makanan dan minuman itu satu-persatu di atas meja di depan Kirana dan Tama lalu ia permisi untuk keluar kamar dengan sopan.
“Sekarang makanlah terlebih dahulu, setelah itu pergilah mandi.” Tama berdiri berniat untuk meninggalkan Kirana makan sendirian. “tidakkah kau juga lapar? Aku mendengarnya dari tadi. Perutmu sudah berkali-kali berbunyi.” Kirana berbicara tanpa menoleh kepada Tama. Ia hanya langsung mengambil sendok dan garpu yang ada pada meja itu dan melahap makanannya.
Tama melihat Kirana memakan sup tomyam yang dibawa oleh pembantunya barusan. Sejujurnya ia sangat lapar, karena sejak siang tadi ia belum makan sedikitpun. “sudahlah, jangan berdiam disana. Mari makan bersama bersama.” Kirana memberikan sendok dan garpu kepada Tama. Tanpa berkata Tama duduk dan mulai menyantap makanan itu bersama istrinya.
Dua menit berlalu, keduanya telah merasakan sensasi kenyang pada perut mereka. Kirana bahkan menguap karena kekenyangan. “hoammm… aku akan mandi sekarang.” Kirana berdiri meluruskan tangannya ke atas.
Tama berdiri dan meninggalkan Kirana lebih dulu. “tekan tombol sembilan pada telepon itu. Panggil pelayan untuk membereskan sisa makanan itu.” Tama berbicara sambil berjalan dan membelakangi Kirana.
Kirana meraih gagang telepon tanpa kabel itu. Ia memencet tombol sembilan pada gagang itu. “halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?” suara perempuan terdengar pada panggilan itu. “Tama menyuruhku untuk memberitahumu bahwa sisa makanan yang tadi kau antar mau dibereskan.” Terang Kirana.
“baik Nyonya.” Sahut pembantu itu lalu Kirana menyudahi panggilan itu. “wow!” Kirana bergidik takjub. Di dalam rumah ia harus berkomunikasi menggunakan telepon rumah yang baru saja ia letakkan itu. Dan yang membuatnya senang, ia dipanggil Nyonya. Seumur hidupnya, ia tak pernah dipanggil seperti itu.
“ibu memang keren.” Kirana berbicara sendiri sambil tersenyum. Ia berpikir, bagaimana ibunya bisa melakukan semua ini. Berkenalan dengan orang kaya yang mau-mau saja anaknya dinikahi oleh ibunya.
Kirana berkeliling di dalam kamar, ia melihat seisi kamar itu satu persatu. Terkadang mulutnya terbuka lebar kemudian menutupnya dengan telapak tangan. Mulutnya itu terbuka lebar karena kagum melihat semua barang-barang yang ada di dalam kamar itu yang terlihat mahal.
Kirana merasakan mules pada perutnya, ia pun bergegas untuk pergi ke toilet. Tetapi sesampainya di dalam toilet, ia dikejutkan dengan sebuah penampakkan diluar dugaannya. “oh my ghost! Itukah yang disebut dengan hantu yang menggantung.” Ucap Kirana saat melihat Tama yang sedang mandi tak mengenakan apapun.
Toilet itu bukan tidak memilki pintu. Toilet itu memiliki pintu, tetapi pintu dan dinding dari kamar mandi itu semuanya terbuat dari kaca, hingga siapapun yang sedang berada di dalam kamar mandi itu akan terlihat jelas dengan embun-embun halus yang menempel pada kaca.
Kirana berjalan perlahan, ia menganggkat tumitnya dan berjalan dengan berjinjit pada telapak kakinya. “apa yang kau lakukan gadis bodoh?” Tama meraih handuk dan memakainya. “ahhh tidak, aku tidak melihatmu.” Kirana menghentikan langkahnya, ia sedang berbohong.
“aku tahu kau melihatku, sudahlah santai saja, kau itu anakku.” Sahut Tama dengan wajah datarnya dan berlalu melewati Kirana. “heyyy… kau pikir kau bisa berbangga hati dengan barang yang sebesar itu.” Kirana emosi saat melihat Tama yang tidak canggung sama sekali terhadapnya. Bagaimana pun Kirana juga seorang gadis, ia bukan anak kecil.
“terima kasih. Aku pun tahu kalau ia besar.” Sahut Tama kemudian menghilang di balik pintu pada ruang berikutnya. Ruang itu adalah ruang berganti pakaian. Pada ruang itu terdapat beberapa lemari dengan dipenuhi pakaian dan sepatu milik Tama.
Kirana menyusul masuk ke ruangan ganti. Tama masih dengan handuk yang melingkari badannya. “aku akan mandi, kau jangan coba-coba untuk mengintipku.” Tegas Kirana sembari menunjuk wajah Tama.
__ADS_1