Pembalasan Sempurna: Tuan Kaki Besi Dan Nyonya Alien

Pembalasan Sempurna: Tuan Kaki Besi Dan Nyonya Alien
Keluarga Dominic


__ADS_3

Keluarga Dominic


Brian tampak mengenakan pakaian kasual, mengendarai mobil sederhana berwarna hitam miliknya dengan putra kecilnya yang duduk dengan tenang di kursi depan sambil membaca buku bukunya.


Brian mengunyah roti lapis yang dibuatkan oleh pelayan di rumahnya, sembari sesekali menyeruput jus alpukat yang sering dia konsumsi di pagi hari. Menu makannya sedikit aneh memang.


“Daddy, apa Daddy yakin mau ketemu gurunya dengan penampilan itu?” tanya Brandon sambil menatap Daddynya yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong dengan topi yang menutupi kepalanya dan sebuah kacamata hitam bertengger di wajahnya.


“mmm? Kenap emangnya? Apa Brandon malu kalau daddy penampilannya begini?” tanya Brian tanpa menoleh sebab dia fokus pada jalanan.


“Bukan malu daddy, Brandon sih gak masalah tapi apa Daddy nyaman? Orang orang pasti akan ejek Daddy lagi, Brandon gak mau Daddy disakiti itu aja,” jelas bocah kecil yang ditinggalkan oleh Ibu kandungnya tepat setelah beberapa bulan dilahirkan.


Ditinggal bukan berarti sang Mommy telah meninggal melainkan menceraikan suaminya secara sepihak karena kekurangan fisik dan finansial yang dialami suaminya waktu itu.


“Ohhh, Daddy nyaman begini nak, nggak masalah kok kalau daddy di ejek emang mereka mau bilang apa coba? Lagian Daddy kan udah nyaman begini,” ucap Brian dengan senyum cerah di wajahnya.


“Apa kaki Daddy masih sering sakit?” tanya Brandon sambil menatap kaki Daddynya yang tidak sempurna itu, jika kaki kirinya tampak normal maka kaki kanannya dipasang besi penyangga menyerupai kaki asli, alias menggunakan kaki palsu dari bagian lutut hingga telapak kakinya.


“umm?” Brian menepuk kaki besinya,” ini tidak pernah sakit lagi nak, kan daddy udah berobat jadi sekarang semuanya udah baik baik saja,” ucap Brian.


“Kalau sakit dibilang jangan ditahan, Brandon gak suka lihat daddy sakit,” celetuk pria kecil itu.


“Kalau ada apa apa Daddy langsung bilang sama Paman Hong, biar langsung diatasi, jangan sembunyiin penyakitnya,” celetuk bocah kecil yang terlalu cepat dewasa karena keadaan itu.


“Baiklah tuan muda Dominic, hamba akan menuruti permintaan anda dengan senang hati,” jawab Brian seraya menatap putranya saat mereka berhenti di depan lampu merah.


“ Ya udah, Umm Daddy kerja hari ini kan? Terus nanti yang jemput Brandon siapa?” tanya anak itu.

__ADS_1


“Nanti Paman Hong yang jemput, kamu tunggu aja di depan sekolah seperti biasa, Daddy nanti akan pulang malam, kamu di rumah sama bibi Lee dan paman Hong, jangan pergi dengan orang yang gak kamu kenal ya nak,” jelas Brian yang sudah bisa melepas anaknya dengan mandiri pergi ke sekolah dan diantar jemput oleh orang orang kepercayaannya.


“Siap daddy!!" seru anak kecil itu dengan senyum sumringah.


Keluarga Brian adalah sebuah keluarga yang bertahan tanpa dukungan seorang wanita. Brian Dominic Jeremiah adalah seorang duda beranak satu yang memiliki kekurangan fisik akibat kecelakaan yang dia alami beberapa tahun lalu yang memaksanya untuk mengamputasi kaki bagian kanannya karena hancur dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan banyak pengendara.


Brian setidaknya bersyukur karena dia masih selamat, dia mengalami kecelakaan saat istrinya sedang mengandung, saat mengalami kecelakaan dia baru saja di terima bekerja di sebuah perusahaan swasta namun karena kejadian hebat itu, dia dipecat karena harus cuti selama beberapa bulan padahal baru masuk bekerja di kantor.


Karena hal ini, istrinya merasa malu pada dirinya yang cacat dan pada saat itu bahkan tidak punya uang untuk sekedar memasang kaki palsu, semua uang asuransi kecelakaan digunakan untuk kebutuhan lahiran sang istri, karena Brian cacat dan tidak memiliki apa apa, segala sesuatu yang diharapkan oleh istri Brian dahulu hancur berantakan.


Dia berpikir dengan menikahi Brian yang sempurna dari segi fisik dan pekerjaan akan membuatnya bahagia justru di awal pernikahan mereka di beri cobaan berat dimana suaminya harus jadi penyandang cacat dan dipecat dari kantor elit.


Akhirnya istri Brian memilih untuk menceraikan Brian setelah melahirkan buah hati mereka yang pada saat itu sudah berusia 3 bulan. Mantan istri Brian mengirim surat perceraian sepihak dan mengirim foto kalau dirinya sudah menemukan pria yang lebih tepat dan memiliki segalanya serta tidak cacat seperti Brian.


Brandon kecil saat itu ditinggalkan, anak kecil yang masih butuh asupan gizi dari sang ibu ditinggal begitu saja seolah anak itu tidak ada harganya. Kehancuran keluarga kecil Dominic dimulai saat itu. Brian dengan berani menandatangani surat perceraian dan sejak saat itu dia memilih hidup sendiri, pria itu tinggal jauh dari keluarga kandungnya yang bertempat tinggal di Jerman benua Eropa.


Bagi Brian lebih baik dia menjelaskannya lebih awal pada Brandon daripada Brandon tidak tau apa pun tantang wanita yang melahirkan dirinya dan justru mendengar hal itu dari orang lain.


Brandon tau siapa ibu kandungnya namun seolah tau dia tak diinginkan, Brandon tak pernah mencari tau lebih banyak tentang ibu kandungnya, dia sangat cuek dengan wanita, mungkin karena sang daddy di sakiti oleh ibu kandungnya.


Brandon jelas tau apa yang terjadi pada keluarga mereka, tetapi anak ini menuruni semua sikap dan perilaku Daddynya, tak ada satupun dari diri anak kecil itu yang meniru ibu kandungnya. Bahkan Brandon membenci wanita yang disebutkan sebagai ibu kandungnya.


Kedua pria itu hidup saling bergantung satu sama lain. Bagi Brian, Brandon adalah segalanya dan bagi Brandon, Brian adalah Daddy yang harus dia jaga dan lindungi dari orang orang jahat yang ingin menyakiti sang daddy .


Kedua pria itu melaju menuju sebuah sekolahan elit di Korea Selatan. Sekolah yang hanya bisa dimasuki oleh orang orang berkelas. Tentu saja tak ada yang mengenali Brian di sekolah itu, sebab dia menutup rapat rapat identitas tentang dirinya.


Mobil sederhana milik Brian memasuki area sekolahan elit itu. Banyak orang menatap heran pada mobil butut yang masuk ke pekarangan sekolah elit itu, namun orang orang disana tidak peduli, karena kehidupan di negara itu kehidupan bebas namun sangat mengutamakan penampilan fisik.

__ADS_1


Bagi penduduk disana sangatlah tidak sopan untuk mengurusi kehidupan orang lain dan mendikte kesalahan sesama padahal cacat pada diri sendiri tidak dilihat.


Namun meski demikian, mereka sangat sensitif dengan penampilan fisik, tak segan segan mereka bergunjing tentang orang orang yang penampilannya tidak sesuai dengan standar kecantikan atau ketampanan di negeri itu.


Brian keluar dari mobil dengan santai, hidupnya sangat tenang, bekerja secara diam diam, suksesnya tiba tiba dan membuat semua orang heran.


Pria itu menggandeng tangan kecil putranya, di sekolahan itu sudah banyak anak anak yang tiba diantar oleh orang tua mereka. Para orangtua siswa mengantarkan buah hati mereka untuk memasuki semester baru di sekolah.


“Wahh sudah ramai ya, apa kita terlambat?” tanya Brian pada putranya.


Brandon menatap jam tangannya,” Belum Daddy, masuknya jam 7.30ndan ini baru jam 7, jadi masih ada waktu setengah jam lagi,” ucap Brandon.


“ahhh baiklah, kalau gitu temani daddy ke ruangan staf, daddy mau bayar uang sekolah kamu, “ ucap Brian.


“Kenapa gak Paman Hong yang bayar Daddy? Biasanya kan paman yang bayar, apa daddy gak ke kantor, entar telat loh,” celetuk anak kecil itu.


“Nggak apa apa, biar daddy yang bayar, sekalian heheh.. lagian paman Hong pasti lagi sibuk, nanti dia ngomel lagi,” ucap Brian sambil menggendong putra kecilnya menuju ruangan staff adminstrasi sekolah.


Brian tentu saja menjadi pusat perhatian karena dengan percaya diri berjalan dengan kaki besinya, banyak orang yang bergunjing namun tak dipedulikan oleh Brian.


.......


.......


.......


...to be continued 🤪~~...

__ADS_1


__ADS_2