
Chris melangkah masuk ke ruangannya dan mulai fokus dengan perkerjaan, ia akan segera menyelesai pekerjaannya agar jam makan siang nanti ia bisa mengajak Rima pergi dalam waktu yang lama.
Dengan penuh semangat, Chris mulai fokus dengan berkas berkas yang ada dihadapannya, dua jam berlalu, Chris masi fokus dengan pekerjaannya.
Tak lama kemudian telefon kabel diatas mejanya bernyi, tanpa menoleh, tangan Chris langsung meraih gagang telefon tersebut dan mendekatkan pada telinganya.
"Tuan, ada seseorang ingin bertemu dengan Anda, katanya dia sudah membuat janji sebelumnya" ucap suara dari balik telefon yang ternyata dari bagian resepsionis.
"Biarkan dia masuk" sahut Chris, lalu meletakan kembali gagang telefon tersebut.
Chris yakin betul orang yang dimaksud resepsionis adalah perancang perhiasan yang akan mengantar cincin pesanannya.
Saat Chris hendak kembali fokus pada berkasnya, sorot matanya tidak sengaja melihat jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 10:30 siang hari. Chris mengerutkan dahinya sambil memastikan jarum jam dinding tersebut.
Merasa tidak percaya dengan jam dinding itu, Chris memperhatikan jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangannya, bahkan Chris pun memperhatikan jam diponselnya untuk memastikannya.
Chris melayangkan pandanganya keluar, kearah pintu masuk ruangan kerja Raffa, namun ia tidak menemukan siappun disana. Chris merasa tidak puas, ia pun berdiri lalu berjalan keluar ruangan.
Saat tidak menemukan sosok Rima disana, Chris mulai bertanya tanya. Dimana Rima? kenapa dia belum sampai? apa terjadi sesuatu dengannya dijalan? begitulah isi pertanyaan yang muncul dibenak Chris, dengan tatapan terfokus pada kursi kerja Rima yang terlihat kosong.
Chris terdiam sejenak, lalu ia berbalik dan hendak kembali masuk kedalam ruangannya untuk menghubungi Rima.
"Permisi Tuan"
Ucapan itu seketika menghentikan tangan Chris yang hendak membuka pintu ruangannya, dan langsung berbalik keraha sumber suara.
Dari jarak dua meter, Chris melihat seorang pria dewasa yang berdiri dihadapannya dengan kepala sedikit tertunduk. Dari penampilannya Chris dapat memastikan bahwa orang tersebut bukanlah orang dari perancang perhiasan yang ia pesan.
"Maafkan atas kelancangan saya Tuan, saya diminta seseorang untuk mengantarkan ini pada Anda." jelas orang itu dengan sopan sambil menujukan sebuah amplop kecil ditangannya.
Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Chris, orang itu melangkah maju dengan penuh hati hati lalu menyerahkan amplop tersebut pada Chris.
__ADS_1
Dengan ekspresi datar, Chris menerima amplop tersebut, lalu orang itu berpamitan pergi. Chris pun langsung melangkah masuk keruangannya.
Chris menundudukan pantatnya dikursi kerjanya, sambil meletakan amplop itu diatas meja. Perasaannya yang kacau karena memikirkan Rima yang tak kunjung datang membuat Chris dengan kasarnya membuka amplop tersebut.
Seketika foto foto dalam amplop itu bertebaran diatas meja, Chris membulatkan matanya tidak percaya saat melihat salah satu foto yang tidak sengaja terbuka.
Dengan rahang mengeras Chris memunguti semua foto itu dan memperhatikanya satu persatu. Chris berharap foto foro itu hanya palsu, tapi sayang matanya menyakinkan bahwa foto foto tersebut adalah asli.
Chris berusaha tenang dan menyakikan dirinya, karena ia tidak ingin terjebak.
"Permainan apalagi ini?" ucap Chris sambil meraih ponselnya lalu menghubungi nomer telefon Rima.
Berkali kali Chris mencoba, namun yang ia dengan hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa nomer tersebut tidak dapat dihungui atau sedang berada diluar jangkau.
Chris memasukan kembali foto foto itu kedalam amplop, lalu meraih kunci mobilnya dan berjalan keluar ruangan.
Sesampainya diparkiran, Chris langsung cepat cepat masuk kedalam mobil dan menancap gas menuju suatu tempat. Chris akan menemui orang kepercayaannya untuk memastikan foto foto tersebut asli atau hanya editan.
Rima seyum nakal pada seorang pria yang beridir disamping ranjangnya, tampak Pria tersebut juga bertelanjang dada dan seperti sedang membuka kancing celananya.
Siapa pun yang melihat foto fotonya pasti akan memikirkan hal sama yaitu kedua orang tersebut akan atau sudah melakukan adegan ranjang.
Karena pria tersebut membelakangi kamera, sehingga Chris tidak mengenalinya.
Chris mencengkram kuat setir mobilnya, otaknya berpikir keras mencerna semua yang terjadi, walau bukti itu mengarah pada kebenaran, tapi dalam hati kecil Chris tetap berharap semua itu hanyalah jebakan seperti sebelum.
Beberapa menit kemudian, Chris telah sampai pada tempat tujuannya, dengan langkah berat Chris mamasuki rumah orang kepercayaannya itu.
sepuluh menit berlalu, Chris keluar dari tempat itu dengan muka memerah karena menahan emosi, tampaknya jawabannya yang ia dapatkan sama seperti yang ia lihat.
Chris kembali melajukan mobilnya, tujuannya saat ini adalah rumah Rima, ia akan meminta penjelasan langsung dari gadis itu. Chris berharap bisa dapat penjelasan dari Rima.
__ADS_1
Karena menyetir dalam kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama mobil mewah itu pun telah berhendi di pintu pagar rumah Rima.
Chris kembali dikejukan dengan tulisan yang tertempal pada pagar rumah itu dan sebuah gembok yang terpasang disana.
Rumah ini telah dijual, begitulah isi tulisan tersebut.
Chris memegang kepala frustasi, ia benar benar tidak mengerti dengan semau ini, apa yang sebenarnya terjadi pada Rima? dimana gadis itu saat ini?
Chris menghampiri rumah tetangga mencoba mencari infomarsi, tetapi tidak ada satu tetangga pun yang tau, bahkan para tetangga kaget dan kembali bertanya pada Chris, sejak kapan rumah itu dijual dan sejak kapan tetangga mereka itu pintah.
Dengan perasaan bercampur aduk Chris melangkah menuju mobilnya. pria dingin itu kembali melajukan mobilnya dan mendatangi beberapa tempat yang sering didatangi Rima.
Semua tempat sudah ditangi Chris, tapi tidak menemukan sosok Rima disana, dan tempat terakhir pencarian Chris adalah sasana milik ayah Rima.
Lagi lagi Chris kembali dikejukan, ternyata sasana itu sudah jual oleh ayah Rima sejak seminggu yang lalu. Mendengar penjelas dari pemilik baru sasana itu, sesektika emosi Chris langsung memuncah.
Chris merasa Rima telah mempermainkannya, segala macam pemikiran jelek tetang Rima pun muncul dikepalanya, Chris berpikir Rima bukanlah wanita baik baik.
"Sial, apa mungkin karena kemarin aku menolaknya sehingga dia mencari kepuasan ditempat lain" ucap Chris dengan mata berapi api, sepertinya rasa cinta yang ia punya sekejap berubah menjadi kebencian.
Chris pun berjanji pada dirinya sendiri, akan menemukan gadis itu dan meleyapkannya. Chris merasa harga dirinya telah dipermainkan oleh Rima.
Chris tidak peduli lagi dengan hubungan antara Rima dan Chara, ia akan menghancurkan kehidupan Rima berserta seluruh keluarganya dimana pun saat ia menemukannya.
...:...
...:...
...:...
Love U All❤🖤
__ADS_1