
Saat mobil sedang melaju menuju rumah sakit, Chara bergerak lalu perlahan membuka matanya.
"Chara" panggil Raffa sambil mentap wajah cantik yang sedang berbaring dipangkuannya
Rima dan Chris didepan pun ikut menole kebelakang.
Chara terkejut melihat siapa yang ada didepannya, Ia melihat dengan jelas mata sebeb Raffa, namun sakit diperutnya membuatnya tak mampu untuk bertanya apapun.
"Saya tidak apa apa Tuan, ini hanya luka kecil" ucap Chara terseyum karena melihat kecemasan di wajah Raffa.
"Jangan banyak bicara, tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" ucap Raffa berusaha tenang.
"Chris lebih cepat lagi" lanjut Raffa.
"Ri!" panggil Chara karena Ia melihat ada sabahatnya kursi depan.
"Ra!" sahut Rima dengan berderai air mata sambil berbalik melihat Chara.
"Tolong jangan katakan apapun pada ibu" ucap Chara sedikit menole sambil mengulurkan tangannya pada Rima.
Rima mengangguk , sambil menyambut uluran tangan Chara.
"Jangan pikirkan masala ibu, aku akan mengurusnya" jawabnya berusaha terseyum, namun hatinya hancur melihat keadaan sahabatnya yang terbaring lemah.
"Tuan Raffa, Trimakasi telah meminjamkan mobilnya, maaf jika saya tidak bisa membalas kebaikan Anda" ucap Chara sambil menatap lekat wajah Raffa.
Raffa menggeleng mendengar ucapan Chara,
"Tidak akan ada kata terimakasi dan kata maaf, semuanya mulikmu dan hanya untuk" sahut Raffa sudut matanya mengeluarkan cairan bening itu lagi.
"Apa kita seakrab itu? hingga Tuan menangisiku?" tanya Chara, samar samar ia melihat air mata yang mengalir dari sudut mata Raffa, kesadarannya mulai menurun sehingga ia tidak mendengar semua ucapan Raffa.
Raffa mengangguk berkali kali.
"Yaah, kita sangat akrab bahkan kita akan lebih dari sekedar akrab" ucapnya benar benar tak bisa menahan rasa sedihnya lagi.
Chara terseyum, tangan terangkat pelan hendak menyentuh pipi Raffa, namun tangan itu terjatuh begitu saja, matanya mulai kabur, penglihatanya gelap dan Chara pun kembali pingsan.
"Bertahanlah demi aku. Aku berjanji tidak akan membiarkan gadis kecilku kenapa napa " batin Raffa sambil menempelkan keningnya pada kening Chara yang telah tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai dirumah sakit, setelah mobil terparkir dengan sempurnah, Raffa langsung menggendong Chara keluar mobil dan membawanya ke ruang UGD.
Sebelum Chris telah menghubungi pihak rumah sakit yang akan mereka datangi, sehingga pihak rumah sakit telah mempersiapkan dua orang Dokter wanita untuk menangani Chara.
Kini Chara telah dibawa keruang operasi
__ADS_1
"Tuan, silakan Anda tunggu diluar" ucap salah satu suster pada Raffa yang ingin ikut masuk keruang operasi. Raffa menurut dan suster itu menutup pintu.
Beberapa saat pintu tertutup lampu ruangan operasi pun dinyalakan. ketiga orang itu menunggu dengan kecemasan masing masing didepan pintu ruangan operasi.
"Nona sebaiknya Anda menemui Dokter, luka lebam di wajah Anda juga perlu diobati" ucap Chris pada Rima dicela mereka menunggu.
"Trimakasi Tuan, luka ini tidak seberapa dengan luka yang tusukan Chara. Saya akan menunggu disini sampai operasi selesai" sahut Rima pasti.
Chris terdiam tidak menanggapi lagi ucapa Rima, pria itu kembali berdiri disamping Raffa yang sedang gelisa menunggu hasil operasi.
2 jam berlalu, lampu ruangan operasi pun dimatikan pertanda operasi telah selesai.
Semua langsung berdiri dan menunggu tepat didepan pintu.
Cekleekk pintu terbuka, Dokter berjalan keluar sambil melepas masker dimulutnya. Semua mata pun tertuju padannya menunggu penjelasan.
"Bagaimana hasil operasinya?" tanya Raffa tak sabar.
Dokter menatap mereka bertiga satu persatu
"Apa kalian punya musuh yang berbahaya, sepertinya pisau yang menancap diperut pasien bukalah pisau biasa" tanya Dokter.
"Langsung pada intinya saja" ucap suara berat itu lagi.
"Operasinya berjalan dengan lancar Tuan, untunglah korban memakai rompi anti tusuk, sehingga lukanya tidak terlalu dalam" kelas Dokter.
"Dok apa kami boleh melihatnya?" tanya Rima tak sabar.
"Boleh saja, tapi tunggu setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat" sahut Dokter lalu kembali masuk kedalam ruangan operasi.
"Chris, temukan siapa pun yang berada dibalik semua ini, dan pastikan bajiangan itu tidak akan melihat matahari terbit" ucap Raffa dengan expresi wajah yang sulit diartikan.
"Baik Tuan" sahut Chris lalu berpamitan menemui dokter untuk menannya kan perihal pisau yang dimaksud Dokter tadi.
Raffa merasa bersalah karena telah membiarkan Chara pergi sendirian, untunglah Chris bersama orang orangnya datang tepat waktu, walau pada akhirnya Chara tetap menjadi korbannya, setidaknya saat ini Chara telah dalam penanganan yang tepat.
...Flashback on...
Pagi hari, rutinitas seorang sekertaris Chris.
Pria tampan tapi dingin yang kini telah berusia 31 tahun itu selalu berolaraga setiap pagi, treadmill itu lah yang selalu ia lakukan, jika ada waktu tersisa ia akan sedikit bermain dengan besi besi berat lainnya.
Selesai berolaraga Ia akan bersantai sebentar diatas balkon, sambil membaca koran dan menikmati segelas kopi susu hangat.
Disaat sedang asik menikmati waktu santainya, dering ponselnya berbunyi pertanda ada sebuah telefon masuk. Dahinya mengkerut ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, karena penasaran Chris pun langsung menggeser tombol hijau.
__ADS_1
^::^ ^::^ ^::^
"Apa? kenapa kau tidak bilang dari semalam" sahut Chris dengan nada meninggi ketika mendrngar ucapa sipenelpon. Chris pun memutuskan sambungan telefon.
"Sial" lanjutnya dan langsung berlari kekamar untuk menganti baju.
Entah siapa yang menelpon, tapi dari expresinya terlihat jelas sedang ada masala besar, selesai mengganti baju Chris langsun melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Saat Chris tiba ditempat tujuannya, mata menangkap sosok pria yang sangat ia kenal hendak masuk ke bangunan yang telah hancur itu.
Tanpa berpikir panjang, Chris langsung mengambil sebuah saputangan yang telah diberi obat bius, dan membakap pria itu dari belakang.
Raffa meronta sebentar, lalu terjatuh lemas. Jika Chris terlabat sedikit saja, Chara dan Raffa akan dalam bahaya besar.
"Maafkan atas kelancangan saya Tuan, tapi begini lebih baik" ucap Chris sambil membopong tubuh Raffa kedalam mobil.
Jika Chris membiarkan Raffa sadar, maka semuanya akan berantakan, Raffa pasti akan bertindak gegabah apalagi melihat Chara dalam bahaya.
Setelah mengaman Raffa, Chris bersama gengnya pun mulai beraksi, satu persatu orang orang yang memegang senjata didalam ruang itu dilumpuhkan.
Senjata api yang digunakan adalah senjata rakitan sendiri, senjata itu tidak mengeluarkan suara ketika ditembakan, dan isinya adalah jarum berancu, dalam hitungan detik lawan akan jatuh pingsan tanpa bersuara.
Chara yang tak sengaja melihat Chris di balik pintu, berusaha mengalikan perhatian penjahat itu.
Sedangkan Raffa yang tertidur didalam mulai menggeliat, lalu perlahan membuka matanya, saat mengingat Chara dalam bahaya, Raffa langsung berusaha membuka pintu, namun sayang pintunya telah dikunci dari luar oleh Chris.
"Brengsek, Chris buka pintunya sekarang, kalau sampai Chara kenapa napa kuburanlah tempat terakhirmua" Teriaknya Raffa penuh emosi, sambil memukul mukul pintu mobilnya, namun tidak ada seorang pun yang mendengar teriakannya karena Chris sengaja memarkirkan mobil itu sedikit jauh.
Saat otak pintarnya mulai bekerja baik dan memikirkan kelebihan mobilnya, Raffa pun berpindah kursi kedepan lalu membuka kaca mobil dan langsung melompat keluar dari sana.
Tanpa menunggu lama Raffa langsung berlari kedalam bangunan yang telah hancur itu, disaat Raffa sampai Chara telah tertusuk pisau dan hampir jatuh kelantai, Raffa yang tadinya ingin menghajar Chris, pikiran teralihkan oleh keadaan Chara.
...Flanhback of...
...:...
...:...
...:...
Trimakasi yang sudah setia menunggu up, atau pun yang baru mampir🙏🙏🙏.
Jangan lupa, dukung Author dengan LIKE & COMENTAR & VOTE kalian semua🥰🥰
Ingat selalu pesan IBU berbagi itu ibadah, bersabar itu indah😘😘✌✌
__ADS_1
Love U all❤🖤