
Ella keluar dari rumah itu, hati dan tubuhnya lemah, baru saja dia memutuskan persahabatan selama bertahun tahun yang dia bangun bersama gadis ceria dan baik itu.
Ella berjalan seperti orang bodoh, tatapan ya kosong, air matanya terus mengalir, dia menangisi dirinya yang tak bisa berbuat apa apa, dia menangisi keadaan dan takdir yang begitu kejam pada dirinya.
Hidup sebatang kara tanpa dampingan orangtua yang entah kemana, berjuang dari nol bersama kakek neneknya, beruntung bisa bertemu sahabat sebaik dan sesabar Karina, beruntung bisa bertemu dengan sosok Sasha yang juga sangat baik padanya.
Namun takdir buruk itu seolah telah berakar dalam kisah hidup wanita itu. Bencana demi bencana berdatangan pada dirinya, berbagai kemalangan dan nasib buruk mengikuti Ella kemanapun dia pergi.
Kehilangan pekerjaannya setelah menikah, kehilangan anak pertamanya, kehilangan cinta kedua mertuanya dan kehilangan cinta suaminya.
Ella tak ingin kehilangan lebih banyak lagi, cukup!
cukup sampai dia kehilangan cinta dari keluarga Jaya,jangan sampai dia juga kehilangan tiga orang berharga dalam hidupnya, jangan sampai orang orang orang yang dekat dengannya juga pergi dari hidupnya.
Miris!
Kehidupan yang begitu sakit, pernikahan yang dia pikir menjadi awal kebahagiaan baru baginya justru menjadi malapetaka yang sangat dihindari oleh semua orang.
Wanita itu menangis, dia berjalan tertatih tatih menuju sebuah taman bermain milik sebuah sekolah dasar yang dibuka untuk umum.
Jam menunjukkan kalau hari sudah i
sore, dia berjalan dan duduk di taman yang penuh dengan warna itu namun tidak Dnegan hidup nya yang gelap gulita.
Ella menangis sendirian disana, hancur hati dan tak bisa berdiri sendiri, kata katanya beberapa saat lalu membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Hiks hiks hiks... maafkan aku Karina, maafkan aku... aku... takut kehilangan kalian, orang orang yang berharga bagiku, maafkan aku...." Wanita itu menangis tersedu-sedu.
Dia diam disana merenungi nasib buruknya.
Saat Ella sedang duduk termenung disana dengan mata sembab, terdengar suara keributan di sisi lain taman itu, terdengar seperti suara anak anak yang sedang bertengkar.
"Kau tidak punya ibu, kau tidak bisa bergabung dengan kami, pergi kau!!!" teriak salah seorang anak yang sedang bermain bersama temannya.
"Aku juga mau main, apa salah kalau seseorang yang punya ibu ikut bermain?" ucap anak kecil berwajah khas Eropa itu, dia adalah Brandon, penerus kerajaan bisnis Dominic Royal Grup.
"Tidak boleh, pokoknya tidak boleh, ibu kami bilang anak anak seperti kamu tidak dididik dengan baik, kamu itu nakal makanya ibu kamu pergi membuangmu!!" ejek mereka.
"sudah sana pergi!!" teriak yang lain.
Brandon kecil di dorong, anak itu terjatuh namun sesuatu menahan tubuhnya.
"eph... aduh hampir jatuh, hei apa yang kalian lakukan, tidak baik bertengkar seperti itu, apa kalian tidak diajari dengan baik!?" suara Ella terdengar, dia yang menahan tubuh Brandon agar tidak terjatuh ke tanah, untung dia cepat jika tidak, Brandon bisa terbentur ke batu yang ada disana.
"Dia tidak punya ibu, kami tidak mau bermain dengan anak anak seperti dia!!!" ucap salah satu anak perempuan.
"Loh kok gitu, apa salah kalau tidak punya ibu, percuma kalian punya ibu tapi tidak diajari dengan baik!" ketus Ella, dia cukup sensitif dengan kata kata sarkas seperti itu, seolah olah anak anak yatim tak berharga dan selalu mendapat perlakuan berbeda dari orang lain.
"Huaaa.... dia jahat, nenek sihir jaaahaaattt!!!" anak anak itu malah menangis dan berlari pergi dari sana.
Ella menghela nafas sambil menggelengkan kepala," kenapa anak anak jaman ini tidak punya tata Krama lagi, apa orangtuanya mengajari mereka seperti itu?" gumam Ella.
Tiba tiba beberapa orang ibu ibu datang menghampiri Ella sambil membawa anak mereka yang menangis.
"Anak Mama siapa yang buat nangis apa dia?" wanita itu menunjuk Ella.
__ADS_1
"Iyaaaa nenek lampir itu huaaa...." teriak ketiga anak itu sambil menunjuk Ella.
Wanita itu berdiri dan menyembunyikan Brandon di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan pada anakku dasar manusia rendahan, dari penampilanmu saja..." wanita yang lain menatap Ella dari kepala sampai kaki," sudah jelas kau hanya orang rendahan, beraninya kau mengusik anak kami!!!" ucap mereka.
Ella menatap mereka dengan geram," mereka yang memulai ibu ibu, anak kecil ni diejek dan dimusuhi karena tak punya orangtua, apa itu hak yang bisa diabaikan begitu saja?" tanya Ella.
"Cihh namanya juga anak anak, mereka cuma bermain ,lagipula itu salahnya tidak punya ibu!!!" ucap mereka.
"Loh Bu Kok bicara seperti itu? pantas saja anak anak kalian sering melecehkan orang lain, ibunya saja melakukan hal yang sama!!" ucap Ella dengan tegas.
Ketiga orang wanita itu sama sama diam, mereka menatap sinis pada Ella belum lagi disana ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.
"Cihh sudah jelek, miskin, rendahan belagu lagi, ayo kita pergi, jangan mau berteman dengan orang orang seperti mereka!"
Mereka pergi setelah berbicara dengan Ella.
"Fiuhhh.... pengacau..." gumam Ella.
Dia menatap anak kecil yang berada tepat di depannya itu, Brandon sejak tadi menatap Ella dengan mata berbinar-binar, belum lagi saat Ella membelanya di depan anak anak yang selalu mengejek dirinya.
"Kamu nggak apa apa kan adik kecil? apa ada yang sakit hmm?" Tanya Ella seraya memeriksa tubuh anak itu.
Sifat keibuannya muncul begitu saja saat melihat anak itu, jika dia memiliki seorang anak, dia pasti akan menjadi sosok ibu yang sangat perhatian.
"Brandon nggak apa apa Mo.. Mommy..." cicit Brandon dengan suara pelan.
"Wah jadi nama anak tampan ini Brandon ya? Mommy? hei sejak kapan aku mendapat panggilan spesial itu hmm? " Ella cukup terkejut dengan panggilan anak kecil itu pada dirinya, Mommy? yang benar saja, seorang anak kecil yang baru dia temui memanggilnya dengan sebutan itu, tetapi hatinya merasa senang dan hangat, ada apa ini??
"Emm bo... boleh Brandon panggil seperti itu?" tanya Brandon to the point sambil menatap Ella dengan mata berbinar-binar, jarinya saling bertautan di bawah sana.
"Hahahahah.... baiklah, karena kamu sudah bikin aku tertawa, kamu boleh manggil seperti itu, tapi hanya kita berdua saja yang tau ya," bisik Ella yang mendapatkan kembali tawanya setelah bertemu bocah itu.
"he em... " seru Brandon sambil mengangguk dengan penuh semangat.
"Janji?" tanya Ella sambil menaikkan jari kelingkingnya.
"janji!!" seru Brandon yang menautkan jari mungilnya di jari wanita itu.
"yeaayyy hehehe... kamu sama siapa disini sayang? kenapa sendirian? bahaya loh, banyak penculikan saat ini," tanya Ella sambil membawa anak kecil itu duduk.
"Brandon nungguin Daddy, baru pulang sekolah Mom hehehe..."
"kenapa tertawa,?" tanya Ella.
"heheh rasanya senang sekaligus geli karena akhirnya Brandon punya seseorang yang bisa Brandon panggil Mom hehehe..." Anak itu tersenyum bahagia.
"Wahh benarkah? Mom juga senang, akhirnya ada seseorang yang memanggil Mom dengan sebutan itu heheh, terimakasih Brandon!" ucap Ella sambil mengusap pucuk kepala anak itu.
"Sama sama Mom, Brandon sejak lahir gak punya Mom, dia pergi, dia buang Brandon dan Daddy, tapi Brandon senang, akhirnya ada Mom disini, " jelas Brandon dengan santai yang justru membuat Ella tertegun dengan ketegaran hati anak sekecil itu.
"Dia benar benar kuat!" batin Ella.
"Emm~~ tapi Brandon panggilnya Mom apa ya?" tanya anak itu.
__ADS_1
"Emm~~ Nama Mom Arabella Sanbers, Mom Arabella, gimana?" usul Ella, dia menikmati kebahagiaan kecil ini meski tidak tau sampai kapan ini bisa dia nikmati.
"Ahh~~ Mom Bella saja, biar sama sama dari huruf B, Daddy Brian, Mom Bella dan Brandon heheh..." seru anak itu dengan penuh semangat.
"Heheheh gemesin banget sih kamu," ucap Ella sambil mencubit gemas pipi gembul anak itu.
"Oh iya!~~" Ella mengeluarkan sesuatu dari dalam tas lusuhnya.
Brandon melirik penampilan wanita itu, sangat sederhana tetapi membuatnya nyaman.
"Ini, buat kamu~~, dulu Mom buatkan untuk calon anak Mom tapi dia sudah pergi dahulu ke surga, Mom akhirnya punya seseorang untuk diberikan ini," ucap Ella sambil memberikan sebuah jam tangan karyanya sendiri, jam dengan bentuk yang unik dan warna yang menarik dia berikan pada Brandon serta sebuah syal rajutannya.
"Kamu pakai ya~~, cuaca dingin, dan Mom gak tau entah kapan kita bisa bertemu lagi, tapi Mom harap, kamu sehat selalu dan jadi anak yang hebat untuk dirimu dan Daddy kamu, apa pun yang orang katakan, kamu anggap sebagai suara jahat yang harus dibuang," ucapnya sambil memasang scarf berwarna biru itu di leher Brandon.
"Memangnya mom mau kemana?" tanya Brandon dengan polosnya.
"emm mungkin tempat yang jauh heheh, " jawabnya sambil tertawa.
"Mom sedih ya?" tanya Brandon.
Ella terdiam saat mendengar kata kata Brandon," Sama seperti Daddy, mata kalian sama, kalian tertawa tapi matanya sedih," ucap Brandon.
Rasanya Ella akan menangis namun akan aneh kalau dia menangis di depan seorang anak, akhirnya dia menahan dirinya dan berusaha memberikan senyuman terbaik untuk anak itu.
"Heheh gak apa apa kok," ucapnya .
"Brandon!?" suara Brian terdengar.
Brandon langsung menoleh, Ella juga turut menoleh, dia berdiri sambil menatap pria bermasker dan bertopi itu.
"Daddy!!" seru Brandon.
"Daddy kamu datang, ya udah sana pulang, ingat kata kata Mom ya," bisik Ella.
Brandon mengangguk.
"Mom kemarilah," panggil Brandon.
Ella menunduk..
Cup
sebuah kecupan mendarat di pipi wanita itu yang sontak membuat Ella dan Brian terkejut.
"Sampai jumpa lagi," bisik anak itu dengan senyuman bahagia.
Ella tersenyum, hatinya benar benar hangat setelah bertemu anak itu, setidak momen itu akan dia ingat sebagai pelipur lara di kala sedih.
"Sejak kapan anakku... dan wanita itu kan....
.......
.......
.......
__ADS_1
...To be continued ðŸ˜...
...Jangan lupa like, vote dan komen ðŸ˜ðŸ˜...