
Sam dan Ailda masuk kedalam rumah, Sam masih dalam keadaan marah pada Priska bahkan dada Sam naik turun karena merasa sangat marah pada Priska.
"Tuh kan Alice nya ada, dia gak bakalan pergi Hubby dia pasti takut pada ancaman kita" sahut Priska yang melihat Sam dan Ailda masuk kedalam rumah.
Sam merebut minuman dari tangan Ailda, Sam membuka penutup dari cap minuman yang Priska pesan tadi, Sam mendekat kearah Priska yang tak jauh dari Sofa.
"Aku harap ini terakhir kalinya kau menyuruh Alice membelikan minuman" ucap Sam.
"Sam kenapa membela wanita itu" protes Priska.
Byurrr..
Sam mengguyur Priska dengan minuman manis itu, sehingga membuat Priska marah besar pada Sam bahkan rambut Priska yang setiap seminggu sekali ke salon pun terkena minuman manis dan dingin itu.
"Sam kamu sudah gila ya, hanya karena aku menyuruh Alice membelikan minuman kau sampai tega mengguyurku dengan minuman itu lihat bajuku jadi kotorkan" gerutu Priska.
"Aku harap ini sebagai balasan untukmu karena selalu menyuruh Alice".
Sam pergi meninggalkan Ailda dan Priska dan itu menjadi kesempatan Priska untuk membalas perbuatan Sam karena ulah Ailda, Priska mendekati Ailda dia langsung menjambak rambut Ailda.
"Auwws sakit Pris lepaskan aku" teriak Ailda saat Priska sedang menjambak rambutnya dengan kencang.
"Sakit lebih sakit mana di jambak atau di guyur dengan minuman hah? Bukannya sama saja ya" ucap Priska.
"Aws lepas".
"Priska" bentak Sam dari arah tangga rumahnya.
Priska mendengar bentakan Sam yang menggelegar di ruang tamu itu, Priska langsung melepaskan tangannya dari rambut lurus Ailda.
"Masih berani kau dekati Alice aku tak akan segan segan menamparmu Pris" ucap Sam dengan nada tinggi.
"Sam kamu lebih memilih dia dari pada aku" ucap Priska matanya sudah berembun dan akan nangis.
"Aku tak membela Alice tapi sikap kamu keterlaluan Pris, masuklah ke kamar Alice" titah Sam.
Ailda hanya menurut saja. Dia tak mau memperpanjang masalah itu Ailda terus saja memikirkan rencana agar bisa keluar dari jerat keluarga yang Toxis ini.
"Aku harus apa sekarang aku takut keluarga tuan David dalam bahaya kalau aku kabur dari sini, apa aku beritau saja pada tuan David, tapi tidak, resikonya akan sangat besar" gumam Ailda sambil mundar mandir di kamarnya.
Ailda duduk di lantai karena di kamar itu tak ada apa apa selain tikar yang akan Ailda gunakan untuk tidur nanti, Ailda tak merasa kaget walau pun dia hanya di beri tikar saja karena waktu dulu dia di kampung dia juga tak punya kasur.
"Aku harus kumpulkan bukti supaya aku bisa memberitau pada tuan David kalau keluarga Vincen bukan orang baik" gumam Ailda.
Priska masuk kedalam kamar, disana sudah ada Sam yang sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponsel kesayangannya.
"Kau tega Sam" sahut Priska.
__ADS_1
Sam tak menggubris ucapan Priska, namun Priska tak putus asa dia mendekat kearah Sam, Priska naik ke atas tubuh Sam yang sedang duduk itu.
Priska mengambil ponsel Sam dari tangan Sam, Priska langsung melempar ponsel itu kesembarang arah mata Sam dengan jelas melihat Priska namun dengan cepat Sam memalingkan wajahnya.
"Sam aku mau ngomong" ucap Priska.
"Maaf aku sibuk" ucap Sam cuek.
"Sam aku mohon ini sangat penting".
"Apa" tanya Sam ketus.
"Kamu lebih pilih aku atau Alice" tanya Priska penasaran.
Sam mendorong Priska dari atas tubuhnya, sehingga membuat tubuh Priska terpelanting ke bawah ranjang.
Pantat Priska tepat mengenai Lantai sehingga membuat pantatnya sangat sakit.
Brughh..
"Awww Sam sakit" ucap Priska.
"Maaf aku tak sengaja naiklah kemari" ucap Sam membantu Priska untuk naik ke atas ranjang Priska berbaring di samping Sam walau pun pantatnya sudah tak sakit tapi dia pura pura sakit supaya Sam merasa iba padanya dan perhatian padanya.
"Kamu jahat Sam" ucap Priska.
"Aku cuman mau memastikan saja, aku takut kamu memilih Alice dari pada aku ingat tujuan kita Sam jangan pernah suka pada Alice".
"Gak akan aku janji".
"Aku pegang janjimu Sam".
Malam ini Ailda tak bisa tidur kantuknya pun belum datang mata Ailda masih segar dan tak merasakan tanda tanda mengantuk, Ailda memutuskan untuk bangun dan melihat keadaan di luar.
Ailda berjalan kearah jendela kamarnya dia melihat ramainya jalanan ibu kota dari jendela itu bahkan banyak orang yang lalu lalang di malam hari begini.
Tiba tiba air matanya jatuh Ailda ingat dengan kampung halamannya, tempat dimana Ailda besar dengan segala kekurangan namun Ailda tak pernah merasakan di siksa saat hidup di kampung tapi saat di kota bahkan dia di siksa oleh orang yang baru saja menjadi suaminya.
"Aku rindu hidup di kampung, Nenek aku tak mau hidup disini mereka tak sama dengan kita mereka orang kaya yang menggunakan hartanya untuk menyakiti orang lain, aku rindu di kampung walau pun sehari hari aku menjadi Petani Anggur tapi aku senang sedangkan disini aku menjadi orang lain dan naasnya lagi aku menjadi Alice padahal Alice yang Asli sudah tiada hikss.. Hikss" ucap Ailda sambil menangis mengeluarkan unek unek dalam hatinya.
Prakk..
Di sisi lain Nenek Mathilda tak sengaja memecahkan gelas yang sedari tadi berada di tangannya, hatinya sangat sedih entah kenapa Nenek Mathilda merasa ada yang tak beres tapi apa? Nenek Mathilda bertanya tanya.
"Kenapa Mom" tanya Elive yang melihat Nenek Mathilda menjatuhkan gelas.
"Aku merasa tak enak hati".
__ADS_1
"Kenapa Mom, mungkin itu hanya perasaan saja sudahlah lebih baik Mommy tidur aku juga akan tidur".
-
Lama Ailda menangis akhirnya dia bisa tertidur juga, saking mengantuknya Ailda tidur di lantai sebelah jendela tanpa alas Ailda tidur dengan pulas tak menghiraukan nyamuk nyamuk yang sedari tadi menggigitnya.
Pagi hari yang cerah Ailda bangun dengan badan yang pegal pegal karena semalaman Ailda tidur tanpa alas, mata Ailda bengkak karena semalaman menangis meratapi nasibnya.
Ailda segera ke kamar mandi untuk segera mandi dan mengganti bajunya, Ailda mengguyur tubuhnya menggunakan gayung yang berada di bak kecil, Ailda berpikir mungkin kamar mandi ini untuk pelayan karena sempit dan airnya pun sedikit.
Karena jarak kamar mandi dan kamar Ailda cukup jauh jadi Ailda harus membawa salin langsung dan memakainya di kamar mandi, walau pun tak terbiasa memakai baju di kamar mandi tapi Ailda paksakan karena takut jika ada orang lain yang melihat.
Setelah siap Ailda langsung keluar dari kamar mandi namun saat dia hendak keluar ada seorang lakilaki yang sedang berada di sana, dia berdiri mematung di ambang pintu dan menghalangi Ailda untuk keluar.
"Siapa anda" tanya lakilaki itu.
"Aku Alice" ucap Ailda gugup.
"Siapa Alice, anda maling ya atau jangan jangan anda pembantu baru di sini" ucap lakilaki itu.
"B-bukan" bantah Ailda.
"Dia Alice Nick anak semata wayang tuan David Delmar dan sekarang dia sudah menjadi istriku, eummh lebih tepatnya istri kedua" sahut Sam.
"Ouhh kenalkan Nona nama aku Nicky Vincent adik semata wayangnya Samoel Vincent" ucap Nicky memperkenalkan dirinya.
Ailda tak menggubrisnya dia langsung berjalan meninggalkan Kakak beradik yang sedang berdiri itu, Rasanya Ailda tak ingin mengenal keluarga Toxic seperti mereka.
"Sombong sekali dia kak" ucap Nicky.
"Biasa orang kaya pasti begitu" ucap Sam.
"Kau hebat kak bisa menikah dengan Alice yang cantik itu aku rasa Priska juga kalah cantik dari Alice".
"Sudah aku gak mau membahas ini, dan kau tinggallah disini lebih lama lagi aku ingin kita bersama Nick karena sudah hampir 3 tahun kau berada di negara orang" ucap Sam.
"Siap kak, itung itung aku cuci mata di sini".
"Cuci mata melihat Alice".
"Kau benar kak".
Hahahaha
Mereka berdua tertawa bersama layaknya seorang keluarga yang harmonis padahal dalam hati mereka tersimpan kebencian dan rasa ingin balas dendam pada tuan David Delmar yang sudah jelas teman akrab tuan Vincent.
💕💕💕
__ADS_1
makannya Pris jangan jahatin Ailda mulu jadikan kena batunya...