
📍Rumah Dominic
"Good Morning Mom!" sapa Brandon yang sejak bangun sudah memandangi wajah Ella terus menerus. Sejak Ella di rumah itu, anak kecil ini selalu masuk ke dalam kamar Ella dan memilih tidur disana dengan alasan lebih nyaman jika bersama Momnya.
Beberapa Minggu telah berlalu sejak kejadian di kantor DRG, dia istirahat dan menjalani pengobatan sesuai dengan perintah Brian.
Melihat kondisi Ella yang kurang stabil membuat Brian mengurungkan niatnya membawa wanita itu ke kantor selama beberapa minggu hingga dia benar benar pulih total dari semua traumanya dan bisa menghadapi kepanikannya sendiri.
"Anak Mom sudah bangun? jam berapa sayang?" ucap Ella yang baru bangun.
"Jam 6 pagi Mom, apa kepala Mom masih sakit seperti semalam? " tanya Brandon, pasalnya semalam setelah menjalani terapi, Kepala Ella berdenyut dan membuatnya lemas.
Min Ki menjelaskan kalau itu hanya efek dari potongan memori yang muncul begitu saja di kepala Ella. Sampai saat ini Ella belum tau apa apa tentang potongan memori di kepalanya itu.
"Sudah tidak sakit lagi, terimakasih sudah memperhatikan Mom," ucap Ella seraya mengusap wajah anak kecil itu.
"Hei kalian berdua cepat keluar, Brandon siap siap ke sekolah, dan Ella, Haihh... tolong kau tenangkan Speaker rusak itu, pagi pagi begini sudah membuat kekacauan!!" gerutu Brian yang berdiri di dekat pintu kamar Ella dengan wajah sembab dan mata bengkak.
"Pagi pagi sudah mengomel," ejek Ella namun tak dipedulikan oleh Brian.
"Morning Daddy!!" Seru Brandon sambil turun dari kasur dan berlari menghampiri Daddynya.
"Waaaahh anak Daddy sudah pinter cari tempat tidur ya, bisa bisanya menyelinap ke kamar Mom Ella, dasar kamu ini," Brian memeluk putranya sambil tersenyum bahagia.
"Sejak dia di rumah ini, Brandon selalu tersenyum cerah, bahkan kami juga demikian," batin Brian.
"Cepatlah bersiap Ella, kita akan ke kantor Min Ki bilang kau sudah pulih, terapi selanjutnya adalah sosialisasi, dan kita akan mengubah penampilanmu itu," ucap Brian.
"Apa benar aku sudah bisa keluar?" tanya Ella dengan wajah sumringah.
"Apa apaan ekspresinya itu, dia tersenyum secerah itu saat kubilang akan keluar? waahhh apa dia tersiksa di sini?" pikir Brian.
"Kau yang tau kondisimu Ella, apa menurut kau sudah baik baik saja dengan potongan memorimu yang tidak juga berhasil kau rangkai itu?" Celetuk Brian.
"Ck... aku ingin memastikan saja tuan Brian Dominic yang terhormat," ucap Ella sambil bangkit dari kasur.
"Kalau begitu cepat lah, kau harus melihat berita hari ini heheheh...." Celetuk Brian seraya mengedipkan sebelah matanya.
" Apa apaan tadi itu?"gumam Ella .
"Anak Daddy, biarkan Daddy yang mengurusi hari ini !!!" seru Brian sambil menaruh Brandon di lehernya dan membawa anak itu keluar seolah mereka sedang bermain pesawat terbang.
__ADS_1
"Syuuuuttt.... pesawat meluncur...." seru Brian .
"Wohoooo.... hahahahhhahah.... bye Mom Ella!!!!" seru Brandon.
Ella tersenyum menatap kedua pria itu, hari harinya di rumah keluarga Dominic sungguh berharga. Dia menghargai setiap momen yang diberikan kepadanya, bisa menikmati udara segar dan mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup bebas.
Ella menatap foto sepasang kakek nenek yang dia taruh di mejanya bersama foto seorang gadis yang memakai toga kelulusan, itu adalah foto kakek dan nenek Ella saat dia lulus dari universitas tempat dia menimba ilmu.
Ella membuka figura foto itu, dibelakangnya ada sebuah foto hitam putih lebih tepatnya jika disebut foto hasil USG kehamilan pertama dua tahun lalu.
Wanita itu menatap foto itu sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Hai little bunny, I Miss you my baby, maaf Mom nggak bisa jaga kamu dulu, maaf karena Mom biarkan mereka menyakitimu, sekarang kamu sudah tenang Mom juga bahagia karena bertemu dengan orang orang baik, sampai jumpa lagi anak Mom," lirih Ella.
Kehilangan di masa lalu membuat luka besar di dalam hatinya. Namun tekadnya sudah bulat kalau dia akan menghancurkan keluarga Jaya dengan cara apa pun.
"Aku akan memastikan keluarga Jaya hancur sampai titik terendah di hidup mereka, akan kupastikan itu!!" ucap Ella.
Selama hampir dua bulan tinggal di rumah itu, Ella bekerja keras untuk memperbaiki dirinya, menyembuhkan mentalnya dan membangkitkan kembali Ella yang dulu, namun kini dia tidak sama, dia adalah Ella yang bebas dengan versi yang lebih menantang.
Tubuh Ella tidak sekurus dulu, dia makan dengan baik, apalagi jika mendengar ocehan Brian dan Brandon yang akan langsung memarahinya jika makanannya sampai bersisa.
Proporsi tubuh wanita itu begitu cepat kembali, dia lebih sehat dan kuat, menjalani program kesehatan komplit yang sudah disiapkan oleh Brian. Selama pengobatan, Ella juga belajar mengenai bisnis, dia dibimbing langsung oleh Brian.
Waktu terus bergulir, Ella yang sudah bersiap-siap pergi ke ruangan makan dimana para pelayan sudah menyediakan makanan int mereka semua.
"Ella sayangku, aku sudah datang kenapa lama sekali ganti pakaian nya!!!" Celetuk Karina sambil menghamburkan pelukannya pada Ella..
"Yaaakk dasar ratu drama, air lirumu muncrat, jangan teriak teriak, " kesal Ki Jeong.
"Ck.. apa apaan sih Pak, kenapa sensi banget kalau saya happy, iri ya ?" balas Karina sambil melepaskan pelukannya dari Ella.
"Dasar kalian ini," gumam Ella.
"Selamat pagi Min Ki," sapa Ella sambil tersenyum lembut.
Min Ki yang disapa terkejut saat mendengar wanita itu menyapanya dengan sangat lembut, aura Ella benar benar berubah saat ini.
"Se.. selamat pagi Nona Ella... " Min Ki tercengang, dia begitu gugup saat melihat wanita itu.
"Santai saja, jangan memanggilku seperti itu, kita memiliki usia yang sama, jadi bersikap santai denganku," ucap Ella sambil menepuk punggung pria itu.
__ADS_1
Layaknya anak yang penurut, Min Ki mengangguk dengan wajah bersemu merah.
"Wahhh hihihi.... Pak Hong, lihat wajah dokter Min Ki sampai Semerah tomat, sampai salah tingkah begitu saat Ella menyapanya, hihihi... benar benar menggemaskan," bisik Karina di telinga Ki Jeong.
Ki Jeong yang merasakan hembusan nafas Karina di telinganya belum lagi tangan Karina yang menepuk punggungnya dengan lembut berhasil membuat pria itu terbujur kaku dengan jantung berdegup kencang.
"Ya Tuhan, ampuni aku, tapi aku tak tahan kalau diperlakukan seperti ini, Karina apa kau tidak tau kalau kau menghidupkan sesuatu di bawah sana, ohhhh... tidaaaakkkk... *aku sudah mandi, masa iya harus..."
Glekk*
Ki Jeong menatap wajah Karina yang begitu dekat dengannya, lagi lagi gejolak itu muncul, bahkan tragedi di atap itu kembali berputar putar di kepalanya.
"Ekhhmmm... menyingkirlah Karina!" Celetuk Ki Jeong seraya mendorong gadis itu karena dia merasa gerah.
"Yakk kau berkeringat!" ucap Min Ki yang sudah tau kebiasaan sobatnya itu, dalam hati dia cekikikan melihat ekspresi Ki Jeong.
"Ekhhmmm... a..aku ke kamar sebentar, gerah... sangat gerah!!!" ucap Ki Jeong sambil mengipasi dirinya sendiri.
"Apa dia gila!?" celetuk Karina.
"Gila karena gadis ini hahahhaha... iya kan Min Ki," ucap Ella sambil tertawa.
"Eh... i..iya," ucap min Ki dengan wajah bersemu merah.
"Ekhmmm... Lee Min Ki, ambilkan laporan kesehatan Ella!" suara bariton si tuan kaki besi sontak membuat mereka semua menoleh.
"eh.. bukannya sudah Kuserahkan semalam bos?" tanya Min Ki heran.
"Ambil lagi!" ucap Brian dengan ketus sambil duduk di kursinya, sejujurnya dia menatap tingkah Min Ki dan Ella beberapa saat lalu dan entah kenapa dia malah merasa jengkel.
"Hei pagi pagi itu damai, bukan marah marah, dasar pria tua," ejek Ella.
"Ekhmm... diamlah!"
.
.
.
like, vote dan komen 😉😊
__ADS_1