
Kini Chara telah dipindahkan ke ruang rawat, Raffa, Chris dan juga Rima pun telah berada di ruang rawat Chara.
Raffa duduk disamping ranjan, tempat Chara berbaring sambil memegang tangannya erat, sedikit pun pandangan Raffa tidak berpaling dari gadis yang sudah ia nantikan selama dua tahun itu.
Dipandangi wajah pucat yang sedang berbaring dan belum sadar kan diri itu, sesekali tangannya mengusap kepala gadis itu, jika waktu bisa dihentikan, Raffa akan memilih dirinya yang berbaring diranjang itu.
Begitu pun dengan Rima sang sahabat, selalu setia menunggu Chara, hal yang sama pun ia rasakan, hatinya hancur, ia merasa bersalah karena telah menelpon Chara pagi itu.
"Maafkan aku Ra, andai aku tidak menelponmu, aku bukan sahabat yang baik untuk" batin Rima terus memandangi wajah pucat Chara.
Sementata Chris yang juga berada diruang itu merasa bingung harus berbuat apa, dirinya telah berusaha sebisa mungkin untuk melindung Raffa dan juga Chara, tapi kejadian penusukan Chara benar benar diluar dugaannya.
Melihat Raffa dalam keadaan sekarang, ia merasa telah gagal memenuhi tanggung jawabnya dan janjinya untuk menjaga dan membahagiakan Raffa.
"Tuan" ucap Chris memberanikan diri.
Raffa mengangkat sebelah tangannya, pertanda meminta Chris untuk tidak berbicara apapun.
"Pergilah, aku akan menunggunya disini" ucapnya tetap fokus menatap Chara.
Namun Chris tak beranjak dari tempatnnya.
Beberapa detik kemudian, Chara menggerakan tangannya yang dipegang oleh Raffa.
"Chara" ucap Raffa langsung berdiri ketika merasakan pergerakan tangan itu
Chris yang melihat Chara mulai sadar langsung memencet bel untuk memanggil Dokter.
Perlahan Chara membuka matanya, tampak jelas wajah Raffa berada di hadapannya.
"Tuan Raffa" ucapnya pelan.
"Sutt, diamlah. Jangan berkata apapun dulu, sebentar lagi dokter akan kesini untuk memastikan keadaanmu" ucap Raffa lembut sambil mengelus kepala Chara.
Selesai Raffa berucap, dokter pun masuk.
"Permisi Tuan, biar saya periksa sebentar" ucap dokter wanita itu karena Raffa tak beranjak dari samping Chara.
Raffa menjauh, dan Dokter langsung menjalankan tugasnya.
"Apa yang Anda rasakan, Nona?" tanya Ibu Dokter, setelah memeriksa detak jantung Chara.
__ADS_1
"Tidak ada Dok, saya hanya ingin minum" sahut Chara.
Raffa yang mendengar ucapan itu, langsung mendekat dan memberikan air pada Chara.
"Kondisinya sudah stabil, biarkan Nona Chara istirahat, jangan banyak gerak dulu biar lukanya cepat kering" ucap Bu Dokter lalu berpamitan keluar.
Setelah kepergian dokter, Raffa dan Rima mendekat keranjang Chara.
"Maafin aku ya, Ra" ucap Rima dengan suara bergetar sambil memeluk Chara.
"Kenapa menangis? Lu nyumpahin gua cepat mati" ucap Chara sengaja membuat lelucon.
"Jangan bicara begitu, aku beneran minta maaf" sahut Rima, lalu melepas pelukannya.
"Iyah iyah, gua maafin tapi janji dulu traktir gua makan bakso nanti" ucap Chara sambil memainkan jari kelingkingnya
"Lagi sekarat juga otak Lu isinya bakso melulu, iyaa asal sembuh dulu gua borongin bakso segerobak buat Lu" sahut Rima, sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Chara.
"Janji" ucap dua sahabat itu bersamaan.
Raffa yang melihat interaksi kedua sahabat itu pun ikut tersenyum, bukan karena merasa lucu, tapi kini ia tau makanan kesukaan Chara
"Setelah kamu sembuh nanti, akan aku sewakan koki termahal, khusus membuatkan bakso untukmu" batin Raffa sambil terus menatap Chara.
"Ra aku cari makan sebentar ya, nanti aku kesini lagi" ucap Rima.
Chara terseyum sambil mengangguk, Rima pun keluar disusul Chris. Pria itu sengaja memberi ruang pada Raffa, agar Tuannya itu mau mengatakan semuanya pada Chara.
"Tuan, kenapa saya disuruh keluar?" tanya Rima, saat mereka sudah diluar.
"Pekalah terhadap sekitarmu, pergi obati luka mu, setelah itu pulang dan istirahatlah, kembalilah besok untuk menjenguk sahabatmu." sahut Chris panjang lebar.
"Kenapa Anda jadi mengatur saya? Memangnya Anda siapanya Chara?" tanya Rima, gadis itu merasa tak terima ucapan Chris.
"Menurutlah jika ingin melihat sahabatmu bahagia" ucap Chris lalu pergi meninggalkan Rima dengan kebingungannya.
Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, Rima melangkah meninggalkan ruangan Chara.
"Apa maksudnya melihat Chara bahagia?" gumamnya sambil terus berjalan mencari dokter seperti yang diperintahkan Chris tadi.
****************
__ADS_1
Kini tinggallah Raffa dan Chara di ruangan itu, Chara yang belum paham apapun merasa biasa saja, walau ia sedikit bingung mengapa Raffa tetap berada di ruangan itu.
Lain halnya Raffa, jantung pria itu berdetak kencang seakan ingin melompat keluar. Ia bingung harus memulai dari mana, semua sikap manis pada Chara sebelumnya, spontan mengalir begitu saja saat melihat Chara dalam keadaan bahaya.
Berbeda dengan saat ini, Raffa harus berbicara dalam suasana hening, dan mata Chara menatap tepat ke arahnya.
"Ada yang ingin Tuan katakan?" tanya Chara karena melihat Raffa seperti sedang gelisa.
Raffa menatap dalam mata Chara lalu berucap
"Apa kamu masih ingat si gendut yang tukang makan itu?" tanya Raffa.
"Si gendut?" Chara mengerutkan keningnya, siapa si gendut yang dimaksud oleh Tuannya itu.
"Si gendut teman sekolahmu dulu."
"Aaah si gendut itu, entah bagaimna kabarnya, jika takdir mempertemukan kami lagi, aku akan memasak yang bayak untuknya" sahut Chara sambil tersenyum seolah sedang membayangkan masa masa kecilnya bersama si gendut.
"Apa kamu juga masih ingat si gendut berjanji akan menunggu kedatanganmu di tepi danau itu?" tanya Raffa lagi
"Tentu saja ingat, Danau tempat kita main kejar kejaran, dan di danau itu juga tempat dimana aku melihat si gendut untuk terakhir kali" sahut Chara dengan nada sedikit sedih
"Apa kamu masih berharap ingin bertemu dengannya?"
"Hemmm, tapi sayangnya, aku tidak tau siapa namanya dan dimana rumahnya." sahut Chara dengan nada sedikit lemah, ia belum sadar dengan pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan oleh Raffa.
"Jika kamu bertemu lagi dengan si gendut itu, apa yang akan kamu lakukan?"
Chara terdiam untuk pertanyaan kali ini.
"Sebentar, sebentar. Kenapa Tuan bisa tau soal si gendut?" tanya Chara penuh selidik, ia baru menyadarinya.
"Jika aku berkata aku adalah si gendut itu apa kamu akan percaya?" tanya Raffa lagi.
"Jangan bercanda Tuan, namanya si gendut hobinya makan sudah pasti Dia akan tumbuh menjadi lebih gendut." sahut Chara sambil tertawa kecil.
"Dua orang anak kecil sedang duduk saling membelakangi di pinggir danau, mereka berdua menggambar setiap apapun yang dilihat, setelah itu mereka menukar hasil gambaran dan berjanji akan menyimpan dan menjaga hasil gambambaran itu sampai kelak mereka besar nanti." ucap Raffa, pria itu menceritakan kisah masa kecil mereka berdua.
"Jika aku besar nanti, aku akan berusaha kurus agar kau tidak malu punya teman gendut seperti ku" lanjut Raffa mengulang perkataan masa kecil
"Dan aku akan menjadi koki handal agar kau tetap gendut" sahut Chara tanpa sadar ia mengulangi perkata masa kecil mereka dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
:
Happy reading, Love u all❤🖤